Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Trip Report Dua Dunia: Pulang Kampung naik Merpati vs Turangga
#1
Sebelum saya memulai cerita saya, saya mungkin mau mengingatkan kalau sebagian isi cerita ini mungkin terkesan tidak layak diposting di Semboyan35.com, dan lebih pantas untuk Indoflyer.net.
Tetapi cerita ini mungkin bisa menjadi patokan apa kelebihan dan kekurangan masing-masing moda transportasi.
Dan walaupun cerita perjalanan saya dengan pesawat terbang terkesan cukup eksplisit, tetapi saya tetaplah seorang railfans sejati.

AWAL CERITA
Semenjak saya membuka warung di Bandung, bisa dibilang bahwa kini waktu bersenang-senang saya berkurang drastis. Bahkan untuk pulang kampung, saya juga punya waktu terbatas, karena warung hanya boleh buka jika saya ada di tempat saja. Jika tidak, maka tidak boleh buka.
Akibatnya, saya hanya bisa pulang ke Surabaya pas hari-H saja. Otomatis, agar saya bisa menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluarga saya, maka saya tidak boleh lama-lama di jalan.
Pilihan akhirnya jatuh ke moda transportasi pesawat terbang. Karena pesawat bisa menempuh perjalanan Bandung-Surabaya hanya dalam waktu satu jam. Sementara kereta api 13 kali lebih lama!
Namun karena pada saat kembali ke Bandung saya harus membawa bumbu-bumbu dari Surabaya, maka pilihan moda transportasi baliknya jelas pakai kereta api, karena di kereta api tidak ada batas maksimal berat bagasi.
Penggunaan kedua moda transportasi yang berbeda (bahkan cenderung bersaing) akhirnya menginspirasi saya untuk menulis artikel ini.

PERPANJANGAN WAKTU
Bisa dibilang, Lebaran kali ini adalah libur lebaran terpendek yang saya alami di Surabaya. Awalnya malah saya akan ke Surabaya selama 2 hari saja. Tetapi karena Idul Fitri ternyata jatuh tanggal 20 September 2009 (dari yang tadinya diprediksi tangal 21), maka saya akhirnya tinggal selama 3 hari di Surabaya.
Memindah tanggal kembali ke Bandung jelas mustahil, karena tiket kereta api di saat libur Idul Fitri sangat susah didapat. Jadi apa yang sudah dipegang, sebaiknya dipertahankan.
Reply
#2
Terus kang ?Bingung ko berhenti?
Reply
#3
Sementara kumandang takbir dan takhmid malam 1 Syawal berkumandang di kota Bandung, saya sudah mulai mengepak pakaian dan barang-barang saya. Setelah selesai mandi (dengan air hangat, daripada beku kedinginan ), sayapun langsung bertolak menuju ke airport Hussein Sastranegara, Bandung, dengan diantar pakai motor oleh karyawan warung saya pukul 4,30 pagi.
Kalau mau jujur, sebenarnya rumah saya di Bandung lebih dekat ke airport, daripada ke stasiun Bandung. Namun baru kali ini saya mampir ke airport untuk pulang kampung. Biasanya kalau pulang ke Surabaya, saya selalu pakai kereta api. Tapi karena keterbatasan waktu, dan agar saya bisa lebih banyak menyempatkan waktu dengan keluarga, maka saya memilih pulang naik pesawat. Dan pesawat yang saya pilih adalah Merpati, yang berangkat pukul 6 pagi.

CHECK IN
Sesampainya di Airport, saya langsung menuju ke counter Merpati. Tetapi rupanya counternya masih belum buka. Di meja itu, ada seorang cewek yang sebenarnya cakep. Tetapi karena wajahnya masam, maka saya tidak peduli.
Begitu counter dibuka, petugas langsung dengan sigap menghandel tas saya, tanpa saya sempat melihat, dibawa kemana barang saya. Yang pasti, tas punggung tetap saya bawa, karena ada laptop, uang, dan barang berharga lainnya. Dan yang agak mengherankan, saya juga diberi masker. Mungkin pencegahan agar tak menularkan Flu Babu.
Setelah selesai urusan check in, saya langsung menuju ke ruang tunggu diatas. Ternyata kecil juga airport Bandung ini. Malah menurut saya, hall tengah stasiun Bandung jauh lebih besar dari ini.
Saya lihat keluar, masih gelap. Tampak di landasan ada 3 pesawat, yaitu 2 pesawat Indonesian Air Asia, serta satu Merpati. Ketiganya dari jenis Boeing 737-300.
Penungguan yang lama ini yang membedakan antara kereta api dengan pesawat. Penumpang pesawat harus datang ke airport paling lambat satu jam sebelum pesawat berangkat, agar pesawat bisa berangkat tepat waktu. Bahkan mereka yang datang 15 menit sebelum pesawat berangkat, tetap dianggap terlambat walaupun pesawat belum berangkat.
Sementara kereta api walaupun tinggal 1 menit sebelum berangkat, kita masih tetap boleh masuk ke dalam kereta api. Tanpa proses check in.
Memang secara teori, pesawat lebih bisa on-time daripada kereta api. Tetapi kenyataan di lapangan membuktikan sebaliknya. Apalagi tingkat kehandalan teknis pesawat kita yang masih kalah dengan kereta api, membuat kereta api bisa lebih sering berangkat tepat waktu dibandingkan dengan pesawat.

BOARDING
Pada saat matahari mulai naik, suasana mulai terang. Sayapun bisa melihat airport Hussein dengan lebih jelas. Sungguh luar biasa bahwa saya bisa melihat hamparan lahan hijau seluas ini di kota Bandung yang makin lama makin sesak ini. Walaupun di latar belakang ada pabrik IPTN, tetapi itu tidak mengurangi suasana ala jaman Belanda di areal ini.
Walaupun begitu, susah dipercaya bahwa dibalik hamparan hijau ini ada kesemerawutan dan kekumuhan daerah perbatasan Bandung-Cimahi.
Tepat pukul 6.03 pagi, setelah para penumpang Air Asia tujuan Singapore naik pesawat, para penumpang Merpati tujuan Surabaya dipanggil untuk naik keatas pesawat. Wah, berdebar-debar rasanya, karena ini pertama kali semejak awal tahun 2001 saya berpergian naik pesawat sendirian. Sebagai catatan, waktu itu saya naik pesawat dari Denpasar tujuan Perth, Australia.
Selama berjalan dari ruang tunggu keatas pesawat, saya menyempatkan diri memotret-motret suasana, serna pesawat-pesawat yang diparkir. Maklum, saya jarang naik pesawat, jadi ini adalah momen yang langka sekali. Karena tangga depan sesak, saya dan beberapa penumpang diarahkan untuk naik lewat tangga belakang.
Begitu saya masuk ke dalam kabin, saya melihat kesibukan para penumpang yang memasukkan bawaan mereka ke dalam overhead bin diatas. Dan harus saya akui, kabin kereta api masih lebih lega daripada ini, karena jarak antar kursi cukup rapat. Bahkan dengkul orang dewasa menempel dengan kursi di depannya.
Sayapun langsung duduk di kursi saya yang persis di jendela kanan, di belakang sayap persis. Sehingga saya bisa melihat pemandangan dengan cukup leluasa.

TAKE OFF
Kira-kira 15 menit setelah boarding, mesin pesawat mulai dihidupkan, dan pesawat bergerak menuju ke landasan pacu. Tak seperti di airport lainnya yang pernah saya kunjungi, di sini pesawat langsung bergerak maju, tanpa harus didorong terlebih dahulu.
Dan tak seperti keberangkatan pada umumnya, kali ini pesawat berjalan dahulu ke sebelah timur landasan pacu. Sepanjang perjalanan saya bisa melihat areal IPTN yang dipenuhi pesawat yang mau diservis, serta deretan perumahan yang lokasinya cukup dekat dengan landasan. Saya tak bisa membayangkan, betapa tersiksanya tinggal di sana. Saya juga bisa melihat, kenapa bandara Hussein Sastranegara dijaga cukup ketat: rupanya ada pangkalan C-130 Hercules yang cukup besar di sebelah barat bandara. Walaupun penerbangan pesawat Hercules belakangan ini cukup langka.
Setelah pesawat memutar arah, sang pilot langsung membuka gas besar-besar dan pesawat langsung melaju dengan kecepatan tinggi.
Beberapa detik kemudian, pesawat langsung mengangkasa dan saya merasa takjub akhirnya bisa melihat kota Bandung dari atas ketinggian. Tak lupa saya merekam momen ini dengan kamera saya.
Saya juga bisa melihat jalan Padjadjaran yang agak lengang, areal stasiun Ciroyom serta bekas sisa pelataran stasiun Bandung Gudang yang sebagian besar arealnya menjadi Paskal Hypersquare, depo kereta Bandung, serta depo lokomotif Bandung. Malah saat pesawat lewat diatas stasiun Bandung, saya bisa melihat KA Mutiara Selatan yang baru masuk stasiun Bandung. Yang luar biasa, kereta ini saking panjangnya, sampai begitu lokomotif lewat dibawah jembatan penyeberangan (di bekas perlintasan jalan Otista), ekor kereta ini masih ada diatas viaduct Bandung!

CRUISING
Sayapun bisa melihat bahwa ternyata pesawat ini menyusuri rel kereta api, dari Bandung hingga Cicalengka. Hanya jika setelah Cicalengka rel kereta berkelak-kelok, pesawat lurus saja!
Saya bahkan bisa memotret kabupaten Garut bagian utara dalam 1 frame foto! Termasuk juga daerah seperti stasiun Lebakjero dan tikungan besar Leles, semua bisa kelihatan (walaupun samar-samar).
Saya juga bisa melihat, kenapa stasiun Cipeundeuy medannya berat. Ternyata memang di daerah itu ada semacam “tembok” pegunungan yang cukup terjal. Dan sepertinya pegunungan ini cukup susah dihindari.
Dan ternyata pesawat bisa menempuh perjalanan Bandung-Banjar hanya dalam waktu 15 menit saja!
Selama perjalanan, saya juga cukup asyik melihat deretan gunung api yang ada di pulau Jawa. Termasuk juga gunung Merapi yang lagi “tenang” karena tidak mengeluarkan asap.
Walaupun tak kelihatan jelas, tetapi saya juga bisa menemui lokasi museum KA Ambarawa, karena saya bisa melihat dengan jelas gunung Merbabu, Telomoyo serta Rawa Pening yang ada di bawah.
Berbeda dengan dulu, makanan di atas pesawat saat ini lebih banyak snack daripada makanan besar. Snacknya juga mungkin tidak seeksklusif jaman dulu, tetapi paling tidak masih jauh lebih baik daripada di atas kereta api (nggak dapat apa-apa).

FINAL APPROACH
Begitu memasuki daerah Jawa Timur, pesawat perlahan mulai mengurangi ketinggian. Dan perlahan-lahan daratan di bawah mulai kelihatan jelas. Jika daerah di sekitar Jawa Barat terlihat hijau dan subur, di daerah Jawa Timur kelihatan agak kecoklatan karena memang jarang hujan.
Di daerah Sepanjang saya juga bisa melihat pertemuan antara jalur kereta api dan jalan raya. Yang luar biasa, saya bisa melihat jalur KA yang lurus dan memanjang hingga ke cakrawala.
Namun saya juga agak kecewa bahwa daerah Sepanjang itu kini mirip Rancaekek di Bandung. Jadi dulu daerah itu merupakan daerah yang penuh persawahan yang menghijau. Namun kemudian banyak perumahan, dan kini malah banyak pabrik juga!

LANDING
Sekitar pukul 7 pagi, pesawat akhirnya mendarat di bandar udara Juanda di Surabaya. Sesaat setelah mendarat, penumpang masih belum boleh diijinkan untuk berdiri dulu hingga pesawat berhenti.
Dari dalam pesawat, saya juga bisa melihat terminal lama airport Juanda lama yang ditutup tahun 2007 silam, serta beberapa pesawat tua yang diparkir di depannya. Tetapi yang membuat saya agak terkejut adalah dua pesawat Boeing 777-300 milik Cathay Pacific yang diparkir di depan terminal Juanda yang baru. Kenapa kok ada dua ya?
Dan kalau itu kurang, beberapa saat kemudian, muncul juga pesawa Airbus A330-300 milik Garuda. Wah, benar-benar panen jumbojet hari ini.
Setelah pesawat berhenti, para penumpang mulai mengambil barang bawaan mereka dari atas overhead bin, dan turun dari pesawat. Begitu keluar dari pesawat, saya bisa merasakan hawa panas yang agak menyengat.
Walaupun kini di airport Juanda yang baru ada belalai gajah, tetapi pesawat saya tak kebagian itu, sehingga penumpang harus naik bus ke terminal.

Sayangnya sewaktu saya mengambil bagasi ada insiden yang tak mengenakkan, yang mencoreng reputasi maskapai Merpati. Rupanya tas saya di tag “Denpasar” sehingga nyaris saja terbawa ke sana. Pantas saja, sewaktu menunggu bagasi, tas saya tak kunjung muncul. Untungnya, karena pesawat masih lama berangkatnya, akhirnya tas saya bisa kembali ke tangan saya.

Setelah menyelesaikan urusan bagasi, sayapun langsung keluar dan dijemput oleh kakak saya. Sambil melihat Surabaya yang makin lama makin futuristik saja kerapiannya.
[spoiler=Berikut potonya]

kapanlagi

20091006110918_1_Merpati_Hussein_4acac2ee91d5d.jpg

kapanlagi

20091006110918_2_Merpati_interior_4acac2ee987c4.jpg

kapanlagi

20091006110918_3_Cicalengka_4acac2ee9d5e7.jpg

kapanlagi

20091006110918_4_Garut_4acac2eea70c4.jpg

kapanlagi

20091006110918_5_Cipeundeuy_4acac2eeb0d11.jpg

kapanlagi

20091006110918_6_Ambarawa_4acac2eeb8231.jpg

kapanlagi

20091006110918_6_Sepanjang_4acac2eec4633.jpg

kapanlagi

20091006110918_7_CX_B777300_4acac2eecbb52.jpg

kapanlagi

20091006110918_8_GA_A330300_4acac2eed0c18.jpg
[/spoiler]
Reply
#4
Masing masing ada plus minus nya.

Tergantung maunya kita. Tapi saya pribadi, kalo disuruh milih, lebih seneng naik KA
Ku mau terbang dan tenggelam, menjalani semua ini .....
"Terbang Tenggelam" ~ song by NETRAL
Reply
#5
Eh, tapi udah ada yang lihat foto-fotonya belum? Ada foto stasiun Lebakjero dan Leles curve dari udara lho. Juga foto stasiun Cipeundeuy dan Cirahayu dari udara. Juga museum Ambarawa dari udara.

gimana pendapat kalian tentang foto-fotonya?
Reply
#6
Terusin dong kang...
[Image: photo.php?pid=379024&id=100000253048256&ref=fbx_album]

KCJ 7000 series-7117F
Reply
#7
Lha ditunggu dulu komentar tentang foto-fotonya, baru saya terusin.
Reply
#8
antara st.leles n st.lebakjero, busset reliefnya variatif. btw mata ente tanjam jg bs tau posisi2 itu tasiun.
Keep Fighting Never Give
Reply
#9
(06-10-2009, 01:38 PM)ouilevio Wrote: antara st.leles n st.lebakjero, busset reliefnya variatif. btw mata ente tanjam jg bs tau posisi2 itu tasiun.

Makasih banyak atas commentnya mas.

Next comment please....
Reply
#10
(06-10-2009, 01:48 PM)bagus70 Wrote:
(06-10-2009, 01:38 PM)ouilevio Wrote: antara st.leles n st.lebakjero, busset reliefnya variatif. btw mata ente tanjam jg bs tau posisi2 itu tasiun.

Makasih banyak atas commentnya mas.

Next comment please....

keren sumpah kang bagus keren pisan.....
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 2 Guest(s)