21-09-2012, 09:41 PM
Pak de saya yg tinggal di Cilacap adalah pengguna sepur dari djaman mbiyen.
Pernah beberapa kali mengalami naik KA dari Jakarta smp di Purwokerto pada malam, tengah malam dan subuh. Kemudian menunggu smp langit terang untuk melanjutkan perjalanan ke Cilacap menggunakan bus. Jika naik KA ekonomi biasanya beliau turun di Kroya. Pernah juga dijemput anaknya dengan mobil di Setasiu Purwokerto kemudian melanjutkan perjalanan ke Cilacap.
Begitu juga dari Cilacap, sewaktu belum ada Purwojaya, biasanya pak de ke Kroya dulu untuk naik KA ke Jkt baik itu yg ke melalui lintas selatan atau utara. Pada jamannya Purwojaya, jika pak de tidak sempat naik KA tersebut, biasanya beliau pasti akan ke Purwokerto untuk naik kereta malam ato pagi hari (non ekonomi)
Yang jadi pertanyaan saya terkait dengan keberadaan KA Maguwo Ekspress adalah:
1. Apakah contoh pengalaman berkereta api yang dialami pak de saya sudah dijadikan riset atau pertimbangan saat menentukan rute KA. Maguwo Ekspress pada awal peluncuran dan pada perkembangannya saat ini????
2. Apakah ada penumpang2 lain yang mengalami kesulitan yang sama dengan yang dialami pak de saya, kalo ada apakah presentasenya tidak cukup signifikan untuk membuat jadwal KA komuter Cilacap-Kroya-Purwokerto atau Cilacap-Kroya-Kutoarjo????
3. Apakah masyarakat di daerah Cilacap dan sekitarnya tau akan keberadaan KA Maguwo Ekspress????
4. Dan apakah masyarakat di daerah Cilacap dan sekitarnya lebih memlih angkutan roda 4 dan 2 ketimbang KA. Komuter???
Kalo dari pengalaman saya pribadi??? Setiap lebaran kalo mau bertamu ke Cilacap, biasanya orangtua saya pasti akan carter mobil milik tetangga (koperades atau mobil pribadi jenis carry/colt). Tarifnya (walau milik tetangga) biasanya PP sekitar 250 ribu, sopir ditanggung makan dan bensin plus jajanan ditambah lagi ada oleh2. Mengingat rumah saya di Baturraden, kalo kita mau ke Cilacap tanpa mencarter mobil, ya harus ke kota dulu naik Koperades yg jadwalnya sangat2 ngaret pada saat libur lebaran. Smp kota nyambung lagi naik angkutan ke terminal bis, terus smp terminal cari bis ke Cilacap. Kebayang kan ribetnya.
Nah apakah pengalaman pribadi seperti yg saya alami juga telah melalui riset bagi PT KA pada saat meluncurkan KA Maguwo Ekspress???
Saya rasa tidak sedikit warga Cilacap dan sekitarnya yang punya sanak keluarga di Purwokerto dan sebaliknya.
Lalu bagaimanakah mahasiswa yang berkuliah di UNSOED menyikapi keberadaan KA Maguwo Ekspress???
Segini aja pertanyaan saya, mohon maaf kalo super OOT. Semoga kawa2 RF bisa memberikan saya pencerahan.
Pernah beberapa kali mengalami naik KA dari Jakarta smp di Purwokerto pada malam, tengah malam dan subuh. Kemudian menunggu smp langit terang untuk melanjutkan perjalanan ke Cilacap menggunakan bus. Jika naik KA ekonomi biasanya beliau turun di Kroya. Pernah juga dijemput anaknya dengan mobil di Setasiu Purwokerto kemudian melanjutkan perjalanan ke Cilacap.
Begitu juga dari Cilacap, sewaktu belum ada Purwojaya, biasanya pak de ke Kroya dulu untuk naik KA ke Jkt baik itu yg ke melalui lintas selatan atau utara. Pada jamannya Purwojaya, jika pak de tidak sempat naik KA tersebut, biasanya beliau pasti akan ke Purwokerto untuk naik kereta malam ato pagi hari (non ekonomi)
Yang jadi pertanyaan saya terkait dengan keberadaan KA Maguwo Ekspress adalah:
1. Apakah contoh pengalaman berkereta api yang dialami pak de saya sudah dijadikan riset atau pertimbangan saat menentukan rute KA. Maguwo Ekspress pada awal peluncuran dan pada perkembangannya saat ini????
2. Apakah ada penumpang2 lain yang mengalami kesulitan yang sama dengan yang dialami pak de saya, kalo ada apakah presentasenya tidak cukup signifikan untuk membuat jadwal KA komuter Cilacap-Kroya-Purwokerto atau Cilacap-Kroya-Kutoarjo????
3. Apakah masyarakat di daerah Cilacap dan sekitarnya tau akan keberadaan KA Maguwo Ekspress????
4. Dan apakah masyarakat di daerah Cilacap dan sekitarnya lebih memlih angkutan roda 4 dan 2 ketimbang KA. Komuter???
Kalo dari pengalaman saya pribadi??? Setiap lebaran kalo mau bertamu ke Cilacap, biasanya orangtua saya pasti akan carter mobil milik tetangga (koperades atau mobil pribadi jenis carry/colt). Tarifnya (walau milik tetangga) biasanya PP sekitar 250 ribu, sopir ditanggung makan dan bensin plus jajanan ditambah lagi ada oleh2. Mengingat rumah saya di Baturraden, kalo kita mau ke Cilacap tanpa mencarter mobil, ya harus ke kota dulu naik Koperades yg jadwalnya sangat2 ngaret pada saat libur lebaran. Smp kota nyambung lagi naik angkutan ke terminal bis, terus smp terminal cari bis ke Cilacap. Kebayang kan ribetnya.
Nah apakah pengalaman pribadi seperti yg saya alami juga telah melalui riset bagi PT KA pada saat meluncurkan KA Maguwo Ekspress???
Saya rasa tidak sedikit warga Cilacap dan sekitarnya yang punya sanak keluarga di Purwokerto dan sebaliknya.
Lalu bagaimanakah mahasiswa yang berkuliah di UNSOED menyikapi keberadaan KA Maguwo Ekspress???
Segini aja pertanyaan saya, mohon maaf kalo super OOT. Semoga kawa2 RF bisa memberikan saya pencerahan.
![[Image: 00031_Iansbiggrandma_1Oktober2008_NEW320x240.jpg]](http://i1118.photobucket.com/albums/k620/nearistudiosoerabaia/00031_Iansbiggrandma_1Oktober2008_NEW320x240.jpg)
Murtini
Lahir: Purwokerto, 12 Desember 1950
Wafat: Jakarta, 17 Juli 2012
Selamat jalan mama. Kelak kita akan bertemu kembali.
Semboyan 40, 41, mama aman berangkat.
