Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14
Sekarang mungkinkah mengadakan KA Jatayu lagi? Khususnya menggunakan rangkaian KA yang independen. Apalagi banyak gerbong bisnis yang dibuang-buang, saya pikir daripada dikonversi menjadi gerbong barang kenapa kok nggak dijadikan gerbong EXA khusus untuk KA Jatayu ?
iya nih, entah apa yg dipikirkan para petinggi daop VIII sby ya??
dulu ane inget, jatayu sempat mengalami masa2 kejayaan, bahkan ane pernah kehabisan tiketnya lho, sayangnya, bahkan di masa itu jatayu ini SAMA SEKALI tidak dikembangkan lagi

(kecuali menambah rangakain K-2) ...
apa para RF sby n malang perlu membuat petisi ya (bukan demo lho

) utk mendesak PT. Kereta Api Indonesia (Persero) daop VIII sby, atau nunggu daop X malang muncul
karena itu ane sndiri berharap daop X bisa benar2 ada, merdeka dari surabaya, kita lihat bahwa KA2 dari malang cukup hidup, harapan ane kalau ada 2 daop yg mengurus koridor sby-mlg, dinamika koridor ini lebih bagus
atau KA jatayu reborn ini yg mengelola adalah pemprov, bukan daop VIII sby..no offense
(12-01-2012, 11:51 AM)Adolph Wrote: [ -> ]karena itu ane sndiri berharap daop X bisa benar2 ada, merdeka dari surabaya, kita lihat bahwa KA2 dari malang cukup hidup, harapan ane kalau ada 2 daop yg mengurus koridor sby-mlg, dinamika koridor ini lebih bagus
atau KA jatayu reborn ini yg mengelola adalah pemprov, bukan daop VIII sby..no offense
Kalau saya lebih setuju kantor DAOP VIII dipindah ke Malang, daripada harus membuat DAOP baru yang malah nantinya menambah biaya, dan jadi beban administrasi.
Kalau ide saya, Jatayu idealnya ada 2 trainset yang terdiri dari 3 K1 plus 1 KMP, ditarik sama loko BB304R, atau CC yang tukeran dari Malang ke Sidotopo.
Kalau durasi perjalanan 2 jam, maka jadwal (usulan saya):
Dari ML:
Jam 5.00 sampai SGU jam 7.00
Jam 12.00 sampai SGU jam 14.00.
Jam 16.00 sampai SGU jam 18.00.
Jam 20.00 sampai SGU jam 22.00
Dari SGU juga idem, tapi pakai rangkaian yang pool di Surabaya.
tapi kalaupun udah berjalan dngan pola di atas, dalam implementasiannya di tengah jalan, daop VIII harus tetap konsisten dn bersemangat,
jangan (bhs.jawa) aras-arasen kayak yg sudah2..
ane kok cenderung lebih tenang kalau pemprov jatim atau pemkot sby ikut dilibatkan secara langsung...
jadi full K-1 ya baiknya mas?
btw karena full K-1 berhentinya mngkin di SGU-SDA-LW-singosari-ML dan ML-LW-SDA-WO-SGU,,
tarif eksekutif Rp 20 ribu, promo Rp 5000...gimana?
Kalau yang tarif saya nggak bisa ngomong.
Kalau turun tangan pemrov saya ragu. Bukannya kita sering baca koran Jawa Pos (dan Surya?) kalau pak dhe Karwo dkk cenderung pro jalan raya, sampai-sampai bentrok sama bu Trirismaharini (walkot Surabaya yang pro KA) perihal tol dalam kota?
Kalau pemkot Surabaya mungkin bisa mendukung. Tapi pemkot Malang?
(12-01-2012, 01:08 PM)mas_bagus_ajah Wrote: [ -> ]Kalau yang tarif saya nggak bisa ngomong.
Kalau turun tangan pemrov saya ragu. Bukannya kita sering baca koran Jawa Pos (dan Surya?) kalau pak dhe Karwo dkk cenderung pro jalan raya, sampai-sampai bentrok sama bu Trirismaharini (walkot Surabaya yang pro KA) perihal tol dalam kota?
Kalau pemkot Surabaya mungkin bisa mendukung. Tapi pemkot Malang?
Dulunya sih saya berharap ,
dengan adnya KA Maleks koridor SBY - ML bisa dilintasi sehari 5X PP dengan stamformasi 2 x BB 304 , 2K2 , KMP2 , 1K1 B
SBY ( I ) 05.00 ( 2 ) 09.00 ( 3 ) 13.00 ( 4 ) 17.00 ( 5 ) 21.00
ML ( 1 ) 04,30 ( 2 ) 08.30 ( 3 ) 12.30 ( 4 ) 16.30 ( 5 ) 20.30
bisa terbayangkan indahnya BB 304 lalu-lalang di petak ML - SBY
Ketepatan waktu itu yang utama, jika hal ini tidak pernah dibenahi, bagaimana keberlanjutan umur moda ini jatayu ataupun maleks jika akan dihidupkan kembali, kedua daya tempuh lebih baik kurang dari 2 jam, apalagi sebentar lagi ada tol, jika daya tempuh lebih lama dari angkutan umum, siap-siap seperti nasib parahyangan, sehingga melihat hal ini, sudah sepantasnya dt koridor surabaya-malang agar mengurangi persilangan, karena lintas ini berkelok-kelok kayaknya, maklum pegunungan, perlu pembenahan track agar bisa lebih aman jika dalam kecepatan tinggi, kayaknya sebagian belum pakai R 54, betulkah? Koridor potensial, sayang tidak diperhatikan oleh PT. KAI, banyak penglaju dari kedua kota. Pembenahan lain, moda angkutan lain yang mendukung, jadi ada kesinambungan ataupun sinergi untuk kemudahan aksesibilitas pada tempat tujuan. Mungkin perlu halte-halte kendaraan umum di dekat stasiun, sehingga mungkin perlu penataan ulang ruang, agar penumpang mendapat kemudahan dalam segala hal, yang terutama agar kereta ini tetap dinantikan. Ini hanyalah sekedar tambahan dari pendapat yang telah ada sebelumnya.
Dulu Jatayu itu bisa Surabaya-Malang 90 menit.
Apa rahasianya?
Dari Surabaya ke Lawang dia jalan non-stop, dan di jalur datar Surabaya-Bangil ngebut 120 km/jam. Dari Bangil ke Lawang bisa 60 sampai 70 km/jam, karena tenaganya CC203 lebih dari cukup untuk menarik 4 gerbong di tanjakan terjal Sengon-Lawang.
Dari Lawang ke Malang juga kecepatan lumayan tinggi.
Makanya bisa 90 menit....
^^^^ kalau gitu mending jatayu reborn dibuat kayak dulu lagi dalam masalah kecepatan dan pemberhentian,, jadi berhentinya cuma di lawang saja, jadi bener2 memprioritaskan penumpang relasi malang-sby serta unggul dalam kecepatan,, kalau penumpang dari stasiun2 lain bisa tetap naik komuter atau penataran....
hehehe... masalah wafatnya Jatayu ya......
ane pernah nulis
di sini meskipun itu baru kabar burung... tapi saya dapetnya dari beberapa sumber, dan ada juga sumber org yg cukup banyak berkecimpung di dunia persepuran
nyoba nyambung2 in ya.....
bukankah Jatayu wafat tak lama setelah Gajayana jadi Full K-1 ya???

dan Gajayana yg lintas selatan dan via Blitar waktu tempuhnya puanjang bukan..... sementara, kalo ada Jatayu, orang malang bisa ke SGU dan di SGU saat itu ada bus feeder yg uda nunggu penumpang Jatayu buat dianter ke SBI... jadi lebih cepet kan, seumpama naek Jatayu dari ML jam 15, nyampe SGU jam 16.40 trus bis ke SBI nyampe 17.00, uda tinggal pilih kereta... kalo mo ke BD juga ada mutsel jam 17.15 dan Turangga jam 19.00 (saat itu).. nah fungsi Jatayu yg paling OK tuh buat angkut penumpang dari SBI ke ML... masi inget kan Jatayu dari SGU jam 8 pagi.. kan orang2 habis naek Sembrani/Gumarang/Anggrek/JS 950/Turangga/Mutsel tinggal ke ML naek kereta yg nyaman.... uda ada Gajayana seh yg brangkat sore dari Gambir..... tapi kalo ada Jatayu, mending naek Sembrani/JS 950 ato Anggrek sekalian... brangkat malem dari Jakarta toh nyampe SBI ada bus feeder ke SGU sebelum diangkut Jatayu...
IMHO.. untuk memaksimalkan potensi penumpang dari ML biar Gajayanan yg baru naek kelas jadi full K-1 bisa optimal, maka kereta feeder ke SBY kan harus dihilangkan.... biar orang2 malang kalo naek kereta ga usah dari surabaya... nah kalo seandainya sampai saat ini masi ada Jatayu... apa ya okupansi Gajayana bisa seperti sekarang.... dan apa ya ada KA Malabar

lah wong lebih enak naek KA surabayam lebih banyak pilihannya dan jamnya juga lebih enak
CMIIW

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14