Semboyan35 Indonesian Railfans
Lagu Stasiun Semarang Tawang yg selalu bikin kangen - Printable Version

+- Semboyan35 Indonesian Railfans (https://www.semboyan35.com)
+-- Forum: Kereta Api (https://www.semboyan35.com/forumdisplay.php?fid=5)
+--- Forum: Depo dan Stasiun (https://www.semboyan35.com/forumdisplay.php?fid=30)
+--- Thread: Lagu Stasiun Semarang Tawang yg selalu bikin kangen (/showthread.php?tid=3751)

Pages: 1 2 3


Lagu Stasiun Semarang Tawang yg selalu bikin kangen - proJT26 - 13-03-2010

Setiap kali kereta akan memasuki atau meninggalkan stasiun Tawang pasti terdengar alunan nada dari lagu yang berjudul Empat Penari. Biasanya nada lagu itu terdengar satu menit sebelum kedatangan maupun kepergian sebuah kereta. Lagu Empat Penari ini seolah mencitrakan atau menjadi ciri kota Semarang.


[Image: semarang+tawang.JPG]

lirik lagunya:
«»
Empat Penari
Empat penari, kian kemari
Jalan berlenggang, aduh......
Sungguh jenaka menurut swara
Irama gambang

Sambil bernyanyi, jongkok berdiri
Kaki melintang, aduh.....
Langkah gayanya menurut swara
Irama gambang

Reff:
Bersuka ria, gelak tertawa
Semua orang karena......
Hati tetarik grak-grik si tukang kendang

Sambil bernyanyi, jongkok berdiri
Jalang berlenggang, aduh......
Langkah gayanya menurut swara
Gambang Semarang


donlot disini versi instrumental

donlot disini versi full music

Kalo yang sama kyk yg di Stasiun Tawang DONLOT DISINI, dijamin bagus dan jernih sama kyk yg di Stasiun Tawang


RE: Lagu Stasiun Semarang Tawang yg selalu bikin kangen - alastuwa - 15-03-2010

iya nih...khas bgt..


RE: Lagu Stasiun Semarang Tawang yg selalu bikin kangen - ouilevio - 15-03-2010

ane demen denger lagu ini.
udh ane dolot.


RE: Lagu Stasiun Semarang Tawang yg selalu bikin kangen - eko winarno - 16-03-2010

Waduh kang mbok jangan bikin ane sedih aja karena punya kenangan tersendiri karena semasih ane sekolah di salah satu SMK 10 sekarang di kokrosono hampir tiap sore naik raider jadul nglamun di sini, bawa radio kecil dengan lagunya Gombloh....*diradio aku dengar lagu kesayanganku...
kututupi telingaku dengan dua tanganku...
dst.....
ditahun itu karena hampir tiap sore kongkow dan akrap akhirnya ditawari praktek kerjanyata di dipo Poncol 1 bulan.
ingat jaman susah ane sehari makan 2x pakai iakan asin,..maklum anak kost.NangisNangis


RE: Lagu Stasiun Semarang Tawang yg selalu bikin kangen - BAMBANG EKO - 16-03-2010

Yups , mang dulu setiap kedatangan dan jeberangkataan KA selalu diiringi lagu yang khas sesuai lirik dan lagu dengan daerah / stasiun ybs .seperti :
Jatinegara > Juwita malam
Solo Balapan > Bengawan Solo
Surabaya > Jembatan Merah
Yogya > Sepasang Mata Bola
Semarang > Gambang Semarang
dll sehingga penumpanh KA walaupun kondisi memejamkan mata akan mengetahui dimana KA berhenti
Akankah momentum ini akan terulang ?



RE: Lagu Stasiun Semarang Tawang yg selalu bikin kangen - Kaligung - 05-04-2010

pernah denger lagu ini


RE: Lagu Stasiun Semarang Tawang yg selalu bikin kangen - eka - 08-04-2010

sekarang kenapa musik" itu dihilangkan yah...?


RE: Lagu Stasiun Semarang Tawang yg selalu bikin kangen - eko winarno - 26-06-2010

Selamat datang stasiun Tawang


[Image: dsc01734resize.jpg]



RE: Lagu Stasiun Semarang Tawang yg selalu bikin kangen - petroex - 10-09-2010

Ad bbrp teks yg berbeda,,,

Empat penari, kian kemari
Jalan berlenggang, aduh......
Sungguh jenaka tari mereka
Gambang semarang

Sambil bernyanyi, jongkok berdiri
Kaki melintang, aduh.....
Turut gembira menurut swara
Irama gambang

Reff:
Bersuka ria, gelak tertawa
Semua orang sayang......
Hati tetarik grak-grik si tukang kendang

Sambil menari, jongkok berdiri
Semua orang, aduh......
Turut gembira menurut swara
Irama gambang


Tp ad jg ciri khas yg laen,,, bl hujan + rob psti banjir,,, dijamin..
tingginya bisa mpe sepanjang kaki,,, hehehe


RE: Lagu Stasiun Semarang Tawang yg selalu bikin kangen - animaX - 10-09-2010

JEDA
"Empat Penari" di Tawang

Kamis, 9 September 2010 | 03:08 WIB


[Image: 3978474p.jpg]
KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA
Stasiun Tawang, Kota Semarang, Jawa Tengah, Senin (30/8). Stasiun yang dirancang arsitek Belanda, JP de Bordes, itu dibangun sekitar tahun 1914 dan kini masih dapat dinikmati keindahannya.

Musik instrumentalia mulai mengalun saat sebuah kereta api memasuki Stasiun Tawang. Tak sampai satu menit, musik itu pun berhenti, diganti hiruk- pikuk penumpang. Lagu itu, ”Empat Penari”, siap menyambut pemudik di Semarang, Jawa Tengah.

Ampat penari kian kemari/ jalan berlenggang, aduh…/ Langkah gayanya menurut suara/ irama gambang/

Bersuka ria, gelak tertawa/ Semua orang/ kar’na hati tertarik gerak-gerik/ si tukang gendang/ Ampat penari membikin hati/ menjadi senang, aduh…/ Itulah dia malam gembira/ Gambang Semarang/

Lagu ”Empat Penari” diciptakan oleh ”buaya keroncong” Oey Yok Siang, pada tahun 1940, dengan lirik oleh Sidik Pramono. ”Lagu itu biasanya dimainkan dalam kesenian gambang semarang,” kata pemerhati sejarah Semarang, Jongkie Tio.

Dulu, gambang semarang sering dimainkan penari dan penyanyi keturunan Tionghoa. Mereka berkebaya encim dengan batik ”semarangan”, diiringi kecrek, suling, bonang, gambang, dan gong. Bila diamati dari musiknya, gambang semarang mencerminkan akulturasi budaya China-Jawa.

Mulai dimainkan sejak pra-kemerdekaan, tak heran bila ”Empat Penari” begitu melekat pada diri wong Semarang. ”Itulah sebabnya mengapa ’Empat Penari’ diputar di Stasiun Tawang, untuk menandai bila kereta sudah sampai Semarang,” kata Kepala PT Kereta Api Daerah Operasi IV Semarang Septa Trijono Ramadin, Senin (30/8).

Desainer asal Semarang, Anne Avantie, bahkan menganggap alunan ”Empat Penari” di Tawang sebagai rekan perjuangan. ”Lagu itu tak sekadar lagu bagi saya,” kata Anne. Sebab, kenangan lama selalu menyambanginya begitu mendengar ”Empat Penari”.

Anne memang salah satu pelanggan setia kereta. Telah lebih dari 15 tahun—setidaknya satu minggu sekali—desainer itu bolak-balik dari Semarang ke Jakarta dengan kereta untuk meniti kariernya.

Warga Semarang lain, Nugroho Wahyu Utomo, juga merasakan itu. Baginya, lagu di stasiun menjembatani dirinya dengan masa silam. ”Jangan hilangkan lagu itu. Lewat ’Empat Penari’, saya bernostalgia dengan mengingat-ingat perjalanan hidup selama di Semarang,” katanya.

Sesungguhnya banyak stasiun yang memutar lagu-lagu khas. Stasiun Balapan Solo, misalnya, memainkan ”Bengawan Solo”. Sementara Stasiun Tugu di Yogyakarta memperdengarkan ”Sepasang Mata Bola”. Namun, kata Nugroho, tinggal Stasiun Tawang yang dengan konsisten mendendangkan ”Empat Penari”.

Denting piano, yang memainkan ”Empat Penari” itu, di telinga awam sebenarnya terdengar kaku, dengan tempo lambat. Namun mungkin karena diperdengarkan berulang kali, akhirnya menimbulkan kesan yang mendalam.

Indahnya stasiun

Sedalam itu pula kesan yang dapat ditimbulkan bila Anda nongkrong di tepi Polder Tawang memandang ke utara ke bangunan Stasiun Tawang. Terlebih, stasiun ini tampil anggun dengan atap kubah tinggi sebagai titik pandang (point of view).

Jangan hanya memandangi kubah dari luar. Dari dalam bangunan stasiun, saat menengadah, Anda bakal melihat langit- langit persegi dengan pencahayaan sangat memukau. Sementara ornamen paling menonjol di stasiun ini adalah pintu-pintu utama serta jendela ventilasi atas yang berbentuk lengkung dan dipertegas oleh bingkai pasangan batu bata di tepi atasnya.

Diarsiteki oleh Sloth Blauwboer dan dibangun atas pesanan perusahaan kereta Netherland Indische Spoorweg (NIS), Tawang memang dibangun dengan sangat serius berlanggamkan Romantisisme—yang waktu itu sedang ngetop di Eropa.

Mengapa romantisisme? Sebab, pada tahun-tahun itu, tepatnya Juni 1914, Tawang dipersiapkan sebagai monumen untuk merayakan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Spanyol (Tentoonstelling).

Merayakan kemerdekaan di tanah jajahan dengan mendirikan stasiun megah. Itulah ironi Hindia Belanda. Meski begitu, kita patut bersyukur saat ini karena stasiun ini menjadi tempat berkumandangnya ”Empat Penari” puluhan kali dalam sehari. Toh, Republik ini bahkan tak mampu untuk membangun stasiun baru di tempat lain semonumental Tawang.

Bila Anda tidak terburu-buru mengejar kereta api, disarankan untuk berkeliling dahulu menikmati bangunan peninggalan zaman kolonial di Kota Semarang. Ada Gereja Blenduk yang didirikan tahun 1753, Gedung Marba (dulunya bernama Gedung De Heeren Straat), dan Gedung Jiwasraya, yang dirancang oleh Thomas Karsten, arsitek Stasiun Solo Balapan.

Jika tidak ingin pergi terlalu jauh dari stasiun, ya itu tadi, Anda dapat menikmati indahnya bangunan kuno di pinggir Polder Tawang.

Bila senja dan malam tiba, bangunan-bangunan tua itu berefleksi dengan indahnya di muka air polder, yang berfungsi mengendalikan banjir Semarang.

Dan ketika ”Empat Penari” mulai mengalun, bergegaslah masuk ke stasiun. Mungkin giliran kereta Anda yang siap berangkat. (HERPIN DEWANTO)

http://cetak.kompas.com/read/2010/09/09/03083371/Empat.Penari.di.Tawang