Senin 7 November 2011 adalah hari terakhir kami di Singapore, karena siang harinya kami harus terbang kembali ke Indonesia menggunakan flight Lion Air dari Changi.
Pagi itu saya juga janjian untuk menemui kawan railfan terakhir yang saya temui di petualangan railfanning di semenanjung Malaya, yaitu Stanley. Sebenarnya saya berniat untuk menemui dia sore kemarin. Tapi karena acara jalan-jalan ke Marina Bay dan Sentosa molor waktunya, akhirnya saya menunda acara tersebut jadi hari ini.
Begitu selesai sarapan, saya menunggu Stanley di counter kecil McDonalds, di depan Lucky Plaza. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Stanley datang. Rupanya dia datang dengan mobilnya, karena jalanan Singapore hari itu cukup sepi. Sayapun menyerahkan oleh-oleh saya untuk dia.
Rupanya Stanley juga menawarkan untuk mengantar kami beli oleh-oleh di Chinatown, dan juga ke airport. Wah kebetulan sekali, akhirnya kami pun memutuskan untuk turut dengan Stanley. Lumayan juga daripada naik taxi (mahal) atau MRT (berat).
Akhirnya kami setuju untuk naik mobilnya Stanley. Kamipun naik keatas sebentar untuk mengambil barang kami, sekaligus “check out†dari apartemen.
Bwah! Ternyata bawaan kami berat juga. Sayapun merasa agak kecapaian menuntun bawaan.
Sesampainya di bawah, kami langsung menuju ke tempat Stanley memarkir mobilnya. Rupanya dia memarkir mobil lumayan jauh juga, yaitu di sebelah Meritus Mandarin! Yikes! Mana bawaannya berat lagi. Otomatis baju langsung basah semua kena keringat.
Tapi syukurlah, mobilnya Stanley ber-AC, sehingga kami langsung mendinginkan badan semua!
Dasar railfans, hiasan di dashboard juga bertema kereta api.
Kamipun langsung menuju ke Chinatown. Selama perjalanan cerita Stanley idem dengan kawan-kawan RF Singapore: kegiatan railfanning dan trainspotting di Singapore kini tinggal kenangan ïŒ
Tak lama kemudian kamipun sampai di Chinatown. Kelihatan kompleks People’s Park.
Stanley berkata bahwa bangunan Yue Hwa ini dulu adalah hotel termewah di Chinatown. Dan merupakan bangunan pertama yang diperlengkapi lift di Singapore, tahun 1920an silam!
Tapi kini sudah beralih fungsi menjadi Shopping Center, semenjak hotel ini bangkrut tahun 1970an silam. Bangunan ini juga menjadi cagar budaya sekarang.
Bangunan unik ini ternyata adalah bagian dari stasiun MRT Chinatown.
Bangunan di pojok ini dulunya adalah pool Rickshaw di Singapore. (Perhatikan juga bangunan di latar belakang).
Namun kini beralih fungsi menjadi bangunan komersial. Sementara Rickshaw sendiri sudah punah dari Singapore, digantikan fungsinya oleh becak. Yup benar sekali, di Singapore ada becak loh.
![[Image: overstappen.png]](http://www.semboyan35.com/images/overstappen.png)
Tak lama kemudian, kami sampai di Chinatown. Tadinya kami berniat untuk membeli balsem cap Macan yang terkenal itu. Khususnya yang botol besar, yang tidak bisa ditemui di Indonesia.
Sayangnya, rupanya kami datang kepagian, sehingga toko-toko besar disana belum ada yang buka. Akhirnya kamipun membeli balsem di sebuah apotik yang ada disitu.
Karena tidak banyak yang bisa dikunjungi, akhirnya kamipun langsung bertolak menuju bandara Changi.
Di tengah jalan, kami menemui bangunan unik ini. Ini dulunya adalah kantoru pusat kepolisian Singapore. Tapi belakangan beralih fungsi menjadi kantor Kementrian Informasi dan Turisme (MITA).
Yang konyol adalah waktu kita ketemu mobil aneh ini.
Kami ketawa sewaktu melihat mobil ini.
Tak lama kemudian, kamipun sampai di bandara Changi.
Karena airline yang kami naiki “tidak jelas identitasnyaâ€, maka kami naik dari Terminal 1.
Kelihatan Skytrain yang menghubungkan semua terminal. Sayang, dalam kunjungan kali ini kita sama sekali nggak naik.
![[Image: overstappen.png]](http://www.semboyan35.com/images/overstappen.png)
Sayapun pamit dengan Stanley dan kami berpisah di sini.
Suasana terminal 1 yang sibuk.
Check in Lion Air.
Tak lama kemudian, saudara saya datang untuk mengantar kami pulang. Ya sekaligus say goodbye saja.
Kami sempat makan di KFC yang ada disitu, sekaligus memesan menu yang tidak ada di KFC Indonesia, seperti kue Egg Tart yang susah ditemui diluar Jakarta.
Sementara lagi pada makan, saya minta ijin mau ke toilet dulu. Tapi begitu tahu lokasi toiletnya dekat sini....
Otomatis, habis pipis lihat pesawat dulu dong. Suasana apron siang itu.
Tidak seperti di jaman dulu, apron terminal 1 didominasi pesawat narrow body. Padahal jaman dulu, kita masih bisa melihat Boeing 747-400 dan Airbus A310 milik Singapore Airlines, atau A300 milik Garuda yang diparkir di terminal 1.
![[Image: overstappen.png]](http://www.semboyan35.com/images/overstappen.png)
Sayapun pamit dengan Stanley dan kami berpisah di sini.
Suasana terminal 1 yang sibuk.
Check in Lion Air.
Tak lama kemudian, saudara saya datang untuk mengantar kami pulang. Ya sekaligus say goodbye saja.
Kami sempat makan di KFC yang ada disitu, sekaligus memesan menu yang tidak ada di KFC Indonesia, seperti kue Egg Tart yang susah ditemui diluar Jakarta.
Sementara lagi pada makan, saya minta ijin mau ke toilet dulu. Tapi begitu tahu lokasi toiletnya dekat sini....
Otomatis, habis pipis lihat pesawat dulu dong. Suasana apron siang itu.
Tidak seperti di jaman dulu, apron terminal 1 didominasi pesawat narrow body. Padahal jaman dulu, kita masih bisa melihat Boeing 747-400 dan Airbus A310 milik Singapore Airlines, atau A300 milik Garuda yang diparkir di terminal 1.
![[Image: overstappen.png]](http://www.semboyan35.com/images/overstappen.png)
Heh apa itu????
Wah, akhirnya keinginan buat lihat Airbus A380 kesampaian juga. Walaupun sayangnya, pesawatnya diparkir jauh sekali dari terminal, dan lagi diservis.
Tapi tak lama kemudian, saya melihat ada ekor pesawat Singapore Airliens yang sedang bergerak di balik extension terminal 1. Ekornya tinggi sekali.
Rupanya A380 juga!
Wah, akhirnya keinginan lihat pesawat super jumbo ini kesampaian juga. Bandingkan dengan dua A320 yang merupakan pesawat terbesar yang bisa landing di Bandung.
Dua pesawat “terbesar di duniaâ€.
Kalau A380 sudah jelas memang terbesar di dunia, tapi kalau A320? Terbesar di dunia....nya urang Bandung tea ïŠ
Si Super Jumbo bergerak perlahan melewati deretan Boeing 777 SQ yang sedang stabling, buat dinesan nanti malam.
![[Image: overstappen.png]](http://www.semboyan35.com/images/overstappen.png)
Puas lihat A380, sayapun balik ke KFC. Kelihatan airside dari atas.
Pas balik, sempat ditanya dari mana. Saya bilang dari toilet. That’s it!
Setelah kami menyelesaikan makan, kami langsung pamit dengan saudara kami, dan langsung menuju ke bagian keberangkatan.
Unik juga tandanya, selain bahasa Inggris, juga ditulis dalam bahasa Mandarin, Hokkien, dan Indonesia/Melayu.
Lancar urusan imigrasi, kamipun masuk kedalam. Kelihatan counter imigrasi di kanan bawah, yang berwarna silver.
Tak seperti counter imigrasi di beberapa bandara yang berada di ruang tertutup, counter imigrasi T1 Changi terkesan terbuka, tak ubahnya seperti counter Customer Service. Bahkan disuguhi permen juga!
Sayangnya, begitu di dalam, perut saya mulai bergejolak. Bolak-balik perut saya menyemburkan “gas buangâ€
Tapi saya tahan saja. Begitu di dalam, saudara-saudara saya asyik membeli wine di Duty Free Shop disana.
![[Image: overstappen.png]](http://www.semboyan35.com/images/overstappen.png)
Karena masih lama, saya permisi dulu mau ke toilet. Begitu sampai di toilet, saya langsung.......
......AH LEGA!!!!
Usai dari toilet yang stylish (tapi nggak saya potret) sayapun balik lagi ke saudara-saudara saya.
Viewing hall yang di airside.
Usai acara beli wine, kita langsung menuju ke gate keberangkatan kami.
Walaupun terminal 1 Changi sudah berumur, dan desain interiornya sama dengan pertama kali saya menjejakkan kaki di Singapore tahun 1994 silam, tapi sama sekali tak terkesan bapuk!
Malah sebaliknya, terkesan elegan selalu.
BERSAMBUNG.