04-04-2011, 11:26 AM
Kesalahan terbesar yang namanya Subsidi di Indonesia adalah pola subsidinya. Seharusnya yang disubsidi itu orang, bukan barang. Orang yang tidak mampu yang seharusnya disubsidi, bukan barang.Contoh BBM bersubsidi, mayoritas yang menikmati subsidi adalah orang mampu, mampu beli mobil. Atau KRL Ekonomi, apa semua penumpang KRL Ekonomi masyarakat kelas bawah? Orang yang mampu juga bisa naik KRL Ekonomi. Walhasil pola subsidi yang ada selama ini salah sasaran.
Saya semakin curiga dengan perubahan pola operasi KRL menjadi single operation + KRL lingkar merupakan siasat (jalan pintas) pemerintah untuk menghadapi macet total yang sebentar lagi melanda Jakarta. Seperti yang kita ketahui, apa yang sudah dilakukan pemerintah untuk mengatasi kemacetan Jakarta?pembangunan mass rapid yang sekarang dilakukan saya rasa sudah terlambat. Macet bakal datang lebih dulu. Itulah akibat dari pembangunan yang tidak berkelajutan alias serabutan.
Dengan pola yang demikian secara hitung-hitungan diatas kertas kapasitas angkut KRL bertambah. Pasti sasarannya kebijakan ini adalah para penglaju yang biasa naik kendaraan pribadi.
Dengan pola yang demikian secara hitung-hitungan diatas kertas kapasitas angkut KRL bertambah. Pasti sasarannya kebijakan ini adalah para penglaju yang biasa naik kendaraan pribadi.
Yang jadi pertanyaan, kenapa tarif Ekonomi AC naik??dengan pelayanan yang sama seperti sekarang.



![[Image: stasiunkeretaapibogor.jpg]](http://i908.photobucket.com/albums/ac282/andakh/stasiunkeretaapibogor.jpg)

![[Image: spammingsj0.gif]](http://i1211.photobucket.com/albums/cc423/gegenugroho/spammingsj0.gif)
