Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Kenapa KA Komuter Bisa Gak Lengkap Ada K1, K2 dan K3 Yah?
#11
(29-11-2009, 08:23 AM)we supratman Wrote:
(28-11-2009, 06:32 AM)Dana Komuter Wrote: Coba kita telusuri :
Bogor- Sukabumi cuma punya K2 Bumi Geulis.
Seantero Jabodetabek gak punya K2 melainkan cuma K1 dan K3. Dulu ada K2 di mana Pakuan dulu Bisnis, Bekasi Ekspres dulu Bisnis, dsb.
Padalarang - Bandung - Cicalengka gak punya K1.
Konon Kutoarjo - Solo via Yogyakarta punya K1 x-Argo Lawu gitu yah...
Dll...

Knapa yah bisa demikian? Padahal masyarakat juga pasti ada yang membutuhkan juga K3 sebagai KA bertarif murah dan juga K2 sebagai KA komuter yang agak mahalan tapi lebih cepet sampai.

lah Bye Bye

mang nya argo lau komuter yah ...

baru tau ane ... Bingung

Bukan lawu kali, tp Argo Prameks
[Image: 21kkvba.jpg]
Reply
#12
Hehehe komuter daop 8 semuanya k3 ntu
Reply
#13
(29-11-2009, 08:58 AM)Semutsdt Wrote: Hehehe komuter daop 8 semuanya k3 ntu

soalnya kalo ada k2 dan k1 bisa gak ada yang naik, betul cak?
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Reply
#14
(29-11-2009, 10:02 AM)ady_mcady Wrote:
(29-11-2009, 08:58 AM)Semutsdt Wrote: Hehehe komuter daop 8 semuanya k3 ntu

soalnya kalo ada k2 dan k1 bisa gak ada yang naik, betul cak?

Betlul sekaleeeeeeee, gak bakalan laqu
[Image: 21kkvba.jpg]
Reply
#15
Namanya KA komuter tak boleh ada segregasi kelas. Semua harus sama rata dan sama rasa. Coba anda kan pernah pergi keliling dunia mas Dana, dan bisa dilihat kalau semua KA komuter (khususnya di negara maju) kelasnya seragam.

Nah yang saya perhatikan, perkara kenyamanan, levelnya sama seperti KRL AC di Jakarta. Semua negara maju umumnya seperti itu.

Di Indonesia, mestinya semua KA komuter kelasnya disamakan seperti KRL AC jakarta atau at least seperti KRDE, yang biarpun non AC tapi sirkulasi udaranya bagus sekali.
Reply
#16
yang jadi masalah kan gini cak bagus. dengan kondisi komuter yang baguis seperti krl ac itu berapa sih harga yang sepantasnya kita bayar? kalo sudah urusan uang, masing2 daerah itu daya beli nya kan tidak bisa disamakan.
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Reply
#17
Hehehe bener bos @ady tapi penaripan ka komuter tergantung dari pemkot dan pemprov masing2 dng tarif jarak jauh dekat sama, jadi yg lbh tahu kan pimpinan masing2 daerah mana yg pendapatan masarakate minim atau lebih
Reply
#18
(29-11-2009, 10:17 AM)ady_mcady Wrote: yang jadi masalah kan gini cak bagus. dengan kondisi komuter yang baguis seperti krl ac itu berapa sih harga yang sepantasnya kita bayar? kalo sudah urusan uang, masing2 daerah itu daya beli nya kan tidak bisa disamakan.

Karena itu namanya KA komuter wajib disubsidi pemerintah. Agar harga tiketnya murah...tidak murahan.
Reply
#19
seharusnya tidak disubsidi. Tidak disubsidi pun, hitung-hitungannya naek KRL ber-AC tetap lebih murah dibandingkan dengan naik bis atau mobil pribadi.
[Image: NQma0.jpg]
Reply
#20
Yang saya salahkan pada KRL AC di Jakarta dkk adalah harga tiketnya dibuat rata. Mau jauh atau dekat harga tiketnya sama, dan itu memberatkan penumpang.

Selain itu, seharusnya KRL odong-odong dihapus dari angkutan di kota seperti JAkarta. Nggak pantes dan memalukan kalau stasiun KA malah jadi kantung kekumuhan seperti di stasiun Tanjung Barat (selatan PAsar Minggu).
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)