28-01-2011, 09:38 AM
PT KA Rugi Miliaran Rupiah
Jumat, 28/01/2011 09:00 WIB - Kiki Dian S
SOLOâ€â€PT Kereta Api (KA) wilayah kerja Daop VI gencar lakukan identifikasi penumpang, guna membatasi pelayanan pada suporter sepakbola yang selama ini justru mendatangkan kerugian hingga miliaran rupiah kepada PT KA.[spoiler]
Kepala Humas KA Daop VI, Eko Budianto mengatakan, kebijakan identifikasi penumpang itu dimaksudkan agar para penumpang yang kental dan menggunakan atribut pendukung tim sepakbola tidak akan mendapatkan pelayanan penjualan tiket.
“Jadi, kebijakan kami, mengingat kejadian bertubi-tubi akibat ulah suporter justru PT KA yang dirugikan hingga miliaran rupiah, maka kami menolak melayani pembelian tiket para suporter pendukung klub mana saja. Setiap penumpang yang hendak membeli tiket akan kami identifikasi. Jadi kalau yang menggunakan atribut, syal, baju, teriak-teriak dan masih banyak lainnya, jelas tidak akan kami layani. Kami akan layani kalau semua atribut tersebut dilepas,†tegasnya.
Seperti diketahui, ketika ada pertandingan digelar di suatu kota, otomatis para suporter pendukung tim kesebelasan fanatik akan berdatangan ke tempat tujuan dengan menggunakan kereta api. Tentunya mengingat tarif tiket kereta api yang sangat murah, selain itu kadang mereka bisa saja menumpang tanpa membayar tiket.
Instruksi
Tak jarang pada perjalanan, para suporter tersebut berulah dan cenderung brutal. Di sisi lain, masyarakat di sepanjang rute yang dilalui para suporter tersebut juga membalas aksi suporter tersebut. “Seperti terakhir pada kereta api 144 Gaya Baru, pada Selasa (25/1) malam lalu harusnya lewat langsung, namun justru berhenti di stasiun Sragen karena dilempar batu, dan bom molotov di antara stasiun Jebres-Sragen, kerugiannya diprediksi hingga miliaran,†tukasnya.
Sejumlah kerugian tersebut, terinci dari 213 kaca kereta dan turbin yang pecah, padahal 1 unit kaca harganya Rp 300.000, sebagian tempat duduk kereta No K3 09505 terbakar, belum korban luka-luka akibat lemparan batu dan masih banyak lainnya.[/spoiler]
Senada, ditambahkan Kepala Stasiun Purwosari, Suwardi, sejak akhir tahun lalu pihaknya telah mendapat instruksi secara lisan dari Manajer Operasional Daop VI agar pihak stasiun tidak melayani para suporter sepakbola.
“Jadi pas Desember lalu, ketika ada pembinaan para kepala stasiun di Jogja, kami dikumpulkan dan mendapat perintah lisan yang intinya agar tidak melayani para suporter dan ini efektif diberlakukan,“ terangnya.
Secara detail ungkap Suwardi, para suporter akan diberitahu oleh operator tiket bila hendak membeli tiket kereta api.
“Selain itu, kami juga tidak melayani pembelian tiket rombongan suporter. Memang dulu bisa dilakukan, karena suporter juga dapat keringanan. Umpamanya dalam satu rombongan beli 21, maka hanya membayar 20 tiket saja. Namun, mulai sekarang tidak akan dilayani lagi,†tandasnya ditemui wartawan di kantornya, Kamis (27/1).
Kiki Dian S
Jumat, 28/01/2011 09:00 WIB - Kiki Dian S
SOLOâ€â€PT Kereta Api (KA) wilayah kerja Daop VI gencar lakukan identifikasi penumpang, guna membatasi pelayanan pada suporter sepakbola yang selama ini justru mendatangkan kerugian hingga miliaran rupiah kepada PT KA.[spoiler]
Kepala Humas KA Daop VI, Eko Budianto mengatakan, kebijakan identifikasi penumpang itu dimaksudkan agar para penumpang yang kental dan menggunakan atribut pendukung tim sepakbola tidak akan mendapatkan pelayanan penjualan tiket.
“Jadi, kebijakan kami, mengingat kejadian bertubi-tubi akibat ulah suporter justru PT KA yang dirugikan hingga miliaran rupiah, maka kami menolak melayani pembelian tiket para suporter pendukung klub mana saja. Setiap penumpang yang hendak membeli tiket akan kami identifikasi. Jadi kalau yang menggunakan atribut, syal, baju, teriak-teriak dan masih banyak lainnya, jelas tidak akan kami layani. Kami akan layani kalau semua atribut tersebut dilepas,†tegasnya.
Seperti diketahui, ketika ada pertandingan digelar di suatu kota, otomatis para suporter pendukung tim kesebelasan fanatik akan berdatangan ke tempat tujuan dengan menggunakan kereta api. Tentunya mengingat tarif tiket kereta api yang sangat murah, selain itu kadang mereka bisa saja menumpang tanpa membayar tiket.
Instruksi
Tak jarang pada perjalanan, para suporter tersebut berulah dan cenderung brutal. Di sisi lain, masyarakat di sepanjang rute yang dilalui para suporter tersebut juga membalas aksi suporter tersebut. “Seperti terakhir pada kereta api 144 Gaya Baru, pada Selasa (25/1) malam lalu harusnya lewat langsung, namun justru berhenti di stasiun Sragen karena dilempar batu, dan bom molotov di antara stasiun Jebres-Sragen, kerugiannya diprediksi hingga miliaran,†tukasnya.
Sejumlah kerugian tersebut, terinci dari 213 kaca kereta dan turbin yang pecah, padahal 1 unit kaca harganya Rp 300.000, sebagian tempat duduk kereta No K3 09505 terbakar, belum korban luka-luka akibat lemparan batu dan masih banyak lainnya.[/spoiler]
Senada, ditambahkan Kepala Stasiun Purwosari, Suwardi, sejak akhir tahun lalu pihaknya telah mendapat instruksi secara lisan dari Manajer Operasional Daop VI agar pihak stasiun tidak melayani para suporter sepakbola.
“Jadi pas Desember lalu, ketika ada pembinaan para kepala stasiun di Jogja, kami dikumpulkan dan mendapat perintah lisan yang intinya agar tidak melayani para suporter dan ini efektif diberlakukan,“ terangnya.
Secara detail ungkap Suwardi, para suporter akan diberitahu oleh operator tiket bila hendak membeli tiket kereta api.
“Selain itu, kami juga tidak melayani pembelian tiket rombongan suporter. Memang dulu bisa dilakukan, karena suporter juga dapat keringanan. Umpamanya dalam satu rombongan beli 21, maka hanya membayar 20 tiket saja. Namun, mulai sekarang tidak akan dilayani lagi,†tandasnya ditemui wartawan di kantornya, Kamis (27/1).
Kiki Dian S
.
