(15-07-2009, 10:29 AM)spoorsoni Wrote: Saya setuju dengan penghapusan kelas bisnis ini. Ini sebuah langkah jitu untuk menghapus 'perkambingan' yang kerap terjadi di kelas bisnis. Banyak praktek bayar di atas, karena banyak kambing yang pengennya bayar tiket ekonomi tapi ngotot pengen secepat waktu tempuh bisnis. Akibatnya muncul 'korlap' yang menjadi gembala kambing di atas kereta bisnis dan marak waktu liburan atau week-end. Akibatnya lagi kereta bisnis jadi luar biasa penuh dan karena tidak ber-AC biarpun dikasih kipas angin segede helikopter tetap aja sumpek.
Lagipula dari laporan keuntungan yang 'dibocorkan' teman saya, kelas bisnis itu perbandingan keuntungannya tipis dengan biaya operasional. Jadi belum termasuk perawatan dan perbaikan ya... (Catet!). Nah, penghapusan kelas bisnis ini cocok sekali dengan situasi sekarang. (Jadi inget penghapusan jurusan Biologi di SMA dulu. Karena jurusan ini dianggap nanggung, mau ke fisika takut susah, ke sosial takut rugi. Begitu Biologi dihapus, nah kelimpungan deh pada hehehe)
Soni
yap.... betul sekali mas.....
waktu saya mau mblusukan ke MN kemaren saya naik SAWUNGGALIH UTAMA, berdasarkan pantauan saya... yg di gerbong saya aja pemegang tiket resmi cuma 80-90% saja...
dan dari JKT ke PWT para
dan lebih mengherankan lagi... saat saya tanya ke

