12-01-2010, 06:42 PM
Aeromovel ? Kata orang dalemnya bilang. "Oh biaya operasionalnya mahal banget !" Nggak tau juga tuh gak sampai (≖᷆︵︣≖) yg dia bilang mahal itu apa, karena sbg org awam, Aeromovel kan ga pake BBM, kok dibilang mahal !
(10-01-2010, 01:37 PM)rendrahabib Wrote: [ -> ]Semoga saja tiang-tiang dan kebel-kabel itu memberikan keindahan lain yang tak di temukan dengan tiang dan kabel di jabotabek


(10-01-2010, 05:27 PM)argolawu69 Wrote: [ -> ]tenang aja..bentar lg PLTN muria dibangun kok..kalo udah jadi, listrik jawa bali aman..
lagian kalo krl kan hemat energi, lagipula biaya listrik lebih murah daripada biaya beli HSD..


(12-01-2010, 06:42 PM)morkies Wrote: [ -> ]Aeromovel ? Kata orang dalemnya bilang. "Oh biaya operasionalnya mahal banget !" Nggak tau juga tuh gak sampai (≖᷆︵︣≖) yg dia bilang mahal itu apa, karena sbg org awam, Aeromovel kan ga pake BBM, kok dibilang mahal !
(12-01-2010, 07:18 PM)big bro Wrote: [ -> ]sayang aja dirut yang lama lebih milih bangun PLTD yang jelas2 boros...
semoga pak dahlan iskan mau memberdayakan PLTPB lagi....

,(12-01-2010, 07:57 PM)Adam Faridl Wrote: [ -> ]Saya sangat setuju dengan dibuatnya jaringan KRL di lintas Padalarang-Cicalengka ini. Karena keuntungan yang didapat akan lebih banyak dibandingkan dengan menggunakan KRD[H/E/I]. Produk KRL dalam negeri[dari INKA] sampai saat ini menurut saya belum teruji kualitasnya. Kasus Holec dan KRL-I[set 1] yang sering mogok sepertinya mengurangi kepercayaan PT. Kereta Api (Persero) sebagai operator dalam mengoperasikan KRL buatan dalam negeri tersebut. Apalagi jika terjadi kerusakan, PT INKA sebagai produsen KRL tersebut langsung "ANGKAT TANGAN" tanpa ikut membantu perbaikan KRL tersebut. Kita ambil contoh kasus Holec pada sekitar tahun 2004. Pada saat itu Holec banyak yang masuk kandang karena jelas-jelas PT. Kereta Api (Persero) ditipu karena mesin yang dipakai Holec adalah teknologi jadul. Sehingga, spare part-pun susah dicari. Dan yang JUNGKIR BALIK memperbaiki KRL Holec tersebut sampai-sampai "berantem" dengan pihak produsen mesin Holec dalam hal ini Bombardir adalah PT. Kereta Api (Persero) sendiri. Tanpa bantuan INKA selaku produsen KRL tersebut. Ini jelas-jelas akan mempengaruhi tingkat kepercayaan konsumen dalam hal ini yaitu PT. Kereta Api (Persero) dalam memakai KRL Produksi INKA.., saat ini saja, KRL-I set pertama[warna biru] sudah hampir 2 bulan mangkrak di Dipo[bukit duri] karena mengalami kerusakan. Saya belum tau apakah dalam kasus kerusakan ini INKA akan turun tangan karena saya belum mampir ke Dipo lagi.
Apalagi kalo KRL produksi INKA dipakai di daerah pegunungan seperti jalur Padalarang-Cicalengka? Mungkin kasusnya seperti KRD-E baraya/reuncang geulis.., karena pada Intinya rangkaian itu adalah KRL.., cuman berbeda sumber daya listriknya ajah...,


Pake LAA? Sepertinya awal yang baik untuk menuju elektrifikasi KA di Jawa sampai tahun 2050 
Quote:Kapasitas jalur KA Padalarang-Bandung-Cicalengka ditingkatkan
Oleh : Yanto Rachmat Iskandar - bisnis.com| 18 December 2010
BANDUNG: Pemerintah akan mulai menggarap peningkatan kapasitas jalur kereta api komuter Padalarang-Bandung- Cicalengka menjadi jalur KA listrik dengan trek ganda, dari semula berupa KA diesel dengan jalur ganda yang relatif pendek. Sekretaris Ditjen Perketeraapian Kementerian Perhubungan Nugroho Indrio mengemukakan pembangunan pada koridor tersebut akan berjalan mulai 2011 dan ditargetkan selesai pada 2016. Dalam pembangunan tersebut, pemerintah telah menyiapkan dana US$160 juta atau sekitar Rp1,6 triliun yang bersumber dari APBN. "Saat ini kami sedang mematangkan berbagai dokumennya," katanya di Bandung, hari ini.
Ditjen Perkeretaapian optimistis realisasi peningkatan kapasitas jalur KA komuter tersebut akan berjalan lancar. Salah satunya, pemerintah tidak usah membebaskan lahan pada jalur yang sudah ada. "Tidak akan ada pembebasan lahan karenanya akan lebih lancar," katanya. Selain di Bandung, pemerintah juga turut meningkatkan sarana perkeretaapian di sejumlah tempat seperti di Semarang, Surabaya, Solo, dan Yogyakarta.
Sementara itu, PT Kereta Api Indonesia dilaporkan mendapatkan dana public service obligation (PSO) lebih dari Rp600 miliar untuk 2011, naik sekitar 12% dari PSO 2010 yang sebesar Rp535 miliar. Nugroho mengatakan dana PSO akan digunakan terutama untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. "Prioritas pelayanan terutama untuk kelas ekonomi," katanya.(er)
SUMBER
