Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
[ask] Pendapat Member soal Penumpang di atap kereta.
#1
Permisi, maaf buat trit baru. Kalo sudah ada mohon digabung sajaTersenyuum

Disini saya mau tanya pendapat member sejagat Semboyan 35 soal keberadaan penumpang di atap kereta. (baik yg terpaksa maupun hobi a.k.a ndablek). Mohon untuk tidak cenderung menghujat. Buat penelitian tugas kuliah soal fenomena sosial. Pendapat yg menurut saya baik, akan saya PM untuk meminta nama asli. Dan tentunya... Akan mendapat segelas cendol segar Xie Xie
Reply
#2
kalo menurut saya sih para penumpang yg ada di atap kereta itu awal nya karena terpaksa..mereka cenderung memilih naik kereta daripada moda transport lain karena kereta mempunyai kelebihan dalam segi waktu,lebih murah..bahkan waktu jaman dulu banyak sekali penumpang yg ngambing naik sepur tanpa tiket, semua faktor itu yg menyebabkan membludaknya pengguna kereta api..tetapi sarana yg kurang memadai,walaupun gerbong penuh tapi daripada menunggu kereta lebih baik memaksakan aja..tapi sepertinya ada juga para atapers yg beranggapan naik ke atap kereta itu mempunyai ke asikan tersendiri Big Grin
[Image: 370i.jpg]
Penikmat Panorama Daop 2
Lihat Trip ku DISINI
Reply
#3
Maaf ga bisa kasih pendapat kalo yang dimaksud para penumpang KRL yang di DAOP 1 karena memang bukan domisil disana dan ga pengalaman naek KRL.
tapi kalo ditanyanya secara umum ya bisa sedikit memberi pendapat, tepatnya sebelum jaman era PT spoor menerapkan kebijakan 100% di kereta ekonomi, betapa banyaknya orang2 entah itu orang semua ato ada hewannya juga, saya juga ga ngerti..Ngikik

Fenomena2 ketika saya mulai mencintai KA sejak tahun 2000an sampe akhirnya PT spoor menerapkan kebijakan 100% di KA ekonomi, ketika itu pada saat lebaran maka bukan hal yg aneh ketika di kereta2 ekonomi, maka batang Loknya saja hampir tidak terlihat sama sekali.

pada saat itu saya melihat adanya suatu kebutuhan tahunan, ya saya bilang tahunan karena memang lebaran tiap tahun mereka pakai untuk berkumpul bersama sanak keluarga di kampung halaman, nah masalahnya pada saat itu mereka gamau tahu dan gamau ambil pusing, yang penting mereka sampe di tempat tujuan, walaw bertaruh nyawa sekalipun.
Pada saat itu terlihat sekali kurangnya armada di saat penting seperti itu, memang sih berapapun armada yang disiapkan menjelang lebaran gak akan mungkin menampung banyaknya orang yang bermigrasi secara frontal di saat yang bersamaan.

nah dari situ saya bisa memberi pendapat, adanya kebutuhan dari para Atapers itu, saya ga menyamakan atapers lebaran itu dengan atapers yang di KRL sekarang, karena mungkin segmennya beda.
Kebutuhan tahunan yang harus dipenuhi oleh para atapers, yang entah bertiket ato ga saat itu, mungkin ada yg memegang mungkin juga ada kambing, nah masalahnya pemerintah ga sigap menyikapinya, dan masyarakat yg ogah mencari alternatif laen menjadikan kereta lebaran saat itu full orang, atapers dan Lokoers(orang2 yang duduk dan berdiiri merayap di LOk Ngikik).

SEBELUM MENUTUP MATA INI IJINKAN AKU TUHAN MELIHAT SEMUA JALUR MATI DI JAWA HIDUP KEMBALI. AMIN

Reply
#4
(05-04-2013, 09:43 AM)Joe_cn Wrote: Maaf ga bisa kasih pendapat kalo yang dimaksud para penumpang KRL yang di DAOP 1 karena memang bukan domisil disana dan ga pengalaman naek KRL.
tapi kalo ditanyanya secara umum ya bisa sedikit memberi pendapat, tepatnya sebelum jaman era PT spoor menerapkan kebijakan 100% di kereta ekonomi, betapa banyaknya orang2 entah itu orang semua ato ada hewannya juga, saya juga ga ngerti..Ngikik

Fenomena2 ketika saya mulai mencintai KA sejak tahun 2000an sampe akhirnya PT spoor menerapkan kebijakan 100% di KA ekonomi, ketika itu pada saat lebaran maka bukan hal yg aneh ketika di kereta2 ekonomi, maka batang Loknya saja hampir tidak terlihat sama sekali.

pada saat itu saya melihat adanya suatu kebutuhan tahunan, ya saya bilang tahunan karena memang lebaran tiap tahun mereka pakai untuk berkumpul bersama sanak keluarga di kampung halaman, nah masalahnya pada saat itu mereka gamau tahu dan gamau ambil pusing, yang penting mereka sampe di tempat tujuan, walaw bertaruh nyawa sekalipun.
Pada saat itu terlihat sekali kurangnya armada di saat penting seperti itu, memang sih berapapun armada yang disiapkan menjelang lebaran gak akan mungkin menampung banyaknya orang yang bermigrasi secara frontal di saat yang bersamaan.

nah dari situ saya bisa memberi pendapat, adanya kebutuhan dari para Atapers itu, saya ga menyamakan atapers lebaran itu dengan atapers yang di KRL sekarang, karena mungkin segmennya beda.
Kebutuhan tahunan yang harus dipenuhi oleh para atapers, yang entah bertiket ato ga saat itu, mungkin ada yg memegang mungkin juga ada kambing, nah masalahnya pemerintah ga sigap menyikapinya, dan masyarakat yg ogah mencari alternatif laen menjadikan kereta lebaran saat itu full orang, atapers dan Lokoers(orang2 yang duduk dan berdiiri merayap di LOk Ngikik).

tapi sepertinya lebih parah masyarakat pengguna kereta di india yah HeranHeranSakitBethe
[Image: 370i.jpg]
Penikmat Panorama Daop 2
Lihat Trip ku DISINI
Reply
#5
(05-04-2013, 09:43 AM)Joe_cn Wrote: [spoiler]Maaf ga bisa kasih pendapat kalo yang dimaksud para penumpang KRL yang di DAOP 1 karena memang bukan domisil disana dan ga pengalaman naek KRL.
tapi kalo ditanyanya secara umum ya bisa sedikit memberi pendapat, tepatnya sebelum jaman era PT spoor menerapkan kebijakan 100% di kereta ekonomi, betapa banyaknya orang2 entah itu orang semua ato ada hewannya juga, saya juga ga ngerti..Ngikik

Fenomena2 ketika saya mulai mencintai KA sejak tahun 2000an sampe akhirnya PT spoor menerapkan kebijakan 100% di KA ekonomi, ketika itu pada saat lebaran maka bukan hal yg aneh ketika di kereta2 ekonomi, maka batang Loknya saja hampir tidak terlihat sama sekali.

pada saat itu saya melihat adanya suatu kebutuhan tahunan, ya saya bilang tahunan karena memang lebaran tiap tahun mereka pakai untuk berkumpul bersama sanak keluarga di kampung halaman, nah masalahnya pada saat itu mereka gamau tahu dan gamau ambil pusing, yang penting mereka sampe di tempat tujuan, walaw bertaruh nyawa sekalipun.
Pada saat itu terlihat sekali kurangnya armada di saat penting seperti itu, memang sih berapapun armada yang disiapkan menjelang lebaran gak akan mungkin menampung banyaknya orang yang bermigrasi secara frontal di saat yang bersamaan.

nah dari situ saya bisa memberi pendapat, adanya kebutuhan dari para Atapers itu, saya ga menyamakan atapers lebaran itu dengan atapers yang di KRL sekarang, karena mungkin segmennya beda.
Kebutuhan tahunan yang harus dipenuhi oleh para atapers, yang entah bertiket ato ga saat itu, mungkin ada yg memegang mungkin juga ada kambing, nah masalahnya pemerintah ga sigap menyikapinya, dan masyarakat yg ogah mencari alternatif laen menjadikan kereta lebaran saat itu full orang, atapers dan Lokoers(orang2 yang duduk dan berdiiri merayap di LOk Ngikik).[/spoiler]
kalo bisa sih soal penumpang di atap KRL Bye Bye
Reply
#6
cuma bisa nyumbang potonya...
[spoiler=mengerikan sekali]
[Image: atapers1.jpg]
[/spoiler]
poto itu diambil taun 2012, skr masih begitu ga ya....
Reply
#7
(05-04-2013, 09:38 AM)RickyDwiS Wrote: kalo menurut saya sih para penumpang yg ada di atap kereta itu awal nya karena terpaksa..mereka cenderung memilih naik kereta daripada moda transport lain karena kereta mempunyai kelebihan dalam segi waktu,lebih murah..bahkan waktu jaman dulu banyak sekali penumpang yg ngambing naik sepur tanpa tiket, semua faktor itu yg menyebabkan membludaknya pengguna kereta api..tetapi sarana yg kurang memadai,walaupun gerbong penuh tapi daripada menunggu kereta lebih baik memaksakan aja..tapi sepertinya ada juga para atapers yg beranggapan naik ke atap kereta itu mempunyai ke asikan tersendiri Big Grin

btw,saya beberapa kali liat secara langsung, saat itu KRL ekonomi tdk terlalu rame, sama sekali tidak berdesakan, walaupun sebagian penumpang berdiri.
Tapi,tetep aja ada yg naik di atap. maunya apa coba -_-
Reply
#8
(06-04-2013, 10:15 AM)argolawu69 Wrote:
(05-04-2013, 09:38 AM)RickyDwiS Wrote: kalo menurut saya sih para penumpang yg ada di atap kereta itu awal nya karena terpaksa..mereka cenderung memilih naik kereta daripada moda transport lain karena kereta mempunyai kelebihan dalam segi waktu,lebih murah..bahkan waktu jaman dulu banyak sekali penumpang yg ngambing naik sepur tanpa tiket, semua faktor itu yg menyebabkan membludaknya pengguna kereta api..tetapi sarana yg kurang memadai,walaupun gerbong penuh tapi daripada menunggu kereta lebih baik memaksakan aja..tapi sepertinya ada juga para atapers yg beranggapan naik ke atap kereta itu mempunyai ke asikan tersendiri Big Grin

btw,saya beberapa kali liat secara langsung, saat itu KRL ekonomi tdk terlalu rame, sama sekali tidak berdesakan, walaupun sebagian penumpang berdiri.
Tapi,tetep aja ada yg naik di atap. maunya apa coba -_-

berarti ada suatu hal yg menarik bagi atapers..saya jd ingat kata kata "jiwa laki butuh tantangan" naaahhh!!Ngakak
[Image: 370i.jpg]
Penikmat Panorama Daop 2
Lihat Trip ku DISINI
Reply
#9
Menarik, mungkin ada yg emang hobi yah? Ngakak

ayo member yg lain, ditunggu pendapatnya Tersenyuum
Reply
#10
Sebelom nya, saya dulu pernah jadi Atapers (Bukan pernah lagi, tapi hampir tiap hari... jadi Atapers)
Dulu jaman masih SMP... saya sekolah di daerah Kebon Baru, Tebet. sedangkan Rumah di Bojong Gede.

Jadi atapers pun bukan karena pengen, tapi karena Terpaksa, bayangin aja.. Tempat Masinis pun jadi bisnis sampingan masinis, kalo masuk situ bayar seribu - 2 ribu ke masinis dan gk pernah ada sama sekali pemeriksaan tiket di atas kereta. kalau di dalem Gerbong, Pintu aje ketutup rapet sama "Pager Idup" di dalem nye apa lagi... jgn kan duduk.. bisa dapet tempat diri aja udah sukur..... Jaman SMP saya dolo gk ada CL bekas jepang.. ada nye Pakuan Ekspres... dan gak berhenti di banyak setasiun(seinget saya hanya berhenti di Depok, PS.Minggu, MRI, Juanda sama JAKK.). di bilang gk bayar pun.. nyatanya saya tiap bulan di kasih Abudemen Langganan KA yg dibelikan Oratua saya...

Sedangkan atapers jaman sekarang... saya yakin gak jauh beda sama dulu... krn memang gak ada ruang lagi di dalem...
dan saya yakin.. dari semua atapers hanya 5% kurang yg emang Tabiat nye Anak Layangan yg niat jadi atapers, sisanya.. Masyarakat "Yang penting sampe tempat tujuan Gak telat.." dan karena memang sudah "Turun-Temurun" Resiko berada di atas KRL pun itu bener-bener udah gk kerasa (dalam artian udah rutinitas)... seperti, tiap masuk kolong cawang.. pasti pada nunduk/ke samping (gk di tengah) Krn emang sangat rendah sekali itu kolong dan LAA nya. jadi udah bener-bener Hafal banget Timing harus melakukan apa. di setasiun/di Lintasan mana. jadi resiko celaka pun menjadi kecil, buat yg udah rutin dan tau.

kalo di suruh pilih Transpotasi lain. cuma bisa Bikin Jauh lebih capek dan Lama di jalan... bukan nya mereka gak punya kendaraan Pribadi (Motor), nyatanya di setasiun Cilebut , Bojong, Citayam itu banyak tempat Jasa penitipan motor di Sekitar setasiun (Diluar tempat parkir resmi Stasiun) dan selalu Penuh...
Naik Angkot/Bus ; udah lebih panas... macet... dan waktu tempuh nya pun bisa 2-3 Kali lipet dari naek Kereta.

Krn itu lah... Mau-tak mau.. Lebih nyaman naik Kereta.. meski di Cap atapers sekali pun.
ketika Liat banyak Marinir/TNI yg nyuruh turun/nindak Ataper, Justru saya malah kesian ama yg di suruh turun dari kereta dan Kesel sama PT.KAI... karena KRL Ekonomi yg merupakan KRL yg kapasitas nye bisa di OverLoad kan.. udah sangat Langka sekali.. untuk arah BOO-JAKK. kalo di suruh naek CL.. udah MAHAL Dan jauh dari kata nyaman, bayangin aja... di ruang yg Tertutup bahkan hampir rapet dengan jendela yang Kaca Film nya yg gelap... Banyak orang di 1 ruangan dengan AC dan Lampu Mati total... Panas Luar biasa. masih lebih nyaman AC Alam-nya KA Eko.

Lagi pula.. jadi atapers itu ada enak nya juga... Bisa ngerasain Angin yang.. Wuuuussssh... bisa liat "Pemandangan" dan di liatin orang pula Big Grin
gak enak nya.. kalo lagi ujan... Bagai di sambitin batu kecil ber tubi-tubi.... apa lagi pas lagi kenceng-kenceng nye laju kereta... sakit banget (bukan sakit demam tapi sakit nabrak Air hujan dalam kecepatan tinggi) ....
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)