27-12-2011, 05:27 PM
(This post was last modified: 27-12-2011, 06:11 PM by mas_bagus_ajah.)
(27-12-2011, 05:21 PM)mdnboy Wrote: jadi mereka juga memiliki maskapai KA swasta nampaknya?
Kayaknya nggak... Dulu dua perusahaan yang sekarang jadi Rapid KL (Star dan Putra) itu perusahaan Swasta, tapi karena nggak untung-untung ya akhirnya diakusisi pemerintah Malaysia.
Sementara kalau KLIA Ekspress atau KLIA Transit itu punya pengelola bandara Sepang, yang juga perusahaan punya pemerintah.
![[Image: overstappen.png]](https://www.semboyan35.com/images/overstappen.png)
Sesampainya di Kuala Lumpur, saya jadi teringat dengan masa-masa sewaktu saya kerja disana beberapa tahun silam. Juga hubungan saya dengan si dia yang bisa dibilang kaya “steamy hot romance†di masa silam.
![[Image: 6lastp.jpg]](http://i1202.photobucket.com/albums/bb367/bagus70/6lastp.jpg)
Si dia, walaupun kini berdomisili di Bandung, sudah menikah dengan orang lain dan saya tak sudi untuk menemuinya lagi.
Begitu juga saya tak ada waktu untuk reuni dengan rekan kerja di masa silam karena tempatnya agak keluar Kuala Lumpur.
Hal pertama yang ingin saya lakukan di KL adalah menemui kawan saya, seorang railfans Malaysia, bernama Kelvin. Kelvin kerja di kantor pusat (“ibupejabatâ€) Keretapi Tanah Melayu yang terletak di jalan Sultan Hishamuddin, pas di seberang stasiun Kuala Lumpur yang lama.
![[Image: c1.jpg]](http://i1202.photobucket.com/albums/bb367/bagus70/c1.jpg)
Tidak susah bagi saya untuk mencari lokasinya. Karena pernah tinggal lama sekali di KL, kota ini jauh lebih familiar bagi saya ketimbang Jakarta.
Kalaupun yang mengganggu adalah hujan yang super kolosal di KL sore hari itu. Payung yang saya bawa kayaknya nggak mempan, sampai-sampai dari dada ke bawah basah kuyup semua.
Sesampainya di Ibupejabat KTM, saya masuk ke hall utama dan melapor ke security disana. Sewaktu ditanya saya dari mana, saya ngibul dengan mengatakan kalau saya pegawai PT Kereta Api Indonesia. (Padahal bukan).
Karena tidak familiar dengan bangunan ini, saya sempat tersasar-sasar di dalam bangunan yang mengingatkan dengan gedung Lawang Sewu di Semarang.
Foto hall utama Ibupejabat KTM.
![[Image: c2.jpg]](http://i1202.photobucket.com/albums/bb367/bagus70/c2.jpg)
Tak lama kemudian akhirnya ketemu juga dengan Kelvin yang rupanya lagi jalan menuju ke hall utama untuk menemui saya.
![[Image: c3.jpg]](http://i1202.photobucket.com/albums/bb367/bagus70/c3.jpg)
Sayapun menyerahkan oleh-oleh saya ke Kelvin. Kami banyak bertukar cerita tentang situasi kereta api di negeri kami masing-masing.
Kelvin banyak mengajak saya untuk ikut kegiatan-kegiatan ala railfanning. Seperti ikut kegiatan tes jalan KRL yang baru datang dari China. Tapi berhubung acaranya diadakan di tengah malam, di tempat yang agak jauh dari Kuala Lumpur, maka saya memutuskan untuk tidak ikut saja.
![[Image: c4.jpg]](http://i1202.photobucket.com/albums/bb367/bagus70/c4.jpg)
Kelvin kini juga punya banyak akses ke informasi-informasi vital KA disana, termasuk jadwal-jadwal KA barang disana. Jadwal ini banyak sekali diminta oleh RF disana, karena rata-rata KA yang ditarik lokomotif di sekitar Kuala Lumpur adalah KA barang, seperti KA barang yang saya foto di tahun 2004 ini.
![[Image: c5.jpg]](http://i1202.photobucket.com/albums/bb367/bagus70/c5.jpg)
![[Image: overstappen.png]](https://www.semboyan35.com/images/overstappen.png)
Sebenarnya Kelvin juga mengajak saya untuk ikut kegiatan cab riding naik Blue Tiger, karena dia tahu kalau saya fans berat lokomotif yang satu itu.
Tapi karena saya jalan dengan rombongan, dan terikat jadwal, maka saya tidak bisa ikut.
Dan saya juga agak menyayangkan kalau waktu itu saya juga tidak ada waktu buat trainspotting di sekitaran KL. Dulu saya kalau mau nyari lokomotif in action di sekitaran Kuala Lumpur, ya larinya ke stasiun Jalan Kastam, dimana di tahun 2004 saya bisa memotret Blue Tiger dari Jarak dekat dari bawah.
![[Image: c6.jpg]](http://i1202.photobucket.com/albums/bb367/bagus70/c6.jpg)
Selesai ngobrol-ngobrol dengan Kelvin, sayapun pamit untuk balik ke hotel saya.
Dari depan Ibupejabat KTM saya sempatkan untuk memotret bangunan stasiun KL lama yang menarik, karena mirip masjid.
![[Image: c7.jpg]](http://i1202.photobucket.com/albums/bb367/bagus70/c7.jpg)
![[Image: c8.jpg]](http://i1202.photobucket.com/albums/bb367/bagus70/c8.jpg)
Jalan mobil di depan stasiun Kuala Lumpur.
![[Image: c9.jpg]](http://i1202.photobucket.com/albums/bb367/bagus70/c9.jpg)
Di sebelah kiri ini dulu adalah Heritage Hotel, tempat dimana penumpang yang bermalam bisa menginap. Tapi karena persaingan dengan banyak hotel di KL dan mungkin karena terkesan angker, hotel ini belakangan tidak laku dan tutup.
![[Image: c10.jpg]](http://i1202.photobucket.com/albums/bb367/bagus70/c10.jpg)
![[Image: overstappen.png]](https://www.semboyan35.com/images/overstappen.png)
Masuk ke peron, saya membeli karcis KTM Komuter untuk ke stasiun KL Sentral sebelum naik LRT ke hotel saya.
Suasana di peron stasiun KL Old.
![[Image: c11.jpg]](http://i1202.photobucket.com/albums/bb367/bagus70/c11.jpg)
![[Image: c12.jpg]](http://i1202.photobucket.com/albums/bb367/bagus70/c12.jpg)
Sayang sekali, kali ini saya tidak menemui lokomotif yang berseliweran seperti di tahun 2004 silam.
![[Image: c13.jpg]](http://i1202.photobucket.com/albums/bb367/bagus70/c13.jpg)
Bahkan saya juga tidak ketemu KA Orient Express yang super mewah (bahkan tarifnya termahal di Asia Tenggara).
Memang bisa memotret KA yang satu ini merupakan momen langka. Biasanya kalau ke KL, dia akan berhenti di stasiun tua ini, bukan di KL Sentral yang baru.
![[Image: c14.jpg]](http://i1202.photobucket.com/albums/bb367/bagus70/c14.jpg)
