Seharusnya Solo-Jogja di DDT dulu seperti DDT Manggarai-Cikarang, jadi DT untuk kereta jarak jauh dan KRL Solo-Jogja dipisah. Kalau digabung bukan tidak mungkin nanti kereta bendera seperti Argo Wilis, Argo Lawu, Argo Dwipangga, Taksaka, dll diodongin KRL untuk tunggu aman, apalagi kalau infrastruktur KRLnya seperti KRL Comline yang sering banget terjadi gangguan. Duitnya? Tanyakan pada rumput yang bergoyang
(17-08-2014, 08:10 PM)dixtra Wrote: Seharusnya Solo-Jogja di DDT dulu seperti DDT Manggarai-Cikarang, jadi DT untuk kereta jarak jauh dan KRL Solo-Jogja dipisah. Kalau digabung bukan tidak mungkin nanti kereta bendera seperti Argo Wilis, Argo Lawu, Argo Dwipangga, Taksaka, dll diodongin KRL untuk tunggu aman, apalagi kalau infrastruktur KRLnya seperti KRL Comline yang sering banget terjadi gangguan. Duitnya? Tanyakan pada rumput yang bergoyang
DDT di MRI-CKR aja belum jadi om,apalagi di Daop VI yang masih wacana
(13-08-2014, 05:52 PM)argolawu69 Wrote: Nggak jg kalo 11-12. Jalan raya udah crowded
(13-08-2014, 07:00 PM)nur adi mustofa Wrote: 11-12 kalo minggu aja pas sepi . Pas workday ya 10-12 hahaha
Weits, jangan salah. Pernah lho Jogja (Giwangan)-Solo (Tirtonadi) pake kotak besi bisa tembus 45 menit lho
Kalau KRL YK-SLO dioperasikan, perlu dipikirkan PT.KAI sama Pemda setempat soal pintu perlintasan. Apalagi daerah kalasan-klaten kadang muncul di berita klo ada laka di perlintasan tanpa pintu.
(13-08-2014, 05:52 PM)argolawu69 Wrote: Nggak jg kalo 11-12. Jalan raya udah crowded
(13-08-2014, 07:00 PM)nur adi mustofa Wrote: 11-12 kalo minggu aja pas sepi . Pas workday ya 10-12 hahaha
Weits, jangan salah. Pernah lho Jogja (Giwangan)-Solo (Tirtonadi) pake kotak besi bisa tembus 45 menit lho
Kalau KRL YK-SLO dioperasikan, perlu dipikirkan PT.KAI sama Pemda setempat soal pintu perlintasan. Apalagi daerah kalasan-klaten kadang muncul di berita klo ada laka di perlintasan tanpa pintu.
Jam berapa dulu nih? Kalo tengah malem mah mungkin masih bisa. Pake sumber kenco*o hehe
(19-08-2014, 07:41 AM)argolawu69 Wrote: Weits, jangan salah. Pernah lho Jogja (Giwangan)-Solo (Tirtonadi) pake kotak besi bisa tembus 45 menit lho
Kalau KRL YK-SLO dioperasikan, perlu dipikirkan PT.KAI sama Pemda setempat soal pintu perlintasan. Apalagi daerah kalasan-klaten kadang muncul di berita klo ada laka di perlintasan tanpa pintu.
Jam berapa dulu nih? Kalo tengah malem mah mungkin masih bisa. Pake sumber kenco*o hehe
[/quote]
Pake bis Patas (klo bis selamet grup masuk kategori bis ekonomi)
Triknya sih menganalisa flow kendaraan dari arah berlawanan, klo tepat setidaknya cuma beberapa kali aja ketahan di traffic light (TL).
Yang dikeluhkan di jalan Jogja-Solo itu banyaknya TL yang jumlahnya belasan. Misal nyupir Purwokerto-Surabaya via Jogja, salah satu titik yang bikin lelah adalah petak Jogja-Solo. Seandainya tol Jogja-Solo terealisasi, mungkin YK-SLO bisa tersaingi.