Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
K3 AC lintas Barat Daop 1 [KA KALIMAYA]
#91
(14-11-2012, 05:23 PM)CC-201-23 Wrote:
(14-11-2012, 03:30 PM)B 30 S Wrote:
(14-11-2012, 01:14 PM)aatea_goparmania Wrote:
(13-11-2012, 06:58 PM)CC-201-23 Wrote:
(13-11-2012, 11:59 AM)Expres Serayu Wrote: atau bisa jadi nanti pola operasinya :

RK-MER -> MER-THB -> THB-MER -> MER-THB -> THB-MER -> MER-RK.

atau bisa jadi bobo di SG. dengan mengganti huruf RK diatas menjadi SG.
Berarti jadwalnya ngga sejalan dengan para penglaju yg menetap di Barat Jakarta dong?

sepertinya sejak awal KA ini tidak diposisikan sebagai KA Komuter Lokal seperti halnya Rangkas Djaja dan Banten Express gan.....kalo ndak ga mungkin tarifnya setinggi ini...cmiiw loo...cm analisa ane ajah,....Xie Xie

meskipun bukanlah KA commuter, pangsa pasar jalur ini adalah para penglaju.
karakter jalur barat beda dengan jalur timur.
Menurut saya, seandainya jadi sampai merak kemungkinan begini
Srg-Thb => Thb-Mer => Mer-Thb => Thb-Srg

Apa ga bisa ya kalo polanya RK-THB==>THB-MRK==>MRK-THB==>THB-MRK==>MRK-THB==>THB-RK??

Bisa2 ajj cuma pola waktu keberangkatannya harus diatur dulu. Bisa2 ni kereta nyampe RK tengah malam. Atau bisa juga ditambah satu rangkaian lagi.
Reply
#92
(12-11-2012, 08:14 AM)aghi_2508 Wrote: Pagi semuanya...
Sabtu kemarin nyobain Kalimaya dari Tanahabang ke Serang pp. Berangkat THB jam 09.41, telat 6 menit dari jadwal. Yang naik sepi, saya di gerbong 1 yg naik paling 15-an orang. Ga tahu di gerbong 2 s.d. 5 kayak gimana. Waktu jalan sering ketahan sinyal masuk, ngodong di belakang ComLine Serpong. Sampai akhirnya lewat SRP, dan di Parungpanjang susul Langsam. Setelah itu lancarr jayaa sampai Serang jam 11.59 (telah 14 menit). Di Tigaraksa ga ada yg naik turun, di RK banyak yg turun, tp ga ada yg naik kayaknya... Woww, sampai Serang di gerbong 1 cuma ada 3 orang termasuk saya...hehehe
Pulangnya juga sama, dari Serang sepiiii. Tapi pas di RK banyak yg naik, katanya banyak rombongan IRPS dan ISLC yg habis blusukan di RK. Di Tigaraksa sama sekali ga ada yg naik turun.
Sampai lagi di THB jam 16.00, telat 5 menit. Begitu saya turun, calon penumpang yg mau ke Serang langsung nyerbu naik, lumayan banyak...

Menurut saya, Pelayanan Daop I bener2 pengen KA ini langgeng, terbukti dgn pelayanan-nya yg bagus. Petugasnya ramah, di dalam KA bersih, AC dingin, waktu stabling di Serang rangkaian juga dicuci dulu sebelum berangkat. Kereta makannya aja pake M1 satwa, mantepp. Kata PPKA Serang, rangkaiannya mau diganti K3 AC baru dari INKA. Kata PPKA-nya kalo pake K3 retrofit kesannya "jadul" dan penumpang sulit bedain dgn KA jalur barat lainnya...

Demikian, maaf kalo panjang...hehe Bye Bye

sumber:
http://www.radarbanten.com/beta/features...ga-kurang-

Harga Tiket Masih Mahal, Sosialisasi Juga Kurang
Senin, 5 November 2012 | 07:41 WIB


[Image: ka.jpg]

Embun pagi membuat tubuh terasa sejuk, saya akan mencoba menaiki Kereta Api (KA) Kalimaya ke Jakarta. Pada akhir Oktober 2012, kereta api ini diluncurkan. Apakah penamaan Kalimaya yang terinspirasi oleh “batu kalimaya” yang telah lama terkenal keindahannya bisa memikat penumpang?
Suasana Jumat (2/11) pagi sekira pukul 05.50 WIB udara di Stasiun Se­rang, mulai ramai. Pedagang dan pe­­num­pang membaur menjadi satu di sta­siun yang sudah berdiri sejak zaman Belanda ini. Tetesan embun pada rerem­putan di se­kitar bantaran rel terlihat me­nyejukkan mata.
Tampak satu rangkaian kereta api sudah me­nunggu. Saat saya hendak membeli kar­cis, loket tiket belum dibuka. Alhasil pem­belian dilakukan pada ruang informasi. Pe­tugas meminta saya menunjukkan kartu tanda penduduk (KTP) dan menye­dia­kan uang Rp 40 ribu untuk satu tiket. “Syarat kartu identitas ini bertujuan untuk menghindari percaloan,” kata petugas dengan ramah.
Setelah membeli tiket, saya melihat-lihat tentang Kereta Api (KA) Kalimaya dari brosur yang ditempelkan di stasiun. Sekilas kereta api yang memiliki delapan gerbong ini tampak dari luar tidak ada perbedaan dengan kereta api ekonomi. Namun, saat saya masuk ke dalamnya baru terlihat perbedaan yang cukup mencolok. Seperti kebersihan, keamanan, kenyamanan, ditambah pendingin udara. Setidaknya dalam satu gerbong ada enam pendingin udara dengan jumlah kapasitas penumpang mencapai 106 penumpang.
Kereta api ini adalah kereta api ekonomi yang disulap lebih modern. Kesan mewah terlihat mulai dari toilet, tempat duduk, penyejuk ruangan, dan sebagainya. Tidak ada sampah berserakan maupun pedagang yang kerap ditemui. Menu makanan yang disajikan cukup menggoyang lidah seperti nasi goreng, nasi rames, mi goreng, jus, dan sebagainya.
Dalam brosur di dinding yang tadi saya lihat, waktu tempuh KA Kalimaya jurusan Serang-Tanah Abang dua jam. Hmm, ini lebih cepat dari kereta api ekonomi yang membutuhkan waktu empat jam. Kereta ini hanya berhenti dua kali, di Stasiun Rangkasbitung dan Stasiun Tigaraksa, dengan jadwal keberangkatan dari Serang-Tanah Abang pukul 06.10 dan 13.45, dan Tanah Abang-Serang, pukul 09.45 dan 16.45.
Saat berangkat, penumpang masih sepi, hanya delapan orang. Kursi-kursi kosong tampak menganga. Selama dalam perjalanan sawah terlihat hijau. Dari beberapa penumpang yang saya temui, umumnya mereka naik KA Kalimaya untuk merasakan bagaimana kereta AC ini.
Salah satunya Rusdi, yang bekerja di agensi travel. Pria lulusan sekolah bisnis ini berkisah mengenai beberapa kekurangan dari KA Kalimaya. Terutama promosi yang membuat kereta ini masih sepi. Kata dia, tidak ada spanduk-spanduk maupun baliho yang menerangkan kereta baru tersebut. Harusnya kalau ingin memasyarakatkan KA Kalimaya, promosi dan sosialisasi gencar dilakukan. “Itu menjadi tugas pemerintah dan KAI. Untuk mempromosikan sebenarnya mudah. Misal dengan menggandeng media massa,” kata Rusdi.
Ia menilai harga tiket Rp 40 ribu itu terlalu mahal. “Masyarakat kota yang terbiasa menggunakan kendaraan pribadi maupun bus tidak mau naik kereta kalau tarifnya mahal. Kalau harga bus lebih murah, buat apa naik kereta,” tambahnya.
Obrolan berhenti seketika saat kereta tiba di Stasiun Rangkasbitung sekira pukul 07.00 WIB. Puluhan penumpang naik. Suasana lebih ramai dibanding saat perjalanan dari Serang. Kalau melihat jadwal harusnya dua menit sudah berangkat lagi, namun hingga sepuluh menit, kereta belum berangkat. Usut punya usut, keterlambatan terjadi lantaran ada gangguan berupa patahnya rel di jalur Rangkasbitung-Citeras.
Ratusan penumpang terlihat menunggu di bangku-bangku stasiun, sebagian duduk hanya menggunakan kertas koran. Mereka adalah penumpang yang akan menaiki kereta api ekonomi. Di stasiun yang didominasi oleh bangunan tua ini kokoh dengan ornamen-ornamen khas Belanda. “Ini bangunan peninggalan Belanda, Mas, memang sengaja tidak direnovasi biar kelihatan antik dan juga sebagai promosi wisata,” kata Hendra, seorang petugas stasiun.
Beberapa petugas keamanan berjaga di KA Kalimaya. Langkah ini dilakukan untuk menghindari terjadinya salah masuk penumpang yang mengira KA Kalimaya adalah kereta api ekonomi. “Kalau tidak dijaga banyak masuk Mas, karena memang dari luar KA Kalimaya seperti kereta ekonomi,” ujar Yudi, petugas keamanan.
Setelah menunggu kurang lebih satu jam setengah, kereta api berangkat pukul 08.30. Suara peluit terdengar nyaring menandakan keberangkatan. Suasana lebih hidup dengan celoteh-celoteh penumpang. Umumnya pembicaraan berkisar pada kereta baru ini.
Dari beberapa obrolan penumpang yang saya tangkap, KA Kalimaya rupanya belum dikenal masyarakat. Penumpang terbiasa menggunakan kereta api ekonomi dengan tarif Rp 4.000. “Banyak yang belum tahu ada KA Kalimaya. Makanya dari kapasitas 846 penumpang tempat duduk, rata-rata hanya terisi 120 penumpang,” kata Suharso, seorang pemeriksa tiket, saat berbincang dengan Radar Banten di ruang restorasi.
Meski begitu, sejak diluncurkan satu minggu lalu, jumlah penumpang terus mengalami peningkatan. Pada hari pertama mencapai belasan penumpang, kini rata-rata sudah di angka ratusan. “Ramainya saat di Rangkasbitung, Mas, sedang dari Serang tidak begitu banyak,” tambah Suharso.
Sementara Rizkie, mengaku baru tahu kalau ada kereta api AC ekonomi. “Makanya saya ingin mencoba naik kereta ini, kalau dari fasilitasnya lumayan, namun tiketnya Rp 40 ribu cukup mahal,” katanya yang berprofesi sebagai PNS di Jakarta ini.
Menurutnya, perbedaan tarif yang tinggi dari ekonomi membuat KA Kalimaya kurang dilirik masyarakat. Perlu ada terobosan agar kereta ini bisa menarik penumpang. “Misalnya dengan memberikan diskon atau adanya tiket terusan untuk satu bulan. Saya yakin warga yang bekerja di Jakarta akan menggunakan kereta ini,” ujarnya.
Anggita, seorang penumpang lainnya, mengatakan, harga tiket perlu diturunkan karena citra kereta kan transportasi massal yang murah. “Kalau fasilitasnya seperti ini dengan tiket yang murah, saya yakin masyarakat yang biasa menggunakan kendaraan pribadi akan beralih memakai jasa kereta api. Bila ini berhasil akan mengurangi kemacetan,” katanya.
Tidak terasa, obrolan seputar kereta api harus berakhir lantaran Stasiun Tanah Abang sudah menanti, tepat pukul 10.25. Suasana sumpek langsung terasa ketika menginjakkan kaki di stasiun yang berada di Jakarta Pusat ini. Ratusan penumpang, perlahan-lahan mulai keluar. Hasil diskusi dengan penumpang, PT KA dan pemerintah harus membuat terobosan untuk memasyarakatkan kereta api. Tidak hanya harga yang lebih murah, berbagai fasilitas penunjang mesti dibenahi, terutama persoalan keamanan, kenyamanan, dan ketepatan waktu.(*)
RF spoor_jadul, telah menjadi warga Semboyan35, Indonesian Railfans sejak Jul 2010.
Reply
#93
(19-11-2012, 02:09 PM)spoor_jadul Wrote:
(12-11-2012, 08:14 AM)aghi_2508 Wrote: Pagi semuanya...
Sabtu kemarin nyobain Kalimaya dari Tanahabang ke Serang pp. Berangkat THB jam 09.41, telat 6 menit dari jadwal. Yang naik sepi, saya di gerbong 1 yg naik paling 15-an orang. Ga tahu di gerbong 2 s.d. 5 kayak gimana. Waktu jalan sering ketahan sinyal masuk, ngodong di belakang ComLine Serpong. Sampai akhirnya lewat SRP, dan di Parungpanjang susul Langsam. Setelah itu lancarr jayaa sampai Serang jam 11.59 (telah 14 menit). Di Tigaraksa ga ada yg naik turun, di RK banyak yg turun, tp ga ada yg naik kayaknya... Woww, sampai Serang di gerbong 1 cuma ada 3 orang termasuk saya...hehehe
Pulangnya juga sama, dari Serang sepiiii. Tapi pas di RK banyak yg naik, katanya banyak rombongan IRPS dan ISLC yg habis blusukan di RK. Di Tigaraksa sama sekali ga ada yg naik turun.
Sampai lagi di THB jam 16.00, telat 5 menit. Begitu saya turun, calon penumpang yg mau ke Serang langsung nyerbu naik, lumayan banyak...

Menurut saya, Pelayanan Daop I bener2 pengen KA ini langgeng, terbukti dgn pelayanan-nya yg bagus. Petugasnya ramah, di dalam KA bersih, AC dingin, waktu stabling di Serang rangkaian juga dicuci dulu sebelum berangkat. Kereta makannya aja pake M1 satwa, mantepp. Kata PPKA Serang, rangkaiannya mau diganti K3 AC baru dari INKA. Kata PPKA-nya kalo pake K3 retrofit kesannya "jadul" dan penumpang sulit bedain dgn KA jalur barat lainnya...

Demikian, maaf kalo panjang...hehe Bye Bye

sumber:
http://www.radarbanten.com/beta/features...ga-kurang-

Harga Tiket Masih Mahal, Sosialisasi Juga Kurang
Senin, 5 November 2012 | 07:41 WIB


[Image: ka.jpg]

Embun pagi membuat tubuh terasa sejuk, saya akan mencoba menaiki Kereta Api (KA) Kalimaya ke Jakarta. Pada akhir Oktober 2012, kereta api ini diluncurkan. Apakah penamaan Kalimaya yang terinspirasi oleh “batu kalimaya” yang telah lama terkenal keindahannya bisa memikat penumpang?
Suasana Jumat (2/11) pagi sekira pukul 05.50 WIB udara di Stasiun Se­rang, mulai ramai. Pedagang dan pe­­num­pang membaur menjadi satu di sta­siun yang sudah berdiri sejak zaman Belanda ini. Tetesan embun pada rerem­putan di se­kitar bantaran rel terlihat me­nyejukkan mata.
Tampak satu rangkaian kereta api sudah me­nunggu. Saat saya hendak membeli kar­cis, loket tiket belum dibuka. Alhasil pem­belian dilakukan pada ruang informasi. Pe­tugas meminta saya menunjukkan kartu tanda penduduk (KTP) dan menye­dia­kan uang Rp 40 ribu untuk satu tiket. “Syarat kartu identitas ini bertujuan untuk menghindari percaloan,” kata petugas dengan ramah.
Setelah membeli tiket, saya melihat-lihat tentang Kereta Api (KA) Kalimaya dari brosur yang ditempelkan di stasiun. Sekilas kereta api yang memiliki delapan gerbong ini tampak dari luar tidak ada perbedaan dengan kereta api ekonomi. Namun, saat saya masuk ke dalamnya baru terlihat perbedaan yang cukup mencolok. Seperti kebersihan, keamanan, kenyamanan, ditambah pendingin udara. Setidaknya dalam satu gerbong ada enam pendingin udara dengan jumlah kapasitas penumpang mencapai 106 penumpang.
Kereta api ini adalah kereta api ekonomi yang disulap lebih modern. Kesan mewah terlihat mulai dari toilet, tempat duduk, penyejuk ruangan, dan sebagainya. Tidak ada sampah berserakan maupun pedagang yang kerap ditemui. Menu makanan yang disajikan cukup menggoyang lidah seperti nasi goreng, nasi rames, mi goreng, jus, dan sebagainya.
Dalam brosur di dinding yang tadi saya lihat, waktu tempuh KA Kalimaya jurusan Serang-Tanah Abang dua jam. Hmm, ini lebih cepat dari kereta api ekonomi yang membutuhkan waktu empat jam. Kereta ini hanya berhenti dua kali, di Stasiun Rangkasbitung dan Stasiun Tigaraksa, dengan jadwal keberangkatan dari Serang-Tanah Abang pukul 06.10 dan 13.45, dan Tanah Abang-Serang, pukul 09.45 dan 16.45.
Saat berangkat, penumpang masih sepi, hanya delapan orang. Kursi-kursi kosong tampak menganga. Selama dalam perjalanan sawah terlihat hijau. Dari beberapa penumpang yang saya temui, umumnya mereka naik KA Kalimaya untuk merasakan bagaimana kereta AC ini.
Salah satunya Rusdi, yang bekerja di agensi travel. Pria lulusan sekolah bisnis ini berkisah mengenai beberapa kekurangan dari KA Kalimaya. Terutama promosi yang membuat kereta ini masih sepi. Kata dia, tidak ada spanduk-spanduk maupun baliho yang menerangkan kereta baru tersebut. Harusnya kalau ingin memasyarakatkan KA Kalimaya, promosi dan sosialisasi gencar dilakukan. “Itu menjadi tugas pemerintah dan KAI. Untuk mempromosikan sebenarnya mudah. Misal dengan menggandeng media massa,” kata Rusdi.
Ia menilai harga tiket Rp 40 ribu itu terlalu mahal. “Masyarakat kota yang terbiasa menggunakan kendaraan pribadi maupun bus tidak mau naik kereta kalau tarifnya mahal. Kalau harga bus lebih murah, buat apa naik kereta,” tambahnya.
Obrolan berhenti seketika saat kereta tiba di Stasiun Rangkasbitung sekira pukul 07.00 WIB. Puluhan penumpang naik. Suasana lebih ramai dibanding saat perjalanan dari Serang. Kalau melihat jadwal harusnya dua menit sudah berangkat lagi, namun hingga sepuluh menit, kereta belum berangkat. Usut punya usut, keterlambatan terjadi lantaran ada gangguan berupa patahnya rel di jalur Rangkasbitung-Citeras.
Ratusan penumpang terlihat menunggu di bangku-bangku stasiun, sebagian duduk hanya menggunakan kertas koran. Mereka adalah penumpang yang akan menaiki kereta api ekonomi. Di stasiun yang didominasi oleh bangunan tua ini kokoh dengan ornamen-ornamen khas Belanda. “Ini bangunan peninggalan Belanda, Mas, memang sengaja tidak direnovasi biar kelihatan antik dan juga sebagai promosi wisata,” kata Hendra, seorang petugas stasiun.
Beberapa petugas keamanan berjaga di KA Kalimaya. Langkah ini dilakukan untuk menghindari terjadinya salah masuk penumpang yang mengira KA Kalimaya adalah kereta api ekonomi. “Kalau tidak dijaga banyak masuk Mas, karena memang dari luar KA Kalimaya seperti kereta ekonomi,” ujar Yudi, petugas keamanan.
Setelah menunggu kurang lebih satu jam setengah, kereta api berangkat pukul 08.30. Suara peluit terdengar nyaring menandakan keberangkatan. Suasana lebih hidup dengan celoteh-celoteh penumpang. Umumnya pembicaraan berkisar pada kereta baru ini.
Dari beberapa obrolan penumpang yang saya tangkap, KA Kalimaya rupanya belum dikenal masyarakat. Penumpang terbiasa menggunakan kereta api ekonomi dengan tarif Rp 4.000. “Banyak yang belum tahu ada KA Kalimaya. Makanya dari kapasitas 846 penumpang tempat duduk, rata-rata hanya terisi 120 penumpang,” kata Suharso, seorang pemeriksa tiket, saat berbincang dengan Radar Banten di ruang restorasi.
Meski begitu, sejak diluncurkan satu minggu lalu, jumlah penumpang terus mengalami peningkatan. Pada hari pertama mencapai belasan penumpang, kini rata-rata sudah di angka ratusan. “Ramainya saat di Rangkasbitung, Mas, sedang dari Serang tidak begitu banyak,” tambah Suharso.
Sementara Rizkie, mengaku baru tahu kalau ada kereta api AC ekonomi. “Makanya saya ingin mencoba naik kereta ini, kalau dari fasilitasnya lumayan, namun tiketnya Rp 40 ribu cukup mahal,” katanya yang berprofesi sebagai PNS di Jakarta ini.
Menurutnya, perbedaan tarif yang tinggi dari ekonomi membuat KA Kalimaya kurang dilirik masyarakat. Perlu ada terobosan agar kereta ini bisa menarik penumpang. “Misalnya dengan memberikan diskon atau adanya tiket terusan untuk satu bulan. Saya yakin warga yang bekerja di Jakarta akan menggunakan kereta ini,” ujarnya.
Anggita, seorang penumpang lainnya, mengatakan, harga tiket perlu diturunkan karena citra kereta kan transportasi massal yang murah. “Kalau fasilitasnya seperti ini dengan tiket yang murah, saya yakin masyarakat yang biasa menggunakan kendaraan pribadi akan beralih memakai jasa kereta api. Bila ini berhasil akan mengurangi kemacetan,” katanya.
Tidak terasa, obrolan seputar kereta api harus berakhir lantaran Stasiun Tanah Abang sudah menanti, tepat pukul 10.25. Suasana sumpek langsung terasa ketika menginjakkan kaki di stasiun yang berada di Jakarta Pusat ini. Ratusan penumpang, perlahan-lahan mulai keluar. Hasil diskusi dengan penumpang, PT KA dan pemerintah harus membuat terobosan untuk memasyarakatkan kereta api. Tidak hanya harga yang lebih murah, berbagai fasilitas penunjang mesti dibenahi, terutama persoalan keamanan, kenyamanan, dan ketepatan waktu.(*)

[Image: ea67c397-dedf-443b-a5c1-0408afb83bbf_zps4948e7b7.jpg]
Kalimaya heading to Merak via Pondok Ranji station
Reply
#94
mungkin keretanya perlu dicat warna biru-putih juga atau yang eye catching gitu biar beda ama kereta rangkas/banten, ni salah satu strategi pemasaran juga, soalnya kalo orang liat ada kereta baru lewat pasti penasaran terus pengen coba,,,

dengan pasar yang kelasnya lebih tinggi kereta ini harus mbangun kesan yang berbeda ama ekonomi biasa yang kalo pagi&sore penumpangnya sampe pada manjat ke atap, lagian dengan harga yang lebih mahal pastinya ada rasa gengsi tersendiri saat penumpang narsis di kereta yang penampakannya beda ama yang selama ini mondar-mandir di sekitarnya Ngakak
jerit peluit iringi putaran cakram membelai batang baja
. . . . .



[Image: new2copy.jpg]

Reply
#95
Rp 40.000 x okupansi kurang 50% jika dibandingkan dengan Rp 25.000 tapi okupansi 100% akan menguntungkan mana ya?
Reply
#96
(20-11-2012, 03:35 PM)Lin Ming Wrote: Rp 40.000 x okupansi kurang 50% jika dibandingkan dengan Rp 25.000 tapi okupansi 100% akan menguntungkan mana ya?

TARIF MAHAL
itulah kalimat yg diucapkan byk org setiap bicara ttg ini KA.. itu yg saya dengar sendiri ketika sya naik KA Lokal rangkas & bersilang sm Kalimaya.
seengganya 20-25rb aja.. mgkn okupansi bs naik.
tp yaaa semoga ni KA LAnggeng Big Grin
Reply
#97
(20-11-2012, 03:35 PM)Lin Ming Wrote: Rp 40.000 x okupansi kurang 50% jika dibandingkan dengan Rp 25.000 tapi okupansi 100% akan menguntungkan mana ya?

Tergantung dari sudut pandang mana yg menentukan. Kalo dari PT. Kereta Api Indonesia (Persero) ya memilih harga Rp 40.000,- tapi okupansi kurang dari 50%. Toh ntar kalo peminatnya sedikit ya tinggal dikurangi rangkaiannya, nggak perlu heran kalo KA sekarang pendek2 rangkaiannya.
Reply
#98
bagi saya dengan harga 40.000 sudah cukup layak, karena selain jarak tempuh kereta ini jg jauh. pelayanannya jg enak.
Lebih asik lagi seandainya bisa sampai Merak.
Sebagian besar Railfans sejatinya adalah konsumen pengguna kereta
Reply
#99
yg paling menarik di kalimaya adalah dikereta makannya pake M1 0 82 06 JAKK nyaman dan betah lama-lama itu kereta makannya sebelumnya dipake di ka mana yak??
Semboyan 35debaran hatiku
WAHANA DAYA PERTIWI

yen nglurug tanpo bolo ...menang tanpo ngasorake
Reply
(26-11-2012, 11:11 AM)slamtrack Wrote: yg paling menarik di kalimaya adalah dikereta makannya pake M1 0 82 06 JAKK nyaman dan betah lama-lama itu kereta makannya sebelumnya dipake di ka mana yak??

hah M1 0 82 06 JAKK?
bisa nyasar di kalimaya gitu si M1nya Bima
saya pernah ngerasain naek di M1 itu, ga ada ACnya Ngakak
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)