(22-02-2010, 12:55 PM)m_ilhami Wrote: sekarang gate nya baru sudah terpasang, tapi masih ditutupi kardus.
tiket manual apa masih tersedia ya
Maksudnya bung ilhami apa?
Kalau tiket manual (yang berupa secarik kertas kecil berbentuk segi empat) tentunya masih dipakai.
Dari pantauan saya di stasiun mulai BOO hingga MRI, semua alat untuk pengoperasian gate in/out masih ditutupi kardus dan plastik khas barang elektronik yang anti statik.
CMIIW.
Tokyo Metro 05-108F|Sora Naegi Jabodetabek no Tsuukin Dentetsu (KCJ)
krl eko panas tetep ada di jam pulang pergi kantor begitu juga krl ekspress tetep ada di jam rush hour,,
sedangkan diluar itu mungkin bisa dilakukan single tariff...
just my opinion
Kalau jaringan jalur KRL di Jabodetabek ini panjang dan rumit, maka sebaiknya memang diberlakukan ekspres, semi ekspres, dan rapid ekspres seperti kebanyakan jalur di Jepang. Namun karena di Jabodetabek jaringan jalurnya tidak begitu panjang dan rumit, cukup dengan satu kelas saja seperti di Inggris atau Argentina. Saya dan teman saya pernah melakukan pengamatan, kami dari Bogor mencoba naik 2 KRL dengan kelas berbeda. Saya naik ekspres, dan teman saya naik ekonomi AC. Dan ekonomi AC yang dinaiki teman saya tiba di stasiun Jakarta Kota hanya 15 menit lebih lama dari ekspres yang saya tumpangi. Jika keadaan lintas padat seperti pagi dan sore, kemungkinan ekspres ditahan di Manggarai dan Gambir pun membuat waktu tempuh KRL ekspres dibandingkan dengan ekonomi dan ekonomi AC tidka jauh berbeda.
AT-CAP車両 ãÂ݋„ãž 膾炙 Ltd.
Provide contents of :
openBVE Indonesia, Official manufacturer of JSB RailCorp TRS2009 trains, Commuter, EMU, and DMU news, and railway novels.
In subsidiary of GM-MarKA and Balai Yasa openBVE GM-MarKA
(12-06-2010, 04:55 PM)rhezafadlysurya Wrote: Ha? Satu layanan saja, Ekonomi AC saya rasa gak akan cukup. Tambah layanan yang ekspres donk.
Kalau saya amati layanan ekspres ini terkesan tidak jauh beda dengan kelas ekonomi maupun ekonomi AC pada jam sibuk, karena di dalam rangkaian selalu penuh sesak dengan penumpang.
Kalau saya dapat mengusulkan sebaiknya kelas tunggal yang digunakan adalah kelas lokal (berhenti di setiap stasiun) dengan tarif yang tidak jauh berbeda dari tarif KRL ekonomi dengan pertimbangan ekonomi masyarakat.
Tokyo Metro 05-108F|Sora Naegi Jabodetabek no Tsuukin Dentetsu (KCJ)
ya..ya ya...sebaiknya kelas tunggal saja dgn tarif flat, malah repot kalo dikelas² dgn menggunakan gate in/out, kalau dipaksakan harus bikin peron terpisah khusus express.
Yang cocok berapa ya tarifnya ?
Trus, nasib abonemen apakah akan di hilangkan ?
Terdampar di Purwokerto setahun gara-gara proyek fiber optik Jateng ga kelar
(14-06-2010, 01:16 PM)bonbon Wrote: ya..ya ya...sebaiknya kelas tunggal saja dgn tarif flat, malah repot kalo dikelas² dgn menggunakan gate in/out, kalau dipaksakan harus bikin peron terpisah khusus express.
Yang cocok berapa ya tarifnya ?
Trus, nasib abonemen apakah akan di hilangkan ?
Abonemen ini sepertinya akan diganti dengan sistem tiket elektronik yang lebih praktis dan efisien (karena tidak membutuhkan kertas).
Saya sendiri masih bingung dengan sistem tiket harian bagi pengguna yang tidak sanggup membeli abonemen berupa tiket elektronik (yang nantinya bernama COMMET atau Commuter Electronic Ticketing), yang IMO (menurut pendapat saya) akan menggunakan kartu elektronik khusus dengan sistem RFID tag yang dapat diprogram ulang untuk dipakai kembali oleh penumpang lain di hari berikutnya (bergantung kepada kebijakan PT. KCJ untuk memprogram ulang tiket-tiket tersebut).
Tokyo Metro 05-108F|Sora Naegi Jabodetabek no Tsuukin Dentetsu (KCJ)
Ticketing dengan kartu prabayar (Flash Mandiri atau BCA) kenapa tidak dipakai ya? saya lihat ribet juga petugasnya ngitung kembalian. Kalau sudah siang kembaliannya sudah habis.