Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Kesenjangan di Jatim
#1
Kalo boleh, saya ingin menyoroti perkeretaapian di Jawa Timur daop 7,8,9.
Mulai dari banyak jalur yg masih pake tipe rel dan bantalan yg outdated, duoble track cuma sekitar 10 kiloan dari SB-WO, serta persinyalan elektrik cuma dari kapasari(sby) sampe kertosono dan sekitar madiun. Persinyalan sebagian buesaar masih mekanik, belum lagi sebagian besar loko dan kereta yg dari generasi 'embah' dan armada komuter yg dah bau tanah.Sedih

Bukan bermaksud iri, Tapi coba bandingin ma DKI, Jabar, Jateng dan DIY. Banyak sekali double track, persinyalan modern, loko, kereta,KRL/KRDE/KRDI gress..dsb.
Ada apa gerangan? Apakah karena Jatim jauh dari pusat sehingga menjadi the forgotten land atau apa?

Mohon pencerahan..[/i]
Silence Is Golden

But My Eyes Still SeeNgeledek
#2
jauh dari pusat?bisa juga.
karena jauh dari pusat,jadi biasanya sih kurang diperhatikan.layaknya gelombang air,semakin jauh semakin hilang riaknya.

alasan paling klasik adalah okupansi daop2 di timur masih dipertanyakan dan adanya prioritas di jalur yang ramai.yang mana jalur di timur (dianggap) tidak seramai di pusat sana dan di tengah.

jadi ya maap2 saja kalau jalur timur ada di prioritas nomor sekian.dan mungkin selamanya akan seperti itu.jalur timur mustahil punya kesempatan mendapat perhatian yang sama dengan daop lain karena alasan keterbatasan dana maka pembangunan akan diprioritaskan di daerah yang urgent dan provitnya tinggi yang mana biasanya sih diterjemahkan sebagai daerah2 di pusat dan sekitarnya.kasus yang sama terjadi di divre2 di sumatra.

tapi daripada mengharap belas kasihan Bandung mending daop 7,8,9 berkreasi sendiri.
kalau memungkinkan dan kalau diizinkan oleh UU seharusnya daop 7/8/9 menggandeng pihak swasta lokal dan pemda setempat untuk invest di railways dan berusaha menjadi semacam "daop mandiri" gak tergantung pusat.kalau ada suntikan dana segar dari investor kan ada anggaran buat bikin DT,upgrade persinyalan,beli loko dan gerbong baru dsb.dan nantinya semacam profit sharing antara daop 7,8,9 dengan swasta/pemda sebagai penyandang dana.

bahkan kalau mau lebih ekstrim memisahkan diri saja menjadi badan usaha sendiri biar lebih fokus dan bebas mengurus diri sendiri alias otonomi penuh gitu.kan jaman dulu saja masing2 daerah punya perusahaan railway sendiri2.

kalau yang terakhir tuh kayaknya gak dibolehkan UU kali ya? dan bakalan dipentung sama orang pusat kali ya kalau mau coba-coba memisahkan diri.cmiiw.

tapi juga susah sih karena mentok-mentoknya juga orang pusat akan bilang kalimat sakti "gimana lagi mas,wong pusat saja kekurangan dana,jadi mohon sabar saja ya?" Sakit
####My online hours : Saturday PM - Sunday AM/PM####
#3
saya ada dua pendapat soal daop 7/8/9 ETR

sebagian dari saya sanagnt prihatin dengan perkembangan dari ke tiga daop tersebut , yg "mungkin" tidak di dukung oleh pemerintah pusat dan pemerintah lokal

seperti kita mencontoh daop 1 bag barat THB-RK-MRK itu menurut saia cukup tertinggal nasipnya di banding jalur daop 1 beg selatan dan timur , kalo soal peminat jalur sini berjubel tapi sayang minim pendapatan (banyak kambing) , walo pun begitu niatan gubernur provinsi banten terpilih yg serius untuk mengembangkan moda trasportasi yg murah dan efektif terutama kereta api ,. mengajak PT KA dan pemerintah pusat untuk mengem bangkan wilayah nya contoh (BANTEX,RANGJAY,double track dan LAA) ini berkat political will beliau yg serta merta memenuhi janji beliau saat kampanye ,

nah jika saja para pejabat pejabat(PT KA dan PEMDA JATIM) di daerah daop 7/8/9 mau meniru langkah yg di tempuh pada saat ini . nah tinggal kita nih .. bagai mana caranya memberi tekanan kepada pihak pihak terkait guna membangun moda trasportasi massal ini (raillfans dan pra pengguna KA). kalo di lihat dari okupansi memang kecil karena saya pernah naik doho dari SGU sampai KD peminat nya pun banyak . dan problemanya pun sama dengan PNP di lintas rakkas bitung (banyak kambing)

nah pendapat yg kedua

sebenarnya saya kagum dengan ketiga daop tersebut ...! msih otentik ,aseli tidak seperti setasiun2 di daop 1 yg sudah banyak berubah wujud nya , mengenai sistem persinyalan/wesel/rel .. bukan nya saya anti modernnisasi .. tapi menurut saya sinyal mekanik sangat indah dan klasik terutama sebagai objek photography , saya rasa itu salah satu kelebihan dari daop 7/8/9 ,
nah menegnai lok lok yg sudah bau tanah di ETR saia rasa DIPO SDT menjadi dipo paling kreatif dan handal untuk hal pemeliharaan lokomotif sehingga dengan keterbatasan yg ada lok lok yg sudah mulai uzur dapat tetep tampil prima .

saia berharap ada kesungguhan yg serius dari pemerinta setempat dan pusat tuk mendukung pembangunan kereta api di JATIM pada khusus nya . yg perlu dicam kan .. jangan sampai pembangunan tersebut meninggal kan nilai nilai otentik (tepat guna) dan sejarah perkeretaapian di jatim hingga pembangnan nya malah di rasa merugikan dari pada menguntungkan

kunci nya menurut saia POLITICAL WILL


beuuhh ..cape ngetik panjang panjang
koleksi jepretan ane
http://www.flickr.com/photos/jhon_ipenk/


[Image: meshoostggyt-1.jpg]
me whit ss-2v5 PInDAD
#4
saya dari dulu selalu prihatin. sebagaI RF daop 8. saiya pengen liat cc 204 yang idung miring terus ada tuisannya "Dio induk SDT"
komuter bekas...
lok..... malah jatahnya yang batch awal-awal....
padahal cukup rame.....Sedih
tapi saiya bangga cz ada mbah djack kendil with cc20015-nya. Top Banget
kutunggu innovasimu daop 8......
walaupun dana terbatas dapi saya harap pembagiannya adil..... jangan ada yang di anak tirikan
aku selalu mendukungnu Sedih
BANGGANYA JADI RAILFANS DAOP 8
Facebook: baim007@gmail.com
twitter: @kentangSPJ48
wanna be my friend? hunting? gathering? joyride? 085648542017
visit my blogs at www.daop8sgu.blogspot.comPlayboy
#5
(18-08-2009, 10:36 PM)sulovyo Wrote: jauh dari pusat?bisa juga.
karena jauh dari pusat,jadi biasanya sih kurang diperhatikan.layaknya gelombang air,semakin jauh semakin hilang riaknya.

alasan paling klasik adalah okupansi daop2 di timur masih dipertanyakan dan adanya prioritas di jalur yang ramai.yang mana jalur di timur (dianggap) tidak seramai di pusat sana dan di tengah.

jadi ya maap2 saja kalau jalur timur ada di prioritas nomor sekian.dan mungkin selamanya akan seperti itu.jalur timur mustahil punya kesempatan mendapat perhatian yang sama dengan daop lain karena alasan keterbatasan dana maka pembangunan akan diprioritaskan di daerah yang urgent dan provitnya tinggi yang mana biasanya sih diterjemahkan sebagai daerah2 di pusat dan sekitarnya.kasus yang sama terjadi di divre2 di sumatra.

tapi daripada mengharap belas kasihan Bandung mending daop 7,8,9 berkreasi sendiri.
kalau memungkinkan dan kalau diizinkan oleh UU seharusnya daop 7/8/9 menggandeng pihak swasta lokal dan pemda setempat untuk invest di railways dan berusaha menjadi semacam "daop mandiri" gak tergantung pusat.kalau ada suntikan dana segar dari investor kan ada anggaran buat bikin DT,upgrade persinyalan,beli loko dan gerbong baru dsb.dan nantinya semacam profit sharing antara daop 7,8,9 dengan swasta/pemda sebagai penyandang dana.

bahkan kalau mau lebih ekstrim memisahkan diri saja menjadi badan usaha sendiri biar lebih fokus dan bebas mengurus diri sendiri alias otonomi penuh gitu.kan jaman dulu saja masing2 daerah punya perusahaan railway sendiri2.

kalau yang terakhir tuh kayaknya gak dibolehkan UU kali ya? dan bakalan dipentung sama orang pusat kali ya kalau mau coba-coba memisahkan diri.cmiiw.

tapi juga susah sih karena mentok-mentoknya juga orang pusat akan bilang kalimat sakti "gimana lagi mas,wong pusat saja kekurangan dana,jadi mohon sabar saja ya?" Sakit

Kenyataan yang pahit..pil pahit yang harus ditelanHuaaaa.....hik..hik. Tapi masa okupansi di jatim dianggap sepi?jatim kan propinsi yg paling besar dan paling banyak penduduknya di jawa. Kota kedua di RI juga ada disana. saya liat kebutuhan disini lebih besar daripada sarana yg ada, kesempatan untuk mengembangkan perkeretaapian di sini juga besar tapi kok kayak ga ada yg menangkap peluang itu jadinya terbuang percuma. Contoh, sby-ml kan belum ada tol kayak cipularang,lha itu kok g dimanfaatin? apalagi jan raya terancam lumpur/ Alih2 menggemukan jalur sby-ml, malah mau bwat rencana penerbangan sby-ml. Akhirnya ya g jalan wong sby-ml cuma 90 km,kalo naik pesawat habis masuk, duduk truz setengah jam dah ampe..G efektif! Justru solusi paling masuk akal untuk melancarkan koneksi sby-ml ya pake KA, sayang seribu sayang kayaknya ga ada yg kepikiran ke arah sana di antara para policymakerPasrah Aja Dah Komuter juga gitu, pengelolaanya terkesan setengah hati, mana armada dan frekuensi juga amat sedikit, gimana bisa ngurangin kemacetan? jalur juga cuma satu doang,padahaql kalo WO- SDA di-doule track saya yakin jalur sby-sda lebih lancar, kapasitas bertambah jadi bisa nambah frekuensi dan armada, dan Insya Allah bisa ngurangi kemcetan di jalan A.Yani secara signifikan. Padahal pintu masuk sby ni bersebelahan ama rel, tandanya orang yg lewat jallan ini satu tujuan kan, so pengguna jalan A.Yani bisa dialihkan ke komuter. Kebutuhan maupun potensi di jatim sebenarnya tinggi dan Insya Allah potensi itu bisa digali seoptimal mungkin kalo dikelola dengan baik dan mengelola dengan hati/seni, g hanya bussiness as usual. Saya liat disini perkeretaapiannya lesu banget, ga ada gairahSakit g semarak sama sekali.
Saya setuju 100% untuk g perlu meminta belas kasihan bandung. Daop2 jatim harus punya harga diri, karena itu kreatifitas g bisa ditawar-tawar, Kalo PT KA masih nganggep jatim itu bagiannya, mereka harus do something atau kasih jatim otonomi, jadiin daop2 di jatim anak perusahaan yg semi independen dari PT KA, lebih independen dari KCJ karena wilayah dan densitynya jauh lebih besar dari wilayahnya KCJ. tapi kalau tetep masih kayak gini, saya setuju ide sampeyan yg terakhir, daop2 jatim sebaiknya 'merdeka' dari PT. Kereta Api Indonesia (Persero)Indonesia, saking sebelnyaNgamuk Kita dirikan PT JRJT( Jalan Rel Jawa Timur) dengan kantor pusat di surabaya.
Sekarang kan monopoli KA maw dihapus, jadi harusnya ide ini didukung, Kepemilikan bisa joint venture, Pemda jatim,Pemda2 daerah yg dilewati jalur PT JRJT, kalo perlu sahamnya dibuat go public jadi masyarakat bisa ikut memiliki jadi mereka lebih care sama sarana/prasarana KA coz itu punya mereka juga jadi kalo rusak mereka juga yg rugi.
Silence Is Golden

But My Eyes Still SeeNgeledek
#6
^^ sabar..sabar...

ya sih.jatim memang propinsi terluas di jawa dan jumlah penduduknya salah satu yang terbesar di Indonesia tapi itu gak menjamin kok.karena kalau dari sisi railways saat ini jatim bukan jalur utama.thats a fact.
maksudnya tetap saja pembangunan fokusnya tetap di ibukota dan sekitarnya.bayangkan bantalan rel di ibukota dan sekitarnya sudah ada yg diganti sejak akhir 80-an sedangkan di jatim sendiri saat ini (2009) masih banyak bantalan kayu.jadi kasarannya pembangunan barat dan timur ada selisih 20 tahunan.

sebenarnya "bola" sekarang tuh ada di tangan pemprov jatim atau pemkab2 atau badan usaha2 yg ada di jatim.

karena dalam UU 23 thn 2007 ttg railways mereka diberi kewenangan untuk menyelenggarakan angkutan perkeratapian (pasal 22).CMIIW.

kalau memang mau,mereka bisa kok membangun perkeretapian di jatim.cuma masalahnya orang2 di atas tuh kan pada masih belum "melek perkeretapian".
kuadran berfikir mereka masih ada di kuadran lain.bukan kuadran kita2 yang peduli sama transportasi masal kayak KA.

kalau memisahkan diri dari Bandung kayaknya agak berat walau gak mustahil sih wong di jepang aja JR ada JR east dan JR west.

tapi menurut ane yang paling realistis adalah pihak daerah kerjasama dengan PT KA dengan cara ikut invest di pembelian loko/gerbong atau pengadaan kereta komuter.atau mendorong pihak swasta untuk ikut berperan di bisnis railways.
yah misalnya pemkab Kediri+Daop 7 mengajak grup GG terjun lebih dalam lagi di bidang KA.masak cuma berani masang bilboard segede gambreng di stasiun2 yang malah merusak pemandangan stasiun2 kita?atau daop 8 coba menggandeng PM,JP,SG ato maspion gitu.kalau lobi2-nya maut pasti swasta2 itu mau invest di railways dah.

dengan adanya dana dari pihak swasta diharapkan daop 789 bisa berkreasi dan gak melulu tergantung Bandung.yah biar kata PT KA dapat suntikan dana segar 19 trilliun tapi daop 789 harusnya gak boleh berdiam diri menunggu "bagiannya" yah kalau itu juga mendapat "bagian" kalau enggak?kan repot.

karena memang wilayah kerja PT KA bukan jatim saja.
dan denger2 itu prioritasnya untuk KA di aceh,DT cirebon-kroya,tegal-pekalongan dan beberapa proyek lainnya.sisanya baru mungkin ke tempat lain salah satunya ya mungkin ke daop 789 itu juga kalau besisa Ngeledek

yah intinya daop 789 harus kreatiplah mencari cara supaya bisa survive dengan inovasi2 baru dan terus tingkatkan servicenya supaya konsumennya tambah cinta dan tambah banyak kalau udah banyak kan siapa tahu pihak swasta atau bahkan pemodal asing mau ngelirik.
####My online hours : Saturday PM - Sunday AM/PM####
#7
I just can say........how terrible..Sedih
BANGGANYA JADI RAILFANS DAOP 8
Facebook: baim007@gmail.com
twitter: @kentangSPJ48
wanna be my friend? hunting? gathering? joyride? 085648542017
visit my blogs at www.daop8sgu.blogspot.comPlayboy
#8
setujuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu
#9
. biarin , ga usah diganti sinyal elektrik gpp , sinyal mekanik itu ada seninya , kalo elektrik , merah kuning ijo , kayak apa aja .
. eh btw daop 8 itu dapet prioritas nomer 2 setelah daop 2 BD untuk urusan lok lho , seharusnya loknya bagus2 ...

[Image: 79HOP8.jpg]
Hasil karya saya covering lagu di SOUNDCLOUD, like ya
#10
Yang aneh, padahal banyak dirut PTKA orang JAtim juga. KEnapa kok kampung halaman mereka tidak diperhatikan? Walaupun saya mencintai dan bangga dengan perkereta apian di sekitar Bandung, tetapi saya tak pernah lupa dengan kampung halaman sendiri (Surabaya). Saya selalu memberikan perhatian khusus juga.


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)