29-06-2009, 02:03 PM
(29-06-2009, 10:12 AM)spoorsoni Wrote:(26-06-2009, 10:50 PM)antimon40 Wrote: Kalau misalnya loko DE motor traksinya nggak ditaruh deket roda tetapi di atas roda, analog dengan hidraulik converter pada loko DH, dan disambung dengan gardan, maka seharusnya loko DE juga lebih bisa tahan banjir.Tapi kenapa GE tidak membuat loko DE dengan konstruksi seperti ini? Bukannya malah bagus kan, kalau loko DE bisa lewat daerah banjir?....
Maaf agak OOT, sebenarnya di Indonesia ada lok DE yang menganut prinsip seperti demikian. Lok kelas BB204 di Sumbar itu lok DE tapi menggunakan gardan dengan tuas pemindah daya. Jadi saat adhesi gardan memutar gandar, tapi waktu rack, gardan memutar gigi. Demikian kalau tidak salah dulu penjelasan salah satu punggawa BY Simpang Haru Padang. Silahkan dilanjut tentang DH.
Soni
Selain reduksi tenaga penggunaan gardan juga membutuhkan perawatan yang lebih rumit disamping harganya pasti mahal contohnya ya BB204 yang jadi loko termahal di indonesia.

![[Image: train_gif2.gif]](http://indonesianheritagerailway.com/templates/heritage_railway/images/train_gif2.gif)


, dalam kondisi mesin hidup, katup masuk dalam silinder terbuka dan piston bergerak turun, menyebabkan udara yang sudah disaring oleh filter udara terhisap masuk ke dalam silinder melalui intake manifold yang terhubung dengan filter udara.