Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Napak tilas Jalur KA Yogyakarta-Palbapang
#61
(31-03-2010, 10:15 AM)denMbladuz Wrote: Bangunan ini di lintas Yogyakarta-Bantul-Palbapang....sepertinya bekas stasiun/halte...

[spoiler]
Dari arah utara/Yogyakarta

kapanlagi

20100331101019_EksStasiun1_4bb2bd1b036b9.JPG

Di zoom

kapanlagi

20100331101019_EksStasiun2_4bb2bd1b1187a.JPG

Dari arah selatan/Bantul

kapanlagi

20100331101019_EksStasiun3_4bb2bd1b1a30c.JPG

Sekarang jadi warung bakso....Laper
[/spoiler]

Dulu relnya disebelah mana? Bingung

[Image: 165399_4826310862985_805213596_n.jpg]
Reply
#62
paling2 relnya ada di sebelah jalan itu, tapi apa pt-ka serius buat ngidupin jalur bantul ini lgy ya? orang jalurnya udah pd ketimbun jalan, dicopot penduduk ... kalau msh ada yg nongol y cuman dikit. dulu katanya jalurnya melingkar dekat pojok beteng kulon itu ada percabangan: yg 1 ke bantul dan yg 1 ke pg padokan (?). yg satu ini dibongkar jaman jepang ...
Reply
#63
(04-04-2010, 09:55 AM)sepur_lori Wrote: paling2 relnya ada di sebelah jalan itu, tapi apa pt-ka serius buat ngidupin jalur bantul ini lgy ya? orang jalurnya udah pd ketimbun jalan, dicopot penduduk ... kalau msh ada yg nongol y cuman dikit. dulu katanya jalurnya melingkar dekat pojok beteng kulon itu ada percabangan: yg 1 ke bantul dan yg 1 ke pg padokan (?). yg satu ini dibongkar jaman jepang ...

Itu kalo gak salah cabang ke pundong (CMIIW) Xie Xie

[Image: 165399_4826310862985_805213596_n.jpg]
Reply
#64
nah, ketemu juga akhirnya ... pg pundong!
Reply
#65
(04-04-2010, 09:48 AM)Muhammad Dhafin Khomsah Wrote: Dulu relnya disebelah mana? Bingung


[Image: mblusukan16.th.jpg]


Uploaded with ImageShack.us

YANG DI GARIS MERAH ITU KAYAKNYA?

Quote:Penjelasan Resmi Matinya jalur KA Palbapang-Sewugalur dan Yogya-Kotagede-Pundong

PENJELASAN UMUM

Pembuatan jalan kereta api dari Daerah Swatantra II Kotapraja Yogyakarta menuju ke Pundong, demikian juga dari Palbapang menuju ke Sewugalur, yang diadakan pada waktu jaman Pemerintah Belanda, mempunyai tujuan yang pokok untuk melancarkan/mempermudahkan pengangkutan gula, hasil produksi dari pabrik gula Pundong dan sekitarnya serta Sewugalur dan pabrik-pabrik gula yang berdekatan.

Malaise dalam tahun 1931 sampai dengan 1935 yang merajalela diseluruh dunia dan melumpuhkan economish-conjunctur, menggoncangkan juga nasib perusahaan-perusahaan pertanian asing yang ada didalam Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta sehingga sebagian dari mereka tidak sanggup lagi meneruskan usahanya, diantaranya pabrik gula Sewugalur dan Pundong, terbukti mereka menyerahkan kembali "hak conversienja" baik sebagian maupun seluruhnya. Akibatnya dari keadaan ini, lalu lintas melalui kereta api tersebut mengalami kesepian juga.

Disusul dengan pembongkaran ril-ril yang letaknya diatas tanda-tanda jalan kereta api tersebut yang terjadi pada waktu jaman pendudukan tentara Jepang dalam tahun 1943/1944 berakhirlah sudah nasib jalan kereta api jurusan Kota Yogyakarta - Pundong dan Palbapang - Sewugalur.

Kemudian pada waktu penduduk tentara Belanda (clash II) tahun 1948/1949 tanah-tanah yang semula dipergunakan untuk jalan kereta api termaksud diubah sifatnya oleh rakyat untuk merintangi perjalanan tentara Belanda yang akan menuju kepelosok-pelosok , bahkan gedung-gedung/bangunan yang dulu dipergunakan sebagai halte/stasiun turut serta dihancurkan juga diratakan dengan tanah.

Sampai ini tanah-tanah termaksud sebagian besar telah dikerjakan oleh rakyat, baik sebagai tanah pertanian (sawah/tegalan) ataupun pekarangan yang kecil-kecil atau jalan umum sehingga telah

berubah sama sekali wujudnya, jika seandainya tanah-tanah tersebut dibiarkan begiti saja teranglah sesuai dengan yang tidak dimaksud dalam pasal 26 ayat (2) dan pasal 38 ayat (3) Undang-undang Dasar Sementara yang menyatakan :

"Seorangpun tidak boleh dirampas miliknya dengan semena-mena" dan "Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat"

Tetapi jika dipergunakan untuk mendirikan bangunan bagi salah satu instansi Pemerintah luasnya tidak cukup, karena hanya selebar 3 sampai dengan 4 m, sedang panjangnya sampai beberapa km.

Bagi Pemerintah bila akan dipergunakannya, hanya untuk keperluan melebarkan jalan besar yang berbatasan saja, padahal tidak seluruhnya berbatasan dengan jalan Pemerintah dan hanya dibekas-bekas emplasemen stasiun/halte kemungkinan dapat dipergunakan untuk pembangunan-pembangunan. Untuk mengambil tindakan yang bijaksana tidak ada lain jalan kecuali Pemerintah memberikan hak-haknya atas tanah itu kepada rakyat yang berkepentingan (pemilik tanah yang tercatat didalam letter C atau gandok yang sah/buku register tanah pada kantor Pendaftaran Tanah Daerah Swatantra II Kotapraja Yogyakarta yang berbatasan dengan bekas jalan kereta api atau orang-orang yang menurut kenyataan sebelum tanggal 27 April 1955 mengerjakan tanah itu, atau secara penggarapan saja, dengan perkecualian yang dapat ditentukan oleh Pemerintah.

Status dari tanah telah cukup jelas ialah merupakan jalan merupakan tanah Pemerintah yang bebas, karena berdasar historie dulu diberikan dengan hak pakai kepada N.I.S satu anatra lain menurut surat Pepatih Dalem tanggal 5 Nopember 1893 kepada Residen Yogyakarta, atas perintah S.P Sultan, kutipan dari surat tersebut antara lain berbunyi seperti dibawah ini :" stoomtramweg, zoowel voor de Iijin zelf, als voor de uitwijkplaatsen, emplacementen en zijsperen ....dan seterusnya (jalan stoomtram, baik untuk jalan sepur yang pokok, maupun untuk tempat persimpangan, emplasemen dan jalan cabang sepur .... dan seterusnya), dengan ketentuan jika tidak dipergunakan lagi

untuk keperluan itu harus diserahkan kembali kepada S.P Sultan (sekarang Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta) tidak dengan kerugian suatupun.

SUMBER
Reply
#66
kayaknya kl diaktifkan lg bakal nambah seru pariwisata jogja.....apa lagi pasar ngasem sekarang pindah ke dongkelan, tepat di dpn halte dongkelan. bisa buat KA Wisata, apalagi banyak juga bule yang jalan2 ke PASTY....
Reply
#67
kalo dari arah stasiun tugu jalur masih isa diakalin yaitu dibikin spt solom cuman pas di pojok beteng kulon sebelahs elatan mau lewat mana? ato mau searah dng jalan mbantul juga isa paling ntar nrabas perempatan. nah abis itu bisa dilurusin ke arah atasiun yg deket ma pasar ngasem baru
Reply
#68
(01-03-2010, 10:01 AM)Agus Riyanto Wrote: Jalur ini tdk disengaja saya telusuri .....

Saat hendak membeli jajan pasar di Pasar Ngasem, saya melihat bekas sinyal model jadul tepat dipinggir jalan raya Wahid Hasyim samping benteng Keraton sisi barat.

Sekembalinya dari Losmen, akhirnya diputuskan untuk mencari tahu keberadaan sinya tersebut. Bermodalkan peta yg saya dapat dari Losmen akhirnya saya berangkat ke TKP dengan dibantu oleh "Guide dadakan" [spoiler= ]

kapanlagi

20100301095103_IMG_2261_4b8b2b978fa8c.JPG
[/spoiler]


Menurut pak Guide, jalur ini panjangnya sekitar 40 km, menghubungkan Tugu menuju Bantul. Ujung dari jalur ini adalah sta. Srandakan tepat dimuara sungai Progo. Waktu aktifnya, sepur kluthuk sering mondar mandir di jalur ini. Pak Guide juga pernah merasakan naik kluthuk.

Tapi karna waktu yang tdk cukup, saya putuskan menelusui jalur ini sebagian saja. Jalur yg saya telususi adalah yang digaris merah [spoiler= ]


kapanlagi

20100301095103_IMG_2283_4b8b2b978514d.JPG
[/spoiler]


Stasiun Ngabean dilihat dari jalan Wahid Hasyim [spoiler= ]

kapanlagi

20100301095103_IMG_2256_4b8b2b977b511.JPG
[/spoiler]

Dapat Tambahan Dari Penelusuran Anda Dari Google

Tanggal 7 Agustus 09 saya kembali melakukan penelusuran jalur eks KA Yogya-Palbapang. Tujuan utama penelusuran yaitu untuk mengetahui lokasi Stasiun Djepit yang terletak diantara Stasiun Winongo dengan Stasiun Bantul, mengetahui kondisi terkini Stasiun Bantul dan melacak peninggalan-peninggalan di Stasiun Palbapang selain bangunan stasiun serta menelusuri percabangan di Stasiun Winongo menuju Pabrik Gula Madukismo. Kegiatan penelusuran dimulai pukul 11.45 WIB, tujuan pertama yaitu Stasiun Djepit, sayang sampai hampir batas kota Bantul saya tidak menjumpainya. Saya kemudian bertanya kepada seorang warga, ternyata bangunan stasiun tersebut telah dirobohkan dan di atasnya berdiri ruko persisnya di utara pertigaan menuju Tembi.
Selanjutnya saya menuju Stasiun Bantul, di tujuan kedua ini bangunan stasiun masih utuh dan sekarang berfungsi sebagai warung makan dan bengkel. Usai mengabadikan stasiun tersebut (sempat menjadi tontonan warga), langsung menuju stasiun Palbapang. Di utara stasiun tersebut masih dapat di jumpai tumpukan rel, pompa air dan rumah dinas. Rencana yang telah saya susun buyar di lokasi ini karena saya memutuskan untuk melanjutkan petualangan menelusuri eks jalur KA Palbapang-Sewugalur (dusun di Desa Karangsewu, Kecamatan Galur KP).
Sesampainya di Sewugalur saya disuguhi peninggalan era kolonial berupa rumah dinas pembesar pabrik gula. Rumah tersebit bergaya khas eropa. Beberapa di antaranya masih terawat dengan baik. Teringat cerita ibuku bahwa dahulu eyang buyut pernah ditugaskan oleh Belanda menjadi carik pabrik gula sewugalur, maka dalam hati bertanya sekiranya diantara deretan rumah dinas tersebut manakah yang pernah ditempati eyang buyut?
Dahulu selain untuk mengangkut hasil bumi kereta api di Sewugalur juga untuk mengangkut pegawai pabrik beserta keluarganya bila hendak ke negara (Yogya) atau sebaliknya. Dari Sewugalur (stasiunnya udah dibongkar) hingga Palbapang melintasi beberapa stasiun Palbapang yaitu Galur/brosot (sudah dibongkar kini berdiri SMP), Sta. Srandakan (sudah dibongkar menjadi Puskesmas), Pekodjan, Pandak keduanya tidak berbekas lagi. Kalau kita menelusuri jalur tersebut kesulitan karena rel sudah tidak kelihatan lagi (apakah udah dicabut?)
Usai dari Sewugalur balik lagi ke Yogya dan singgah sejenak di Stasiun Winongo. rencana penelusuran eks jalur menuju Madukismo saya batalkan karena kelelahan.

SUMBER + GAMBAR

Sepenggal Sejarah di Sta.Winongo


Bekas Stasiun Tempel


Situs Jalur non aktif Jogja-Ambarawa/Parakan


[Image: Nasib_Mujur_Eks_Jembatan_KA_Bedog]

[Image: siggyp.gif]
Reply
#69
@Agus Riyanto : Hebat mblusukan nya mas..... Lanjutkan tekad mu...... Tersenyuum
Reply
#70
jalur YK-BTL termasuk jalur yang unik..
karena jika ditelusur sampai selatan, didpean pintu gerbang kasongan akan ada rel perempatan (seperti yang ada di cirebon) dengan rel lori PG Madukismo.













Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)