tu tarif sub-class, jadi kereta paling depan & paling belakang harganya paling murah dst
kalo tarif parsial matarmaja saya cek pasar senen - semarang poncol 110rb-145rb ; gayabaru PASAR SENEN - purwokerto 105rb-155rb
anda tidak suka dengan harga kereta ekonomi??? silaken gunaken moda transportasi lainnya
ternyata gak hanya pake parsial, tapi K3 oren udah pake subkelas juga nih
lah kalau matar aja tarif parsialnya segitu, gimana tarif full tripnya
itupun tarif sub kelas terendah hanya pemanis belaka, nyatanya tarif sub kelas terendah sering habis sebelum lahir, ya klo ada paling bisa dihitung dg jari, nyatanya 90% tarif sub kelas tertinggi. jadi patokan kita untuk tarifnya ya yg sub kelas tertinggi
Hemat saya, wait and see dulu
Kita akan memasuki transisi. Bentar lagi ganti presiden, ganti menteri, ganti tahun dan mungkin ganti kebijakan
Untuk penentuan tarif sebenarnya membingungkan dengan adanya 4 macam kelas kereta, dimana K3 AC biru harganya selisih dikit sama K2 dan malah ada K3 orange jarak menengah yang tarifnya ga beda jauh sama K2/K1 jarak menengah walaupun beda rutenya. Apakah karena diberlakukan tarif subclass jadinya setiap perjalanan kereta selalu diberlakukan tarif atas dan tarif bawah? Beda dengan dulu pas tarif flat, pemberlakuan tarif atas & bawah bergantung dari tanggal perjalanan (weekdays, weekend, liburan, hari raya, dsb)
Soal PSO yang sayang tangkap pas liat "Bincang Pagi" kemarin pagi di Metro TV, Dirut KAI menyarankan agar PSO dialihkan ke kereta komuter dan KAJJ di luar pulau Jawa. Alasannya kereta komuter merupakan kebutuhan sehari-hari dan keadaan di luar pulau jawa belum sebaik di pulau jawa. Tapi soal ada tidaknya PSO untuk K3 KAJJ bergantung dari pemerintah. Jikalau ada, PT.KAI siap menjalankan.
^^
tahun tahun kedepan itu sangat tidak kondusif. realistis aja sekarang hitung2an politik sudah kayak begitu gak jamin pemerintahan baru bakal langgeng. yang ada malah gulung tikar duluan di "gus dur kan" ditengah jalan.
jadi kemungkinan kebijakan pso ini bakal sering berganti2. daripada bingung dan bikin ribet, mendingan sekalian gak usah pso aja. begitu mungkin pemikiran jonan. imho..
Nah, itu yang saya maksud karena segala kemungkinan bisa terjadi pada masa transisi jadi ga perlu kaget akan terjadi berbagai perubahan kebijakan. Sebagai penumpang, harus siap apapun yang terjadi kedepannya jika PSO dihapus. Kalau saya sendiri untuk mengantisipasi selisih harga memang ada restriksi anggaran pribadi.
Saya iseng ngitung-itung bagi yang biasa merokok bisa jadi momen yang tepat untuk mengurangi kebiasaan. Satu bungkus harganya Rp.15.000 isinya 12 batang. Jika perhari menghabiskan 10 batang kemudian dikurangi jadi 5 batang per hari, setiap minggunya udah menghemat Rp.43ribuan. Lumayanlah bisa subsidi silang untuk naik kereta. Hematnya dapet, sehatnya dapet Hehe