(19-08-2010, 01:31 AM)Adolph Wrote: [ -> ]maaf mas bagus, menururt saya jalur ini juga urgent karena menghubungkan sby dngan malang dan bw, serta melayani mobilitas warga kedua kota dan daerah yg dlaluinya serta suplai bbm untuk kota malang..warga sby, malang dan sepanjang jalur ini juga rakyat inonesia yg juga perlu diperhatikan kemaslahatannya..jadi saya tidak setuju jika dikatakan kalau jalur ini tidak urgent dibandingkan dngan quad track jakarta-bekasi ..cmiiw
Ya saya tahu itu, dan itulah yang sebenarnya saya maksud di postingan saya sebelumnya.
Kalau hanya dibuat Sidoarjo-Tarik, ya nggak ada ubahnya dengan jalur Wonokromo-Tarik. Jadi mubazir.
Seharusnya dari Sidoarjo dan Tulangan, terus dilanjutkan ke arah Bangil.
Tapi kenyataannya, saya belum lihat ada realisasi jalur Tulangan-Bangil. Padahal inilah alasan jalur ini dibuka lagi, buka untuk diteruskan ke Tarik.
Karena kalau ke Tarik saja, otomatis KA yang ke Malang dan Banyuwangi harus memutar jauh sekali lewat Kertosono, Tulungagung, dan Blitar!
apakah jalur relokasi ini sistemnya shortcut?
ya mungkin kalo ke Tulangan-Bangil masih terkendala pembebasan lahan.
Jadinya PT KA mengerjakan jalur yang sudah ada dulu yaitu Sidoarjo-Tulangan-Tarik
(20-08-2010, 11:23 AM)bagus70 Wrote: [ -> ] (19-08-2010, 01:31 AM)Adolph Wrote: [ -> ]maaf mas bagus, menururt saya jalur ini juga urgent karena menghubungkan sby dngan malang dan bw, serta melayani mobilitas warga kedua kota dan daerah yg dlaluinya serta suplai bbm untuk kota malang..warga sby, malang dan sepanjang jalur ini juga rakyat inonesia yg juga perlu diperhatikan kemaslahatannya..jadi saya tidak setuju jika dikatakan kalau jalur ini tidak urgent dibandingkan dngan quad track jakarta-bekasi ..cmiiw
Ya saya tahu itu, dan itulah yang sebenarnya saya maksud di postingan saya sebelumnya.
Kalau hanya dibuat Sidoarjo-Tarik, ya nggak ada ubahnya dengan jalur Wonokromo-Tarik. Jadi mubazir.
Seharusnya dari Sidoarjo dan Tulangan, terus dilanjutkan ke arah Bangil.
Tapi kenyataannya, saya belum lihat ada realisasi jalur Tulangan-Bangil. Padahal inilah alasan jalur ini dibuka lagi, buka untuk diteruskan ke Tarik.
Karena kalau ke Tarik saja, otomatis KA yang ke Malang dan Banyuwangi harus memutar jauh sekali lewat Kertosono, Tulungagung, dan Blitar!
Ya...saya sependapat dengan mas bagus...daripada uang dibuat untuk revitalisasi TLN-PBN-TRK, mending digunakan untuk pembebasan lahan untuk jalur TLN-GNG. Seharusnya itu yang lebih urgent....
ikutan mantau tread ini, semoga cepat selesai project ini.....

Stasiun Tulangan New sudah dicat warna-warni, percabangan sepur belok ke jalur 4 dari jalur 3 sudah dibuat, tapi belum disambung relnya, pasir & ballast sudah ditata di timur sta. Tulangan, pertanda apakah hayooo?

(18-08-2010, 11:46 AM)bagus70 Wrote: [ -> ]Saya nggak ngerti apa sih urgensinya membangun jalur KA Sidoarjo-Tarik? Bukankah proyek ini awalnya adalah untuk jalur lingkar menghindari lumpur Lapindo?
Kalau tidak segera direalisasikan jalur putarnya, saya kuathir bahkan jalur ini akan gagal.
Bukankah di daerah lain ada proyek yang lebih urgen, seperti quadruple track Jakarta-Bekasi?
Koreksi:
@mas Bagus:
Justru tingkat urgensi jalur ini tergolong tinggi, kenapa? Karena selain digunakan untuk kereta komuter & BBM, dia juga berfungsi untuk jalur cadangan jika tanggul lumpur Lapindo sewaktu2 jebol & lumpur menggenang ke mana2 hingga membuat wilayah di sebelah baratnya mendelep, kelelep bin tengggelam. Menurut sumber yang pernah saya baca (maaf lupa sumbernya

, tapi saya jujur pernah baca

), tertulis bahwa daerah Tarik dst. tergolong paling aman dari jangkauan lumpur jika tanggul sewaktu2 jebol & meluber (semoga tidak terjadi, amin.

). Oleh karena itu, jika jalur SDA-TLN-PBN-TRK tidak siap, maka bisa dibayangkan kalo perkeretaapian armatim benar2 lumpuh.
(14-08-2010, 09:25 AM)fun_plano Wrote: [ -> ]Ane lanjutkan reportnya...diliput dari KA Rapih Dhoho di Stasiun Tarik (TRK)
[spoiler]
"Sumber Berita"
![[Image: e6egkh.jpg]](http://i38.tinypic.com/e6egkh.jpg)
Yang dari kejauhan itu dari arah Sidoarjo, lebih tepatnya dari Stasiun Prambon. Perhatikan jembatannya (BH), hanya satu, berarti tidak Double Track (DT)
![[Image: 9ji1qb.jpg]](http://i35.tinypic.com/9ji1qb.jpg)
Masih berupa tumpukan balast, pengerjaan rel masih di petak Tulangan (TLN)-Prambon (PBN)
![[Image: 301iq7l.jpg]](http://i36.tinypic.com/301iq7l.jpg)
Emplasemen baru masih dikerjakan di TRK.
[/spoiler]
Koreksi:
@mas fun_plano:
Jembatan pada gambar I memang hanya 1, tetapi bukan berarti dia tidak disiapkan untuk
double track. Justru jalur itu juga disiapkan untuk
double track, sama dg jalur SDA-TLN-PBN yg (kebanyakan) hanya punya 1 jembatan, tapi lahannya disiapkan untuk DT.

CMIIW
Hmm yang dimaksud Mas Bagus tu kenapa membangun PBN-TRK yg notabene sama dengan jalur Wonokromo-TRK lebih dulu daripada relokasi sesungguhnya PBN-BG
