13-03-2011, 08:33 AM
Kalau kita pikir2 sewaktu eranya tahun 1980an dan 1990an, kenapa yah rangkaian KRL untuk Klas Bisnis dalam hal ini Pakuan cuma ada 1x pp yah? Sementara jumlah pr penumpangnya sudah semakin membeludak spt yang sehari2 kita lihat di Klas Ekonomi sampai ke atap. Mau naik KRL Pakuan Bisnis pun kala itu di stasiun Jakarta kota dan Bogor harus antri berebut supaya dapet karcisnya yg kalo gak salah cuma Rp 2000 atau Rp 4000 aku lupa.
Bayangkan saja, kala itu petak rel KA Jabodetabek di mana yg elektrifikasi cuma Jakarta - Bogor dan selebihnya cuma sampai Jatinegara (blom sampai Bekasi), cuma sampai Kebayoran (tahun 1994 baru sampai Serpong) dan ke Tangerang blom ada sama sekali. Tapi perjalanan KRL Ekonomi gak sepadet era kedua tahun segitu sebab petak rel Manggarai - Bogor baru single track. Aku termasuk yg mengalami betapa apesnya disusul mlulu soalnya kalau pagi ke arah Bogor otomatis kebanyakan ngalah dg sesama Klas Ekonomi dr lawan arah. Begitu pun sore utk arah sebaliknya.
Tapi kenapa kala itu Klas Bisnis utk KRL jumlah tmp duduknya (seat-nya) terbatas yah? Apakah bekas2 periode peninggalan kolonial Belanda masih ada yg dg pembagian klasnya? Di mana... kala itu Klas 1 yah org2 klas menengah atas dr kalangan Belanda (meski sudah tahun 1950an sekalipun), Klas 2 yah bangsa keturunan dlm hal ini Arab, India dan Cina dan utk Klas 3 yah para pribumi (Jawa, Sunda, Betawi, dll) yg tergolong pedagang sayur mayur, tukang pikul, kuli, dll. Jadi kala itu apakah KRL Bisnis Pakuan diprioritasin buat mrk yg pekerja kantoran aja yah? Sementara utk pr kuli, pedagang, peternak (kambing, dll) yg blom sanggup bayar seklas KRL Pakuan sulit naik yah?
Mungkin ada yg bisa kasih pencerahan?
Bayangkan saja, kala itu petak rel KA Jabodetabek di mana yg elektrifikasi cuma Jakarta - Bogor dan selebihnya cuma sampai Jatinegara (blom sampai Bekasi), cuma sampai Kebayoran (tahun 1994 baru sampai Serpong) dan ke Tangerang blom ada sama sekali. Tapi perjalanan KRL Ekonomi gak sepadet era kedua tahun segitu sebab petak rel Manggarai - Bogor baru single track. Aku termasuk yg mengalami betapa apesnya disusul mlulu soalnya kalau pagi ke arah Bogor otomatis kebanyakan ngalah dg sesama Klas Ekonomi dr lawan arah. Begitu pun sore utk arah sebaliknya.
Tapi kenapa kala itu Klas Bisnis utk KRL jumlah tmp duduknya (seat-nya) terbatas yah? Apakah bekas2 periode peninggalan kolonial Belanda masih ada yg dg pembagian klasnya? Di mana... kala itu Klas 1 yah org2 klas menengah atas dr kalangan Belanda (meski sudah tahun 1950an sekalipun), Klas 2 yah bangsa keturunan dlm hal ini Arab, India dan Cina dan utk Klas 3 yah para pribumi (Jawa, Sunda, Betawi, dll) yg tergolong pedagang sayur mayur, tukang pikul, kuli, dll. Jadi kala itu apakah KRL Bisnis Pakuan diprioritasin buat mrk yg pekerja kantoran aja yah? Sementara utk pr kuli, pedagang, peternak (kambing, dll) yg blom sanggup bayar seklas KRL Pakuan sulit naik yah?
Mungkin ada yg bisa kasih pencerahan?

Kalo diliat dari penamaan dan tujuannya;![[Image: stasiunkeretaapibogor.jpg]](http://i908.photobucket.com/albums/ac282/andakh/stasiunkeretaapibogor.jpg)