16-09-2016, 08:23 AM
(14-09-2016, 02:33 PM)CC-201-23 Wrote:(14-09-2016, 09:41 AM)Ardhani Muhad Wrote:Sebenarnya agak menyayangkan K3 2016 malah menggantikan K2. Memang sih ada upgrage di pengaturan suhu yang lebih baik, interior & eksterior yang lebih modern, dan ditambah fasilitas hiburan, tetapi saya pikir K3 2016 ini mending menggantikan sesama K3 80 seat atau mengupgrade K3 106 seat yang tidak diberi PSO. Tapi gimana lagi ya, dari sisi pendapatan yang didapat dari 64 seat & 80 seat itu beda, sedangkan biaya operasionalnya mungkin nyaris sama![]()
Apa mungkin biaya operasional 2 AC 1.5 PK dan 4 AC 2 PK dengan lampu neon yg boros listrik sama dengan 2 AC sentral dengan lampu LED?
Nah ternyata malah lebih boros K2 ya?
Bisa jadi itu salah satu alasan K2 diganti K3 2016 ya. Dihitung-hitung secara kasar semisal di KA Senjut YK, ada selisih 16 seat per kereta lalu dikali 8 kereta, jadi selisih jumlah tempat duduk antara K2 & K3 2016 (semisal terisi penuh) ada 128 seat. Jika dikalikan dengan tarif subclass S (Rp. 200.000), berarti bisa meraup minimal Rp. 25.600.000. Belum lagi ada beberapa perjalanan yang langsung digetok tarif subclass tertinggi (subclass C), juga ditambah dari penumpang rute parsial yang okupasinya bisa lebih dari 100%.
Regards,
Public Transportation Enthusiast
Public Transportation Enthusiast


