01-08-2010, 11:30 AM
Bagian terakhir dari cerita saya ini mungkin tidak akan sekronologis bagian-bagian pertama cerita, tetapi semoga tetap menarik.
Pagi hari setelah perjalanan dari Perancis, kami bangun pagi dan sarapan di hotel. Menu sarapan hari itu cukuplah sederhana untuk standard Eropa. Dan sayapun juga tak lupa “menghajar†yoghurt yang disediakan di situ. Namun tak seperti yoghurt yang saya makan di Jerman, Perancis, atau bahkan di Luzern, yoghurt yang saya makan di sini rasanya sama masamnya dengan yoghurt di Indonesia.
Selesai sarapan kamipun mulai melakukan kegiatan untuk mengisi sisa-sisa hari kita di Swiss.
Kebetulan karena saat itu kakak saya sudah hampir habis waktu liburnya, maka orang tua saya ikut sibuk membantu kakak saya untuk semester kuliah berikutnya. Karena kegiatan kuliah kakak saya waktu itu adalah job training di hotel Marriot Zurich, maka kamipun sering sekali bolak-balik Zurich-Luzern selama 2 hari terakhir kami di Eropa.
Kamipun sibuk membantu kakak saya membawa barang-barangnya dari Luzern ke flat untuk akomodasinya selama kerja praktek di Zurich. Serta sowan dengan pihak sekolah kakak saya. Tak lupa juga, kami mengambil barang kami yang dititipkan di hotel kami di Luzern.
![[Image: 15nrpkn.jpg]](http://i32.tinypic.com/15nrpkn.jpg)
Saya rasa detail acara saat ini kurang lebih mirip dengan fase awal perjalanan saya, dari segi railfanningnya, yaitu naik trem di sekeliling Zurich, serta naik KA-KA lokal di Zurich yang sederhana, tapi lumayan canggih dalam beberapa hal.
![[Image: 10r8tq0.jpg]](http://i28.tinypic.com/10r8tq0.jpg)
Yang membuat saya terkesan adalah sewaktu saya naik KA double decker dari Luzern ke Zurich. Urusan kecepatan biasa-biasa saja. Tapi untuk urusan akomodasi di dalam KA, kereta ini luar biasa sekali. Baru kali itu saya naik KA yang bertingkat dua. Interior KA ini cukup modern, dan termasuk beberapa bagian yang lebih menyerupai kamar tamu atau lobby hotel daripada interior KA pada umumnya.
Sentuhan kecanggihan teknologi juga ada di kamar mandinya. Semuanya serba tekan tombol, mulai dari siram WC, keran, bahkan dispenser sabun sekalipun!
Waktu itu saya menaiki KA ini saat berjalan pulang dari Luzern ke Zurich untuk terakhir kalinya. Sebelum pulang, kamipun juga sempat membeli pizza untuk bekal perjalanan. Walaupun niat kami untuk membeli pizza hanya untuk mengganjal perut, tetapi ukurannya cukup membuat kami terkejut bukan kepalang. Tak seperti pizza di Indonesia yang diameternya tak sampai 1 meter, pizza yang kami beli ini diameternya 1 meter lebih!
Otomatis hanya saya dan adik saya yang sanggup memakan lebih dari 1 potong. Keluarga saya tak sanggup menghabiskan 1 potong sekalipun.
Selama perjalanan, kereta dijaga oleh seorang kondektur Swiss-Italia yang tak mengerti bahasa Inggris, tapi tetap berusaha untuk ramah kepada kita.
Saya tak seberapa mengingat apa saja kegiatan kami selama hari terakhir di Swiss, tapi yang pasti salju perlahan-lahan mulai turun di kota Zurich. Kami juga sempat mengantarkan kakak saya ke apartemen tempat tinggal kakak saya selama kerja praktek di Zurich. Tak ada yang istimewa dengan apartemen ini, kecuali liftnya yang tak berpintu! Saya tidak membayangkan, orang yang tidak hati-hati kepala atau anggota badannya bisa terpenggal di lift ini!
Besok paginya, setelah check out dari hotel, kami langsung berangkat menuju ke airport. Namun tak seperti waktu datang dari Indonesia, kali ini kami pergi ke airport menggunakan taxi minibus (semacam Toyota Alphard). Saya pikir naik taxi kali ini tak senyaman naik KA, hanya bedanya anda tak harus membawa kopor melintasi beberapa blok kota.
Dari dalam taxi, saya perhatikan ternyata jalananannya juga banyak melewati terowongan. Saya bertanya ke sopir taxi, mengapa kok banyak dibuat terowongan. Sang sopir (setelah diterjemahkan kakak saya, karena beliau tak bisa bahasa selain Jerman) menjelaskan bahwa hal itu dilakukan untuk mengurangi waktu tempuh, serta mengurangi tanjakan. Dahulu, katanya, sebelum dibuat jalan tol lewat terowongan jalanannya berliku dan menanjak, sehingga rawan terjadi kemacetan.
Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya kami sampai juga ke airport Zurich. Tak seperti beberapa airport yang pernah saya kunjungi (bahkan jika dibandingkan dengan airport Frankfurt yang saya lihat beberapa hari sebelumnya sekalipun), terminal bandara Zurich tak mengesankan seperti airport.
Daerah di sekelilingnya cukup tertutup bangunan, sehingga dari jalan raya anda tak akan sepeserpun melihat pesawat. Jadi dari jalan raya, bangunan terminal airport terkesan seperti sebuah perkantoran yang ramai. Dan dari sini saya juga bisa melihat kalau airport Zurich terdiri dari dua terminal, terminal 1 (tempat pesawat saya diparkir) yang modelnya jadul ala tahun 1960an/1970an, serta terminal 2 yang lebih modern.
Selesai membayar ke sopir taxi, kamipun langsung masuk dan check in ke kounter tiket Malaysian Airlines di situ. Suasana airport ini tidak seperti yang umumnya saya lihat di bandara-bandara di Asia Tenggara. Orang yang berseliweran lebih didominasi etnis kulit putih, hitam, dan etnis latin.
Di layar jadwal penerbangan, saya juga melihat maskapai-maskapai dari benua Amerika, Eropa serta Timur Tengah. Banyak juga tujuannya ke kota-kota yang tidak familiar bagi saya, seperti Minneapolis, Miami, Atlanta (AS), atau Marrakesh, Addis Ababa, atau Harare (Afrika), bahkan ada juga tujuan Tel Aviv di Israel!
Seusai check in, kami langsung pergi menuju ke ruang tunggu, dan berpisah dengan kakak saya yang kelihatan agak sedih. Maklum, harus ditinggal keluarganya yang harus pergi mengelilingi setengah dunia untuk pulang.
Di hall di sekitar ruang tunggu, saya akhirnya saya baru bisa melihat pesawat yang diparkir di apron airport. Saya juga bisa melihat kalau areal di sekeliling landasan sebenarnya cukup lega dan dikelilingi banyak areal pertanian. Namun entah kenapa kok justru areal di sekeliling bangunan terminal terasa urban sekali? Rupanya areal pertanian itu memang sengaja dipertahankan oleh otorita setempat untuk sebagai “buffer zone†yang membatasi areal airport dengan areal urban di sekitar Zurich.
Walaupun pesawat yang parkir didominasi pesawat Swissair (khususnya dari jenis MD-11 yang waktu itu masih merajai angkasa) tapi saya juga bisa melihat pesawat dari maskapai American Airlines, VASP (Brazil), dan Cathay Pacific yang diparkir. Siang itu bandara Zurich memang sedang sibuk sekali.
![[Image: 2nq74p0.jpg]](http://i26.tinypic.com/2nq74p0.jpg)
Setelah puas memotret, saya sekeluarga langsung menuju ke ruang tunggu sebelum naik ke pesawat. Di ruang tunggu yang modelnya konservatif itu, saya bisa melihat ekor pesawat Boeing 777 Malaysian Airlines yang akan naiki. Di seberang apron, terlihat beberapa pesawat MD-11 dan Boeing 747-300 milik Swissair.
Setelah menunggu sekitar 20 menit, penggilan boarding pun diumumkan, dan kami langsung masuk ke dalam pesawat. Rupanya kali ini kami sekeluarga dapat tempat duduk di bagian tengah pesawat.
Tapi saya masih bisa mengintip pemandangan dari jendela yang ada di kursi baris sebelah saya. Eh rupanya si penumpang yang duduk di kursi itu (kebetulan cewek bule) merasa ge-er, dan dia pikir saya suka ke dia. Sebenarnya wajahnya lumayanlah, mirip-mirip Luna Maya, hanya full Eropa saja.
Walaupun saya tidak bisa melihat pemandangan ke luar secara leluasa, tetapi paling tidak saya masih terhibur dengan TV personal yang ada di depan saya.
Cuman kok ya di luar saya juga bisa melihat kalau salju mulai turun, awalnya perlahan-lahan, tapi makin lama makin lebat sehingga pesawat, kendaraan serta landasan mulai tertutup lapisan salju tipis. Wahhh....andai kami tinggal tiga hari lebih lama, mungkin kami bisa main lempar bola salju.....
Sepuluh menit setelah boarding, pintu pesawat mulai ditutup, dan pesawat mulai bergerak menuju ke landasan pacu. Yang aneh, rasanya perjalanan dari apron menuju ke landasan pacu terkesan banyak berbelok sehingga saya sempat bingung juga, tahu-tahu pesawat sudah berada di landasan pacu. Di belakang terlihat juga barisan pesawat yang mengekor pesawat saya. Persis di belakang adalah pesawat Boeing 747-400 milik Singapore Airlines.
![[Image: 2urs39h.jpg]](http://i32.tinypic.com/2urs39h.jpg)
Setelah pesawat bersiap di landasan pacu, gas digeber, dan pesawat meluncur dan mengangkasa meninggalkan Zurich...dan Eropa... selamat jalan Eropa, senang rasanya bisa menghabiskan waktu berjalan-jalan di sana. Saya berharap semoga suatu saat ku bisa berjalan-jalan lagi ke sana.
Tapi apa ceritanya habis? Belum..!
Begitu pesawat mengangkasa, saya bisa melihat kalau bandara Zurich memang dikelilingi areal perkotaan yang padat sekali. Maklum, Swiss adalah negara yang kecil (seukuran provinsi/propinsi Jawa Barat pra 1999, sewaktu Banten masih bagian dari Jawa Barat). Dan 50% wilayahnya adalah pegunungan yang terjal. Karena itu lahan tempat tinggal adalah barang yang mahal. Untungnya, orang Swiss “susah beranak†seperti orang Singapore. Jadi mereka tidak pernah kesulitan lahan.
Sejam kemudian, pesawat mencapai ketinggian jelajah. Karena jendela pesawat besar, maka walaupun saya duduk di baris tengah, tapi saya bisa melihat barisan pegunungan Alpen yang puncaknya bersalju tebal di bawah sana. Dan mungkin karena efek perjalanan ke timur, maka 2 jam setelah pesawat berangkat, langit mulai gelap, padahal saya ingat betul kalau pesawat berangkat sebelum jam 12 siang, waktu Zurich.
Walaupun perjalanan cukup lama, dan saya tak bisa melihat keluar jendela, tetapi saya tak merasa bosan, karena tiap-tiap penumpang punya layar TV nya sendiri, sehingga bebas mau memilih saluran TV atau game yang mau mereka lihat.
Kira-kira setelah subuh, pesawat mulai terasa mengurangi kecepatan dan ketinggian. Rupanya kita sudah dekat dengan Kuala Lumpur. Dan tepat saat matahari terbit, pesawat mendarat di bandara KLIA Sepang.
Di pagi hari saya akhirnya bisa melihat seperti apa bandara Sepang yang saat itu merupakan bandara termegah di Asia Tenggara (sebelum disalip oleh bandara Suvarnabhumi di Thailand). Bandara yang waktu itu umurnya belum genap setahun ini memang terlihat cukup megah dan besar. Dikelilingi oleh perkebunan kelapa sawit yang lumayan lebat, bandara ini kelihatan seperti bandara yang pas untuk abad ke-21.
Begitu pesawat sampai ke gate, kamipun langsung turun, dan menuju ke terminal yang megah dan luas. Sayapun juga akhirnya merasakan kelembaban, setelah 10 hari berada di tempat yang kering dan dingin di Eropa sana.
Karena bangunan terminal terletak di tengah landasan, maka kamipun naik kereta otomatis yang mengantarkan kami menuju ke bangunan terminal utama yang terletak di tepi landasan.
Yang aneh, cewek Ge-er yang duduk di sebelah saya masih saja mengikuti saya sambil senyam senyum melihat ke saya. Cuman di sini dia turun, karena memang tujuannya dia ke Malaysia, sementara saya sekeluarga masih harus melanjutkan perjalanan ke Surabaya.
Setelah mencari-cari akhirnya kami sampai juga ke ruang tunggu pesawat kami. Dan setelah hampir sejam menunggu akhirnya kami boarding juga ke pesawat kami, yaitu Boeing 737-400 milik Malaysian Airlines.
Tak seperti perjalanan berangkat dari Surabaya, kali ini pesawat kami akan transit di Johor Bahru.
Begitu pintu ditutup, pesawat kamipun berangkat. Suasana di bandara Sepang pagi itu cukup sibuk. Bahkan saat mau berangkat, pesawat saya “dikepung†oleh beberapa pesawat besar tujuan Jepang, Korea, China, dan Australia. Jadi pesawatnya pun antri saat akan lepas landas. Setelah memberi jalan kepada pesawat kargo Boeing 747 Korean Air untuk lepas landas, pesawat kamipun mendapat giliran untuk lepas landas.
Akhirnya pesawat kami meninggalkan landasan, dan dari atas saya bisa melihat areal di sekeliling airport yang kecoklatan, seperti banyak bekas galian. Maklum, bandaranya memang baru saja selesai dibuat.
Selama perjalanan, efek jetlag mulai merasuki saya sehingga tak lama setelah mengangkasa, sayapun langsung tertidur pulas. Baru bangun setelah pesawat mau mendarat di Johor Bahru.
![[Image: 2e1etm1.jpg]](http://i25.tinypic.com/2e1etm1.jpg)
Selama di Johor Bahru, para penumpang yang transit tetap berada di dalam pesawat. Saya juga bisa melihat bahwa walaupun bandara Johor Bahru itu kecil (seukuran bandara Hussein di Bandung, tapi landasannya panjang) namun bangunannya modern dan diperlengkapi garbarata. Petugas bandarapun ada yang keluar masuk sambil memeriksa kondisi di dalam pesawat.
Tak lama kemudian, para penumpang dari Johor Bahru tujuan Surabaya mulai masuk pesawat. Mereka umumnya adalah para TKI yang bekerja sebagai buruh kepala sawit di Johor Bahru. Dan yang agak menyebalkan, maaf, badan mereka bau semua, sehingga otomatis interior di dalam pesawat dipenuhi bau badan mereka. Otomatis kenyamanan para penumpang selama perjalanan jadi berkurang, apa lagi kalau bukan karena bau badan mereka.
Walaupun begitu, sayapun masih tetap tertidur lelap selama perjalanan dari Johor Bahru ke Surabaya. Saya bahkan tak memperhatikan waktu pesawat berangkat, karena saking capainya.
Kalaupun bangun itu pada saat pembagian makan siang diatas pesawat, serta akibat dua orang keturunan Tionghoa yang berbicara keras-keras di depan saya.
Akhirnya, sekitar jam 12 siang waktu Surabaya pesawat mendarat di bandara Juanda, Surabaya. Dan pesawat saya diparkir persis di sebelah pesawat Boeing 777 milik Singapore Airlines, serta Boeing 767 milik EVA Air.
Namun sayangnya, saya juga melihat di airport Juanda (waktu itu di terminal lama) bahwa para penumpang Malaysian Airlines yang baru datang dari Malaysia sering jadi obyek pemerasan di bandara Juanda, khususnya mereka yang orang Indonesia. Waktu itu kami berhasil menghindari tindak pemerasan yang dilakukan oleh oknum bea cukai, tapi sewaktu kami mendorong trolley bagasi menuju ke mobil saudara saya yang menjemput, ada orang yang tidak kami kenal ikut mendorong trolley kami. Tadinya saya pikir itu kawan saudara saya, rupanya bukan. Sudah begitu orang itu minta uang lagi! Dengan sebal, kamipun memberi uang ke pengemis brengsek itu.
Sesampainya dirumah, kamipun bersyukur akhirnya bisa pulang kembali dari Eropa dengan selamat. Hanya saja efek dari jetlag itu masih menghingapi saya selama seminggu setelah itu. Malah sehari setelah datang, saya sempat tertidur lama sekali, tidur siang jam 2, tapi baru bangun jam 11 malam!
Dan berakhir sudah cerita saya ini...
Pagi hari setelah perjalanan dari Perancis, kami bangun pagi dan sarapan di hotel. Menu sarapan hari itu cukuplah sederhana untuk standard Eropa. Dan sayapun juga tak lupa “menghajar†yoghurt yang disediakan di situ. Namun tak seperti yoghurt yang saya makan di Jerman, Perancis, atau bahkan di Luzern, yoghurt yang saya makan di sini rasanya sama masamnya dengan yoghurt di Indonesia.
Selesai sarapan kamipun mulai melakukan kegiatan untuk mengisi sisa-sisa hari kita di Swiss.
Kebetulan karena saat itu kakak saya sudah hampir habis waktu liburnya, maka orang tua saya ikut sibuk membantu kakak saya untuk semester kuliah berikutnya. Karena kegiatan kuliah kakak saya waktu itu adalah job training di hotel Marriot Zurich, maka kamipun sering sekali bolak-balik Zurich-Luzern selama 2 hari terakhir kami di Eropa.
Kamipun sibuk membantu kakak saya membawa barang-barangnya dari Luzern ke flat untuk akomodasinya selama kerja praktek di Zurich. Serta sowan dengan pihak sekolah kakak saya. Tak lupa juga, kami mengambil barang kami yang dititipkan di hotel kami di Luzern.
![[Image: 15nrpkn.jpg]](http://i32.tinypic.com/15nrpkn.jpg)
Saya rasa detail acara saat ini kurang lebih mirip dengan fase awal perjalanan saya, dari segi railfanningnya, yaitu naik trem di sekeliling Zurich, serta naik KA-KA lokal di Zurich yang sederhana, tapi lumayan canggih dalam beberapa hal.
![[Image: 10r8tq0.jpg]](http://i28.tinypic.com/10r8tq0.jpg)
Yang membuat saya terkesan adalah sewaktu saya naik KA double decker dari Luzern ke Zurich. Urusan kecepatan biasa-biasa saja. Tapi untuk urusan akomodasi di dalam KA, kereta ini luar biasa sekali. Baru kali itu saya naik KA yang bertingkat dua. Interior KA ini cukup modern, dan termasuk beberapa bagian yang lebih menyerupai kamar tamu atau lobby hotel daripada interior KA pada umumnya.
Sentuhan kecanggihan teknologi juga ada di kamar mandinya. Semuanya serba tekan tombol, mulai dari siram WC, keran, bahkan dispenser sabun sekalipun!
Waktu itu saya menaiki KA ini saat berjalan pulang dari Luzern ke Zurich untuk terakhir kalinya. Sebelum pulang, kamipun juga sempat membeli pizza untuk bekal perjalanan. Walaupun niat kami untuk membeli pizza hanya untuk mengganjal perut, tetapi ukurannya cukup membuat kami terkejut bukan kepalang. Tak seperti pizza di Indonesia yang diameternya tak sampai 1 meter, pizza yang kami beli ini diameternya 1 meter lebih!
Otomatis hanya saya dan adik saya yang sanggup memakan lebih dari 1 potong. Keluarga saya tak sanggup menghabiskan 1 potong sekalipun.
Selama perjalanan, kereta dijaga oleh seorang kondektur Swiss-Italia yang tak mengerti bahasa Inggris, tapi tetap berusaha untuk ramah kepada kita.
Saya tak seberapa mengingat apa saja kegiatan kami selama hari terakhir di Swiss, tapi yang pasti salju perlahan-lahan mulai turun di kota Zurich. Kami juga sempat mengantarkan kakak saya ke apartemen tempat tinggal kakak saya selama kerja praktek di Zurich. Tak ada yang istimewa dengan apartemen ini, kecuali liftnya yang tak berpintu! Saya tidak membayangkan, orang yang tidak hati-hati kepala atau anggota badannya bisa terpenggal di lift ini!
Besok paginya, setelah check out dari hotel, kami langsung berangkat menuju ke airport. Namun tak seperti waktu datang dari Indonesia, kali ini kami pergi ke airport menggunakan taxi minibus (semacam Toyota Alphard). Saya pikir naik taxi kali ini tak senyaman naik KA, hanya bedanya anda tak harus membawa kopor melintasi beberapa blok kota.
Dari dalam taxi, saya perhatikan ternyata jalananannya juga banyak melewati terowongan. Saya bertanya ke sopir taxi, mengapa kok banyak dibuat terowongan. Sang sopir (setelah diterjemahkan kakak saya, karena beliau tak bisa bahasa selain Jerman) menjelaskan bahwa hal itu dilakukan untuk mengurangi waktu tempuh, serta mengurangi tanjakan. Dahulu, katanya, sebelum dibuat jalan tol lewat terowongan jalanannya berliku dan menanjak, sehingga rawan terjadi kemacetan.
Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya kami sampai juga ke airport Zurich. Tak seperti beberapa airport yang pernah saya kunjungi (bahkan jika dibandingkan dengan airport Frankfurt yang saya lihat beberapa hari sebelumnya sekalipun), terminal bandara Zurich tak mengesankan seperti airport.
Daerah di sekelilingnya cukup tertutup bangunan, sehingga dari jalan raya anda tak akan sepeserpun melihat pesawat. Jadi dari jalan raya, bangunan terminal airport terkesan seperti sebuah perkantoran yang ramai. Dan dari sini saya juga bisa melihat kalau airport Zurich terdiri dari dua terminal, terminal 1 (tempat pesawat saya diparkir) yang modelnya jadul ala tahun 1960an/1970an, serta terminal 2 yang lebih modern.
Selesai membayar ke sopir taxi, kamipun langsung masuk dan check in ke kounter tiket Malaysian Airlines di situ. Suasana airport ini tidak seperti yang umumnya saya lihat di bandara-bandara di Asia Tenggara. Orang yang berseliweran lebih didominasi etnis kulit putih, hitam, dan etnis latin.
Di layar jadwal penerbangan, saya juga melihat maskapai-maskapai dari benua Amerika, Eropa serta Timur Tengah. Banyak juga tujuannya ke kota-kota yang tidak familiar bagi saya, seperti Minneapolis, Miami, Atlanta (AS), atau Marrakesh, Addis Ababa, atau Harare (Afrika), bahkan ada juga tujuan Tel Aviv di Israel!
Seusai check in, kami langsung pergi menuju ke ruang tunggu, dan berpisah dengan kakak saya yang kelihatan agak sedih. Maklum, harus ditinggal keluarganya yang harus pergi mengelilingi setengah dunia untuk pulang.
Di hall di sekitar ruang tunggu, saya akhirnya saya baru bisa melihat pesawat yang diparkir di apron airport. Saya juga bisa melihat kalau areal di sekeliling landasan sebenarnya cukup lega dan dikelilingi banyak areal pertanian. Namun entah kenapa kok justru areal di sekeliling bangunan terminal terasa urban sekali? Rupanya areal pertanian itu memang sengaja dipertahankan oleh otorita setempat untuk sebagai “buffer zone†yang membatasi areal airport dengan areal urban di sekitar Zurich.
Walaupun pesawat yang parkir didominasi pesawat Swissair (khususnya dari jenis MD-11 yang waktu itu masih merajai angkasa) tapi saya juga bisa melihat pesawat dari maskapai American Airlines, VASP (Brazil), dan Cathay Pacific yang diparkir. Siang itu bandara Zurich memang sedang sibuk sekali.
![[Image: 2nq74p0.jpg]](http://i26.tinypic.com/2nq74p0.jpg)
Setelah puas memotret, saya sekeluarga langsung menuju ke ruang tunggu sebelum naik ke pesawat. Di ruang tunggu yang modelnya konservatif itu, saya bisa melihat ekor pesawat Boeing 777 Malaysian Airlines yang akan naiki. Di seberang apron, terlihat beberapa pesawat MD-11 dan Boeing 747-300 milik Swissair.
Setelah menunggu sekitar 20 menit, penggilan boarding pun diumumkan, dan kami langsung masuk ke dalam pesawat. Rupanya kali ini kami sekeluarga dapat tempat duduk di bagian tengah pesawat.
Tapi saya masih bisa mengintip pemandangan dari jendela yang ada di kursi baris sebelah saya. Eh rupanya si penumpang yang duduk di kursi itu (kebetulan cewek bule) merasa ge-er, dan dia pikir saya suka ke dia. Sebenarnya wajahnya lumayanlah, mirip-mirip Luna Maya, hanya full Eropa saja.
Walaupun saya tidak bisa melihat pemandangan ke luar secara leluasa, tetapi paling tidak saya masih terhibur dengan TV personal yang ada di depan saya.
Cuman kok ya di luar saya juga bisa melihat kalau salju mulai turun, awalnya perlahan-lahan, tapi makin lama makin lebat sehingga pesawat, kendaraan serta landasan mulai tertutup lapisan salju tipis. Wahhh....andai kami tinggal tiga hari lebih lama, mungkin kami bisa main lempar bola salju.....
Sepuluh menit setelah boarding, pintu pesawat mulai ditutup, dan pesawat mulai bergerak menuju ke landasan pacu. Yang aneh, rasanya perjalanan dari apron menuju ke landasan pacu terkesan banyak berbelok sehingga saya sempat bingung juga, tahu-tahu pesawat sudah berada di landasan pacu. Di belakang terlihat juga barisan pesawat yang mengekor pesawat saya. Persis di belakang adalah pesawat Boeing 747-400 milik Singapore Airlines.
![[Image: 2urs39h.jpg]](http://i32.tinypic.com/2urs39h.jpg)
Setelah pesawat bersiap di landasan pacu, gas digeber, dan pesawat meluncur dan mengangkasa meninggalkan Zurich...dan Eropa... selamat jalan Eropa, senang rasanya bisa menghabiskan waktu berjalan-jalan di sana. Saya berharap semoga suatu saat ku bisa berjalan-jalan lagi ke sana.
Tapi apa ceritanya habis? Belum..!
Begitu pesawat mengangkasa, saya bisa melihat kalau bandara Zurich memang dikelilingi areal perkotaan yang padat sekali. Maklum, Swiss adalah negara yang kecil (seukuran provinsi/propinsi Jawa Barat pra 1999, sewaktu Banten masih bagian dari Jawa Barat). Dan 50% wilayahnya adalah pegunungan yang terjal. Karena itu lahan tempat tinggal adalah barang yang mahal. Untungnya, orang Swiss “susah beranak†seperti orang Singapore. Jadi mereka tidak pernah kesulitan lahan.
Sejam kemudian, pesawat mencapai ketinggian jelajah. Karena jendela pesawat besar, maka walaupun saya duduk di baris tengah, tapi saya bisa melihat barisan pegunungan Alpen yang puncaknya bersalju tebal di bawah sana. Dan mungkin karena efek perjalanan ke timur, maka 2 jam setelah pesawat berangkat, langit mulai gelap, padahal saya ingat betul kalau pesawat berangkat sebelum jam 12 siang, waktu Zurich.
Walaupun perjalanan cukup lama, dan saya tak bisa melihat keluar jendela, tetapi saya tak merasa bosan, karena tiap-tiap penumpang punya layar TV nya sendiri, sehingga bebas mau memilih saluran TV atau game yang mau mereka lihat.
Kira-kira setelah subuh, pesawat mulai terasa mengurangi kecepatan dan ketinggian. Rupanya kita sudah dekat dengan Kuala Lumpur. Dan tepat saat matahari terbit, pesawat mendarat di bandara KLIA Sepang.
Di pagi hari saya akhirnya bisa melihat seperti apa bandara Sepang yang saat itu merupakan bandara termegah di Asia Tenggara (sebelum disalip oleh bandara Suvarnabhumi di Thailand). Bandara yang waktu itu umurnya belum genap setahun ini memang terlihat cukup megah dan besar. Dikelilingi oleh perkebunan kelapa sawit yang lumayan lebat, bandara ini kelihatan seperti bandara yang pas untuk abad ke-21.
Begitu pesawat sampai ke gate, kamipun langsung turun, dan menuju ke terminal yang megah dan luas. Sayapun juga akhirnya merasakan kelembaban, setelah 10 hari berada di tempat yang kering dan dingin di Eropa sana.
Karena bangunan terminal terletak di tengah landasan, maka kamipun naik kereta otomatis yang mengantarkan kami menuju ke bangunan terminal utama yang terletak di tepi landasan.
Yang aneh, cewek Ge-er yang duduk di sebelah saya masih saja mengikuti saya sambil senyam senyum melihat ke saya. Cuman di sini dia turun, karena memang tujuannya dia ke Malaysia, sementara saya sekeluarga masih harus melanjutkan perjalanan ke Surabaya.
Setelah mencari-cari akhirnya kami sampai juga ke ruang tunggu pesawat kami. Dan setelah hampir sejam menunggu akhirnya kami boarding juga ke pesawat kami, yaitu Boeing 737-400 milik Malaysian Airlines.
Tak seperti perjalanan berangkat dari Surabaya, kali ini pesawat kami akan transit di Johor Bahru.
Begitu pintu ditutup, pesawat kamipun berangkat. Suasana di bandara Sepang pagi itu cukup sibuk. Bahkan saat mau berangkat, pesawat saya “dikepung†oleh beberapa pesawat besar tujuan Jepang, Korea, China, dan Australia. Jadi pesawatnya pun antri saat akan lepas landas. Setelah memberi jalan kepada pesawat kargo Boeing 747 Korean Air untuk lepas landas, pesawat kamipun mendapat giliran untuk lepas landas.
Akhirnya pesawat kami meninggalkan landasan, dan dari atas saya bisa melihat areal di sekeliling airport yang kecoklatan, seperti banyak bekas galian. Maklum, bandaranya memang baru saja selesai dibuat.
Selama perjalanan, efek jetlag mulai merasuki saya sehingga tak lama setelah mengangkasa, sayapun langsung tertidur pulas. Baru bangun setelah pesawat mau mendarat di Johor Bahru.
![[Image: 2e1etm1.jpg]](http://i25.tinypic.com/2e1etm1.jpg)
Selama di Johor Bahru, para penumpang yang transit tetap berada di dalam pesawat. Saya juga bisa melihat bahwa walaupun bandara Johor Bahru itu kecil (seukuran bandara Hussein di Bandung, tapi landasannya panjang) namun bangunannya modern dan diperlengkapi garbarata. Petugas bandarapun ada yang keluar masuk sambil memeriksa kondisi di dalam pesawat.
Tak lama kemudian, para penumpang dari Johor Bahru tujuan Surabaya mulai masuk pesawat. Mereka umumnya adalah para TKI yang bekerja sebagai buruh kepala sawit di Johor Bahru. Dan yang agak menyebalkan, maaf, badan mereka bau semua, sehingga otomatis interior di dalam pesawat dipenuhi bau badan mereka. Otomatis kenyamanan para penumpang selama perjalanan jadi berkurang, apa lagi kalau bukan karena bau badan mereka.
Walaupun begitu, sayapun masih tetap tertidur lelap selama perjalanan dari Johor Bahru ke Surabaya. Saya bahkan tak memperhatikan waktu pesawat berangkat, karena saking capainya.
Kalaupun bangun itu pada saat pembagian makan siang diatas pesawat, serta akibat dua orang keturunan Tionghoa yang berbicara keras-keras di depan saya.
Akhirnya, sekitar jam 12 siang waktu Surabaya pesawat mendarat di bandara Juanda, Surabaya. Dan pesawat saya diparkir persis di sebelah pesawat Boeing 777 milik Singapore Airlines, serta Boeing 767 milik EVA Air.
Namun sayangnya, saya juga melihat di airport Juanda (waktu itu di terminal lama) bahwa para penumpang Malaysian Airlines yang baru datang dari Malaysia sering jadi obyek pemerasan di bandara Juanda, khususnya mereka yang orang Indonesia. Waktu itu kami berhasil menghindari tindak pemerasan yang dilakukan oleh oknum bea cukai, tapi sewaktu kami mendorong trolley bagasi menuju ke mobil saudara saya yang menjemput, ada orang yang tidak kami kenal ikut mendorong trolley kami. Tadinya saya pikir itu kawan saudara saya, rupanya bukan. Sudah begitu orang itu minta uang lagi! Dengan sebal, kamipun memberi uang ke pengemis brengsek itu.
Sesampainya dirumah, kamipun bersyukur akhirnya bisa pulang kembali dari Eropa dengan selamat. Hanya saja efek dari jetlag itu masih menghingapi saya selama seminggu setelah itu. Malah sehari setelah datang, saya sempat tertidur lama sekali, tidur siang jam 2, tapi baru bangun jam 11 malam!
Dan berakhir sudah cerita saya ini...




?? Mohon infonya.


![[Image: zjxjkl.jpg]](http://i40.tinypic.com/zjxjkl.jpg)
