21-03-2015, 09:56 PM
(14-02-2015, 12:35 PM)Logawa_ATB Wrote:(12-02-2015, 02:38 PM)triez_RFÂ Cirebon Wrote:lagu lama itu mah. cuma bisa minta maaf doang. mereka pikir kerugian yang dialami kaum urban bisa tergantikan dengan kata maaf ajah? dari tahun ke tahun gak ada perubahan. setiap banjir selalu ajah ada gangguan.gak usah musim hujan deh, hari biasa ajah kadang sering banyak gangguan. KRL rusak lah sehingga mengganggu perjalanan KA lainnya, wesel ngadat, sinyal eror, LAA putus, etc
memang, semua diluar kendali.tapi apakah mereka bisa meminimalisir gangguan sarana dan prasarana lainnya?kayanya kalau diperhatikan dari zaman azali hingga detik ini permasalahan KRL selalu sama deh. bahkan, saya rasa tambah parah..
Apes bener itu nasib...Â
Menurut saya, setidaknya ada 2 hal :
1. Gangguan yang sifatnya dapat diperkirakan.
Contohnya disini seperti banjir. Kita semua tau kalo banjir tidak bisa dilawan, setidaknya sampai saat ini, tapi efeknya dapat diminimalisir. nah upaya untuk meminimalisir itu yang sepertinya kita bisa nilai : masih kurang / minim upaya. Upaya nya apa? mungkin bisa menaikkan ketinggian rel, pembangunan jalur layang, atau penggunaan loko Diesel Hidrolik.
2. Gangguan yang sifatnya tidak dapat diperkirakan.
Contohnya : Jaringan listrik tersambar petir. Sebenarnya kita tau resiko itu ada, tapi kapan, dimana, nah itu yang masih belum dapat diperkirakan. Kalo contoh lain, misal kereta rusak, sebenarnya tidak dapat diperkirakan. Tetapi itu sebenarnya disebabkan oleh upaya maintenance yang kurang / kondisi sarana / prasarana yang tidak prima.
Jadi kalo hari gini minta maaf terus, ga canggih ah manajemennya.




.
