Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Sejarah Jalur Lemah Abang - Cibarusa
#1
Mohon izin om momod buat thread baru...

Saya sedang baca-baca buku koleksi bapak saya, sampai saya menemukan kutipan bab dari sebuah buku (Jakarta-Karawang-Bekasi Dalam Gejolak Revolusi - Perjuangan Moeffreni Moe'min.

Saya kurang tahu apakah jalur ini masih aktif atau tidak...

Situasilah yang mengharuskan Resimen V untuk bertempur sambil membangun. Salah satu karyanya adalah membangun kembali jalan kereta api kecil yang telah rusak dari Lemah Abang hingga Cibarusa sepanjang 30 km. Lemah Abang adalah sebuah wilayah yang terletak antara Bekasi, Tambun, Karawang. Sementara Cibarusa merupakan wilayah menuju Cibinong dan Bogor.

Bermula gagasan membangun kembali jalan kereta tersebut datang dari Mayor Sugiran, Kapten Darmawan dan Letnan Wahono dari bagian Zeni Perhubungan. Bagi mereka, pekerjaan seperti itu tidaklah sulit karena memang latar belakang pendidikan mereka dari bagian mesin. Mayor Sugiran adalah lulusan Technische Hogeschool (ITB sekarang), sedang Kapten Darmawan dan Letnan Wahono dari Sekolah Teknik Jakarta. Mereka berani mengemukakan ide itu kepada Moeffreni karena pemasangan rel kereta api itu tidaklah rumit, sebab:

1. Disepanjang wilayah Lemah Abang - Cibarusa telah ada jalur jalan tanah di mana tanahnya cukup padat untuk dipasangi rel kereta api kembali. Menurut cerita penduduk setempat, dahulu memang ada jalan tanah itu adalah jalur jalan kereta api dibuat oleh perusahaan perkebunan karet yang ada pada zaman Belanda. Tapi sewaktu pendudukan Jepang, rel-rel kereta api tersebut yang terdiri dari besi dibongkar dan siap diekspor ke Jepang untuk didaur ulang (dicor kembali).

2. Kebetulan atas temuan dari Dinas Kehutanan yang kemudian dilaporkan kepada Moeffreni bahwa di salah satu gedung tertutup dari perkebunan karet wilayah itu terdapat tumpukan rel kereta api yang kondisinya masih cukup bagus. Kemungkinan Jepang belum sempat mengangkutnya. Perang pun telah usai dan Jepang berada di pihak yang kalah. Menurut perkiraan persediaan itu cukup bahkan berlebihan. Penjelasan dari dinas kehutanan, rel itu bukan hanya dari jalur Lemah Abang - Cibarusa tapi juga berasal dari Cilamaya - Cikampek.

3. Mengenai lokomotif dan gerbong dapat minta di Jakarta.

Manfaat jalur ini antara lain karena besarnya produksi padi yang dihasilkan oleh masyarakat Lemah Abang dan di Cibarusa terdapat ladang-ladang luas milik rakyat yang ditanami palawija dan sayur-mayur. Daerah yang potensial itu ternyata memiliki kekurangan yaitu tidak ada alat angkut baik untuk hasil bumi ke luar daerah ataupun untuk penumpang umum (rakyat dan tentara).

Setelah diperoleh suara bulat dari rakyat, maka pelaksanaan pekerjaan pun dimulai. Di setiap desa yang dilewati jalur kereta api tersebut, rakyat menyumbang tenaga, bergotong royong dan sukarela memasang rel nya. Mereka dengan hati tulus mengerjakannya meskipun di bawah panas terik. Pengawasan dan penjadualan dilakukan oleh para lurah setempat.

Masalah pertama yang muncul adalah perlunya kayu yang berkualitas terbaik untuk bantalan rel, karena kayu-kayu lama sudah tidak ada lagi. Untuk itu harus dikoordinasikan dengan Dinas Kehutanan. Biasa bantalan rel itu adalah kayu besi atau temesu. Masing-masing bantalan kayu tersebut tidak lebih dari dua meter. Jarak antara kayu satu dengan yang lain 50 cm. Itu semua dikerjakan bersama-sama masyarakat setempat. Ada yang mengangkat besi sedikit ke atas dengan mempergunakan alat dongkel, sementara yang lain memasukkan kayu itu dibawah rel dengan posisi yang datar dan sama. Antara rel dengan bantalan kayu itu diikat dengan beberapa baut yang dianggap cukup kuat dan tidak bergeser jika dilalui kereta api.

Masalah kedua adalah perlunya batu bara atau kayu bakar untuk menggerakkan lokomotif. Kayu bakar banyak terdapat di daerah itu, tapi untuk mendapatkannya terus-menerus diperlukan kerja sama dengan Dinas Kehutanan. Kayu bakarnya tidak harus berkualitas baik, tetapi cukup ranting dan dahan yang telah tua sehingga tidak merusak lingkungan.

Sementara rakyat bergotong-royong, Moeffreni memerintahkan kepada beberapa stafnya pergi ke stasiun pusat di Jakarta meminta lokomotif dan gerbong yang banyak tersedia untuk ditarik ke Cikampek. Disamping itu jika Sekutu melihat banyak tersedia lokomotif dan gerbong nanti akan dipakai untuk kepentingan mereka. Itulah sebabnya mengapa di Karawang dan Cikampek banyak terdapat lokomotif. Bahkan kadang-kadang ditarik sampai Yogya. "Itulah yang namanya berperang. Kita mengatur strategi, siasat sedemikian rupa supaya banyak menguntungkan bagi rakyat Indonesia." tutur Moeffreni.

Ternyata jarak 30 km Lemah Abang - Cibarusa dalam waktu singkat dapat diselesaikan pemasangan dan siap pakai rel nya termasuk penyediaan bahan bakar. Jalur itu sudah dipakai untuk mensuplai tentara ke Cileungsi. Lokomotifnya kecil, hanya mampu mengangkut 5 gerbong setiap kali perjalanan. Satu gerbong memuat kurang lebih 20 penumpang. Berarti satu kali perjalanan mampu mengangkut 100 orang. Rakyat sangat gembira karena telah lama sekali (selama 3,5 tahun zaman Jepang) tidak melihat kereta api lewat.

Untuk administrasi dan operasional diserahkan kepada Jawatan Kereta Api. Mereka yang lebih mengerti bagaimana mengendalikan lokomotif, bagaimana mengalihkan jalur-jalur kereta api dan penjadualan. Tugas tentara hanya menjaga pada setiap perjalanan kereta api agar rakyat disiplin dan memberi rasa aman pada penumpang. Juga mengawasi agar penumpang tidak melebihi kapasitas, jangan terlalu penuh agar tidak terjadi kecelakaan. Maklumlah rakyat merasa bahwa sudah merdeka maka dapat dengan bebas berbondong-bondong naik kereta api dan tidak perlu membayar.

Dengan adanya jalur kereta api Lemah Abang - Cibarusa, maka mobilitas dan perekonomian rakyat meningkat. Cibarusa dapat hidup karena mendapat suplai beras dari Lemah Abang. Sedang bagi Lemah Abang dapat hidup karena dapat menjual hasil bumi berupa padi ataupun beras.

Angkutan hasil bumi dari sawah ke gudang-gudang atau rumah-rumah tidak lagi menggunakan gerobak tetapi dapat dinaikkan di atas kereta api. Kini petani yang menggarap tanahnya 15 km jauhnya dari tempat tinggal di Lemah Abang, pagi-pagi dapat naik kereta api ke sawah dan pada sore hari hendak pulang ke rumah juga naik kereta api. Dengan demikian banyak tanah yang tergarap dan ragam tanaman yang dapat dihasilkan.

Dinas Kehutanan dan Dinas Pertanian pun memanfaatkan kereta api ini untuk mengangkut hasil hutan. Karena itu dibuatlah jadual pengangkutan atau trayek. Pada mula pengoperasian kereta api hanya 2 kali dalam sehari, tetapi kemudian ditingkatkan menjadi 3 kali atau disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Pagi hari untuk angkutan rakyat, malam hari untuk angkutan khusus.

Sementara untuk angkutan tentara sangat dilarang oleh Moeffreni, kecuali dalam keadaan darurat. "Saya beri penjelasan kepada anak-anak bahwa gerak langkah kita tak diketahui oleh musuh, karena itu harus diciptakan bahwa kereta api itu adalah betul-betul kereta api untuk kepentingan rakyat bukan tentara"
Demikian sejarah rel kereta api Lemah Abang - Cibarusa

Foto pembangunan jalur kereta api Lemah Abang - Cibarusa (sekitar tahun 1946)

kapanlagi

20100614145020_Jalur_Kereta_Lemah_Abang__Cibarusa_4c15df3cac386.jpg

Didapat dari sumber buku Jakarta-Karawang-Bekasi Dalam Gejolak Revolusi - Perjuangan Moeffreni Moe'min
As the train goes by, the memory remains
Reply
#2
Wah mantap laporannya Gan. Tapi sekarang kayaknya jalur ini udah gak dipake lagi Sedih
Padahal kalo dipake kan bisa berguna bagi rakyat di daerah. Tapi memang sekarang jalurnya udah jadi jalan raya yang ke Lipo Cikarang. Kalo yang didaerah Cibarusa sih bekasnya mungkin masih ada cmiiw

[Image: 5147433576_a332603046.jpg]
Pengin naik kereta ke Pangandaran lagi
Jalur hidup bisa mati, tapi jalur yang mati lebih baik dihidupkan lagi
Reply
#3
(14-06-2010, 04:06 PM)g10d Wrote: Wah mantap laporannya Gan. Tapi sekarang kayaknya jalur ini udah gak dipake lagi Sedih
Padahal kalo dipake kan bisa berguna bagi rakyat di daerah. Tapi memang sekarang jalurnya udah jadi jalan raya yang ke Lipo Cikarang. Kalo yang didaerah Cibarusa sih bekasnya mungkin masih ada cmiiw


Betul Kang. Dari buku yang saya baca itu, jalur ini sepertinya vital sekali pada waktu itu. Vital dalam arti dengan adanya jalur ini perekonomian masyarakat sekitar benar-benar terdongkrak dan mobilitas rakyat sangat terbantu. Salut untuk rakyat dan para pejuang waktu itu yang ditengah-tengah pertempuran masih bisa membangung jalan kereta api! Sangat disayangkan kalau jalur ini memang mati, sebab berarti kita kehilangan bukti sejarah perjuangan yang dahsyat...
As the train goes by, the memory remains
Reply
#4
(14-06-2010, 04:31 PM)spoorism Wrote:
(14-06-2010, 04:06 PM)g10d Wrote: Wah mantap laporannya Gan. Tapi sekarang kayaknya jalur ini udah gak dipake lagi Sedih
Padahal kalo dipake kan bisa berguna bagi rakyat di daerah. Tapi memang sekarang jalurnya udah jadi jalan raya yang ke Lipo Cikarang. Kalo yang didaerah Cibarusa sih bekasnya mungkin masih ada cmiiw


Betul Kang. Dari buku yang saya baca itu, jalur ini sepertinya vital sekali pada waktu itu. Vital dalam arti dengan adanya jalur ini perekonomian masyarakat sekitar benar-benar terdongkrak dan mobilitas rakyat sangat terbantu. Salut untuk rakyat dan para pejuang waktu itu yang ditengah-tengah pertempuran masih bisa membangung jalan kereta api! Sangat disayangkan kalau jalur ini memang mati, sebab berarti kita kehilangan bukti sejarah perjuangan yang dahsyat...

sedih sekaligus terharu...lha gimana coba...jaman dulu rakyat bahu-membahu membangun sarana prasarana kereta api walaupun peralatannya sederhana...eh giliran sekarang kita semua tinggal nerusin pakai malah pada dinonaktifin jalur2 kereta api yg dibuat dengan perasan keringat dan cucuran air mata para pendahulu kita...memang apakah kita ini ga menghormati jasa2 para pendahulu ya......Sedih
Reply
#5
Oooo jadi ini yang temen saya ciritakan kalo ditambun itu masih ada percabangan. Cuman katanya kurang tau dimana percabangnyaBethe
Reply
#6
wah....
baru tahu saya, ternyata di Lemah Abang ada jalur cabang....

sekarang malah gak ada bekas nya sama sekali....
malah gak ada tanda-tanda nya...

itu posisi percabangan nya disebelah mana kira"?
apa dekat stasiun Lemah Abang?

[Image: 5992533437_d244d656ea.jpg]
Reply
#7
wah ternyata encarta ga ngaco ya...emang ada toh dulunya...BTW sebelah selatan sta lemah abang spertinya percabangannya, itu kyana kantor perhutani. jadi perkiraan sya rel yg cibarusa ga nyambung ama yg bekasi cz cuma ka "kecil" / lori. waktu sya pulang k cilengsi dari cikarang, melototin jalan ampe bego ga ketemu tuh bekas2nya..kemungkinan sama sperti jalurnya krawang tram yg lain, uda di giles aspal utk gedein jalannya
Reply
#8
(18-06-2010, 07:44 PM)sultan rakyat Wrote: wah ternyata encarta ga ngaco ya...emang ada toh dulunya...BTW sebelah selatan sta lemah abang spertinya percabangannya, itu kyana kantor perhutani. jadi perkiraan sya rel yg cibarusa ga nyambung ama yg bekasi cz cuma ka "kecil" / lori. waktu sya pulang k cilengsi dari cikarang, melototin jalan ampe bego ga ketemu tuh bekas2nya..kemungkinan sama sperti jalurnya krawang tram yg lain, uda di giles aspal utk gedein jalannya

di sebelah selatan mana kang?
persis di depan nya?

kalo gedung yang persis di sebelah selatan nya itu komplek BAPELKES (badan pelatihan kesehatan)...

[Image: 5992533437_d244d656ea.jpg]
Reply
#9
Wah, bacanya jadi semangat, tapi begitu tau kalo udah ditimbun aspal jadi sedih, ko sepertinya kita hampir selalu kehilangan bukti sejarah yg penting dan bahkan bermanfaat kalau dilestarikan.. sejak makin berkembangnya negara kita, orang2 mulai lupa dengan sejarah dan mulai mengurus kepentingan sendiri2.Sedih
Aku ingin striping dan livery kereta dan loko matching dan nyambung, kaya jaman K3 merah biru + loko merah biru pada era perumka...Ngiler
Reply
#10
(19-06-2010, 03:24 PM)Kazuya Wrote:
(18-06-2010, 07:44 PM)sultan rakyat Wrote: wah ternyata encarta ga ngaco ya...emang ada toh dulunya...BTW sebelah selatan sta lemah abang spertinya percabangannya, itu kyana kantor perhutani. jadi perkiraan sya rel yg cibarusa ga nyambung ama yg bekasi cz cuma ka "kecil" / lori. waktu sya pulang k cilengsi dari cikarang, melototin jalan ampe bego ga ketemu tuh bekas2nya..kemungkinan sama sperti jalurnya krawang tram yg lain, uda di giles aspal utk gedein jalannya

di sebelah selatan mana kang?
persis di depan nya?

kalo gedung yang persis di sebelah selatan nya itu komplek BAPELKES (badan pelatihan kesehatan)...

oh itu bapelkes ya,sori ane slah liat.Ngeledek tapi kemungkinan besar ya di situ dulu sta lemah abang trem, cz dr gedungnya ampe rel jalur 4 yg sekarang luas banged, jadi kemungkinan lahan luas ntu bekas jBingungalur2 tremnya...lagipula mnurut pmikiran sya zaman penjajahan ga mungkin uda berwujud bapelkes,cz masih di pusatin d jakarta..tp coba aja tnya ama orang2 tua di skitaran lemabang, x j ada yg tau kebenarannya
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)