Posts: 5
Threads: 0
Joined: Nov 2012
Reputation:
0
(10-12-2013, 11:29 PM)Wanda Fathoni Wrote: (10-12-2013, 10:41 PM)forever.agus Wrote: (10-12-2013, 04:15 PM)andya nur Wrote: Selasa, 10/12/2013 15:11 WIB
KRL vs Truk BBM
Teknisi KRL Sempat Peringati Penumpang, Lalu Kembali ke Ruang Masinis
Dhani Irawan - detikNews
Jakarta - Tabrakan KRL jurusan Serpong-Tanah Abang dengan truk berisi BBM Premium di perlintasan KA Pondok Betung, siang kemarin masih menyisakan banyak kisah. Salah satu korban selamat yang dirawat di RS dr Suyoto bertutur tentang kisah Sofyan Hadi yang bertanggung jawab.
"Sempet liat dari gerbong masinis dibuka, ngasih tau kalau kereta mau nabrak. Enggak lama lima detik gitu langsung jeger," ujar Julie Retna (54) saat ditemui di ruang Kenanga, RS dr Suyoto, Jl RC Veteran, Bintaro, Jakarta Selatan, Selasa (10/12/2013).
Julie mengetahui orang yang memberitahu dirinya jika kereta akan menabrak adalah mekanik dari siaran televisi di kamar inapnya. Tadinya dia mengira jika orang itu adalah masinis.
"Abis ngasih tau dia masuk lagi, pintunya masih kebuka, jadi saya sempet liat truknya. Merah putih kan warnanya. Coba kalau dia nggak masuk lagi pasti dia kan selamat," kata Julie.
Julie saat itu berada di gerbong paling depan di dekat pintu. Setelah menabrak tak lama lampu kereta langsung mati. Dirinya jatuh dan ditimpa para penumpang yang juga terjatuh.
"Abis nabrak itu, saya jatuh terus mati lampu dan keluar asap. Mungkin saya pingsan itu, orang kaki saya kejepit gitu, entah ketindih apa gimana," tutur Julie.
Julie mengatakan, api tidak sempat masuk ke tempat dirinya berada karena kaca di pintu tidak pecah. Namun, kaki kanannya mengalami luka bakar
http://news.detik.com/read/2013/12/10/15...104topnews
Selasa, 10/12/2013 15:30 WIB
Kekaguman Dirut KAI Akan Kisah Heroik Teknisi KRL Saat Kereta Tabrak Truk
Wahyu Daniel - detikNews
Jakarta - Almarhum Sopyan Hadi (20), teknisi KRL melakukan tindakan heroik sebelum insiden tabrakan dengan truk BBM terjadi. Dia sempat keluar dari ruangan teknisi dan memberi peringatan bagi para penumpang di gerbong wanita. Kereta akan menabrak.
"Sebenarnya awak KRL itu bisa masuk ke kabin penumpang untuk menyelamatkan diri tapi dengan tanggung jawab yang luar biasa malah tetap di ruang kabin masinis dan menutup rapat pintu yang mengarah ke penumpang," jelas Dirut KAI Ignasius Jonan saat bertutur kepada detikcom, Selasa (10/12/2013).
Jonan mendengarkan langsung soal aksi heroik anak buahnya itu dari salah seorang penumpang yang selamat. Jonan juga sempat menunjukkan foto teknisi KRL yang memberi tahu para penumpang di gerbong wanita.
"Saat saya tunjukkan foto Sofian Hadi, beliau (seorang penumpang-red) menangis dan membenarkan bahwa sahabat kita itu yang menutup pintu agar penumpang tetap selamat. Beliau (penumpang-red) berkata sungguh orang ini luar biasa dan mengatakan, bagi kami dia adalah pahlawan," tutup Jonan.
Siang itu sekitar pukul 11.15 WIB, Senin (9/12) kereta melaju dengan kecepatan 70 Km/jam. Sirine dan palang pintu sudah mau menutup di perlintasan Pondok Betung, Bintaro, Jaksel. Tapi beberapa kendaraan masih mencoba melewati perlintasan.
Biasanya, mereka sukses melintas. Tapi kali ini kemacetan menahan kendaraan itu. Akibatnya kereta menghantam truk BBM, tak beberapa lama kemudian ledakan dan kobaran api terjadi. 7 Orang tewas akibat kejadian ini.
http://news.detik.com/read/2013/12/10/15...104topnews
Saya juga baca berita ini tadi sore, dan beneran ane merinding ngebacanya. Bukan karena memakan korban jiwa, tapi ane terharu karena begitu bertanggung jawabnya kru KRL tsb yang tetap menjalankan tugasnya dengan baik hingga akhirnya harus berpulang ke Yang Maha Kuasa.
Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Roji'un..
Selamat jalan pahlawan, semoga amal ibadahmu diterima Allah SWT, diampuni segala kesalahannya, dan diberikan tempat terbaik di sisiNya. Amin..
pertama kali jadi rf awal 2012, inilah plh pertama ka yg saya ikuti, beneran tersentuh saya, apalagi baca berita diatas, salut bwt mass, ass mass n tka kalian sungguh bertanggung jwb n berani. The real hero be rest in peace up there, amin
saya sangat terharu atas kejadian tersebut  selamat jalan dan semoga menjadi pembelajaran untuk kita semua
Posts: 3,087
Threads: 0
Joined: Sep 2008
Reputation:
27
11-12-2013, 07:48 AM
(This post was last modified: 11-12-2013, 07:55 AM by Dana Komuter.)
Ma'af kalo sedikit OOT :
Selasa, 10/12/2013 16:26 WIB
Kamen Rider 'Kesiangan' Bikin Heboh Lokasi KRL Maut di Bintaro
Rini Friastuti - detikNews
Jakarta - Seorang pria misterius berkostum Kamen Rider RX Bio dan mengendarai motor warna biru tiba-tiba hadir di lokasi kecelakaan maut KRL vs Truk tangki di perlintasan Pondok Betung, Bintaro. Pria yang mengaku dari hutan itu langsung dikerumuni warga. Sosok Kamen Rider RX Bio, tokoh ksatia nan gagah berani sontak menyedot perhatian anak-anak. Anak-anak bersorak gembira dan menyambut hangat. "Ada ksatria baja hitam.... ada ksatria baja hitam," teriak sekumpulan bocah di lokasi kejadian, Selasa (10/12/2013).

Kamen Rider duduk di atas motornya dan dengan sabar meladeni anak-anak kecil yang ingin bersalaman dengannya. Kostumnya sangat nyentrik serba biru, termasuk helmnya. "Kamu dari mana?" tanya warga. "Saya dari hutan, katanya di sini ada kecelakaan ya," jawab Kamen Rider. Ia juga turun dari motornya. Lalu, melihat-lihat lokasi kejadian Kamen Rider terus dibuntuti anak-anak. Ketika ditanya identitasnya, pria itu menolak membeberkannya. "Nggak perlu tahu nama saya siapa. Saya mau lihat-lihat saja katanya di sini ada kecelakaan," elaknya.
"Tidak mau nolongin?" tanya wartawan. "Tidak. Saya mau lihat-lihat saja," jawab Kamen Rider. 
Selain dipuja, kehadiran Kamen Rider juga menuai olokan dari bocah-bocah SD. "Kesorean, telat lu. Pahlawan kesiangan lu. Kecelakaan dah kelar baru datang sekarang," celetuk mereka.
Namun, pria itu tetap cool dan meninggalkan lokasi setelah melihat-lihat sekitar 10 menit. Bruuuum....!
http://news.detik.com/read/2013/12/10/16...ro?9911012
Berikut fotonya :
Uploaded with ImageShack.us
Posts: 351
Threads: 0
Joined: Mar 2012
Reputation:
7
Suasana saat di semayamkan di GMR
Suasana saat pengawalan ass mass di dalam B yg di rangkaikan ke KA 36
Pukul 05.40 KA 36 BLB cepu, suasana saat pengantaran jenazah ke rumah duka
"Penumpang menunggu kereta api BUKAN kereta api menunggu penumpang."
Posts: 53
Threads: 0
Joined: Oct 2013
Saksi mata bicara :
Palang Pintu Belum Tertutup Saat Truk Pertamina Melintas
Quote:TRIBUNNEWS.COM, TANGERANG - Albar Gumilar (18) mengaku sangat bersyukur dirinya masih hidup, walaupun pergelangan tangan sebelah kanannya mengalami luka bakar akibat siraman premium dari truk tangki Pertamina yang ringsek dan terbakar ditabrak KRL jurusan Serpong-Tanah Abang.
Ditemui TRIBUNnews.com, Selasa (10/12/2013), Albar mengatakan saat kejadian kemarin (09/12) ia berada persis di belakang truk tangki milik Pertamina. Albar mengingat jarak dirinya dan truk itu hanya sekitar satu meter.
Ia memang kerap melewati jalur itu untuk berangkat dan pulang dari sekolah menuju kediamannya di Jurang Mangu, Tangerang Selatan, Banten. Pagi harinya sekitar pukul 06.30 WIB ia pun melewati pintu perlintasan yang dijaga Pamuji (48) itu.
Putra ketiga dari empat bersaudara itu mengatakan saat mendekati perlintasan itu belum ada sirine penanda kereta akan lewat, maupun palang pintu yang perlahan turun. Ia pun memberanikan diri untuk melintas.
"Tidak ada sirine, palang pintu masih terbuka. Saya berani lewat. Kalau saya tahu kereta mau lewat, saya tidak akan lewat, tidak berani saya," katanya.
Albar mengatakan ada di sebelah kanan bagian belakang truk tangki Pertamina, saat truk tersebut hendak melintas rel. Kata dia truk itu tidak melaju dengan lancar karena ada sejumlah sepedamotor yang menyalip truk tersebut.
Saat truk berada di tengah-tengah jalur kereta tiba-tiba Pamuji keluar dari posnya, sembari mengibar-ngibarkan bendera merah, penanda akan ada kereta yang lewat. Pamuji kata Albar pun sempat menghampiri truk tersebut untuk memberitahu sang supir agar terus maju karena kereta api akan segera melintas.
"Saya tadinya mau menyalip truk, saya lihat ada penjaga pintu keluar bawa bendara, saya langsung mundur," ujarnya.
"Saya juga lihat truk itu yang tadinya maju tiba-tiba mundur, tidak kuat naik. Mesinnya juga mati," tambahnya.
Albar terus mundur sampai melewati rel. Ia lalu menoleh kekanan, dan ia saksikan KRL jurusan Serpong - Tanah Abang itu sudah berjarak sekitar 3 meter darinya, dan tabrakan maut itu pun terjadi.
Albar hanya menunduk sembari menggenggam erat stang sepedamotornya saat kereta berkecepatan 70 kilometer perjam itu menghantam truk yang berada satu meter di depannya.
"Waktu truk ditabrak bensinnya (premium) muncrat, saya kena juga," kata dia.
Bensin panas itu pun menyebabkan sepedamotor Honda CB100 di sebelahnya terbakar. Albar pun reflek langsung meninggalkan sepedamotornya, dan lari menyelamatkan diri.
Posts: 351
Threads: 0
Joined: Mar 2012
Reputation:
7
Bagaimana kl judul thread ini di ganti? Krn yg ditabrak bukan truk elpiji melainkan truk tanki bbm isi premium 24000L. Biar di kemudian hari tidak membingungkan, toh dr bbrp sumber berita dan saksi mata menyebutkan yg ditabrak ialah truk tanki bbm.
"Penumpang menunggu kereta api BUKAN kereta api menunggu penumpang."
Posts: 4
Threads: 0
Joined: Apr 2013
Reputation:
0
(09-12-2013, 09:46 PM)POERWOKERTO +75M Wrote: Sebelumnya saya mohon maaf apabila komentar saya ini terlalu kasar dan/atau subjektif tentang peristiwa kecelakaan ini.
Pertama, saya mengucapkan belasungkawa dan turut berduka cita kepada para korban yang meninggal, semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan. Dan juga rasa simpati dan prihatin dari saya kepada seluruh penumpang yang selamat dari peristiwa ini.
Kedua, sebagai seorang railfans dan pengguna jasa KA yang jarang naik KA, jujur saja, saya kesal, marah, sedih dan kecewa karena peristiwa seperti ini terjadi lagi. Dari berita-berita yang saya baca pasca kejadian ini, saya heran karena di jaman moderen ini masih ada saja orang goblok nan idiot yang nekat "bermain-main" di perlintasan kereta api. Kecerobohan dari satu pengguna jalan, harus dibayar mahal oleh nyawa. Apakah pengguna jalan ini, sudah sedemikian keroposkah otaknya atau kelewat masa bodoh dengan peraturan?
Semestinya, kejadian ini tidak harus terjadi. Bersabarlah, tenanglah berkendara, biar pergi selamat, pulang pun selamat.
Terlepas dari semua caci maki dan sumpah serapah saya tentang kejadian ini, semoga peristiwa ini bisa dijadikan satu pelajaran lagi bagi kita semua pengguna jalan. Saya harapkan pasca kejadian ini, ada perbaikan dari pihak-pihak terkait, supaya kejadian ini tidak terulang lagi.
Apapun hasil penyelidikannya nanti, saya harapkan tidak ada terdengar saling tuding, saling salah menyalahkan, bukan kata-kata yang kita perlukan, tapi niat dan usaha nyata untuk memperbaiki. Saya bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana usaha masinis dan petugas JPL untuk menghindarkan peristiwa tragis ini.
Mungkin ada baiknya, PT KA mau menerima saran dan pendapat dari rekan2 RF yang mempunyai pemikiran, ide atau solusi guna meningkatkan faktor keselamatan di perlintasan.
Soal ganti rugi, ya wajarlah kalo PT KA menuntut PERTAMINA, toh itu mobil punya pertamina, sopirnya pun bekerja untuk PERTAMINA, muatannya punya PERTAMINA, walaupun ini mungkin kesalahan mutlak sang sopir tapi tetap PERTAMINA punya tanggung jawab moral dan jangan berkelit.
Semoga saja pasca kejadian ini, PT KA juga tidak mulai membuat satu aturan baru yang kesannya dipaksakan hanya untuk menyenangkan pihak-pihak tertentu (khususnya anggota yang terhormat di senayan).
Sekian saja komentar saya.
Sekali lagi turut berduka cita dan prihatin. Merdeka!
Saya sependapat dengan saudara, bahwa memang sudah saatnya peraturan ditindak tegas, kadang solusi sudah ada, peraturan sudah jelas kok, kurang apa lagi ? tapi MANUSIA nya yang NGEYEL !. sudah saatnya menjewer manajemen pihak terkait agar betul2 MENDISIPLINKAN staffnya. kalau perlu pecat. Negara ini memang sudah harus diatur dengan tangan besi.
Posts: 3
Threads: 0
Joined: Jun 2012
Reputation:
0
11-12-2013, 10:00 AM
(This post was last modified: 12-12-2013, 09:54 AM by hedwigus.)
Bismillah
Sosok Misterius, Pahlawan di Tragedi Kereta Bintaro
Kecelakaan kereta Commuter Line yang bertabrakan dengan mobil tangki bahan bakar menyisakan duka yang dalam. Namun untunglah ada sosok-sosok penyelamat sehingga jumlah korban bisa diminimalisir.
Salah satu pahlawan yang tak diketahui namanya hingga jadi sosok misterius diceritakan Eben Ezer Sidari, wartawan Jaringnews yang juga jadi penumpang saat kecelakaan terjadi. Ya, inilah kisah pahlawan tanpa tanda jasa. Pahlawan yang tak perlu sanjungan, cukup baktinya jadi penyelamat nyawa banyak orang.
Senin pagi, 9 Desember 2013
Sampai beberapa menit setelah peristiwa tabrakan, saya yakin sebagian besar penumpang kereta tidak menyadari apa yang terjadi, seperti juga saya yang sempat terduduk diam di dalam kereta. Keadaan yang di luar dugaan. Kami yang berada di rangkaian gerbong yang agak tengah, sama sekali belum tahu apa yang berlangsung, tatkala kami merasakan sentakan demi sentakan, seakan kereta dipaksa berhenti, sebelum akhirnya kereta itu benar-benar tak bergerak.
Semula saya menduga kereta sudah tiba di stasiun Kebayoran setelah kami melalui stasiun Pondok Ranji. Tetapi ketika melihat keluar dari jendela, saya melihat di kanan-kiri rel kereta adalah pemukiman, bukan bangunan stasiun, sebagaimana biasa. Saya lebih risau setelah menyaksikan beberapa orang sudah berlarian di sepanjang rel, berteriak-teriak, tetapi dengan nada yang tidak jelas. Maklumlah, pintu otomatis kereta masih terkunci. Dari jendela kaca hanya sayup-sayup saja suara itu terdengar. Makin kacau lagi pikiran saya ketika dari gerbong bagian depan, saya melihat penumpang berduyun- duyun dan berdesak-desakan masuk menerobos melalui pintu penghubung. Semua dengan wajah cemas, sebagian pucat, dan juga dengan teriakan.
Beberapa orang diantara mereka mencoba memukul kaca, untuk memecahkannya agar bisa keluar dari kereta. Tapi tak berhasil. Di dalam kereta memang biasanya disediakan palu pemukul kaca dalam keadaan darurat. Namun pada keadaan panik demikian, kelihatannya tidak ada yang terpikir ke sana.
Saya mulai menyadari ada yang tidak beres dalam kereta, tetapi tetap belum tahu apa yang terjadi. Sudah sejak tahun 2005 saya menggunakan jasa commuter line bila hendak pergi kerja, tetapi baru kali ini saya mengalami kepanikan yang seperti ini. Untung saja penumpang di dalam kereta tidak berjubel. Kereta ini berangkat dari stasiun Sudimara tempat saya naik, kira-kira pukul 11:00. Itu sebabnya tak banyak penumpang. Tidak seperti pagi hari yang berjubel sampai kita acap kali merasa seperti sesak napas.
Makin berjalan waktu, makin ramai penumpang yang merangsek masuk ke gerbong kami dan mendesak untuk beranjak ke gerbong yang lebih belakang lagi. Satu dua orang berusaha mendobrak pintu otomatis. Tentu saja tak berhasil. Mereka kemudian kembali merangsek ke gerbong yang lebih ke belakang lagi. Saya pun mulai panik, saya ikut berdiri lalu beranjak hendak menuju gerbong belakang. Siapa tahu di sana ada pintu yang terbuka, pikir saya. Namun tak berapa lama, seorang pria yang saya sudah lupa wajahnya, dengan cepat mencoba mencari sesuatu di bawah tempat duduk. Ia perlu beberapa waktu untuk menemukannya. Lalu ia menarik sesuatu di sana, dan perlahan-lahan terdengar suara seperti embusan angin, seperti rem angin truk-truk besar ketika ditarik. Bersamaan dengan itu, saya melihat pintu keluar di gerbong kami seperti terlepas. Saya menjangkau pintu itu, dan memang dengan mudah bisa dibuka. Pintu pun terbuka. Beberapa orang penumpang melompat, dan saya juga.
Saya segera berlari menyelamatkan diri. Saya menoleh ke arah depan kereta dan terlihat kobaran api yang sangat besar diiringi beberapa kali dentuman. Untuk menjangkau pemukiman, kami harus memanjat karena rel kereta berada pada cekungan yang cukup dalam. Beberapa penduduk membantu kami untuk naik. Sampai 15 menit pertama, penduduk sudah ramai menyaksikan kebakaran kereta itu, tetapi belum dapat berbuat apa-apa. Mereka juga ikut panik, sebab khawatir api bisa juga menjalar ke pemukiman dan melalap perumahan mereka. Apalagi menurut mereka, tragedi Bintaro tahun 1980-an yang menewaskan ratusan penumpang kereta ketika itu, juga berada di sekitar lokasi.
Saya akhirnya berlari menyelamatkan diri ke rumah RT setempat, untuk menarik napas dan sesudahnya kembali lagi ke TKP untuk mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Ketika saya mencoba menelepon beberapa orang melalui ponsel, gagal beberapa kali. Sinyal kelihatannya kurang bersahabat.
Saya tidak ingat apakah pria yang berhasil menemukan cara membuka pintu tersebut, ikut turun dari kereta bersama saya atau tidak. Sekarangsetelah peristiwa itu berlalu, saya mulai berpikir, jangan-jangan pria itu lah yang telah berjasa membuka satu demi satu pintu di kereta, sehingga dapat menghindarkan korban yang lebih banyak. Saya mulai menduga duga, mungkin pria itu sudah bergerak dan bekerja dari mulai gerbang di depan, berlanjut ke gerbang yang saya tumpangi, untuk membukakan pintu secara darurat. Seingat saya, ia sama sekali tidak banyak bicara. Seperti sudah terlatih.
Saya juga mulai menduga-duga, jangan-jangan ia tidak ikut turun bersama saya, tetapi melanjutkan langkahnya ke gerbong lainnya, untuk melakukan hal yang sama, membuka pintu otomatis yang dalam keadaan normal, tak akan pernah membuka bila masinis tidak menekan tombol otomatisnya. Saya juga terpikir, bahwa seandainya kejadian ini pada pagi hari, pasti yang tercipta adalah kepanikan berlipat-lipat kali dari keadaan kemarin itu. Mungkin akan banyak yang terinjak-injak karena semua berusaha menyelamatkan diri. Upaya untuk memecahkan kaca, seingat saya, tidak berhasil di gerbong yang saya tumpangi. Dan sekali lagi, untung saja ada pria yang saya tak bisa ingat lagi seperti apa wajahnya, yang berhasil menemukan cara membukakan pintu dan puluhan bahkan ratusan penumpang, dapat segera meninggalkan kereta. Dari Bahasa Sanskerta, kita mengadopsi kata phala-wan menjadi pahlawan. Yaitu orang yang menghasilkan buah (phala) yang berkualitas bagi bangsa, negara, masyarakat dan agama. Pahlawan dikenal karena perbuatannya yang menonjol, penuh keberanian dan pengorbanan untuk membela apa yang dianggapnya benar dan perlu untuk bangsa dan negaranya.
Pejuang yang gagah berani. Menurut saya, dia yang telah berhasil menemukan cara membukakan pintu secara darurat itu adalah juga pahlawan. Andai ia tak menemukan cara itu, masih akan banyak penumpang yang terkurung di dalam kereta.
Posts: 435
Threads: 0
Joined: May 2012
Reputation:
8
11-12-2013, 11:07 AM
(This post was last modified: 12-12-2013, 10:00 AM by hedwigus.)
(11-12-2013, 10:00 AM)benjoel Wrote: [spoiler]
bismillah
Sosok Misterius, Pahlawan di Tragedi
Kereta Bintaro
Kecelakaan kereta Commuter Line yang bertabrakan
dengan mobil tangki bahan bakar menyisakan duka
yang dalam. Namun untunglah ada sosok-sosok
penyelamat sehingga jumlah korban bisa
diminimalisir.
Salah satu pahlawan yang tak diketahui namanya
hingga jadi sosok misterius diceritakan Eben Ezer
Sidari, wartawan Jaringnews yang juga jadi
penumpang saat kecelakaan terjadi. Ya, inilah kisah
pahlawan tanpa tanda jasa. Pahlawan yang tak perlu
sanjungan, cukup baktinya jadi penyelamat nyawa
banyak orang.
Senin pagi, 9 Desember 2013
Sampai beberapa menit setelah peristiwa tabrakan,
saya yakin sebagian besar penumpang kereta tidak
menyadari apa yang terjadi, seperti juga saya yang
sempat terduduk diam di dalam kereta. Keadaan yang
di luar dugaan. Kami yang berada di rangkaian
gerbong yang agak tengah, sama sekali belum tahu
apa yang berlangsung, tatkala kami merasakan
sentakan demi sentakan, seakan kereta dipaksa
berhenti, sebelum akhirnya kereta itu benar-benar tak
bergerak.
Semula saya menduga kereta sudah tiba di stasiun
Kebayoran setelah kami melalui stasiun Pondok
Ranji. Tetapi ketika melihat keluar dari jendela, saya
melihat di kanan-kiri rel kereta adalah pemukiman,
bukan bangunan stasiun, sebagaimana biasa. Saya
lebih risau setelah menyaksikan beberapa orang
sudah berlarian di sepanjang rel, berteriak-teriak,
tetapi dengan nada yang tidak jelas. Maklumlah,
pintu otomatis kereta masih terkunci. Dari jendela
kaca hanya sayup-sayup saja suara itu terdengar.
Makin kacau lagi pikiran saya ketika dari gerbong
bagian depan, saya melihat penumpang berduyun-
duyun dan berdesak-desakan masuk menerobos
melalui pintu penghubung. Semua dengan wajah
cemas, sebagian pucat, dan juga dengan teriakan.
Beberapa orang diantara mereka mencoba memukul
kaca, untuk memecahkannya agar bisa keluar dari
kereta. Tapi tak berhasil. Di dalam kereta memang
biasanya disediakan palu pemukul kaca dalam
keadaan darurat. Namun pada keadaan panik
demikian, kelihatannya tidak ada yang terpikir ke
sana.
Saya mulai menyadari ada yang tidak beres dalam
kereta, tetapi tetap belum tahu apa yang terjadi.
Sudah sejak tahun 2005 saya menggunakan jasa
commuter line bila hendak pergi kerja, tetapi baru kali
ini saya mengalami kepanikan yang seperti ini.
Untung saja penumpang di dalam kereta tidak
berjubel. Kereta ini berangkat dari stasiun Sudimara,
tempat saya naik, kira-kira pukul 11:00. Itu sebabnya
tak banyak penumpang. Tidak seperti pagi hari yang
berjubel sampai kita acap kali merasa seperti sesak
napas.
Makin berjalan waktu, makin ramai penumpang yang
merangsek masuk ke gerbong kami dan mendesak
untuk beranjak ke gerbong yang lebih belakang lagi.
Satu dua orang berusaha mendobrak pintu otomatis.
Tentu saja tak berhasil. Mereka kemudian kembali
merangsek ke gerbong yang lebih ke belakang lagi.
Saya pun mulai panik, saya ikut berdiri lalu beranjak
hendak menuju gerbong belakang. Siapa tahu di
sana ada pintu yang terbuka, pikir saya.
Namun tak berapa lama, seorang pria yang saya
sudah lupa wajahnya, dengan cepat mencoba
mencari sesuatu di bawah tempat duduk. Ia perlu
beberapa waktu untuk menemukannya. Lalu ia
menarik sesuatu di sana, dan perlahan-lahan
terdengar suara seperti embusan angin, seperti rem
angin truk-truk besar ketika ditarik. Bersamaan
dengan itu, saya melihat pintu keluar di gerbong kami
seperti terlepas. Saya menjangkau pintu itu, dan
memang dengan mudah bisa dibuka. Pintu pun
terbuka. Beberapa orang penumpang melompat, dan
saya juga.
Saya segera berlari menyelamatkan diri. Saya
menoleh ke arah depan kereta dan terlihat kobaran
api yang sangat besar diiringi beberapa kali
dentuman. Untuk menjangkau pemukiman, kami
harus memanjat karena rel kereta berada pada
cekungan yang cukup dalam. Beberapa penduduk
membantu kami untuk naik.
Sampai 15 menit pertama, penduduk sudah ramai
menyaksikan kebakaran kereta itu, tetapi belum dapat
berbuat apa-apa. Mereka juga ikut panik, sebab
khawatir api bisa juga menjalar ke pemukiman dan
melalap perumahan mereka. Apalagi menurut mereka,
tragedi Bintaro tahun 1980-an yang menewaskan
ratusan penumpang kereta ketika itu, juga berada di
sekitar lokasi. Saya akhirnya berlari menyelamatkan
diri ke rumah RT setempat, untuk menarik napas dan
sesudahnya kembali lagi ke TKP untuk mencoba
mencari tahu apa yang terjadi. Ketika saya mencoba
menelepon beberapa orang melalui ponsel, gagal
beberapa kali. Sinyal kelihatannya kurang
bersahabat.
Saya tidak ingat apakah pria yang berhasil
menemukan cara membuka pintu tersebut, ikut turun
dari kereta bersama saya atau tidak. Sekarang
setelah peristiwa itu berlalu, saya mulai berpikir,
jangan-jangan pria itu lah yang telah berjasa
membuka satu demi satu pintu di kereta, sehingga
dapat menghindarkan korban yang lebih banyak.
Saya mulai menduga-duga, mungkin pria itu sudah
bergerak dan bekerja dari mulai gerbang di depan,
berlanjut ke gerbang yang saya tumpangi, untuk
membukakan pintu secara darurat. Seingat saya, ia
sama sekali tidak banyak bicara. Seperti sudah
terlatih.
Saya juga mulai menduga-duga, jangan-jangan ia
tidak ikut turun bersama saya, tetapi melanjutkan
langkahnya ke gerbong lainnya, untuk melakukan hal
yang sama, membuka pintu otomatis yang dalam
keadaan normal, tak akan pernah membuka bila
masinis tidak menekan tombol otomatisnya.
Saya juga terpikir, bahwa seandainya kejadian ini
pada pagi hari, pasti yang tercipta adalah kepanikan
berlipat-lipat kali dari keadaan kemarin itu. Mungkin
akan banyak yang terinjak-injak karena semua
berusaha menyelamatkan diri. Upaya untuk
memecahkan kaca, seingat saya, tidak berhasil di
gerbong yang saya tumpangi. Dan sekali lagi, untung
saja ada pria yang saya tak bisa ingat lagi seperti
apa wajahnya, yang berhasil menemukan cara
membukakan pintu dan puluhan bahkan ratusan
penumpang, dapat segera meninggalkan kereta.
Dari Bahasa Sanskerta, kita mengadopsi kata phala-
wan menjadi pahlawan. Yaitu orang yang
menghasilkan buah (phala) yang berkualitas bagi
bangsa, negara, masyarakat dan agama. Pahlawan
dikenal karena perbuatannya yang menonjol, penuh
keberanian dan pengorbanan untuk membela apa
yang dianggapnya benar dan perlu untuk bangsa
dan negaranya. Pejuang yang gagah berani.
Menurut saya, dia yang telah berhasil menemukan
cara membukakan pintu secara darurat itu adalah
juga pahlawan. Andai ia tak menemukan cara itu,
masih akan banyak penumpang yang terkurung di
dalam kereta.[/spoiler] Di hari yang awalnya berjalan biasa, saat yang tak terduga datang, ada saja sosok luar biasa yang ada diantara kita
Seingat saya memang ada tuas darurat pembuka pintu di bawah kursi tiap KRL, cuman tampaknya kurang dilabeli jadi susah ditemukan
Posts: 538
Threads: 0
Joined: May 2013
Reputation:
7
(11-12-2013, 11:07 AM)PJL_Hunter Wrote: [spoiler]
(11-12-2013, 10:00 AM)benjoel Wrote: bismillah
Sosok Misterius, Pahlawan di Tragedi
Kereta Bintaro
Kecelakaan kereta Commuter Line yang bertabrakan
dengan mobil tangki bahan bakar menyisakan duka
yang dalam. Namun untunglah ada sosok-sosok
penyelamat sehingga jumlah korban bisa
diminimalisir.
Salah satu pahlawan yang tak diketahui namanya
hingga jadi sosok misterius diceritakan Eben Ezer
Sidari, wartawan Jaringnews yang juga jadi
penumpang saat kecelakaan terjadi. Ya, inilah kisah
pahlawan tanpa tanda jasa. Pahlawan yang tak perlu
sanjungan, cukup baktinya jadi penyelamat nyawa
banyak orang.
Senin pagi, 9 Desember 2013
Sampai beberapa menit setelah peristiwa tabrakan,
saya yakin sebagian besar penumpang kereta tidak
menyadari apa yang terjadi, seperti juga saya yang
sempat terduduk diam di dalam kereta. Keadaan yang
di luar dugaan. Kami yang berada di rangkaian
gerbong yang agak tengah, sama sekali belum tahu
apa yang berlangsung, tatkala kami merasakan
sentakan demi sentakan, seakan kereta dipaksa
berhenti, sebelum akhirnya kereta itu benar-benar tak
bergerak.
Semula saya menduga kereta sudah tiba di stasiun
Kebayoran setelah kami melalui stasiun Pondok
Ranji. Tetapi ketika melihat keluar dari jendela, saya
melihat di kanan-kiri rel kereta adalah pemukiman,
bukan bangunan stasiun, sebagaimana biasa. Saya
lebih risau setelah menyaksikan beberapa orang
sudah berlarian di sepanjang rel, berteriak-teriak,
tetapi dengan nada yang tidak jelas. Maklumlah,
pintu otomatis kereta masih terkunci. Dari jendela
kaca hanya sayup-sayup saja suara itu terdengar.
Makin kacau lagi pikiran saya ketika dari gerbong
bagian depan, saya melihat penumpang berduyun-
duyun dan berdesak-desakan masuk menerobos
melalui pintu penghubung. Semua dengan wajah
cemas, sebagian pucat, dan juga dengan teriakan.
Beberapa orang diantara mereka mencoba memukul
kaca, untuk memecahkannya agar bisa keluar dari
kereta. Tapi tak berhasil. Di dalam kereta memang
biasanya disediakan palu pemukul kaca dalam
keadaan darurat. Namun pada keadaan panik
demikian, kelihatannya tidak ada yang terpikir ke
sana.
Saya mulai menyadari ada yang tidak beres dalam
kereta, tetapi tetap belum tahu apa yang terjadi.
Sudah sejak tahun 2005 saya menggunakan jasa
commuter line bila hendak pergi kerja, tetapi baru kali
ini saya mengalami kepanikan yang seperti ini.
Untung saja penumpang di dalam kereta tidak
berjubel. Kereta ini berangkat dari stasiun Sudimara,
tempat saya naik, kira-kira pukul 11:00. Itu sebabnya
tak banyak penumpang. Tidak seperti pagi hari yang
berjubel sampai kita acap kali merasa seperti sesak
napas.
Makin berjalan waktu, makin ramai penumpang yang
merangsek masuk ke gerbong kami dan mendesak
untuk beranjak ke gerbong yang lebih belakang lagi.
Satu dua orang berusaha mendobrak pintu otomatis.
Tentu saja tak berhasil. Mereka kemudian kembali
merangsek ke gerbong yang lebih ke belakang lagi.
Saya pun mulai panik, saya ikut berdiri lalu beranjak
hendak menuju gerbong belakang. Siapa tahu di
sana ada pintu yang terbuka, pikir saya.
Namun tak berapa lama, seorang pria yang saya
sudah lupa wajahnya, dengan cepat mencoba
mencari sesuatu di bawah tempat duduk. Ia perlu
beberapa waktu untuk menemukannya. Lalu ia
menarik sesuatu di sana, dan perlahan-lahan
terdengar suara seperti embusan angin, seperti rem
angin truk-truk besar ketika ditarik. Bersamaan
dengan itu, saya melihat pintu keluar di gerbong kami
seperti terlepas. Saya menjangkau pintu itu, dan
memang dengan mudah bisa dibuka. Pintu pun
terbuka. Beberapa orang penumpang melompat, dan
saya juga.
Saya segera berlari menyelamatkan diri. Saya
menoleh ke arah depan kereta dan terlihat kobaran
api yang sangat besar diiringi beberapa kali
dentuman. Untuk menjangkau pemukiman, kami
harus memanjat karena rel kereta berada pada
cekungan yang cukup dalam. Beberapa penduduk
membantu kami untuk naik.
Sampai 15 menit pertama, penduduk sudah ramai
menyaksikan kebakaran kereta itu, tetapi belum dapat
berbuat apa-apa. Mereka juga ikut panik, sebab
khawatir api bisa juga menjalar ke pemukiman dan
melalap perumahan mereka. Apalagi menurut mereka,
tragedi Bintaro tahun 1980-an yang menewaskan
ratusan penumpang kereta ketika itu, juga berada di
sekitar lokasi. Saya akhirnya berlari menyelamatkan
diri ke rumah RT setempat, untuk menarik napas dan
sesudahnya kembali lagi ke TKP untuk mencoba
mencari tahu apa yang terjadi. Ketika saya mencoba
menelepon beberapa orang melalui ponsel, gagal
beberapa kali. Sinyal kelihatannya kurang
bersahabat.
Saya tidak ingat apakah pria yang berhasil
menemukan cara membuka pintu tersebut, ikut turun
dari kereta bersama saya atau tidak. Sekarang
setelah peristiwa itu berlalu, saya mulai berpikir,
jangan-jangan pria itu lah yang telah berjasa
membuka satu demi satu pintu di kereta, sehingga
dapat menghindarkan korban yang lebih banyak.
Saya mulai menduga-duga, mungkin pria itu sudah
bergerak dan bekerja dari mulai gerbang di depan,
berlanjut ke gerbang yang saya tumpangi, untuk
membukakan pintu secara darurat. Seingat saya, ia
sama sekali tidak banyak bicara. Seperti sudah
terlatih.
Saya juga mulai menduga-duga, jangan-jangan ia
tidak ikut turun bersama saya, tetapi melanjutkan
langkahnya ke gerbong lainnya, untuk melakukan hal
yang sama, membuka pintu otomatis yang dalam
keadaan normal, tak akan pernah membuka bila
masinis tidak menekan tombol otomatisnya.
Saya juga terpikir, bahwa seandainya kejadian ini
pada pagi hari, pasti yang tercipta adalah kepanikan
berlipat-lipat kali dari keadaan kemarin itu. Mungkin
akan banyak yang terinjak-injak karena semua
berusaha menyelamatkan diri. Upaya untuk
memecahkan kaca, seingat saya, tidak berhasil di
gerbong yang saya tumpangi. Dan sekali lagi, untung
saja ada pria yang saya tak bisa ingat lagi seperti
apa wajahnya, yang berhasil menemukan cara
membukakan pintu dan puluhan bahkan ratusan
penumpang, dapat segera meninggalkan kereta.
Dari Bahasa Sanskerta, kita mengadopsi kata phala-
wan menjadi pahlawan. Yaitu orang yang
menghasilkan buah (phala) yang berkualitas bagi
bangsa, negara, masyarakat dan agama. Pahlawan
dikenal karena perbuatannya yang menonjol, penuh
keberanian dan pengorbanan untuk membela apa
yang dianggapnya benar dan perlu untuk bangsa
dan negaranya. Pejuang yang gagah berani.
Menurut saya, dia yang telah berhasil menemukan
cara membukakan pintu secara darurat itu adalah
juga pahlawan. Andai ia tak menemukan cara itu,
masih akan banyak penumpang yang terkurung di
dalam kereta. [/spoiler]
Di hari yang awalnya berjalan biasa, saat yang tak terduga datang, ada saja sosok luar biasa yang ada diantara kita
Seingat saya memang ada tuas darurat pembuka pintu di bawah kursi tiap KRL, cuman tampaknya kurang dilabeli jadi susah ditemukan Wah luar biasa. Mungkinkah beliau adalah petugas di KRL.
Menurut hemat saya, setiap KRL diberi petunjuk/cara bagaimana membuka pintu otomatis jika dalam keadaan darurat. Selama ini saya tidak menemukan hal tersebut di KRL plus diberi palu untuk memecahkan kaca.
Hanya seorang penglaju Jakarta-Bandung
Banyak sekali kenangan manis di antara Stasiun Jatinegara - Stasiun Bandung
Posts: 43
Threads: 0
Joined: Nov 2013
Reputation:
1
(11-12-2013, 11:22 AM)Batpod Wrote: (11-12-2013, 11:07 AM)PJL_Hunter Wrote: [spoiler]
(11-12-2013, 10:00 AM)benjoel Wrote: bismillah
Sosok Misterius, Pahlawan di Tragedi
Kereta Bintaro
Kecelakaan kereta Commuter Line yang bertabrakan
dengan mobil tangki bahan bakar menyisakan duka
yang dalam. Namun untunglah ada sosok-sosok
penyelamat sehingga jumlah korban bisa
diminimalisir.
Salah satu pahlawan yang tak diketahui namanya
hingga jadi sosok misterius diceritakan Eben Ezer
Sidari, wartawan Jaringnews yang juga jadi
penumpang saat kecelakaan terjadi. Ya, inilah kisah
pahlawan tanpa tanda jasa. Pahlawan yang tak perlu
sanjungan, cukup baktinya jadi penyelamat nyawa
banyak orang.
Senin pagi, 9 Desember 2013
Sampai beberapa menit setelah peristiwa tabrakan,
saya yakin sebagian besar penumpang kereta tidak
menyadari apa yang terjadi, seperti juga saya yang
sempat terduduk diam di dalam kereta. Keadaan yang
di luar dugaan. Kami yang berada di rangkaian
gerbong yang agak tengah, sama sekali belum tahu
apa yang berlangsung, tatkala kami merasakan
sentakan demi sentakan, seakan kereta dipaksa
berhenti, sebelum akhirnya kereta itu benar-benar tak
bergerak.
Semula saya menduga kereta sudah tiba di stasiun
Kebayoran setelah kami melalui stasiun Pondok
Ranji. Tetapi ketika melihat keluar dari jendela, saya
melihat di kanan-kiri rel kereta adalah pemukiman,
bukan bangunan stasiun, sebagaimana biasa. Saya
lebih risau setelah menyaksikan beberapa orang
sudah berlarian di sepanjang rel, berteriak-teriak,
tetapi dengan nada yang tidak jelas. Maklumlah,
pintu otomatis kereta masih terkunci. Dari jendela
kaca hanya sayup-sayup saja suara itu terdengar.
Makin kacau lagi pikiran saya ketika dari gerbong
bagian depan, saya melihat penumpang berduyun-
duyun dan berdesak-desakan masuk menerobos
melalui pintu penghubung. Semua dengan wajah
cemas, sebagian pucat, dan juga dengan teriakan.
Beberapa orang diantara mereka mencoba memukul
kaca, untuk memecahkannya agar bisa keluar dari
kereta. Tapi tak berhasil. Di dalam kereta memang
biasanya disediakan palu pemukul kaca dalam
keadaan darurat. Namun pada keadaan panik
demikian, kelihatannya tidak ada yang terpikir ke
sana.
Saya mulai menyadari ada yang tidak beres dalam
kereta, tetapi tetap belum tahu apa yang terjadi.
Sudah sejak tahun 2005 saya menggunakan jasa
commuter line bila hendak pergi kerja, tetapi baru kali
ini saya mengalami kepanikan yang seperti ini.
Untung saja penumpang di dalam kereta tidak
berjubel. Kereta ini berangkat dari stasiun Sudimara,
tempat saya naik, kira-kira pukul 11:00. Itu sebabnya
tak banyak penumpang. Tidak seperti pagi hari yang
berjubel sampai kita acap kali merasa seperti sesak
napas.
Makin berjalan waktu, makin ramai penumpang yang
merangsek masuk ke gerbong kami dan mendesak
untuk beranjak ke gerbong yang lebih belakang lagi.
Satu dua orang berusaha mendobrak pintu otomatis.
Tentu saja tak berhasil. Mereka kemudian kembali
merangsek ke gerbong yang lebih ke belakang lagi.
Saya pun mulai panik, saya ikut berdiri lalu beranjak
hendak menuju gerbong belakang. Siapa tahu di
sana ada pintu yang terbuka, pikir saya.
Namun tak berapa lama, seorang pria yang saya
sudah lupa wajahnya, dengan cepat mencoba
mencari sesuatu di bawah tempat duduk. Ia perlu
beberapa waktu untuk menemukannya. Lalu ia
menarik sesuatu di sana, dan perlahan-lahan
terdengar suara seperti embusan angin, seperti rem
angin truk-truk besar ketika ditarik. Bersamaan
dengan itu, saya melihat pintu keluar di gerbong kami
seperti terlepas. Saya menjangkau pintu itu, dan
memang dengan mudah bisa dibuka. Pintu pun
terbuka. Beberapa orang penumpang melompat, dan
saya juga.
Saya segera berlari menyelamatkan diri. Saya
menoleh ke arah depan kereta dan terlihat kobaran
api yang sangat besar diiringi beberapa kali
dentuman. Untuk menjangkau pemukiman, kami
harus memanjat karena rel kereta berada pada
cekungan yang cukup dalam. Beberapa penduduk
membantu kami untuk naik.
Sampai 15 menit pertama, penduduk sudah ramai
menyaksikan kebakaran kereta itu, tetapi belum dapat
berbuat apa-apa. Mereka juga ikut panik, sebab
khawatir api bisa juga menjalar ke pemukiman dan
melalap perumahan mereka. Apalagi menurut mereka,
tragedi Bintaro tahun 1980-an yang menewaskan
ratusan penumpang kereta ketika itu, juga berada di
sekitar lokasi. Saya akhirnya berlari menyelamatkan
diri ke rumah RT setempat, untuk menarik napas dan
sesudahnya kembali lagi ke TKP untuk mencoba
mencari tahu apa yang terjadi. Ketika saya mencoba
menelepon beberapa orang melalui ponsel, gagal
beberapa kali. Sinyal kelihatannya kurang
bersahabat.
Saya tidak ingat apakah pria yang berhasil
menemukan cara membuka pintu tersebut, ikut turun
dari kereta bersama saya atau tidak. Sekarang
setelah peristiwa itu berlalu, saya mulai berpikir,
jangan-jangan pria itu lah yang telah berjasa
membuka satu demi satu pintu di kereta, sehingga
dapat menghindarkan korban yang lebih banyak.
Saya mulai menduga-duga, mungkin pria itu sudah
bergerak dan bekerja dari mulai gerbang di depan,
berlanjut ke gerbang yang saya tumpangi, untuk
membukakan pintu secara darurat. Seingat saya, ia
sama sekali tidak banyak bicara. Seperti sudah
terlatih.
Saya juga mulai menduga-duga, jangan-jangan ia
tidak ikut turun bersama saya, tetapi melanjutkan
langkahnya ke gerbong lainnya, untuk melakukan hal
yang sama, membuka pintu otomatis yang dalam
keadaan normal, tak akan pernah membuka bila
masinis tidak menekan tombol otomatisnya.
Saya juga terpikir, bahwa seandainya kejadian ini
pada pagi hari, pasti yang tercipta adalah kepanikan
berlipat-lipat kali dari keadaan kemarin itu. Mungkin
akan banyak yang terinjak-injak karena semua
berusaha menyelamatkan diri. Upaya untuk
memecahkan kaca, seingat saya, tidak berhasil di
gerbong yang saya tumpangi. Dan sekali lagi, untung
saja ada pria yang saya tak bisa ingat lagi seperti
apa wajahnya, yang berhasil menemukan cara
membukakan pintu dan puluhan bahkan ratusan
penumpang, dapat segera meninggalkan kereta.
Dari Bahasa Sanskerta, kita mengadopsi kata phala-
wan menjadi pahlawan. Yaitu orang yang
menghasilkan buah (phala) yang berkualitas bagi
bangsa, negara, masyarakat dan agama. Pahlawan
dikenal karena perbuatannya yang menonjol, penuh
keberanian dan pengorbanan untuk membela apa
yang dianggapnya benar dan perlu untuk bangsa
dan negaranya. Pejuang yang gagah berani.
Menurut saya, dia yang telah berhasil menemukan
cara membukakan pintu secara darurat itu adalah
juga pahlawan. Andai ia tak menemukan cara itu,
masih akan banyak penumpang yang terkurung di
dalam kereta. [/spoiler]
Di hari yang awalnya berjalan biasa, saat yang tak terduga datang, ada saja sosok luar biasa yang ada diantara kita
Seingat saya memang ada tuas darurat pembuka pintu di bawah kursi tiap KRL, cuman tampaknya kurang dilabeli jadi susah ditemukan Wah luar biasa. Mungkinkah beliau adalah petugas di KRL.
Menurut hemat saya, setiap KRL diberi petunjuk/cara bagaimana membuka pintu otomatis jika dalam keadaan darurat. Selama ini saya tidak menemukan hal tersebut di KRL plus diberi palu untuk memecahkan kaca.
kalo menurut saya sih mending katub pembuka pintu otomatis letaknya yang gampang di jangkau penumpang, trus juga di kasih stiker cara menggunakannya.
|