Semboyan35 Indonesian Railfans

Full Version: Double-Decker Car
You're currently viewing a stripped down version of our content. View the full version with proper formatting.
Pages: 1 2 3 4 5
Tentu kereta eropa lebih tinggi dari Indonesia, maklumlah mayoritas orangnya lebih tinggi, jika diaplikasikan di Indonesia, lebar kereta sama dengan mereka, dan pake rel kecil 1067 mm, ga nyaman kayaknya, dari pendapat di atas saja dengan lebar rel normal jika lewat wesel dan berjalan, goyangannya terasa banget di lantai atas, apalagi pake rel sempit, pasti ajrut-ajrutan.
trus mengapa jepang bisa mengaplikasikan KA double decker dengan lebar rel hanya 1067mm?

kira2 teknologi apa yang mereka pakai?
apakah Indonesia gak punya peluang untuk membuatnya?
Terima kasih infonya, dengan rel sempit?
(08-10-2011, 12:30 PM)enrico Wrote: [ -> ]trus mengapa jepang bisa mengaplikasikan KA double decker dengan lebar rel hanya 1067mm?

kira2 teknologi apa yang mereka pakai?
apakah Indonesia gak punya peluang untuk membuatnya?

Kereta Double Decker di jepang sejatinya tingginya sama dengan kereta penumpang, sekitar 4 meteran, sementara double decker aslinya mungkin 6-7 meteran, jadi di jepang itu double decker yang dipaksakan agar bisa lewat di rel 1067 mm, karena kalau tingginya sama dengan double decker yang asli, bisa terguling nanti keretanya ...
Sempat melihat situsnya sekilas, untuk eropa dan Jepang, kayaknya DDC ga terlalu tinggi, 4,2 m, untuk di Amerika demikian menjulang, jika di Jepang sudah dapat diaplikasikan tentu saja di Indonesia bisa (1067 mm), tetapi Indonesia harus di upgrade banyak sekali sarana dan prasarananya, karena kereta lebih berat, lebih tinggi, lantai dasar kereta lebih rendah dan ,masih banyak lagi. Mohon koreksi.
(13-10-2011, 12:16 PM)Ken Aditya Wrote: [ -> ]Sempat melihat situsnya sekilas, untuk eropa dan Jepang, kayaknya DDC ga terlalu tinggi, 4,2 m, untuk di Amerika demikian menjulang, jika di Jepang sudah dapat diaplikasikan tentu saja di Indonesia bisa (1067 mm), tetapi Indonesia harus di upgrade banyak sekali sarana dan prasarananya, karena kereta lebih berat, lebih tinggi, lantai dasar kereta lebih rendah dan ,masih banyak lagi. Mohon koreksi.

Iya benar mas, kebanyakan eropa dan jepang DDC-nya lebih rendah dibanding tinggi DDC amerika, mungkin karena geografis eropa dan jepang bergunung-gunung, sementara di amerika DDC dioperasikan pada lintas datar, jadi tinggi-tinggi keretanya ...

Kalau indonesia, masalahnya selain sarana juga kesadaran masyarakat, karena kereta yang non DDC saja banyak yang jadi vandalisme, apalagi kalau ada DDC yang menurut kita lebih mewah pakai kereta DDC ...
Jika memang lintas Jakarta-Surabaya demikian ramai, lebih baik pakai DCC atau tetap kereta konvensional? DDC kapasitasnya 50% lebih banyak. Berita 2 minggu lalu 2014 rel ganda Jakarta-Surabaya dioperasikan, tak pelak lagi semoga ada peningkatan kualitas pelayanan, semoga waktu tempuh lebih cepat serta frekuensi kereta lebih tinggi untuk mengurangi beban jalan. Untuk ukuran rel minimum yang diperbolehkan untuk DDC? Mungkin saat ini berandai-andai, siapa tahu ada realisasi dari pemerintah.
karena berat kosong DDC bs lebih dari 40 ton mungkin minimal rel harus R54.

btw sistem pengereman DDC mungkin mirip KA barang, karena bobot yang dimiliki sangat besar CMIIW

DDC menurut saya cocoknya buat K3 karena pastinya kereta ini gak bkl dipacu sampai lebih dari 100km/jam
Mungkin lebih cocok untuk lintas utara, selain mayoritas R 54, jalurnya cenderung lurus tidak terlalu banyak tikungan, kayaknya lebih tepat untuk K3. Tetapi untuk K non ekonomi juga bisa, tentunya dengan fasilitas mendukung yang disesuaikan sesuai kelasnya. Semoga ada realisasinya walaupun kesannya dipaksa untuk lewat 1067 mm, berandai-andai lagi, di Asia Tenggara sudah ada DDC?
Pages: 1 2 3 4 5