Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Seputar Jalur KA di Pulau Jawa
#1
Selamat malam teman2 RF semua..

Mohon izin buat om2 moderator, sya buat lapak ini yg spt nya informasinya memang layak sya share ke khalayak umum (utamanya para RF sejati)..

Kali ini sya akan memberikan sebuah informasi yg ntah ini penting atau atau tidak atau bermanfaat atau nggak..
Tpi menurut sya ini unik..ya minimal menarik lah untuk kita simak.. Ngakak

apakah itu?

jalur KA di pulau jawa itu, kalau kita perhatikan dri kota jakarta (kali ini sya anggap sbg titik pusatnya) dan terus membentang dari barat ke timur (jakarta-semarang-surabaya, jakarta-yogyakarta-malang) atau dri timur ke barat (jakarta-rangkas-merak) atau ke selatan (jakarta-bandung via MRI-BOO dan CKP-PWK) untuk menelurusi daerah2 kota/kabupaten yg dilewatinya, maka akan kita temui fakta yg unik dan menarik..

1. Rata2 pasti melewati kota2 otonom.
Contoh: KA dri jakarta ke surabaya, pasti melewati Kota Bekasi, Kota Cirebon, Kota Tegal & Kota Pekalongan. Untuk Semarang & Surabaya gk sya sebutkan, karna statusnya yg jadi ibu kota provinsi yg tentu sja punya keistimewaan tersendiri bila dibandingkan dengan kota2 sebelumnya..

2. Rata2 KA pasti berhenti di kota2 otonom tsb karna rata2 stasiun2 di kota otonom tsb, jadi stasiun kelas 1 (bahkan ada yg jadi pusat Daop).
Contoh: stasiun2 di kota2 otonom yg sya sebutkan di point 1, stasiun utamanya jadi stasiun besar (spt BKS, CN, TG & PK) hingga "menyebabkan" semua KA yg lewat harus berhenti di stasiun tsb..

3. Prov. Jawa Barat, menjadi provinsi yg semua kota2 otonomnya terhubung dengan jalur KA. Hebatnya, untuk saat ini jalurnya aktif. Ya minimal ada layanan KA di kota tsb.
Mau tahu?
Ini dia ke semua kota tsb: Kota Depok, Kota Bogor, Kota Sukabumi, Kota Bekasi, Kota Cirebon, Kota Cimahi, Kota Bandung, Kota Tasik Malaya & Kota Banjar.
Yg special dri kota2 yg sya sebutkan diatas itu adalah:
semua stasiun2 di kotanya, semuanya melayani K1 atau KA eksekutif terkecuali Kota Depok sja (belum, atau malah gk bakalan?).
Sebenarnya Prov. Banten jga kota2 otonomnya terhubung jalur KA dan saat ini jga aktif (Kota Tangerang, Kota TangSel, Kota Serang & Kota Cilegon). Cuma, Tangsel, Serang & Cilegon sja yg pararel. Sementara ke Tangerang jalurnya beda sendiri dri jakarta.

4. Kota Batu di Prov. Jawa Timur, menjadi satu2nya kota otonom di provinsi tsb yg tak punya jalur KA (apalagi stasiun)..CMIIW Sedang lainnya ada dan jalurnya aktif dengan titik pusatnya di Kota Surabaya sbg ibu kota provinsi.
Sementara di prov. Jawa Tengah, cuma Kota Salatiga & Kota Magelang yg tidak melayani KA walau jalurnya dulu pernah ada..CMIIW

terlepas dri fakta2 yg rincikan diatas itu, sya gk tahu ya kalau dulu belanda memang sengaja aka disetting bikin jalur KA di pulau jawa itu melewati daerah kota2 staregis atau pusat kota (disebut kota otonom itu istilah sekarang)..tpi yg pasti, anehnya sbg besar kota2 otonom itu lahir pasca negara kita merdeka (bahkan ada yg lahir pasca reformasi bergulir)..

Oops, tergelitik sya jadi ingin bertanya:

apakah kota2 otonom itu (khusunya di pulau jawa), dibentuk berdasarkan kepentingan jalur KA aka melihat peluang transportasi KA di kota tsb atau (ketika sebuah kota otonom terbentuk) jalur KA yg ada di kota otonom tsb sebisa mungkin harus dimaksimalkan perannya??? Bingung

hemmh,
mungkin ada teman2 RF yg mau jawab..atau mau menanggapi terkait fakta2 yg sya ungkapkan diatas..

Monggo..
kunjungi blog saya di sini Ngeledek


Lok Merah Biru
Reply
#2
Kota otonom = Kotamadya [istilah sebelum Kota] kan?!

Sebenarnya yang membuat saya penasaran, apakah masih ada sisa rel zaman kolonial yg bertipe standar gauge 1435mm di pulau jawa? Setidaknya masih bisa dilihat dengan mata kepala sendiri dan diabadikan dengan foto?
Hanya seorang penglaju Jakarta-Bandung
Banyak sekali kenangan manis di antara Stasiun Jatinegara - Stasiun Bandung
Reply
#3
perkembangan kota2 itu lebih karena fasilitas jalur transportasi yang ada. jaman dulu jalur transportasi darat yang paling handal cuma rel kereta api. jadi wajar banyak daerah yang dilewatinya berkembang pesat. contoh bandung waktu awal dibuka jalur kereta cuma sekelas kecamatan, begitu ada layanan kereta semakin berkembang menjadi kota besar.

mungkin kalau sekarang mirip seperti perkembangan kota2 baru disekitar jalan tol.
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Reply
#4
(03-01-2014, 01:35 AM)Batpod Wrote: Kota otonom = Kotamadya [istilah sebelum Kota] kan?!

Sebenarnya yang membuat saya penasaran, apakah masih ada sisa rel zaman kolonial yg bertipe standar gauge 1435mm di pulau jawa? Setidaknya masih bisa dilihat dengan mata kepala sendiri dan diabadikan dengan foto?

Setahuku semuanya sudah diubah lebarnya menjadi 1067mm
Fanboys are people who are willing to defend and promote the object of their affection. They are rarely objective and disregard facts that contradict their opinions.
Facebook BB: 55FFFBE5
Reply
#5
(03-01-2014, 01:01 AM)zae abjal Wrote: [spoiler]
Selamat malam teman2 RF semua..

Mohon izin buat om2 moderator, sya buat lapak ini yg spt nya informasinya memang layak sya share ke khalayak umum (utamanya para RF sejati)..

Kali ini sya akan memberikan sebuah informasi yg ntah ini penting atau atau tidak atau bermanfaat atau nggak..
Tpi menurut sya ini unik..ya minimal menarik lah untuk kita simak.. Ngakak

apakah itu?

jalur KA di pulau jawa itu, kalau kita perhatikan dri kota jakarta (kali ini sya anggap sbg titik pusatnya) dan terus membentang dari barat ke timur (jakarta-semarang-surabaya, jakarta-yogyakarta-malang) atau dri timur ke barat (jakarta-rangkas-merak) atau ke selatan (jakarta-bandung via MRI-BOO dan CKP-PWK) untuk menelurusi daerah2 kota/kabupaten yg dilewatinya, maka akan kita temui fakta yg unik dan menarik..

1. Rata2 pasti melewati kota2 otonom.
Contoh: KA dri jakarta ke surabaya, pasti melewati Kota Bekasi, Kota Cirebon, Kota Tegal & Kota Pekalongan. Untuk Semarang & Surabaya gk sya sebutkan, karna statusnya yg jadi ibu kota provinsi yg tentu sja punya keistimewaan tersendiri bila dibandingkan dengan kota2 sebelumnya..

2. Rata2 KA pasti berhenti di kota2 otonom tsb karna rata2 stasiun2 di kota otonom tsb, jadi stasiun kelas 1 (bahkan ada yg jadi pusat Daop).
Contoh: stasiun2 di kota2 otonom yg sya sebutkan di point 1, stasiun utamanya jadi stasiun besar (spt BKS, CN, TG & PK) hingga "menyebabkan" semua KA yg lewat harus berhenti di stasiun tsb..

3. Prov. Jawa Barat, menjadi provinsi yg semua kota2 otonomnya terhubung dengan jalur KA. Hebatnya, untuk saat ini jalurnya aktif. Ya minimal ada layanan KA di kota tsb.
Mau tahu?
Ini dia ke semua kota tsb: Kota Depok, Kota Bogor, Kota Sukabumi, Kota Bekasi, Kota Cirebon, Kota Cimahi, Kota Bandung, Kota Tasik Malaya & Kota Banjar.
Yg special dri kota2 yg sya sebutkan diatas itu adalah:
semua stasiun2 di kotanya, semuanya melayani K1 atau KA eksekutif terkecuali Kota Depok sja (belum, atau malah gk bakalan?).
Sebenarnya Prov. Banten jga kota2 otonomnya terhubung jalur KA dan saat ini jga aktif (Kota Tangerang, Kota TangSel, Kota Serang & Kota Cilegon). Cuma, Tangsel, Serang & Cilegon sja yg pararel. Sementara ke Tangerang jalurnya beda sendiri dri jakarta.

4. Kota Batu di Prov. Jawa Timur, menjadi satu2nya kota otonom di provinsi tsb yg tak punya jalur KA (apalagi stasiun)..CMIIW Sedang lainnya ada dan jalurnya aktif dengan titik pusatnya di Kota Surabaya sbg ibu kota provinsi.
Sementara di prov. Jawa Tengah, cuma Kota Salatiga & Kota Magelang yg tidak melayani KA walau jalurnya dulu pernah ada..CMIIW

terlepas dri fakta2 yg rincikan diatas itu, sya gk tahu ya kalau dulu belanda memang sengaja aka disetting bikin jalur KA di pulau jawa itu melewati daerah kota2 staregis atau pusat kota (disebut kota otonom itu istilah sekarang)..tpi yg pasti, anehnya sbg besar kota2 otonom itu lahir pasca negara kita merdeka (bahkan ada yg lahir pasca reformasi bergulir)..
[/spoiler]
Oops, tergelitik sya jadi ingin bertanya:

apakah kota2 otonom itu (khusunya di pulau jawa), dibentuk berdasarkan kepentingan jalur KA aka melihat peluang transportasi KA di kota tsb atau (ketika sebuah kota otonom terbentuk) jalur KA yg ada di kota otonom tsb sebisa mungkin harus dimaksimalkan perannya??? Bingung

hemmh,
mungkin ada teman2 RF yg mau jawab..atau mau menanggapi terkait fakta2 yg sya ungkapkan diatas..

Monggo..


Menurut sejarahnya, kereta api menghubungkan kota kota tersebut, jadi kota tersebut sudah ada sebelum jalur KA dibuat.
Dan yang melakukan study kelayakan waktu itu jelas Pemerintah Hindia Belanda, mereka sudah memetakan kota² mana saja yang akan dihubungkan dengan rel KA.
Kolonial membuat jalur KA untuk kepentingan mereka, untuk memudahkan pengangkutan hasil bumi ke pelabuhan ( Batavia, Surabaya, Semarang)
Selain itu juga untuk militer, memudahkan mobilisasi pasukan.

[Image: Papan_nama_KA_Argo_Dwipangga.jpg]
Reply
#6
(03-01-2014, 08:40 AM)ciptarasa Wrote:
(03-01-2014, 01:01 AM)zae abjal Wrote: [spoiler]
Selamat malam teman2 RF semua..

Mohon izin buat om2 moderator, sya buat lapak ini yg spt nya informasinya memang layak sya share ke khalayak umum (utamanya para RF sejati)..

Kali ini sya akan memberikan sebuah informasi yg ntah ini penting atau atau tidak atau bermanfaat atau nggak..
Tpi menurut sya ini unik..ya minimal menarik lah untuk kita simak.. Ngakak

apakah itu?

jalur KA di pulau jawa itu, kalau kita perhatikan dri kota jakarta (kali ini sya anggap sbg titik pusatnya) dan terus membentang dari barat ke timur (jakarta-semarang-surabaya, jakarta-yogyakarta-malang) atau dri timur ke barat (jakarta-rangkas-merak) atau ke selatan (jakarta-bandung via MRI-BOO dan CKP-PWK) untuk menelurusi daerah2 kota/kabupaten yg dilewatinya, maka akan kita temui fakta yg unik dan menarik..

1. Rata2 pasti melewati kota2 otonom.
Contoh: KA dri jakarta ke surabaya, pasti melewati Kota Bekasi, Kota Cirebon, Kota Tegal & Kota Pekalongan. Untuk Semarang & Surabaya gk sya sebutkan, karna statusnya yg jadi ibu kota provinsi yg tentu sja punya keistimewaan tersendiri bila dibandingkan dengan kota2 sebelumnya..

2. Rata2 KA pasti berhenti di kota2 otonom tsb karna rata2 stasiun2 di kota otonom tsb, jadi stasiun kelas 1 (bahkan ada yg jadi pusat Daop).
Contoh: stasiun2 di kota2 otonom yg sya sebutkan di point 1, stasiun utamanya jadi stasiun besar (spt BKS, CN, TG & PK) hingga "menyebabkan" semua KA yg lewat harus berhenti di stasiun tsb..

3. Prov. Jawa Barat, menjadi provinsi yg semua kota2 otonomnya terhubung dengan jalur KA. Hebatnya, untuk saat ini jalurnya aktif. Ya minimal ada layanan KA di kota tsb.
Mau tahu?
Ini dia ke semua kota tsb: Kota Depok, Kota Bogor, Kota Sukabumi, Kota Bekasi, Kota Cirebon, Kota Cimahi, Kota Bandung, Kota Tasik Malaya & Kota Banjar.
Yg special dri kota2 yg sya sebutkan diatas itu adalah:
semua stasiun2 di kotanya, semuanya melayani K1 atau KA eksekutif terkecuali Kota Depok sja (belum, atau malah gk bakalan?).
Sebenarnya Prov. Banten jga kota2 otonomnya terhubung jalur KA dan saat ini jga aktif (Kota Tangerang, Kota TangSel, Kota Serang & Kota Cilegon). Cuma, Tangsel, Serang & Cilegon sja yg pararel. Sementara ke Tangerang jalurnya beda sendiri dri jakarta.

4. Kota Batu di Prov. Jawa Timur, menjadi satu2nya kota otonom di provinsi tsb yg tak punya jalur KA (apalagi stasiun)..CMIIW Sedang lainnya ada dan jalurnya aktif dengan titik pusatnya di Kota Surabaya sbg ibu kota provinsi.
Sementara di prov. Jawa Tengah, cuma Kota Salatiga & Kota Magelang yg tidak melayani KA walau jalurnya dulu pernah ada..CMIIW

terlepas dri fakta2 yg rincikan diatas itu, sya gk tahu ya kalau dulu belanda memang sengaja aka disetting bikin jalur KA di pulau jawa itu melewati daerah kota2 staregis atau pusat kota (disebut kota otonom itu istilah sekarang)..tpi yg pasti, anehnya sbg besar kota2 otonom itu lahir pasca negara kita merdeka (bahkan ada yg lahir pasca reformasi bergulir)..
[/spoiler]
Oops, tergelitik sya jadi ingin bertanya:

apakah kota2 otonom itu (khusunya di pulau jawa), dibentuk berdasarkan kepentingan jalur KA aka melihat peluang transportasi KA di kota tsb atau (ketika sebuah kota otonom terbentuk) jalur KA yg ada di kota otonom tsb sebisa mungkin harus dimaksimalkan perannya??? Bingung

hemmh,
mungkin ada teman2 RF yg mau jawab..atau mau menanggapi terkait fakta2 yg sya ungkapkan diatas..

Monggo..


Menurut sejarahnya, kereta api menghubungkan kota kota tersebut, jadi kota tersebut sudah ada sebelum jalur KA dibuat.
Dan yang melakukan study kelayakan waktu itu jelas Pemerintah Hindia Belanda, mereka sudah memetakan kota² mana saja yang akan dihubungkan dengan rel KA.
Kolonial membuat jalur KA untuk kepentingan mereka, untuk memudahkan pengangkutan hasil bumi ke pelabuhan ( Batavia, Surabaya, Semarang)
Selain itu juga untuk militer, memudahkan mobilisasi pasukan.

Nambahin;
Depok dahulu masih bagian dari Kab. Bogor, sebelum berubah menjadi Kota Administratif dan sekarang menjadi Kodya
Depok disinggahi dan menjadi stasiun pemberangkatan KL1 (Bumel &/ Pakuan) sebelum kebijakan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dirubah
Plymouth PKC menuju hari kejayaannya dengan angkutan yang berbeda, yaitu BATUBARA

walau koleksi foto belon banyak
koleksi foto saya
Reply
#7
(03-01-2014, 01:35 AM)Batpod Wrote: Kota otonom = Kotamadya [istilah sebelum Kota] kan?!

Sebenarnya yang membuat saya penasaran, apakah masih ada sisa rel zaman kolonial yg bertipe standar gauge 1435mm di pulau jawa? Setidaknya masih bisa dilihat dengan mata kepala sendiri dan diabadikan dengan foto?

yupz, betul bang..istilah "kota" sja (gk pake "madya") itu malai diberlakukan pasca reformasi..
kunjungi blog saya di sini Ngeledek


Lok Merah Biru
Reply
#8
pernah juga dibahas diforum ini. dulu sistem jaringan moda rel di jawa sudah sangat bagus di era kolonial. beberapa kota2 besar sudah memiliki jaringan dengan topologi bintang, sehingga menjadikan kota induknya menjadi hub bagi kota2 sekitarnya. misal batavia, solo, yogya, surabaya, malang, dll. kota2 seperti batavia dan surabaya bahkan sudah memiliki cityrail sendiri berupa trem. kota2 lain masih berupa campuran trem-kereta (tramtrain/interurban/lrt).

sampai2 ketika jepang masuk indonesia, mereka kagum dengan sistem moda rel peninggalan belanda yang sudah tertata baik. lalu mereka bawa pulang itu sistemnya dicontek dikembangkan disana. hasilnya seperti yang sudah kita lihat jepang memiliki sistem railway terbaik didunia.

kebalikannya dengan kita, makin mundur karena jumlah rel semakin habis. baru sekarang saja mulai dilirik moda berbasis rel karena kepepet oleh kemacetan yang semakin kronis.
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Reply
#9
(03-01-2014, 06:42 PM)ady_mcady Wrote: pernah juga dibahas diforum ini. dulu sistem jaringan moda rel di jawa sudah sangat bagus di era kolonial. beberapa kota2 besar sudah memiliki jaringan dengan topologi bintang, sehingga menjadikan kota induknya menjadi hub bagi kota2 sekitarnya. misal batavia, solo, yogya, surabaya, malang, dll. kota2 seperti batavia dan surabaya bahkan sudah memiliki cityrail sendiri berupa trem. kota2 lain masih berupa campuran trem-kereta (tramtrain/interurban/lrt).

sampai2 ketika jepang masuk indonesia, mereka kagum dengan sistem moda rel peninggalan belanda yang sudah tertata baik. lalu mereka bawa pulang itu sistemnya dicontek dikembangkan disana. hasilnya seperti yang sudah kita lihat jepang memiliki sistem railway terbaik didunia.

kebalikannya dengan kita, makin mundur karena jumlah rel semakin habis. baru sekarang saja mulai dilirik moda berbasis rel karena kepepet oleh kemacetan yang semakin kronis.
Nasib kereta api indonesia kayanya mirip sepakbola indonesia...Xie Xie dulu jepang meniru sistem kompetisi di indonesia era galatama,tapi sekarang jepang jauh lebih maju dari kita...Sakit
Sosmed sayaBig Grin
Facebook
Line:Luthfi20606
Instagram:Luthfi_20606

Ingin menjadi insan yang lebih baikWek


Reply
#10
(13-01-2014, 05:39 PM)CC20606 Wrote:
(03-01-2014, 06:42 PM)ady_mcady Wrote: pernah juga dibahas diforum ini. dulu sistem jaringan moda rel di jawa sudah sangat bagus di era kolonial. beberapa kota2 besar sudah memiliki jaringan dengan topologi bintang, sehingga menjadikan kota induknya menjadi hub bagi kota2 sekitarnya. misal batavia, solo, yogya, surabaya, malang, dll. kota2 seperti batavia dan surabaya bahkan sudah memiliki cityrail sendiri berupa trem. kota2 lain masih berupa campuran trem-kereta (tramtrain/interurban/lrt).

sampai2 ketika jepang masuk indonesia, mereka kagum dengan sistem moda rel peninggalan belanda yang sudah tertata baik. lalu mereka bawa pulang itu sistemnya dicontek dikembangkan disana. hasilnya seperti yang sudah kita lihat jepang memiliki sistem railway terbaik didunia.

kebalikannya dengan kita, makin mundur karena jumlah rel semakin habis. baru sekarang saja mulai dilirik moda berbasis rel karena kepepet oleh kemacetan yang semakin kronis.
Nasib kereta api indonesia kayanya mirip sepakbola indonesia...Xie Xie dulu jepang meniru sistem kompetisi di indonesia era galatama,tapi sekarang jepang jauh lebih maju dari kita...Sakit

Sepakbola Indonesia sekarang sudah diatur oleh para mafia, buat kendaraan politik :d
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)