Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
# TR Last Parahyangan GMR-BD-GMR 25 april 2010
#91
tanggal 25 april merupakan hari yg mengasikkan sekaligus menydihkan...
aku dan kawan2 edan sepur naik KA parahyangan utk terakhir kalinya...
sekitar 164 railfans hadir di acara tsb...
semoga parahyangan tetap melegenda....:sedih banget: :sedih banget:
[Image: photo.php?pid=188627&l=f9b54dbd4d&id=100000420529864]
STAATSSPOORWEGEN

[Image: 351tkp5.jpg]
Reply
#92
Udah ada tritnya di sini om....

Buat momod tolong digabung tritnya Tersenyuum
My Photos on Flickr CLICK HERE

My Facebook CLICK HERE
Reply
#93
(01-05-2010, 09:47 PM)Logawa_exp Wrote:
(01-05-2010, 09:29 PM)bagus70 Wrote: Ini foto KA yang kalian naiki waktu itu. Saya foto dari atas bukit di Maswati.


[Image: wk4xv7.jpg]

itu KA69 ya mas??
hmm kok sepi ya?? ga ada RF di pintu bordes, ngga kayak KA66..
emang sih di KA66..banyak RF yang capek..termasuk ane yang juga tidur karana kecapekan...Xie Xie

Bener kata mas Huda, udah pada teler, saya kuat d bordes cuma ampe lepas terowongan SKT abis itu saya k korsi

Kalo di poto tsb kayak'a saya ada disebelah kiri rangkaian K2-3 deh, jadi gak bisa nongol di potoXie Xie

[Image: 21kkvba.jpg]
Reply
#94
(01-05-2010, 09:47 PM)Logawa_exp Wrote:
(01-05-2010, 09:29 PM)bagus70 Wrote: Ini foto KA yang kalian naiki waktu itu. Saya foto dari atas bukit di Maswati.


[Image: wk4xv7.jpg]

itu KA69 ya mas??
hmm kok sepi ya?? ga ada RF di pintu bordes, ngga kayak KA66..
emang sih di KA66..banyak RF yang capek..termasuk ane yang juga tidur karana kecapekan...Xie Xie

Quote:emang sih di KA66..banyak RF yang capek..termasuk ane yang juga tidur karana kecapekan

sorry maksud ane KA 69...Playboy

[Image: banner.jpg]
Reply
#95
Cuma ini kenangan saya..
KA69 meninggalkanku di BD..

[Image: 4572594709_cda945ffdf.jpg]
Reply
#96
(26-04-2010, 07:41 PM)hedwigus Wrote: Ticket from the Last Parahyangan...
ada tanda tangan MAS dan JRA lho :-)


[Image: 25188_386178619863_769409863_4042466_276642_n.jpg]
Code:
[img]http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/hs458.ash1/25188_386178619863_769409863_4042466_276642_n.jpg[/img]

ini fb nya masinis the last parahyangan..
yusliman nurdien sama riki uQiew moelyana..
hehehe
btt..
Reply
#97
ane ikut...tapi banyak yg ga kenal sm agan2 sekalian....pgn ikut nimbrung kesian sama ce ane...poto2nya udah ane aplod di forum sebelah....di http://www.kaskus.us/showthread.php?p=21...t214674172 Big Grin
Reply
#98
From: W Widoyoko < wid_cc205@yahoo.co.uk >
To: keretapi_sejarah_dan_kenangan@yahoogroups.com
Cc: keretapi@yahoogroups.com
Sent: Mon, July 5, 2010 1:19:09 AM
Subject: Perjalanan terahir KA Parahyangan


Yth rekans,

Barusan saya mencermati foto-foto Majalah KA edisi Juni 2010 pada artikel tentang perjalanan terahir KA Parahyangan.

Tetapi saya agak kecewa dan tak mengerti, karena hampir semua wajah dalam foto tersebut terlihat 'sumringah'. Ada spanduk bertuliskan 'Sad Ride Parahyangan' tetapi semua orang terlihat ceria. Tak ada bedanya saat KA Parahyangan diresmikan dan dibubarkan, semua terlihat bahagia.

Dikatakan bahwa dibacakan juga sejarah Parahyangan, tetapi setelah itu bukan kesedihan yang muncul tetapi justru para peserta bernyanyi dan menari dan bersuka ria. Yang jelas wartawan MKA tidak ada melaporkan hal yang sedih-sedih.

Kelihatannya yang penting bagi para railfan bisa 'fun' naik KA terakhir.

Wassalam,

Widoyoko
RF spoor_jadul, telah menjadi warga Semboyan35, Indonesian Railfans sejak Jul 2010.
Reply
#99
From: W Widoyoko ( wid_cc205 at yahoo.co.uk )
To: keretapi_sejarah_dan_kenangan at yahoogroups.com
Cc: keretapi at yahoogroups.com
Sent: Mon, July 5, 2010
Subject: Perjalanan terahir KA Parahyangan

Yth rekans,

Barusan saya mencermati foto-foto Majalah KA edisi Juni 2010 pada artikel tentang perjalanan terahir KA Parahyangan.

Tetapi saya agak kecewa dan tak mengerti, karena hampir semua wajah dalam foto tersebut terlihat 'sumringah'. Ada spanduk bertuliskan 'Sad Ride Parahyangan' tetapi semua orang terlihat ceria. Tak ada bedanya saat KA Parahyangan diresmikan dan dibubarkan, semua terlihat bahagia.

Dikatakan bahwa dibacakan juga sejarah Parahyangan, tetapi setelah itu bukan kesedihan yang muncul tetapi justru para peserta bernyanyi dan menari dan bersuka ria. Yang jelas wartawan MKA tidak ada melaporkan hal yang sedih-sedih.

Kelihatannya yang penting bagi para railfan bisa 'fun' naik KA terakhir.

Wassalam,

Widoyoko
RF spoor_jadul, telah menjadi warga Semboyan35, Indonesian Railfans sejak Jul 2010.
Reply
Membaca tulisan Mas spoor_jadul tentu saja langsung menohok telak ke diri para RF. Semua RF tentu saja akan sedih apabila ada trayek dan jalur yang ditutup. Mudah-mudahan menjadi pelajaran buat RF untuk selalu membela perkeretaapian (bukan melulu membela PTKA).

Bukannya sebagai pembenaran, tapi berikut ini adalah kutipan dari Kompas dari para penentang penghapusan KA Parahyangan

kompas | http://bisniskeuangan.kompas.com/read/20...tikan.quot. Wrote:OLEH HARYO DAMARDONO

Kereta Api Parahyangan sudah selesai. Tamat riwayatnya pada pekan ini. Menjelang ajalnya, pencinta kereta ramai-ramai naik dari Bandung ke Jakarta. Namun, jangan terjebak pada ”romantika” belaka karena sekarang saat terbaik untuk berefleksi. Ada apa dengan kereta api dan transportasi massal?

Salah satu alasan terkuat penutupan layanan kereta itu adalah KA Parahyangan merugi. KA Parahyangan merugi Rp 36 miliar per tahun.

Di tengah resistensi terhadap penutupan Parahyangan, Taufik Hidayat dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) justru berani ”melawan arus”.

Menurut Taufik, ”Tutup kalau merugi. Pikirkan juga sisi komersial kereta api yang harus dijaga untuk keberlangsungan kereta api.”

Taufik menjelaskan, bila keuangan Parahyangan yang ”merah” atau bahkan ”merah membara” dibiarkan, hal itu malah mengancam keseluruhan hidup PT Kereta Api (PT KA). Alhasil, mempertahankan Parahyangan hanya memperkeruh kondisi dan masa depan perkeretaapian kita.

Memang terkesan PT Kereta Api hanya menimbang sisi bisnis saat menutup Parahyangan. Namun, ingat, pergeseran PT KA dari pelayan publik ke perusahaan profit merupakan kehendak pemerintah, yang mengubah menjadi perusahaan perseroan.

Jika pemerintah serius menangani perkeretaapian, mengapa tidak membentuk Kementerian Perkeretaapian. Toh, India dan China, dengan menteri kereta apinya, berhasil membangun puluhan ribu kilometer jalur rel. Tanpa liberalisasi perkeretaapian, dua negara itu pun berhasil.

Pemicu awal kematian KA Parahyangan adalah beroperasinya Jalan Tol Cikampek-Padalarang penghubung Jakarta dan Bandung tahun 2005. Melalui jalan tol, waktu tempuh dua kota itu (180 kilometer) terpangkas dari 4-5 jam menjadi 2-2,5 jam.

Kalah kompetisi

Daya saing KA Parahyangan, yang menembus Jakarta-Bandung dalam tiga jam, pun melemah. Parahyangan makin ”terpukul” saat Kementerian Perhubungan mengizinkan lebih banyak travel, tidak lagi hanya travel ”4848”.

Pertanyaannya, mengapa travel? Tidakkah lebih baik mengandalkan bus daripada travel untuk mengurangi macet dan emisi buang? Bila travel boleh berangkat dari Jalan Sudirman, Jakarta, mengapa bus tidak? Di kota-kota besar dunia, seperti Tokyo, Kuala Lumpur, dan Stockholm, bus juga berangkat dari tengah kota.

Tentu sah-sah saja ada kompetisi antara kereta dan travel. Kompetisi adalah sebuah kewajaran. Harus diakui, travel Jakarta-Bandung memudahkan konsumen di Depok, Bintaro, atau Rawamangun yang jauh dari Stasiun Gambir.

Saat pemerintah membiarkan kompetisi terbuka antara kereta dan travel, itu sama saja dengan menunjukkan ketidakadilan dan ketidakberpihakan. Atau, memang tidak ada arah dalam pembangunan transportasi massal?

Ketidakadilan pertama adalah membiarkan kereta menggunakan bahan bakar minyak tarif industri, sedangkan angkutan darat (travel) memakai BBM bersubsidi. Jika ingin tiket kereta lebih murah sehingga rakyat tertarik, mengapa solar kereta tak disubsidi?

”Matinya Parahyangan menunjukkan pemerintah omong kosong dalam mewujudkan angkutan massal yang efisien dan ramah lingkungan. Dengan kebijakan yang tak protransportasi massal, Parahyangan seolah dimatikan perlahan-lahan,” kata ahli transportasi Universitas Katolik Soegijapranata, Djoko Setijowarno.

Jika direnungkan, kematian KA Parahyangan mungkin juga disumbang oleh buruknya sistem transfer antartransportasi massal di negara ini. Bila travel memanjakan penumpang dengan perjalanan dari titik ke titik, sebaliknya penumpang KA Parahyangan direpotkan saat harus berpindah moda.

Misalnya, Anda mau ke Bandung naik KA Parahyangan dari Kalibata, bila naik kereta ekonomi, Anda harus turun di Stasiun Gondangdia, naik bajaj ke Stasiun Gambir, baru naik KA Parahyangan ke Bandung.

Setibanya di Bandung, Anda masih harus berpikir keras sebab tak mudah, misalnya, untuk menuju Jalan Hegarmanah. Di Stasiun Bandung tak tersedia transportasi massal seperti jaringan bus rapid transit yang andal.

Alhasil, penumpang harus naik taksi, yang parahnya tidak semua taksi di Bandung resmi. Ada pula yang menyebut dirinya taksi, tetapi ternyata minibus tanpa argometer. Tak jarang pula penumpang dari Stasiun KA Bandung harus membayar tarif taksi hingga Rp 50.000, yang ironisnya lebih mahal daripada tarif kereta itu.

Sebenarnya tak perlu mengambil contoh terlalu jauh. Penempatan halte bus transjakarta Gambir I yang jauh di sisi utara Stasiun Gambir saja telah menunjukkan ketidakberpihakan pemerintah terhadap masyarakat pengguna transportasi massal.

Apa susahnya membangun halte bus transjakarta sejajar sisi timur Stasiun Gambir? Arahkan bus transjakarta masuk ke areal Stasiun Gambir supaya penumpang kereta langsung naik bus transjakarta.

Kadang-kadang kita jadi bertanya-tanya. Apakah pemerintah tak punya hati melihat rakyatnya berjalan kaki sambil memanggul tas? Mengapa di Stasiun Gambir, misalnya, lokasi parkir mobil paling dekat pintu stasiun, sebaliknya Bus Damri diparkir jauh?

Begitu KA Parahyangan ditutup, pemerintah malah menawarkan kepada investor swasta untuk menjalankan kereta itu. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian memang memperbolehkan investor swasta untuk menjadi operator.

Pertanyaannya, mungkinkah ada investor swasta yang mau menjalankan kereta api di tengah kebijakan-kebijakan yang lebih ramah bagi kendaraan pribadi?

Belum lagi ada Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 219 Tahun 2010, yang intinya ”menyerahkan” prasarana (rel, stasiun, fasilitas operasi) kepada PT KA.

Maka, jangan-jangan, bila menjalankan KA Parahyangan, investor swasta selalu ”dikalahkan” oleh perjalanan Argo Gede.

Sebagai manusia, bernostalgia mengenang masa lalu, meratapi ditutupnya Parahyangan, memang tidak dilarang. Apalagi, dulu, antrean panjang di loket KA Parahyangan menjadi pemandangan setiap akhir pekan.

Sangat boleh jadi jika Jalan Tol Cikampek-Palimanan selesai, KA Argo Jati Jakarta-Cirebon akan ditutup. Demikian juga jika Jalan Tol Ciawi-Sukabumi selesai, KA Bogor-Sukabumi pun mungkin ditutup.

dan


Kompas | http://bisniskeuangan.kompas.com/read/20...erang.quot. Wrote:JAKARTA, KOMPAS.com - Respon masyarakat yang menyayangkan penutupan operasional KA Parahyangan masih terus bermunculan. Pecinta kereta api, sekaligus founder www.semboyan35.com, Hedwig mengatakan, alasan PT KA bahwa KA Parahyangan kalah saingan dengan travel tak bisa diterima begitu saja.

"Kita sih sebenarnya menyayangkan kenapa PT Kereta Api menutup KA Parahyangan, padahal kereta itu punya history. Kami kira bukan alasan kalau dikatakan karena kalah dari travel," kata Hedwig yang akan mengikuti "Farewell Trip Parahyangan", di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Senin (26/4/2010) sore.

Menurutnya, alasan tersebut justru terkesan PT KA tak siap bersaing dengan moda transportasi darat lainnya. Salah satu alternatif yang bisa dilakukan, lanjut Hedwig, dengan mengurangi jadwal kereta tanpa harus "membunuh" operasionalnya. "Misal, ada jam yang sepi, ya jadwal dikurangi. Kalau sekarang, seolah kalah sebelum berperang," ujarnya.

Hadirnya travel yang semakin menjamur dinilai menjadi tantangan sendiri bagi PT KA untuk bersaing secara kompetitif. Sebab, pada saat-saat tertentu moda transportasi seperti travel juga tak selalu ramai penumpang. "Kalau takut dengan jalan tol, sekarang ini juga lagi dibangun tol trans Jawa, bisa mati kereta. Bagaimana disiasati agar menjadi angkutan yang massal dan murah," katanya.

Padahal, menurutnya KA juga punya keunggulan yang tidak akan pernah macet sampai kapanpun. Berbeda dengan jalan tol yang semakin lama diyakini akan mengalami kepadatan.
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)