JEDA
"Empat Penari" di Tawang
Kamis, 9 September 2010 | 03:08 WIB
![[Image: 3978474p.jpg]](http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/09/09/3978474p.jpg)
KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA
Stasiun Tawang, Kota Semarang, Jawa Tengah, Senin (30/8). Stasiun yang dirancang arsitek Belanda, JP de Bordes, itu dibangun sekitar tahun 1914 dan kini masih dapat dinikmati keindahannya.
Musik instrumentalia mulai mengalun saat sebuah kereta api memasuki Stasiun Tawang. Tak sampai satu menit, musik itu pun berhenti, diganti hiruk- pikuk penumpang. Lagu itu, â€ÂEmpat Penariâ€Â, siap menyambut pemudik di Semarang, Jawa Tengah.
Ampat penari kian kemari/ jalan berlenggang, aduh…/ Langkah gayanya menurut suara/ irama gambang/
Bersuka ria, gelak tertawa/ Semua orang/ kar’na hati tertarik gerak-gerik/ si tukang gendang/ Ampat penari membikin hati/ menjadi senang, aduh…/ Itulah dia malam gembira/ Gambang Semarang/
Lagu â€ÂEmpat Penari†diciptakan oleh â€Âbuaya keroncong†Oey Yok Siang, pada tahun 1940, dengan lirik oleh Sidik Pramono. â€ÂLagu itu biasanya dimainkan dalam kesenian gambang semarang,†kata pemerhati sejarah Semarang, Jongkie Tio.
Dulu, gambang semarang sering dimainkan penari dan penyanyi keturunan Tionghoa. Mereka berkebaya encim dengan batik â€Âsemaranganâ€Â, diiringi kecrek, suling, bonang, gambang, dan gong. Bila diamati dari musiknya, gambang semarang mencerminkan akulturasi budaya China-Jawa.
Mulai dimainkan sejak pra-kemerdekaan, tak heran bila â€ÂEmpat Penari†begitu melekat pada diri wong Semarang. â€ÂItulah sebabnya mengapa ’Empat Penari’ diputar di Stasiun Tawang, untuk menandai bila kereta sudah sampai Semarang,†kata Kepala PT Kereta Api Daerah Operasi IV Semarang Septa Trijono Ramadin, Senin (30/8).
Desainer asal Semarang, Anne Avantie, bahkan menganggap alunan â€ÂEmpat Penari†di Tawang sebagai rekan perjuangan. â€ÂLagu itu tak sekadar lagu bagi saya,†kata Anne. Sebab, kenangan lama selalu menyambanginya begitu mendengar â€ÂEmpat Penariâ€Â.
Anne memang salah satu pelanggan setia kereta. Telah lebih dari 15 tahunâ€â€setidaknya satu minggu sekaliâ€â€desainer itu bolak-balik dari Semarang ke Jakarta dengan kereta untuk meniti kariernya.
Warga Semarang lain, Nugroho Wahyu Utomo, juga merasakan itu. Baginya, lagu di stasiun menjembatani dirinya dengan masa silam. â€ÂJangan hilangkan lagu itu. Lewat ’Empat Penari’, saya bernostalgia dengan mengingat-ingat perjalanan hidup selama di Semarang,†katanya.
Sesungguhnya banyak stasiun yang memutar lagu-lagu khas. Stasiun Balapan Solo, misalnya, memainkan â€ÂBengawan Soloâ€Â. Sementara Stasiun Tugu di Yogyakarta memperdengarkan â€ÂSepasang Mata Bolaâ€Â. Namun, kata Nugroho, tinggal Stasiun Tawang yang dengan konsisten mendendangkan â€ÂEmpat Penariâ€Â.
Denting piano, yang memainkan â€ÂEmpat Penari†itu, di telinga awam sebenarnya terdengar kaku, dengan tempo lambat. Namun mungkin karena diperdengarkan berulang kali, akhirnya menimbulkan kesan yang mendalam.
Indahnya stasiun
Sedalam itu pula kesan yang dapat ditimbulkan bila Anda nongkrong di tepi Polder Tawang memandang ke utara ke bangunan Stasiun Tawang. Terlebih, stasiun ini tampil anggun dengan atap kubah tinggi sebagai titik pandang (point of view).
Jangan hanya memandangi kubah dari luar. Dari dalam bangunan stasiun, saat menengadah, Anda bakal melihat langit- langit persegi dengan pencahayaan sangat memukau. Sementara ornamen paling menonjol di stasiun ini adalah pintu-pintu utama serta jendela ventilasi atas yang berbentuk lengkung dan dipertegas oleh bingkai pasangan batu bata di tepi atasnya.
Diarsiteki oleh Sloth Blauwboer dan dibangun atas pesanan perusahaan kereta Netherland Indische Spoorweg (NIS), Tawang memang dibangun dengan sangat serius berlanggamkan Romantisismeâ€â€yang waktu itu sedang ngetop di Eropa.
Mengapa romantisisme? Sebab, pada tahun-tahun itu, tepatnya Juni 1914, Tawang dipersiapkan sebagai monumen untuk merayakan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Spanyol (Tentoonstelling).
Merayakan kemerdekaan di tanah jajahan dengan mendirikan stasiun megah. Itulah ironi Hindia Belanda. Meski begitu, kita patut bersyukur saat ini karena stasiun ini menjadi tempat berkumandangnya â€ÂEmpat Penari†puluhan kali dalam sehari. Toh, Republik ini bahkan tak mampu untuk membangun stasiun baru di tempat lain semonumental Tawang.
Bila Anda tidak terburu-buru mengejar kereta api, disarankan untuk berkeliling dahulu menikmati bangunan peninggalan zaman kolonial di Kota Semarang. Ada Gereja Blenduk yang didirikan tahun 1753, Gedung Marba (dulunya bernama Gedung De Heeren Straat), dan Gedung Jiwasraya, yang dirancang oleh Thomas Karsten, arsitek Stasiun Solo Balapan.
Jika tidak ingin pergi terlalu jauh dari stasiun, ya itu tadi, Anda dapat menikmati indahnya bangunan kuno di pinggir Polder Tawang.
Bila senja dan malam tiba, bangunan-bangunan tua itu berefleksi dengan indahnya di muka air polder, yang berfungsi mengendalikan banjir Semarang.
Dan ketika â€ÂEmpat Penari†mulai mengalun, bergegaslah masuk ke stasiun. Mungkin giliran kereta Anda yang siap berangkat. (HERPIN DEWANTO)
http://cetak.kompas.com/read/2010/09/09/....di.Tawang