15-11-2009, 09:03 AM
@ ady_mcady : Memang aku inget banget dulu baru tahap uji coba pertama kali dioperasiin tuh jembatan layang. Cuma utk KRL Jaobdetabek dalam hal ini KRL Jakarta - Bogor pp. Tapi ada pengecualian, KA Parahyangan (blom eranya KA Argo apalagi Argo Gede) tetap melaju di lintasan jembatan layang. Ini semata karena seingat aku untuk penyesuaian penjadwalan perjalanan KRL Jakarta - Bogor yang ketika itu khan baru awal permulaan rel ganda lintas stasiun Manggarai - stasiun Pasar Minggu pp. Selepas stasiun Ps. Minggu arah selatan alias ke Bogor masih tunggal.
Namun, begitu waktu terus bergulir, sudah saatnya rel bawah dicopot. Semuanya pun menjadi berlaju di jembatan layang. Perihal kenapa KRL Ekonomi udah gak singgah di stasiun Gambir :
1. Karena padatnya jadwal perjalanan KA jarak jauh apalagi saat itu ditammbah KA seklas Argo dan KA Bima mulai melintasi sekaligus bersinggah di stasiun Gambir (entah statusnya BLB gaknya aku blom tau).
2. Para calon penumpang KRL Ekonomi terlanjur memadati seantero stasiun Gambir yang kala itu penuh sekali / overload sehingga setiap jengkal peron penuh para calon penumpang KRL Ekonomi (blom ada Ekonomi AC). Aku masih ngalamin naik - turun KRL Ekonomi di stasiun Gambir.
3. KRL Ekonomi langsir aja masih ada para penumpang yang membandel dg naik KRL AC semacem Pakuan dan Depok Ekspres tanpa membayar. Alhasil si penumpang yang tergolong pengemis itu (wkatu itu ibu2 dengan seorang anaknya masih kecil) di turunin di stasiun Cikini yang kala itu blom berhenti resmi di stasiun itu alias menjadi BLB / berhenti luar biasa. Gimana kalau masih singgah di Gambir? Makin menyusahkan para calon penumpang khususnya utk jarak jauh deh...
Namun, begitu waktu terus bergulir, sudah saatnya rel bawah dicopot. Semuanya pun menjadi berlaju di jembatan layang. Perihal kenapa KRL Ekonomi udah gak singgah di stasiun Gambir :
1. Karena padatnya jadwal perjalanan KA jarak jauh apalagi saat itu ditammbah KA seklas Argo dan KA Bima mulai melintasi sekaligus bersinggah di stasiun Gambir (entah statusnya BLB gaknya aku blom tau).
2. Para calon penumpang KRL Ekonomi terlanjur memadati seantero stasiun Gambir yang kala itu penuh sekali / overload sehingga setiap jengkal peron penuh para calon penumpang KRL Ekonomi (blom ada Ekonomi AC). Aku masih ngalamin naik - turun KRL Ekonomi di stasiun Gambir.
3. KRL Ekonomi langsir aja masih ada para penumpang yang membandel dg naik KRL AC semacem Pakuan dan Depok Ekspres tanpa membayar. Alhasil si penumpang yang tergolong pengemis itu (wkatu itu ibu2 dengan seorang anaknya masih kecil) di turunin di stasiun Cikini yang kala itu blom berhenti resmi di stasiun itu alias menjadi BLB / berhenti luar biasa. Gimana kalau masih singgah di Gambir? Makin menyusahkan para calon penumpang khususnya utk jarak jauh deh...


![[Image: spammingsj0.gif]](http://i1211.photobucket.com/albums/cc423/gegenugroho/spammingsj0.gif)

![[Image: 21kkvba.jpg]](http://i57.tinypic.com/21kkvba.jpg)




![[Image: 22044_286599339863_769409863_3496485_1058421_n.jpg]](http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/hs293.ash1/22044_286599339863_769409863_3496485_1058421_n.jpg)