Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Kesenjangan di Jatim
#11
Kalo ga salah, SS dulu juga dibagi2, jadi ada Sumatra SS, SS westerlijnen, dan SS oosterlijnen, PT. Kereta Api Indonesia (Persero) kok ga dibuat gitu aja ya. Truz soal daop2 di jatim, apa sih yg menghalangi kreatifitas mereka? Apakah mereka takut atau trauma berinovasi? kayak si madeks itu yg tiba2 aja lenyap akhir 2007, padahal beberapa bulan dah dibuat jalan tiap hari, bahkan digembar-gemborkan di MKA Heran Sakit tapi tau2 ilang gitu aja dalam sekejap,
Jatim bukan jalur utama? Kalo g slah bukannya surabaya itu tempat pertemuan 2 jalur utama di jawa.. Harusnya mendapat perhatian lebih walau mungkin g kayak daop2 bandung ato jakarta. Kalo pemda. tahun 2007, walikota sby pak Bambang DhH dah meneken MOU dengan SNCF soal SRRTS, tapi itu proyek ilang begitu aja, ga ada kabarnya lagi, bahkan setelah 2 tahun ga ada realisasiya sedikit pun..Ini saya juga bingung bingung:coz yg ada cuma penjajakan,rencana,penjajakan,rencana. Proyak perkeretaapian mank ada wacana, tapi ga ada wujudnya. Sebenernya perkeretaapian di jatim bisa berkembang dan memiliki kebutuhan dan potensi yg besar, hanya kurang kesempatan. Kesempatan yg diberi ga sebesar di daerah barat, dan juga, jatim ini kayak terra incognita dalam perkeretaapian Indonesia, sehingga bener2 kurang sorotan maupun perhatian.


[email]KA Sumo Perlu Direalisasi Rabu, 3 Juni 2009 | 11:54 WIB MOJOKERTO – Meningkatkan pelayanan transportasi, pihak stasiun kereta api (KA) Mojokerto dan PT KA Daerah Operasional 8 Surabaya selayaknya mengoperasionalkan KA Komuter Surabaya – Mojokerto (Sumo). Mengingat, tingkat mobilisasi warga Mojokerto untuk urusan bekerja, sekolah maupun kunjungan keluarga dan rekreasi maupun belanja ke Surabaya relatif tinggi. Sehingga operasionalnya sarana transportasi yang murah dan nyaman membantu meringankan beban masyarakat. Demikian dikatakan Syaiful Arsad, anggota DPRD Kota Mojokerto, Rabu (3/6) pagi tadi. “Untuk kebutuhan pelayanan Komuter Sumo itu, sebenarnya kita dan pihak eksekutif sudah sering meminta PT KA untuk merealisasinya. Namun sampai sekarang belum ada tindaklanjutnya,” katanya. Lebih lanjut, dia mengemukan KA Sumo sudah menjadi kebutuhan mendesak. Karena tingkat mobilisasi masyarakat Mojokerto ke Surabaya, relatif tinggi. “Lihat saja saat pagi hari, siang maupun sore di stasiun KA Mojokerto. Kereta api melaju ke Surabaya atau sebaliknya selalu dijejali penumpang,” ujarnya. Untuk itu, lanjut dia, pihaknya akan kembali mendesak eksekutif agar lebih gencar melobi pihak PT KA agar segera merealisasi rencana pelayanan transportasi KA Komuter Sumo. Sulastri (40) warga Surodinawan, Kec. Prajuritkulon, Kota Mojokerto yang mengaku kerja di Surabaya ini berharap Komuter Sumo segera dioperasionalkan. “Saya kira sudah saatnya ada komuter untuk memberikan kenyamanan masyarakat,” katanya. Selama ini, Sulastri mengaku berangkat dan pulang kerja dari Surabaya dengan naik kereta api, jarang bisa mendapatkan tempat duduk. Karena, kursi dalam kereta api jurusan Blitar – Surabaya selalu penuh. “Dioperasionalkan komuter,--seperti Surabaya-Sidoarjo, pasti juga meringankan biaya transportasi masyarakat,” tegas Sulastri. Sedangkan Lukito, guru SDN di kawasan Sooko Kab. Mojokerto menilai pengoperasian Komuter Sumo tak hanya menjadi sarana transportasi yang nyaman bagi masyarakat, juga bisa menjadi sarana rekreasi pelajar. “KA Komuter Sumo bisa menjadi sarana belajar sekaligus rekreasi siswa,”katanya. Kepala Stasiun KA Mojokerto, Fatoni mengatakan, memang PT KA Daop 8 Surabaya pernah punya rencana mengoperasionalkan KA Komuter Sumo. Bahkan pihaknya sudah melakukan studi kelayakan. “Tapi sampai saat ini belum ada penjelasan kapan komuter dioperasionalkan,” katanya. “Pihak kami juga sering mendapat pertanyaan dari masyarakat, tapi kami pun tak bisa menjawab secara pasti kapan dioperasionalkan KA Komuter Sumo,” tambahnya. bas[/email]

[email]http://www.surabayapost.co.id[/email]



Cuma Janji, Sumo Gagal Total
Selasa, 21 Juli 2009 | 7:49 WIB | Posts by: jps | Kategori: Surabaya Raya | ShareThis


I
SURABAYA - SURYA-Lima kali janji akan meluncurkan komuter Surabaya-Mojokerto (Sumo), lima kali juga masyarakat dikibuli. Ini membuat Ketua Komisi D DPRD Jatim, Bambang Suhartono, minta Dishub & LLAJ Jatim tidak lagi mengumbar janji ke publik.

“Apalagi, kejadian seperti ini sudah terulang beberapa kali. Masyarakat jelas dirugikan, karena mereka sangat berharap komuter Sumo dapat segera beroperasi,” tegasnya.

Dishub & LLAJ merencanakan peluncuran Sumo dilaksanakan akhir Desember 2008. Tetapi gagal karena rangkaian kereta belum jadi. Dijanjikan peluncuran dilakukan Maret 2009. Namun rencana itu kembali gagal dan tarik ulur hingga terbit janji, mundur sampai April. Janji lagi sebulan setelah molor dari batas waktu yang diucapkan, akhirnya muncul janji baru: awal Juli. Sekarang bulan Juli sudah hampir habis dan masih juga tak ada wujudnya.

Kepala Dishub & LLAJ Jatim Binsar Tua Siregar beralasan sejumlah daerah yang dilewati, yakni Surabaya, Sidoarjo, dan Mojokerto masih mempersiapkan fasilitas yang dibutuhkan, seperti shelter dan akses jalan masuk dan keluar menuju shelter. “Rencana launching Sumo diundur,” ujarnya, Senin (20/7). Kali ini Binsar tidak berani memastikan kapan launching lanjutan dilakukan. Dia hanya memperkirakan Agustus.

Jika janji keenam ini meleset lagi, entah alasan apa lagi yang disiapkan untuk warga yang sangat berharap mendapat layanan transportasi murah.
Menangapi hal itu, Binsar berkelit. “Trainset keretanya sudah siap, bahkan sudah diuji coba atau running test, tapi untuk beroperasi melayani masyarakat semua sarana prasarana yang dibutuhkan juga harus siap semua,” kilahnya. uji




Ini adalah salah satu ketidakjelasan yg dah terjadi sejak saya masih maba sampai sekarang dah semester akhir. Pemda kayaknya juga udah mencoba untuk berpartisipasi dan mendesak berkali2 bahkan dah gregetan , tapi entah siapa yg ga komit, saya memilih ber khusnu dzan aja.
Saya ga bermaksud menyudutkan siapapun, tapi ini menunjukkan kebutuhan transportasi masal di sini pun juga besar, tapi karena memang KA di jatim kurang kesempatan(bukan peluang lho), inovasi, serta sarana/prasarana, wajar aja kalah ma moda transport lainnya. Truz soal DT, kebutuhan soal DT sebenarnya dah sejak dulu,yg berlalu biarkanlah berlalu, sekarang plizz soal DT itu diperhatiin.Sakit
Silence Is Golden

But My Eyes Still SeeNgeledek
#12
(20-08-2009, 03:47 AM)sulovyo Wrote: ^^ sabar..sabar...

ya sih.jatim memang propinsi terluas di jawa dan jumlah penduduknya salah satu yang terbesar di Indonesia tapi itu gak menjamin kok.karena kalau dari sisi railways saat ini jatim bukan jalur utama.thats a fact.
maksudnya tetap saja pembangunan fokusnya tetap di ibukota dan sekitarnya.bayangkan bantalan rel di ibukota dan sekitarnya sudah ada yg diganti sejak akhir 80-an sedangkan di jatim sendiri saat ini (2009) masih banyak bantalan kayu.jadi kasarannya pembangunan barat dan timur ada selisih 20 tahunan.

sebenarnya "bola" sekarang tuh ada di tangan pemprov jatim atau pemkab2 atau badan usaha2 yg ada di jatim.

karena dalam UU 23 thn 2007 ttg railways mereka diberi kewenangan untuk menyelenggarakan angkutan perkeratapian (pasal 22).CMIIW.

kalau memang mau,mereka bisa kok membangun perkeretapian di jatim.cuma masalahnya orang2 di atas tuh kan pada masih belum "melek perkeretapian".
kuadran berfikir mereka masih ada di kuadran lain.bukan kuadran kita2 yang peduli sama transportasi masal kayak KA.

kalau memisahkan diri dari Bandung kayaknya agak berat walau gak mustahil sih wong di jepang aja JR ada JR east dan JR west.

tapi menurut ane yang paling realistis adalah pihak daerah kerjasama dengan PT KA dengan cara ikut invest di pembelian loko/gerbong atau pengadaan kereta komuter.atau mendorong pihak swasta untuk ikut berperan di bisnis railways.
yah misalnya pemkab Kediri+Daop 7 mengajak grup GG terjun lebih dalam lagi di bidang KA.masak cuma berani masang bilboard segede gambreng di stasiun2 yang malah merusak pemandangan stasiun2 kita?atau daop 8 coba menggandeng PM,JP,SG ato maspion gitu.kalau lobi2-nya maut pasti swasta2 itu mau invest di railways dah.

dengan adanya dana dari pihak swasta diharapkan daop 789 bisa berkreasi dan gak melulu tergantung Bandung.yah biar kata PT KA dapat suntikan dana segar 19 trilliun tapi daop 789 harusnya gak boleh berdiam diri menunggu "bagiannya" yah kalau itu juga mendapat "bagian" kalau enggak?kan repot.

karena memang wilayah kerja PT KA bukan jatim saja.
dan denger2 itu prioritasnya untuk KA di aceh,DT cirebon-kroya,tegal-pekalongan dan beberapa proyek lainnya.sisanya baru mungkin ke tempat lain salah satunya ya mungkin ke daop 789 itu juga kalau besisa Ngeledek

yah intinya daop 789 harus kreatiplah mencari cara supaya bisa survive dengan inovasi2 baru dan terus tingkatkan servicenya supaya konsumennya tambah cinta dan tambah banyak kalau udah banyak kan siapa tahu pihak swasta atau bahkan pemodal asing mau ngelirik.

Setuju dengan Boss Sulovyo. Barangkali implementasinya yang lebih konkrit adalah Pemkot/Pemkab atau Pemprov diberi konsesi oleh pemerintah untuk mengurus penyelenggaraan jasa angkutan KA. Jadi, akan ada semacam BUMD KA. Ini mungkin mirip-mirip jaman Belanda dulu ketika di Jawa Timur saja terdapat banyak perusahaan swasta yang mengelola trem.

Patut ditambahkan pula, tak hanya di Jepang, di Australia saja tiap negara bagian punya perusahaan KA sendiri. Jadi KA yang di New South Wales (Sydney dan sekitar) berbeda kepemilikan dengan KA di Queensland (Brisbane dan sekitarnya). Di Sydney saja terdapat setidaknya tiga pengelola KA yang berbeda, yakni pengelola KA antar kota/ negara bagian, pengelola KA komuter dan pengelola trem yang berbeda manajemen.

Satu hal yang kiga patut diperhatikan di Jawa Timur, banyak aset-aset KA termasuk jalur bekas trem maupun KA yang terlantar bahkan terkesan terabaikan. Tengoklah aset PT KA di Benculuk, Srono dan Rogojampi yang merana.

Mengapa PT KA belum merangkul atau mendorong pemerintah daerah di Jatim untuk mengelola jalur bekas trem maupun KA yang terlantar itu?

Di Melbourne, saya terbengong-bengong melihat bagaimana kota ini menjadi salah satu surga railfans dengan keberadaan trem yang menjelajah seluruh penjuru kota. Di Malang (kota kelahiran saya) jalur trem benar-benar terkesan tidak dianggap penting lagi dan terkesan ditelantarkan (dengan alasan yang klasik: "Tidak ekonomis"). Bagi kota Malang barangkali trem hanya tinggal mimpi.

Salam,
#13
Ga ekonomis? memang pada saat pembangunannya trem jauh lebih mahal daripada angkutan konvensional dan mungkin lama untuk balik modal, tapi sistem trem kalo udah mapan, maka akan jauh,jauh lebih effisien, efektif, dan ramah lingkungan dibanding angkutan2 konvensional saat ini..Mank butuh political will yg sekokoh gunung utk melaksanakannya dan timbul clash dengan moda2 lainnya (baru beberapa lama setelah arek surokerto diluncurin, bus hijau pada protes) tapi kalo terhalang hanya gara2 masalah2 klasik kayak gitu, Indonesia kapan majunya kalo setiap ada inovasi yg positif dihadapkan pada kekonservatifan seperti itu. Untuk moda lainnya, inovasi pada kereta api harusnya memacu mereka untuk berkompetisi, kalo ga mo kalah ma KA, bersainglah secara sehat dengan berinovasi, Ato bisa juga kerja sama dngan PT KA(begitu juga sebaliknya) sehingga tercipta sistem transportasi yg integral dan efektif, sehingga kualitas tiap2 moda akan meningkat dan masyarakat luas tentu akan sangat terbantu..Bukannya dengan persaingan tidak sehat, kasak-kusuk seperti ini..
Silence Is Golden

But My Eyes Still SeeNgeledek
#14
Setuju Boss.... Trem sangat efisien, efektif dan ramah lingkungan..... Saya iri dengan keberadaan trem di Melbourne Australia. Boleh dibilang, sejarah KA di Australia usianya sebaya dengan Indonesia. Tapi kita sangat jauh ketinggalan. Bukan masalah anggaran dan teknologi, namun hemat saya lebih pada kebijakan transportasi yang menitikberatkan pada pembangunan jalan raya. Hasilnya, jalan raya sekarang seolah kelebihan beban di mana-mana.

Saya benar-benar terbengong-bengong ketika berada di Melbourne yang kaya dengan trem di seluruh penjuru kota. Namun sungguh menyedihkan melihat "dibunuhnya" trem di Jakarta dan kota-kota lain, termasuk Kota Malang, kota kelahiran saya.
"Hidupkan lagi trem di Malang"!

Salam,
#15
jatim lebih mending dari pada sumatra mas....

#16
Sama seperti di JABODETABEK dengan PT.KCJ ( JABODETABEK )-nya ,maka JATIM bisa dibentuk PT.KCG ( GERBANGKERTASUSILA ) untuk menangani angkutan komuter di sekitar Surabaya.
#17
sebenarnya di sini jangan dilihat dari namanya yakni Daop 8.....tapi lihat dari statusnya tahukah rekan-rekan bahwa daop 8 sebutan untuk Kadaopnya EVP????? daop 8 dan 1 adalah daop tertinggi dari segi pendapatan kalau di susun 3 besar adalah EVP daop 1, EVP daop 8 dan Daop 2 (ndak ada embel2 EVP)

salam
asep tea

#18
Nah karena dengan pendapatan tertinggi itulah harusnya sarana n prasarana di jatim, khususnya daop 8 lebih maju, tapi nyatanya kan masih tertinggal ma daop..jadi apa implikasi dari pendapatan tinggi itu?.ga usah jauh2 daop 1 ato 2, dengan daop 6 aja kan masih tertinggal kan, kayak soal DT. Disini masih kalah jauuuhhh..
Silence Is Golden

But My Eyes Still SeeNgeledek
#19
(07-09-2009, 06:43 PM)Adolph Wrote: Nah karena dengan pendapatan tertinggi itulah harusnya sarana n prasarana di jatim, khususnya daop 8 lebih maju, tapi nyatanya kan masih tertinggal ma daop..jadi apa implikasi dari pendapatan tinggi itu?.ga usah jauh2 daop 1 ato 2, dengan daop 6 aja kan masih tertinggal kan, kayak soal DT. Disini masih kalah jauuuhhh..

PT KA bukan hanya memiliki 1 daop dan divre, sekarang yang lagi dibenahi adalah daop yang benar-benar sangat menghawatirkan baik sarana dan prasarana semisal Daop IX, Daop VIII kurang apa????lok CC201 banyak, CC203 banyak juga, gerbong banyak, hampir seluruh kereta dipulau jawa tujuannya Surabaya. baru-baru ini dikasih lok CC20191 dan CC20192 dari BD, KRDI, KRD dari BD dikasih buat SUSI, bantalan dan rel antara Bangil-Lawang sudah diganti dari kayu dan besi jadi beton, seluruh jalur hampir menggunakan R-54, tiap ada K3 baru selalu di kasih ke KA Kertajaya, KA Sembrani dikasih new Image (walau punya JAK), belum lagi nanti dikasih gerbong ketel baru yang lagi dibuat di INKA. nah soal DT (kalau yang dimaksud Double track). Double track dibikin jika lintas benar-benar super padat, jalur bebas dari pemukinan sehingga memperlancar pembangunan. Dulu jalur Kertosono-Wonokromo sudah DT sebelum dicabut Jepang, bekas-bekasnya jika mas perhatikan masih cukup kelihatan baik berupa jembatan-jembatan atau jalur (coba tengok sebelah kanan arah surabaya). Jalur kertosono-Wonokromo padat di waktu sore hingga pemberangkatan terakhir KA Turangga (jam 18.00an) dan pagi hingga kedatangan KA Turangga (08.00an) sedangkan jalur Utara tak begitu rame karena KA yang berangkat terakhir sekitar pukul 19.00an selebihnya KA 1000an

mungkin kalau PT KA sudah memperbaiki seluruh jalur dan ada laba yang cukup besar baru memikirkan untuk membikin DT tidak hanya di Daop 8 tapi seluruh pulau jawa, supaya bisa memperlancar dan menambah prekuensi perjalanan KA

salam
asep tea

#20
Yup.."kesenjangan di Jatim" memang ga 100% benar, tapi juga ga 100% salah, untuk komuter misalnya, memang dapet KRD dari bandung, tapi kenyataannya frekuensi dan juga armadanya masih sangat2 kurang sehingga headwaynya pun sangat lama, makanya ga efektif memecahkan masalah kemacetan di sby, kalo dah gitu yg disalahkan komuternya, yg katanya ga efektif, padahal bukan sistem KA komuternya yg ga efektif, tapi karena keterbatasan dalam banyak hal,padahal amat penting untuk meyakinkan publk sby bahwa KA komuter sebenarnya efektif kalo dikelola secara maksimal, seperti frekuensi banyak, armada banyak, koneksi ke banyak tempat strategis, dan DT dan karena dulu ada DT di WO-KTS, entah kenapa sama sekali ga terdengar proyek DT di jalur ini( juga SB-SDA). Padahal banyak proyek ato rencana DT di banyak tempat..(bukan maksud dengki, saya sangat setuju ada DT di berbagai tempat, tapi tanpa melupakan Jatim, bukan juga bermaksud terlalu Jatimsentris)
Silence Is Golden

But My Eyes Still SeeNgeledek


Forum Jump:


Users browsing this thread: 2 Guest(s)