Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Tragedi Bintaro 19 Oktober 1987
Jawa Pos Selasa tanggal, 5 Oktober 2010:


[Image: jv3u6v.jpg]

[Image: 2jtm2s.jpg]

Kasihan sekali yah, sudah menjalankan kewajiban dengan baik dan benar, harus masuk bui, kehilangan pekerjaan dan sekarang hidupnya boleh dikatakan jauh dari layak padahal musibah tersebut dia sendiri tentu sangat tidak menginginkannya.
Reply
inilah korban dari ketidak adilan dari para petinggi negeri ini..... semoga pengabdian yg telah diberikan menjadi bekal amal baik dikemudian hari.
TRAVEL WARNING TRAIN DANGEROUSLY exotic VEHICLE

[Image: 2euifjl.jpg]
Reply
Edisi ke dua nya ada gak mas pram ? boleh donk di naik kin ... biar lengkap dan semakin kita bisa memahami lagi kehidupan mantan masinis yang belum tentu bersalah ini.
Reply
Merasa Dikambinghitamkan oleh Negara


Kecelakaan kereta api (KA) di Petarukan,Pemalang mengingatkan kembali terhadap kecelakaan tragis KA di Bintaro,Jakarta Selatan pada 19 Oktober 1987.Seperti apa penuturan masinis KA 225 Slamet Suradio yang dituduh sebagai penyebab kecelakaan Bintaro.

MASIH ingat betul dalam ingatan Slamet Suradio, 71, detail tragedi Bintaro yang sangat memilukan. Kecelakaan yang terjadi pada Senin Pon sekitar pukul 07.30 WIB di Stasiun Sudimara itu telah menjadi titik akhir karirnya di Perusahaan Jawatan Kereta api (PJKA) yang kini menjadi PT Kereta Api (KA).

Akibat kecelakaan yang menewaskan 153 orang itu, pria yang dilahirkan di Purworejo pada 18 Agustus 1939 ini diberhentikan dengan tidak hormat oleh PJKA. Perjalanan hidup menjadi juru mudi kereta besi berawal ketika pada 1963 dia mengabdi menjadi pegawai PJKA sebagai tenaga di bagian bengkel. Karirnya kemudian meningkat dan mulai 1971, pria yang kini tinggal di Pedukuhan Krajan Kidul Desa Gintungan, Kecamatan Gebang Purworejo ini resmi menjadi masinis kereta api cepat. Bahkan, Slamet yang sekarang kulitnya sudah keriput ini juga dinyatakan telah lulus dalam ujian masinis yang dibuktikan dengan surat yang dikeluarkan oleh PJKA.

Dikisahkannya,malam hingga pagi dirinya tidak pernah merasakan adanya firasat buruk bakal menimpanya. Sebagai seorang masinis senior yang telah bekerja selama 16 tahun, semuanya dilakoni dijalani dengan senang. Petaka baru terjadi ketika rangkaian kereta api KA 225 dengan membawa tujuh rangkaian kereta yang dikemudikannya masuk di Stasiun Sudimara.Kereta yang melaju dari Rangkasbitung menuju Jakarta ini berhenti tanpa ada masalah apapun. Beberapa saat berhenti, kereta inipun kembali melaju dengan kecepatan pelan sekitar 40 km per jam. Itupun dilakukan setelah ada Pemberitahuan Tentang persilangan (PTP) dari petugas Stasiun.

Namun, tiba-tiba dari arah berlawanan muncul KA 220 jurusan Tanah Abang-Merak yang masih satu rel. Tak ayal lagi tabrakan itupun tidak terhindarkan.“ Akibat kecelakaan itu,saya mengalami retak pada tulang tungkai dan kaki kanan patah,” ujar Slamet lirih. Pascakecelakaan,dirinya tidak mengetahui lagi bagaimana histeris dan kejadian di lapangan. Dia sudah tidak lagi kuasa untuk berdiri akibat benturan besi mengenai tubuhnya yang mungil. Saat itulah dia dibwa ke RS Pelni,kemudian dirujuk ke RSUP Cipto Mangunkusumo Jakarta.Terakhir,dia dibawa ke RS Kramat Jati untuk menjalani perawatan medis. Seusai menjalani perawatan medis,ayah yang kini dikaruniai tiga anak ini diajukan sebagai tersangka dalam kasus kecelakaan kereta. Meja hijau menjadi akhir dari pengabdian di kereta api.

Pengadilan Negeri (PN) Jakarta menjatuhkan vonis dengan pidana selama 5 tahun penjara. Upaya banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Jakarta juga tidak membuahkan hasil. Sebab, keputusan majelis hakim semakin menguatkan kesalahan yang dilakukannya. Terakhir mencari keadilan dengan mengajukan Peninjauan Kembali (PK). Namun, pengajuan ini ditolak Mahkamah Agung (MA). “Sebenarnya saya tidak salah, karena sudah pegang PTP dan ada isyarat sebagai dasar kereta berjalan. Tetapi justru saya yang disalahkan dan dipenjara lima tahun,” tuturnya lirih. Menurutnya, selama menjalani perawatan medis dirinya pernah diintimidasi oleh oknum polisi yang menjaganya di rumah sakit untuk mengakui kesalahan.Bahkan ujung pistol pernah diarahkan kepadanya agar mau mengakui.

Namun, Slamet tetap bersikeras tidak bersalah dan siap mati ditembak. Kegigihan untuk mencari kambing hitam pun terus berlanjut pada proses pemberkasan kasus. Hingga akhirnya dia disuruh menandatangani berkas tanpa mengetahui isi yang ada di dalamnya. “Sebagai sesama masinis saya yakin, masinis di Pemalang tidak bersalah. Masinis akan menjalankan kereta kalau sudah ada perintah,” tuturnya.Tayangan di televisi yang menyudutkan masinis,membuat dirinya trauma.Apalagi dikawal oleh sejumlah petugas polisi.
Reply
Mengenal Masinis Kereta Api Tragedi Bintaro, Slamet Suradio
*KAI Tidak Perhatian, Terpaksa Jualan Rokok Eceran
Putusan Bersalah oleh majelis hakim, dengan kurungan 5 tahun penjara menjadi akhir karir Slamet Suradio. Vonis inipun membuatnya diberhentikan dengan tidak hormat oleh PT. Kereta Api Indonesia (Persero). Menjual rokok eceran, menjadi tumpuan hidupnya.
Kejadian Bintaro yang menewaskan 153 orang, tidak pernah ada dalam pikiran Slamet Suradio. Akibat kecelakaan ini, pengabdian sebagai pegawai PT. Kereta Api Indonesia (Persero), hanya tinggal kenangan. Pasalnya pasca memiliki kekuatan hukum tetap, dia tidak lagi diberikan uang santunan atau pensiun oleh PT. Kereta Api Indonesia (Persero). Padahal dia telah mengabdi sekitar sekitar 30 tahun, baik sebagai mekanik bengkel ataupun masinis kereta.
Menurutnya, setelah upaya memperoleh keadilan kandas, dia harus menerima pil pahit dari PT. Kereta Api Indonesia (Persero). Terhitung mulai 1996 dia tidak lagi tercatata seagai pegawai PT. Kereta Api Indonesia (Persero). PT. Kereta Api Indonesia (Persero) saat itu hanya memberikan uang tali asih senilai Rp 5 juta. Selebihnya PT. Kereta Api Indonesia (Persero), tidak pernah lagi peduli dan memperhatikan kehidupannya.
“Dengan diberhentikan tidak dengan hormat, saya tidak dapat pensiun,” tuturnya.
Selain kehilangan jabatan dan pekerjaan, Slamet juga kehilangan istrinya. Selama mendekam di penjara istrinya Sriana, telah diperistri Suaib. Suaib tidak lain adalah rekan kerja Slamet. Padahal status dan hubungan sebagai suami istri masih sah.
Berbekal uang Rp 5 juta, Slamet, akhirnya memilih untuk pulang ke kampung halamannya di Purworejo. Uang inipun sedikit demi sedikit digunakan untuk memnuhi kebutuhannya. Hingga akhirnya dia menikahi Tuginem dan tinggal di Krajan Kidul, Gintungan, Gebang kabupaten Purworejo.
Menjadi kepala keluarga, menjadikan Slamet terus berupaya untuk bertanggungjawab terhadap keluarga. Saat ini dia hanya menggantungkan dari hasil jualan rokok eceran antara Stasiun Kutoarjo, hingga di Terminal Kutoarjo. Itupun rokok yang dibawa tidaklah banyak. Saat dijumpai, hanya skeitar enam bungkus rokok yang sudah tidak utuh lagi. Sementara istrinya, menjadi buruh tani lepas, untuk memenuhi biaya seolah tiga anaknya.
Dari hasil jualan rokok ini dia mengaku hanya mendapatkan pendapatan bersih sekitar Rp 5 ribu per hari. Belum lagi untuk transport angkutan berangkat dan pulang ke rumahnya. Selebihnya dia menggantungkan dari tumpangan orang-orang yang kenal dengannya.
“Saya hanya berharap dapat pensiun, karena sejak itu tidak ada lagi yang peduli,” ujarnya.
Pensiunan ini sangat diharapkan untuk bisa membiayai anak-anaknya sekolah. Sebab dari tiga anaknya, dua diantaranya duduk di bangku SMK, dan satu di bangku SD. Belum lagi kondisi rumahnya yang cukup sederhana.(kuntadi/bersambung)

[Image: overstappen.png]
KISAH SLAMET SURADIO, MASINIS KERETA API TRAGEDI BINTARO (3 habis)
*Putusan Hakim, Saksi kehidupan Yang Selalu Dibawa
Putusan majelis hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang diperkuat dengan pengadilan Tinggi Jakarta, serta penolakan peninjauan kembali (PK) Mahkamah Agung menjadi bukti perjalanan hidup Slamet Suradio. Amar putusan ini menjadi bagian dari kehidupan sang masinis kereta api Tragedi Bintaro.
Langkah kaki, Slamet Suradio,71, sesekali terhenti untuk menawarkan rokok eceran kepada para tukang becak dan ojek yang ada di seputaran simpang empat BRI Kutoarjo, Kabupaten Purworejo. Tas lusuh warna biru yang warnanya mulai pudar nampak didekapnya erat-erat ke tubuhnya yang kurus. Selain berisi beberapa bungkus rokok yang tidak lagi utuh, tas ini juga membawa dokumen penting bagi pria yang dulu menjadi masinis kereta.
Diantara dokumen ini, adalah salinan putusan pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang menjatuhkan vonis lima tahun penjara. Dia, dinyatakan bersalah karena menyebabkan kecelakaan kereta api di Bintaro pada 1987 silam yang menewaskan 153 orang. Selain itu masih ada dokumen lain berupa putusan PT Jakarta dan petikan penolakan PK dari Mahkamah Agung.
Slamet Suradio yang kini tinggal di Krajan Kidul Desa Gintungan, kecamatan Gebang Purworejo juga masih menyimpan beberapa lembar dokumen saat dia masih menjadi pegawai kereta. Diantaranya tanda lulus menjadi masinis yang dikeluarkan oleh PT kereta api. Termasuk kartu pegawai kereta api dengan Nomor induk pegawai 120025237.
“Ini adalah saksi hidup saya, dan akan saya bawa kemanapun saya pergi. Dulu ada jaksa yang menyarankan karena ini sejarah besar di Indonesia yang harus dibawa,” tutur Slamet yang giginya sudah rontok akibat kecelakaan kala itu.
Menurutnya, atas dasar putusan hakim ini dia harus menjalani kehidupan di balik jeruji besi selama lima tahun di LP Cipinang. Namun masa hukuman ini hanya dijalani sekitar 3,5 tahun, dipotong remisi atas perilaku yang baik di dalam penjara. Padahal dia yakin tidak pernah bersalah atas musibah yang menjadi sejarah transportasi di Indonesia.
Cobaan hidup, yang dirasakan tidak hanya selesai sampai didalam penjara. Slamet Suradio oleh PT. Kereta Api Indonesia (Persero) juga dipecat, tanpa ada pensiun yang bisa dinikmati di hari tua. Padahal dia sudah cukup lama mengabdi menjadi pegawai. Menjadi penjual rokok eceran terpaksa dilakoni untuk menopang hidup. Tidak jarang pendapatan yang sangat minim dari jualan rokok eceran menjadi pemicu keributan di rumahnya. Beruntung istrinya ikut meringankan beban menjadi buruh tani.
Sebagai orang yang malang melintang di dunia kereta api, Slamet Suradio terkadang ingat masa dia menjadi pegawai. Saat bertemu dengan rekan kerja, usai kereta sampai tujuan adalah masa yang paling menyenangkan. Namun kenangan itu tidak mungkin bisa dinikmatinya lagi.
Slamet Suradio dengan Slamet Bintaro pun kadang kangen untuk bisa hidup diantara kereta api. Untuk mengobati kerinduan ini, dia kerap berjualan di sekitar stasiun, atau sekedar untuk melihat kereta melaju.
“Bisa melihat kereta berangkat hati ini sudah sangat senang. Apalagi saya bisa mendapatkan pensiunan,” tambahnya.
Humas PT Kereta Api Daops V Purwokerto, Surono ketika dikonfirmasi mengatakan dirinya belum bisa berbuat banyak mensikapi kondisi dari Slamet Suradio. Untuk itulah akan dikoordinasikan kepada pimpinan dan institusi di internal PT. Kereta Api Indonesia (Persero). Sebab bagaimanapun juga keputusan ada di managemen selaku pengampu kebijakan.
“Secepatnya akan kita koordinasikan, untuk saat ini kita tidak bisa memberikan keterangan,” jelasnya.
Reply
ternyata hampir sama beritanya sama radarlampung yang gue baca hari ini Ngakak pulang kampung nanti mau nengok mbah slamet dulu ah Sedih
Reply
(06-10-2010, 12:46 PM)Fransiskus Dasa Saputra Wrote: Mengenal Masinis Kereta Api Tragedi Bintaro, Slamet Suradio
*KAI Tidak Perhatian, Terpaksa Jualan Rokok Eceran
Putusan Bersalah oleh majelis hakim, dengan kurungan 5 tahun penjara menjadi akhir karir Slamet Suradio. Vonis inipun membuatnya diberhentikan dengan tidak hormat oleh PT. Kereta Api (Persero). Menjual rokok eceran, menjadi tumpuan hidupnya.
Kejadian Bintaro yang menewaskan 153 orang, tidak pernah ada dalam pikiran Slamet Suradio. Akibat kecelakaan ini, pengabdian sebagai pegawai PT. Kereta Api (Persero), hanya tinggal kenangan. Pasalnya pasca memiliki kekuatan hukum tetap, dia tidak lagi diberikan uang santunan atau pensiun oleh PT. Kereta Api (Persero). Padahal dia telah mengabdi sekitar sekitar 30 tahun, baik sebagai mekanik bengkel ataupun masinis kereta.
Menurutnya, setelah upaya memperoleh keadilan kandas, dia harus menerima pil pahit dari PT. Kereta Api (Persero). Terhitung mulai 1996 dia tidak lagi tercatata seagai pegawai PT. Kereta Api (Persero). PT. Kereta Api (Persero) saat itu hanya memberikan uang tali asih senilai Rp 5 juta. Selebihnya PT. Kereta Api (Persero), tidak pernah lagi peduli dan memperhatikan kehidupannya.
“Dengan diberhentikan tidak dengan hormat, saya tidak dapat pensiun,” tuturnya.
Selain kehilangan jabatan dan pekerjaan, Slamet juga kehilangan istrinya. Selama mendekam di penjara istrinya Sriana, telah diperistri Suaib. Suaib tidak lain adalah rekan kerja Slamet. Padahal status dan hubungan sebagai suami istri masih sah.
Berbekal uang Rp 5 juta, Slamet, akhirnya memilih untuk pulang ke kampung halamannya di Purworejo. Uang inipun sedikit demi sedikit digunakan untuk memnuhi kebutuhannya. Hingga akhirnya dia menikahi Tuginem dan tinggal di Krajan Kidul, Gintungan, Gebang kabupaten Purworejo.
Menjadi kepala keluarga, menjadikan Slamet terus berupaya untuk bertanggungjawab terhadap keluarga. Saat ini dia hanya menggantungkan dari hasil jualan rokok eceran antara Stasiun Kutoarjo, hingga di Terminal Kutoarjo. Itupun rokok yang dibawa tidaklah banyak. Saat dijumpai, hanya skeitar enam bungkus rokok yang sudah tidak utuh lagi. Sementara istrinya, menjadi buruh tani lepas, untuk memenuhi biaya seolah tiga anaknya.
Dari hasil jualan rokok ini dia mengaku hanya mendapatkan pendapatan bersih sekitar Rp 5 ribu per hari. Belum lagi untuk transport angkutan berangkat dan pulang ke rumahnya. Selebihnya dia menggantungkan dari tumpangan orang-orang yang kenal dengannya.
“Saya hanya berharap dapat pensiun, karena sejak itu tidak ada lagi yang peduli,” ujarnya.
Pensiunan ini sangat diharapkan untuk bisa membiayai anak-anaknya sekolah. Sebab dari tiga anaknya, dua diantaranya duduk di bangku SMK, dan satu di bangku SD. Belum lagi kondisi rumahnya yang cukup sederhana.(kuntadi/bersambung)

[Image: overstappen.png]
KISAH SLAMET SURADIO, MASINIS KERETA API TRAGEDI BINTARO (3 habis)
*Putusan Hakim, Saksi kehidupan Yang Selalu Dibawa
Putusan majelis hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang diperkuat dengan pengadilan Tinggi Jakarta, serta penolakan peninjauan kembali (PK) Mahkamah Agung menjadi bukti perjalanan hidup Slamet Suradio. Amar putusan ini menjadi bagian dari kehidupan sang masinis kereta api Tragedi Bintaro.
Langkah kaki, Slamet Suradio,71, sesekali terhenti untuk menawarkan rokok eceran kepada para tukang becak dan ojek yang ada di seputaran simpang empat BRI Kutoarjo, Kabupaten Purworejo. Tas lusuh warna biru yang warnanya mulai pudar nampak didekapnya erat-erat ke tubuhnya yang kurus. Selain berisi beberapa bungkus rokok yang tidak lagi utuh, tas ini juga membawa dokumen penting bagi pria yang dulu menjadi masinis kereta.
Diantara dokumen ini, adalah salinan putusan pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang menjatuhkan vonis lima tahun penjara. Dia, dinyatakan bersalah karena menyebabkan kecelakaan kereta api di Bintaro pada 1987 silam yang menewaskan 153 orang. Selain itu masih ada dokumen lain berupa putusan PT Jakarta dan petikan penolakan PK dari Mahkamah Agung.
Slamet Suradio yang kini tinggal di Krajan Kidul Desa Gintungan, kecamatan Gebang Purworejo juga masih menyimpan beberapa lembar dokumen saat dia masih menjadi pegawai kereta. Diantaranya tanda lulus menjadi masinis yang dikeluarkan oleh PT kereta api. Termasuk kartu pegawai kereta api dengan Nomor induk pegawai 120025237.
“Ini adalah saksi hidup saya, dan akan saya bawa kemanapun saya pergi. Dulu ada jaksa yang menyarankan karena ini sejarah besar di Indonesia yang harus dibawa,” tutur Slamet yang giginya sudah rontok akibat kecelakaan kala itu.
Menurutnya, atas dasar putusan hakim ini dia harus menjalani kehidupan di balik jeruji besi selama lima tahun di LP Cipinang. Namun masa hukuman ini hanya dijalani sekitar 3,5 tahun, dipotong remisi atas perilaku yang baik di dalam penjara. Padahal dia yakin tidak pernah bersalah atas musibah yang menjadi sejarah transportasi di Indonesia.
Cobaan hidup, yang dirasakan tidak hanya selesai sampai didalam penjara. Slamet Suradio oleh PT. Kereta Api (Persero) juga dipecat, tanpa ada pensiun yang bisa dinikmati di hari tua. Padahal dia sudah cukup lama mengabdi menjadi pegawai. Menjadi penjual rokok eceran terpaksa dilakoni untuk menopang hidup. Tidak jarang pendapatan yang sangat minim dari jualan rokok eceran menjadi pemicu keributan di rumahnya. Beruntung istrinya ikut meringankan beban menjadi buruh tani.
Sebagai orang yang malang melintang di dunia kereta api, Slamet Suradio terkadang ingat masa dia menjadi pegawai. Saat bertemu dengan rekan kerja, usai kereta sampai tujuan adalah masa yang paling menyenangkan. Namun kenangan itu tidak mungkin bisa dinikmatinya lagi.
Slamet Suradio dengan Slamet Bintaro pun kadang kangen untuk bisa hidup diantara kereta api. Untuk mengobati kerinduan ini, dia kerap berjualan di sekitar stasiun, atau sekedar untuk melihat kereta melaju.
“Bisa melihat kereta berangkat hati ini sudah sangat senang. Apalagi saya bisa mendapatkan pensiunan,” tambahnya.
Humas PT Kereta Api Daops V Purwokerto, Surono ketika dikonfirmasi mengatakan dirinya belum bisa berbuat banyak mensikapi kondisi dari Slamet Suradio. Untuk itulah akan dikoordinasikan kepada pimpinan dan institusi di internal PT. Kereta Api (Persero). Sebab bagaimanapun juga keputusan ada di managemen selaku pengampu kebijakan.
“Secepatnya akan kita koordinasikan, untuk saat ini kita tidak bisa memberikan keterangan,” jelasnya.

Sedihsaya ko jadi miris baca kisah mbah slamet.....pengabdian yang cukup lama dan seharusnya sangat berharga seolah di rampas oleh ketidak adilan di negara ini,saya ada usul nich om momod.......gmna kalo dibuatin thread buat kumpulin dana buat bantu mbah slamet.....hasilnya ntar kita serahkan buat modal kerja mbah slamet.....biarlah beliau nantinya bisa menikmati kebahagiaan yang selama ini seolah hilang(hanya usul aja nich)


Back on Topic

[Image: p1070453.jpg]

Bismania Feat Railfans
Reply
di sekretariat IRPS ada CD kesaksian beliau sewaktu di metro files.....

Reply
Ane dapet dokumentasinya Gan TRAGEDI BINTARO 1987


HeranHeranHeranHeran

[Image: 36171120117588773917788.jpg]


[Image: 58144120117808779417788.jpg]

Itu LOK nya bisa nyruduk sampe dalem pantes yang tewas lebih dari 120 orang

[Image: overstappen.png]


[Image: 37942120117920782217788.jpg]

HANYA KERETA API YANG MEMBUATKU HAPPY



[Image: 2117305260.jpg]






Reply
barusan bpk slamet muncul tuch di SCTV di acara barometer.......salut masih bisa tersenyum di tengah pengalaman pahit yang sangat mengerikan....

[Image: p1070453.jpg]

Bismania Feat Railfans
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)