Ada Perbedaan paling spesifik ngga om kalo pas kita melintasi di atas masing2 rel yang berbeda ukurannya, Seperti contohnya suara yg bergemuruh atau jalan guncangan yang hebat. Maaf kl OOT.
(19-11-2013, 02:27 PM)arry giant Wrote: Ada Perbedaan paling spesifik ngga om kalo pas kita melintasi di atas masing2 rel yang berbeda ukurannya, Seperti contohnya suara yg bergemuruh atau jalan guncangan yang hebat. Maaf kl OOT.
Ane coba jawab berdasarkan pengalaman dan perasaan ya Mas..
Di petak yang menggunakan bantalan beton tipe rel R33 KA jalannya lambat sekali. Contoh petak ML-BL, kecepatan KA paling cuma 40-50 KM/J, di sekitar Garum-Talun-Wlingi rel berdampingan dengan jalan raya dan di situ nampak kecepatan KA sama atau bahkan kalah dengan kendaraan jalan raya. Atau kalo di petak lain yang masih bantalan beton + R33, Pasuruan - Probolinggo, kecepatan bisa 60 KM/J, tapi berisiknya minta ampun.
Di petak bantalan beton + R42, misal Kroya - Cicalengka, kecepatan kereta sudah lumayan, sekitar 70KM/J di trek lurus dan datar, goncangan lumayan, suara juga lumayan.
Di petak bantalan beton + R 54, kecepatan kereta bisa 90-100 KM/J, suara halus, goncangan halus. Contoh paling enak ya lintas Purwakarta - Jakarta, Solo - Kutoarjo, dan lintas utara Jawa Timur.
Kalo misal situ naik KA Malabar BD-ML atau ML-BD bakal ngerasain bedanya melintas di ketiga tipe rel di atas. R33 di ML - BL, R42 di KD - KTS dan KYA - CCL, R54 di SLO - KTA..
BTW sekarang type Rel terkecil R 25 masih ada yg makai ga??
Jadi inget dulu waktu masih ada Senja Kediri tiap datang dan berangkat feeder-nya ke Tulungagung dulu. Waktu di TA biasanya KA masuk sepur belok di jalur 2 lalu lok-nya (biasanya CC203) dilangsir lewat jalur 1 untuk puter arah ke Kediri tapi kalau pas mepet ama kedatangan KA lain dilangsir ke jalur 3. Yang bikin miris itu waktu lok sebesar CC 203 masuk ke jalur 3 yang menurut pengamatan ane itu rel masih type R 25 dg bantalan kayu yang udah lapuk plus balast yg udah ga ada. Ngeri2 sedap liatnya, takutnya rel ga kuat n CC 203 anjlok.
Nih gambar jalur 3 TA yg bikin miris. Tapi sekarang udah diupgrade.
(19-11-2013, 02:27 PM)arry giant Wrote: Ada Perbedaan paling spesifik ngga om kalo pas kita melintasi di atas masing2 rel yang berbeda ukurannya, Seperti contohnya suara yg bergemuruh atau jalan guncangan yang hebat. Maaf kl OOT.
Ane coba jawab berdasarkan pengalaman dan perasaan ya Mas..
Di petak yang menggunakan bantalan beton tipe rel R33 KA jalannya lambat sekali. Contoh petak ML-BL, kecepatan KA paling cuma 40-50 KM/J, di sekitar Garum-Talun-Wlingi rel berdampingan dengan jalan raya dan di situ nampak kecepatan KA sama atau bahkan kalah dengan kendaraan jalan raya. Atau kalo di petak lain yang masih bantalan beton + R33, Pasuruan - Probolinggo, kecepatan bisa 60 KM/J, tapi berisiknya minta ampun.
Di petak bantalan beton + R42, misal Kroya - Cicalengka, kecepatan kereta sudah lumayan, sekitar 70KM/J di trek lurus dan datar, goncangan lumayan, suara juga lumayan.
Di petak bantalan beton + R 54, kecepatan kereta bisa 90-100 KM/J, suara halus, goncangan halus. Contoh paling enak ya lintas Purwakarta - Jakarta, Solo - Kutoarjo, dan lintas utara Jawa Timur.
Kalo misal situ naik KA Malabar BD-ML atau ML-BD bakal ngerasain bedanya melintas di ketiga tipe rel di atas. R33 di ML - BL, R42 di KD - KTS dan KYA - CCL, R54 di SLO - KTA..