Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
KRL TM 6000 Sudah sampai Di Indonesia
#61
^^ Betul sekali zulfahmi.

Kalau saya jadi petinggi PT KA / KCJ, juga bukan masalah nasionalisme atau apa. Ini murni soal bisnis. Ini hitung2an bisnis antara kekuatan dan kemampuan finansial yang dimiliki sekarang oleh perusahaan dengan rencana2 strategis bisnis inti yg ingin dijalankan. Kalau memang mau nasionalis dengan pakai produk INKA misalnya, INKA yang jelas harus sanggup memenuhi kepastian supply minimal 100 unit KRL / tahun, dengan harga yg kurang lebih setara dengan KRL 2nd hand dari Jepang, ya pasti saya petinggi PT KA / KCJ juga akan mempertimbangkan INKA.

Masalahnya kan INKA belum sanggup memenuhi kriteria yang diinginkan tersebut. Tapi lain ceritanya kalau pemerintah mau intervensi / berinisiatif dengan membeli KRL dari INKA secara borongan (dengan harga pasar) dan menjual ke PT KA / KCJ dengan harga setara KRL 2nd hand dari Jepang. Ini artinya pemerintah yang bergerak dengan menyuntik tambahan modal ke BUMN-2nya. Atau skema lain juga bisa pemerintha borong KRL dari INKA, lalu leasing ke PT KA / KCJ dengan bunga super duper rendah, sehingga membantu pengelolaan utang PT KA / KCJ.

Banyak cara bisa dilakukan kalau memang ada NIAT yang bersih !! (NIAT = Net Income After Tax). Wink
The only thing necessary for the triumph of evil is for good man to do nothing.
(Edmund Burke 1729-1797)
Reply
#62
pajaknya kena berapa ya di bea cukai ? semestinya untuk alat transportasi massal berbasis rel bebas pajak (atau memang sudah bebas ?)
Terdampar di Purwokerto setahun gara-gara proyek fiber optik Jateng ga kelarMarah
Reply
#63
(15-03-2011, 12:29 AM)peseg5 Wrote: ^^ Betul sekali zulfahmi.

Kalau saya jadi petinggi PT KA / KCJ, juga bukan masalah nasionalisme atau apa. Ini murni soal bisnis. Ini hitung2an bisnis antara kekuatan dan kemampuan finansial yang dimiliki sekarang oleh perusahaan dengan rencana2 strategis bisnis inti yg ingin dijalankan. Kalau memang mau nasionalis dengan pakai produk INKA misalnya, INKA yang jelas harus sanggup memenuhi kepastian supply minimal 100 unit KRL / tahun, dengan harga yg kurang lebih setara dengan KRL 2nd hand dari Jepang, ya pasti saya petinggi PT KA / KCJ juga akan mempertimbangkan INKA.

Masalahnya kan INKA belum sanggup memenuhi kriteria yang diinginkan tersebut. Tapi lain ceritanya kalau pemerintah mau intervensi / berinisiatif dengan membeli KRL dari INKA secara borongan (dengan harga pasar) dan menjual ke PT KA / KCJ dengan harga setara KRL 2nd hand dari Jepang. Ini artinya pemerintah yang bergerak dengan menyuntik tambahan modal ke BUMN-2nya. Atau skema lain juga bisa pemerintha borong KRL dari INKA, lalu leasing ke PT KA / KCJ dengan bunga super duper rendah, sehingga membantu pengelolaan utang PT KA / KCJ.

Banyak cara bisa dilakukan kalau memang ada NIAT yang bersih !! (NIAT = Net Income After Tax). Wink

maaf bukan hanya masalah bisnis tapi masalah kesejahteraan masayarakat yang lebih stratejik. jika harus memesan dari INKA maka akan makan waktu lama. sedangkan rakyat harus terus menerus mengejar kesejahteraan mereka dangan mengandalkan Kereta yang terbatas. Yang penting Rakyat senang dulu lah...
twitter : @zulfahmiID
Reply
#64
(15-03-2011, 03:01 PM)zulfahmi Wrote:
(15-03-2011, 12:29 AM)peseg5 Wrote: ^^ Betul sekali zulfahmi.

Kalau saya jadi petinggi PT KA / KCJ, juga bukan masalah nasionalisme atau apa. Ini murni soal bisnis. Ini hitung2an bisnis antara kekuatan dan kemampuan finansial yang dimiliki sekarang oleh perusahaan dengan rencana2 strategis bisnis inti yg ingin dijalankan. Kalau memang mau nasionalis dengan pakai produk INKA misalnya, INKA yang jelas harus sanggup memenuhi kepastian supply minimal 100 unit KRL / tahun, dengan harga yg kurang lebih setara dengan KRL 2nd hand dari Jepang, ya pasti saya petinggi PT KA / KCJ juga akan mempertimbangkan INKA.

Masalahnya kan INKA belum sanggup memenuhi kriteria yang diinginkan tersebut. Tapi lain ceritanya kalau pemerintah mau intervensi / berinisiatif dengan membeli KRL dari INKA secara borongan (dengan harga pasar) dan menjual ke PT KA / KCJ dengan harga setara KRL 2nd hand dari Jepang. Ini artinya pemerintah yang bergerak dengan menyuntik tambahan modal ke BUMN-2nya. Atau skema lain juga bisa pemerintha borong KRL dari INKA, lalu leasing ke PT KA / KCJ dengan bunga super duper rendah, sehingga membantu pengelolaan utang PT KA / KCJ.

Banyak cara bisa dilakukan kalau memang ada NIAT yang bersih !! (NIAT = Net Income After Tax). Wink

maaf bukan hanya masalah bisnis tapi masalah kesejahteraan masayarakat yang lebih stratejik. jika harus memesan dari INKA maka akan makan waktu lama. sedangkan rakyat harus terus menerus mengejar kesejahteraan mereka dangan mengandalkan Kereta yang terbatas. Yang penting Rakyat senang dulu lah...

gini2 semakin mengasah KREATIFITAS Bangsa kita,lho.

Bagaimana tidak?
Terbukti kita mampu mengubah Kereta yang di negara prinsipal nya sudah dianggap bekas,menjadi sebuah Kereta "bagus",bahkan jadi armada komuter ekspress yang diandalkan...

salah satu sisi positif yang kurang disadari

693-5073-893-673
Reply
#65
positif dari impor KRL bekas tetep ada gan, sisi negatifnya, bangsa sendiri terhambat kreatifitasnya, apalagi teknologi yg di KRL tsb boleh dikatakan usang untuk sekelas negara jepang dan negara maju lainnya (entah mungkin berbeda untuk bangsa kita sendiri), maka itu tahun berikutnya pemerintah menyetop impor KRL bekas, ini semua karena KCJ kekurangan armada semata dan sambil menunggu KRLI terbaru yg sedang di buat di INKA

geser wesel kembali ke KRL TM 6000 Sudah sampai Di Indonesia yuk...

kabar terakhir pengiriman selanjutnya terganggu tidak akibat musibah tsunami di jepang ?
Ataukah ada TM 6000 yg siap dikirim menjadi "korban" nya ?
Terdampar di Purwokerto setahun gara-gara proyek fiber optik Jateng ga kelarMarah
Reply
#66
^^

TM 6000 cuma dipesen 2 set aja kok, jadi ga kepengaruh sama musibah jepang..
[Image: 9544964954_75d165f289_z.jpg]
Reply
#67
(15-03-2011, 03:01 PM)zulfahmi Wrote:
(15-03-2011, 12:29 AM)peseg5 Wrote: ^^ Betul sekali zulfahmi.

Kalau saya jadi petinggi PT KA / KCJ, juga bukan masalah nasionalisme atau apa. Ini murni soal bisnis. Ini hitung2an bisnis antara kekuatan dan kemampuan finansial yang dimiliki sekarang oleh perusahaan dengan rencana2 strategis bisnis inti yg ingin dijalankan. Kalau memang mau nasionalis dengan pakai produk INKA misalnya, INKA yang jelas harus sanggup memenuhi kepastian supply minimal 100 unit KRL / tahun, dengan harga yg kurang lebih setara dengan KRL 2nd hand dari Jepang, ya pasti saya petinggi PT KA / KCJ juga akan mempertimbangkan INKA.

Masalahnya kan INKA belum sanggup memenuhi kriteria yang diinginkan tersebut. Tapi lain ceritanya kalau pemerintah mau intervensi / berinisiatif dengan membeli KRL dari INKA secara borongan (dengan harga pasar) dan menjual ke PT KA / KCJ dengan harga setara KRL 2nd hand dari Jepang. Ini artinya pemerintah yang bergerak dengan menyuntik tambahan modal ke BUMN-2nya. Atau skema lain juga bisa pemerintha borong KRL dari INKA, lalu leasing ke PT KA / KCJ dengan bunga super duper rendah, sehingga membantu pengelolaan utang PT KA / KCJ.

Banyak cara bisa dilakukan kalau memang ada NIAT yang bersih !! (NIAT = Net Income After Tax). Wink

maaf bukan hanya masalah bisnis tapi masalah kesejahteraan masayarakat yang lebih stratejik. jika harus memesan dari INKA maka akan makan waktu lama. sedangkan rakyat harus terus menerus mengejar kesejahteraan mereka dangan mengandalkan Kereta yang terbatas. Yang penting Rakyat senang dulu lah...

Beli KRL bekas hanya solusi bisnis jangka pendek.
Kalau KCJ berpikir untuk jangka panjang pasti pilih KRL baru.
Mungkin secara aspek teknis masih layak, tapi secara aspek ekonomis patut dipertanyakan???Coba kita bandingkan biaya operasinal KRL bekas (teknologi jadul&boros listrik) dan KRL baru dalam hal konsumsi listrik???
Saya yakin pengelolaan KRL di Jepang sangat profesional dari sisi bisnis. Pastinya mereka sudah memperhitungkan berapa usia pakai KRL dan memperhitungkan berapa biaya depresiasi pertahun, untuk peremajaan. Demi kelangsungan bisnis seharusnya KCJ punya pikiran kearah sana, kenapa TM 6000 mereka pensiunkan.
Jangan kalah sama mafia KRL bekas.
[Image: stasiunkeretaapibogor.jpg]
Reply
#68
TM-8000
[Image: 00.jpg]

TM-7000
[Image: 02.jpg]

TM-6000
http://www.funini.com/train/tokyo/metro6000/01.jpg

Kalo diperhatiin cuma beda jidatnya doang ya....
Xie Xie hikksssss....
twitter : @zulfahmiID
Reply
#69
6126F yang sudah dicat corak warna PT. KCJ, eits ada RF narsis:

[Image: 205603_156621657730717_100001486501629_3...0234_n.jpg]

Saya melihat logo PT. KCJ-nya sudah dipasang di pintu depan kabin masinis kereta 6026 (kereta ke-10).
Tokyo Metro 05-108F|Sora Naegi
[Image: 2r56iya.jpg]
Jabodetabek no Tsuukin Dentetsu (KCJ)
Reply
#70
(05-04-2011, 12:16 PM)Charles Wrote: [spoiler]6126F yang sudah dicat corak warna PT. KCJ, eits ada RF narsis:

[Image: 205603_156621657730717_100001486501629_3...0234_n.jpg]

Saya melihat logo PT. KCJ-nya sudah dipasang di pintu depan kabin masinis kereta 6026 (kereta ke-10).[/spoiler]

wow.....liverynya sama dengan TM 7000 yach
apa karena TM 6000 itu versi penyempurnaan dari TM 7000 atau sebaliknya?
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)