06-12-2014, 01:33 PM
Kalau saya ada 3:
1. Sekitar 10 tahun yang lalu ketika saya masih kelas 6 SD saya didrop keluarga saya di SB untuk joyride komuter susi yang ketika itu masih baru sementara keluarga saya jalan2 di pasar atum. Sialnya sampai SB jam 14.00 dan komuternya sudah berangkat, terpaksa naik yang jam 16.00. Ketika itu saya joyride SB-SDA-SGU, karena dari SGU ada angkot langsung ke rumah saya. Saya sampai di SGU kembali sekitar jam 18.00, sampai rumah jam 19.00an, betapa kagetnya rumah dalam keadaan kosong (untung bawa kunci), dan lebih kaget lagi ketika telepon rumah berbunyi saya angkat ternyata ortu saya panik karena saya dianggap hilang oleh ortu saya bahkan ibu saya nyaris melaporkan hilangnya saya ke kantor polisiÂ
Â
2. Beberapa tahun yang lalu naik kabus dari SBI ke PLB, saya punya gapeka yang menunjukkan bahwa kabus yang saya naiki berhenti di PLB tapi ternyata LS.
, terpaksa bablas ke PK dan sempat ketahuan PKD kalau ngambing tapi untung saja ada teman seperjalanan saya yang bisa nmenjelaskan keadaan. Akhirnya ada kabus lagi dari arah JAKG tapi tidak berhenti di PLB, tapi berhenti di KRP, akhirnya saya dan teman seperjalanan menaiki kabus itu dan turun di KRP. Dari KRP naik ojek ke PLB, selama perjalanan serasa bukan di Jawa karena dimana2 perkebunan atau hutan, jarang sekali pemukiman, jalannya sebagian besar tanah, dan akhirnya tibalah di PLB setelah sekian lama
3. (Lagi2) Terpaksa nggandol KA Kontener beberapa tahun yang lalu untuk relasi BJ-SBI karena kehabisan tiket KRD BJ dan malas sekali naik bis. Baru jalan 2-3 petak sejak BJ tiba2 perut saya melilit luar biasa dan ingin B*B saat itu juga. Benar2 tersiksa dengan keadaan KA kontener ini lagi ngebut dan tidak ada tanda2 berhenti. Akhirnya berhenti di BBT tapi anehnya perut saya tiba2 normal padahal ketika itu ada toilet. Ketika kereta berjalan lagi perut kembali sakit dan makin parah, lalu berhenti lagi di Gembong, dan sialnya, toiletnya terkunci. Gak enak rasanya minta ijin PPKA untuk bukain toliet secara status saya saat itu adalah
 sehingga saya harus bersabar menahan penderitaan yang disebabkan sehari sebelumnya saya makan sambal terlalu banyak. Lalu kereta jalan lagi dan berhenti di Sumlaran untuk bersilang. Dan alhmadulillah saya melihat masjid besar! Saya langsung berlari menuju masjid tersebut dan mencari toilet untuk mengakhiri penderitaan saya. Beruntung ketika itu KA kontener yang saya naiki bersilang dengan 2 KA sekaligus sehingga berhentinya lama. Benar2 pelajaran lain kali kalau mau joyride harus menghindari makan pedas banyak2!
1. Sekitar 10 tahun yang lalu ketika saya masih kelas 6 SD saya didrop keluarga saya di SB untuk joyride komuter susi yang ketika itu masih baru sementara keluarga saya jalan2 di pasar atum. Sialnya sampai SB jam 14.00 dan komuternya sudah berangkat, terpaksa naik yang jam 16.00. Ketika itu saya joyride SB-SDA-SGU, karena dari SGU ada angkot langsung ke rumah saya. Saya sampai di SGU kembali sekitar jam 18.00, sampai rumah jam 19.00an, betapa kagetnya rumah dalam keadaan kosong (untung bawa kunci), dan lebih kaget lagi ketika telepon rumah berbunyi saya angkat ternyata ortu saya panik karena saya dianggap hilang oleh ortu saya bahkan ibu saya nyaris melaporkan hilangnya saya ke kantor polisiÂ
 2. Beberapa tahun yang lalu naik kabus dari SBI ke PLB, saya punya gapeka yang menunjukkan bahwa kabus yang saya naiki berhenti di PLB tapi ternyata LS.
, terpaksa bablas ke PK dan sempat ketahuan PKD kalau ngambing tapi untung saja ada teman seperjalanan saya yang bisa nmenjelaskan keadaan. Akhirnya ada kabus lagi dari arah JAKG tapi tidak berhenti di PLB, tapi berhenti di KRP, akhirnya saya dan teman seperjalanan menaiki kabus itu dan turun di KRP. Dari KRP naik ojek ke PLB, selama perjalanan serasa bukan di Jawa karena dimana2 perkebunan atau hutan, jarang sekali pemukiman, jalannya sebagian besar tanah, dan akhirnya tibalah di PLB setelah sekian lama3. (Lagi2) Terpaksa nggandol KA Kontener beberapa tahun yang lalu untuk relasi BJ-SBI karena kehabisan tiket KRD BJ dan malas sekali naik bis. Baru jalan 2-3 petak sejak BJ tiba2 perut saya melilit luar biasa dan ingin B*B saat itu juga. Benar2 tersiksa dengan keadaan KA kontener ini lagi ngebut dan tidak ada tanda2 berhenti. Akhirnya berhenti di BBT tapi anehnya perut saya tiba2 normal padahal ketika itu ada toilet. Ketika kereta berjalan lagi perut kembali sakit dan makin parah, lalu berhenti lagi di Gembong, dan sialnya, toiletnya terkunci. Gak enak rasanya minta ijin PPKA untuk bukain toliet secara status saya saat itu adalah
untung, ada PKD yang melihat dan menginstruksikan stoker untuk membuka pintu kembali 