Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Jabodetabek Semua KRD, Setuju?
#21
waah..kalo semua jalur di jawa pake LAA, harus bangun PLTN dunk????kalo nggak PLN bakal teriak-teriak atau malah pemadaman bergilir bakal terus-terusan.... Xie Xie
kan tenaga per satu kereta aja bisa sampai 1000 KW atau 1 MW...
kalo PLTN kapasitas bisa 1-2 GW tapi kalo PLTU cuma 600 MW belum bonus Polusi asapnya.....Playboy

[Image: banner.jpg]
Reply
#22
Masalah di Manggarai bukan menjadi alasan penggantian KRL ke KRD gak logis..lah yaw....gak ECO friendly gitu loh...kalau pakai KRD lagi.

Yang jelas memang perlu perbaikan sarana di sekitar manggarai untuk meningkatkan layanan. salah satunya mungkin membuat Junction Elevated sehingga ada pemisahan jalur antara yg mau ke Gambir atau THB dari Bogor / JNG.
Reply
#23
adakah contoh ka2 komuter didunia yang kapasitas angkutnya setara dengan krl (sekitar 650.000 penumpang perhari), tapi armadanya menggunakan dmu alias krd?
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Reply
#24
OOT : Atau pake lok uap sekalian he..he..
Reply
#25
lha ngapain..jabotabek kan udah enak ada LAA, tinggal dioptimalkan penggunaannya,ngapain balik pake KRD,,ntar malah setback n kebuang LAA-nya..lagian kan juga ngirit BBM dan mengurangi polusi..ane di sby aja ngarep2 ada LAA
Silence Is Golden

But My Eyes Still SeeNgeledek
Reply
#26
(25-05-2010, 12:32 PM)Adolph Wrote: lha ngapain..jabotabek kan udah enak ada LAA, tinggal dioptimalkan penggunaannya,ngapain balik pake KRD,,ntar malah setback n kebuang LAA-nya..lagian kan juga ngirit BBM dan mengurangi polusi..ane di sby aja ngarep2 ada LAA

Memang sebenarnya tujuan elektrifikasi Jabotabek itu sendiri adalah penghematan konsumsi BBM yang dihasilkan dari KRD, karena pada awalnya sekitar tahun 1976 ke bawah lintas Jabotabek belum terelektrifikasi seperti sekarang.

Kalau misalnya KRD dioperasikan di Jabotabek 100% menggantikan KRL sepertinya mustahil, karena KRD itu sendiri armadanya masih kurang memadai dari segi ketepatan waktu dan jika penggantian armada berada dalam jumlah besar sehingga INKA tidak mampu memenuhi permintaan tersebut sekaligus maka berakibat adanya impor KRD KiHa dari Jepang yang belum tentu PT. KA menginginkannya.
Tokyo Metro 05-108F|Sora Naegi

[Image: 2r56iya.jpg]

Jabodetabek no Tsuukin Dentetsu (KCJ)
Reply
#27
Jadi bingung, kelebihan KRL dan KRD masing2 apa c? sori klo masih oon, he3, kok kalo liat kereta2 di luar negeri seperti subway2 di negara maju dan MRT seperti di S'pore kayake ga ada tiang elektrifikasinya, brarti kota2 itu mass rapid transitnya pake KRD ya?
Reply
#28
(25-05-2010, 02:44 PM)DJ rail Wrote: Jadi bingung, kelebihan KRL dan KRD masing2 apa c? sori klo masih oon, he3, kok kalo liat kereta2 di luar negeri seperti subway2 di negara maju dan MRT seperti di S'pore kayake ga ada tiang elektrifikasinya, brarti kota2 itu mass rapid transitnya pake KRD ya?

Setiap KRD dan KRL memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing, yaitu:

Kelebihan
a. KRD
- Dapat digunakan di semua lintas.
- Tekanan beban gandar pada umumnya rendah.
- Mampu berjalan di rel tipe R33.
- Memungkinkan jumlah rangkaian sesuai kapasitas penumpang karena dapat dilepas pasang dengan mudah.

b. KRL
- Mampu mengangkut penumpang lebih banyak dari KRD.
- Akselerasi lebih cepat.
- Tidak memerlukan BBM.
- Kecepatan saat berdinas dapat mencapai lebih dari 120 km/jam.

Kekurangan
a. KRD
- Memerlukan BBM.
- Akselerasi kurang bertenaga dibandingkan lokomotif.
- Kurang efisien untuk perjalanan jarak jauh.

b. KRL
- Tegangan listrik yang dibutuhkan cukup tinggi (1,5 kV).
- Rangkaian selalu berada dalam stamformasi yang tetap.
- Bergantung sepenuhnya kepada pasokan listrik dari gardu induk dan rentan terhadap fluktuasi tegangan pada konduktor penghantar (kabel atau besi).

MRT dan subway di Eropa pada umumnya tak memiliki LAA, karena mereka menggunakan metode rel ketiga (third rail) untuk mengalirkan listrik ke kereta, yang dipasang di bagian samping atau di antara rel utama.

Jadi, MRT dan subway/metro tetaplah berjenis KRL.
Tokyo Metro 05-108F|Sora Naegi

[Image: 2r56iya.jpg]

Jabodetabek no Tsuukin Dentetsu (KCJ)
Reply
#29
tidak.. lebih baik krl, tidak berpolusi
Reply
#30
(17-05-2010, 02:31 PM)Dana Komuter Wrote: @ CC 201 64 PWT : Aku sih gak sampe ngarepin dicabut, tapi paling enggak diaktifin buat hari2 libur kerja dan tanggal2 merah aja. Jadi khan enak tuh bisa buat wisata dalam kota. Yg di Tn. Abang ke pabrik (≖᷆︵︣≖), ke Beos bisa jd batu loncatan ke museum Fatahillah, Bank Mandirin, dll. Yg di Cikini bisa ke Planetarium dan Joeang 45. Yg di Juanda bisa ke Istiqlal, Katedral dan museum Perangko. Dan masih banyak lagi wisata dalam kota lainnya.
[Image: overstappen.png]
Tapi yah kalau alasan jarak antar stasiun persinggahan terlalu dekat dan sudah dipasanginya LAA di seantero Jabodetabek OK juga sih... Asalkan yah... jangan ada lagi tumbuh perkampungan di pinggir rel KA selain diberi beton yang amat tinggi.

justru kalo hari libur kan banyak keluarga yang main ke bogor atopun ke jakarta,
kalopun pake KRD kuat tuh mesin?
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)