Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
kereta perintis
#1
akhir akhir ini PT. Kereta Api Indonesia (Persero) gencar mendatangkan krl krl bekas dari jepang yang kondisinya masih sekitar 80 - 95 %. diharapkan dengan kedatangan krl krl tersebut akan mengkatkan kehandalan angkutan komuter yang setiap harinya semakin hari semakin banyak karena mereka sudah lelah dengan kondisi jalan jalan di ibukota yang sudah semakin parah kemacetannya.

diharapkan dengan kehadiran ka ka tersebut tidak ada lagi yang namanya ka mogok di tengah jalan terlebih lagi di jam jam peak seson pagi dan sore hari. ini demi kenyamanan para penumpang komuter itu sendiri.dengan demikian semakin lama peran krl krl ekonomi yang sudah tua mau tidak mau akan ambil alih oleh armada armada yang lebih handal tadi.nah otomatis akan banyak armada armada yang nganggur. namun pihak PT. Kereta Api Indonesia (Persero) mengatakan krl krl tua itu nantinya akan di tempatkan atau di operasikan dengan terlebih dahulu di rubah menjadi KRD di kantong kantong yang ada jalur ka namun saat ini sudah tidak aktf, dengan harapan aset aset PT. Kereta Api Indonesia (Persero) baik bangunan dan tanah tidak di serobot pihak yang tidak bertanggung jawab dan juga katanya akan di buka relasi relasi baru jarak pendek.

yang jadi pemikiran saya adalah lintas lintas pendek yang pernah beroperasi saja banyak yang mati semisal krd banyu biru,joglo semar dll dengan alasan tidak menguntungkan dan armada yang sudah tua. di tambah lagi pramek saja saat ini sudah tidak sebanyak waktu jaya jayanya dahulu. dengan alasan rolling stoknya yang sudah tua ( alasan klasik yang selalu di lontarkan kai )

kalau memang mau menambah pemasukan dan memaksimalkan aset aset bergerak yang sudah tua kenapa tidak menggunakan loko loko 201 saja yang sudah tua namun masih bisa untuk cari duit daripada menggunakan KRD. kalu di banding bandingkan menurut saya yang orang awam perawatan KRD jauh lebih mahal di banding dengan lok 201 karena kalau krd di setiap rangakaian banyak tedapat mesin mesin diesel penghela berbong gerbong di atasnya.

saya sendiri senang dengan adanya kereta kereta perintis tersebut dengan harapan kereta lebih dekat dengan rakyat dan juga demi mengurangi beban jalan raya yang semakin berat.namun saya berharap eks krl krl tua tadi di tarik lok 201 saja dibanding dengan krl yang akan diubah menjadi krd.disamping lebih kuat dan lebih mudah perawatannya.dengan harapan dapat menambah pemasukan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) bukan sebaliknya menjadi beban operasional dan keuangan PT. Kereta Api Indonesia (Persero).

menurut kalian dari kaca mata railfans jalur jalur mana yang potensial di layani kereta perintis tersebutdan berikan alasannya ? kalau saya berharap jalur bogor bandung karena menurut saya dilintas ini sangat potensial banyak tempat tempat wisata dan juga bangunan stasiun dan terowongan lampegan yang sangat bernilai heritage tinggiNgiler
tidak terbayangkan keindahan trem uap ketika lalu lalang di bawah jembatan kereta api jatinegara
foto ane yang lainnya ada disini kang !
http://www.flickr.com/photos/36503981@N02/

Reply
#2
Menurut saya sih harusnya ada KA lokal di daop 3 sama daop 5 karena di dua daop ini,jarang sekali ada KA yg berhenti per stasiun,shg masyarakat di kedua daop ini bisa beralih ke KA yg harganya juga bisa disubsidi pemda setempat
Facebook : Garry RP
Twitter : GarryKAHP
Flickr : GarryKAHP
Youtube : Gerikahp

Majulah Perkeretaapian Indonesia
Reply
#3
Yup kalo daop 6 sebenarnya memang pasarnya sudah ada dari KTA-SLO, tapi emang armadanya yang kurang.
Mungkin saja Pt spoor mau menambah armada untuk tujuan ini, tapi mungkin non express alias nantinya akan berhenti di tiap stasiun kecil, dengan biaya yang lebih murah tentunya, kisaran harga 5000-8000.

SEBELUM MENUTUP MATA INI IJINKAN AKU TUHAN MELIHAT SEMUA JALUR MATI DI JAWA HIDUP KEMBALI. AMIN

Reply
#4
Setiap daop aja...Ceria. Yang okupansi PNPnya tinggi tuh. Kalau bisa daop VI juga dielektrifikasi supaya KRL bisa dines. Ini kan bisa menarik perhatian masyarakat supaya beralih moda transportasi ke kereta lagi. Yang penting semoga PT. KA dalam pelayanannya juga bisa lebih baik sehingga PNP semakin senang menggunakan kereta api. Usulnya sih KA nya bumel, jam keberangkatanya juga banyak. Minimal ya setiap 2 jam ada tuh armada yang jalan. Tapi kalau masalah tempat ya semoga ada KA relasi KTA-PWT sprti Mageks. Prameks dibenahi supaya kembali sprti masa jayanya dulu XD.
Reply
#5
Saya mikirnya rheos ketimbang discrap, mending dikonversi ke KRD buat line purwakarta jd lok bisa buat KA akap.
Reply
#6
(22-03-2013, 05:13 PM)megaloblast Wrote: Saya mikirnya rheos ketimbang discrap, mending dikonversi ke KRD buat line purwakarta jd lok bisa buat KA akap.

Lha itu dia kendalanya mas, rheos alias si doyok ini sudah tua, apa efisien bila dikonversi menjadi KRD dan juga biaya maintenance yang notabene lebih mahal ketimbang biaya maintenance lok sekelas CC. kalau usul saya sih yang lebih feasible adalah lintas BOO - SI yang okupansinya sudah jelas bilamana rangkaian yang ada diberi lok sehingga mampu menghela lebih banyak gerbong.... IMHO.
" Only an idiot people who driving on a sidewalk "
Reply
#7
harapan ane sih di setiap daop ada kereta perintis tsb tapi ya itu tadi kalau bisa di tarik lok cc tua aja yang bandel dan mudah perawatanya. tambahan lagi hidupkan lagi kereta akdp di lintas cnp - cikampek saya masih inget dulu ada kereta yang melayani trayek ini
tidak terbayangkan keindahan trem uap ketika lalu lalang di bawah jembatan kereta api jatinegara
foto ane yang lainnya ada disini kang !
http://www.flickr.com/photos/36503981@N02/

Reply
#8
(22-03-2013, 07:15 PM)KinjengCilik Wrote:
(22-03-2013, 05:13 PM)megaloblast Wrote: Saya mikirnya rheos ketimbang discrap, mending dikonversi ke KRD buat line purwakarta jd lok bisa buat KA akap.

Lha itu dia kendalanya mas, rheos alias si doyok ini sudah tua, apa efisien bila dikonversi menjadi KRD dan juga biaya maintenance yang notabene lebih mahal ketimbang biaya maintenance lok sekelas CC. kalau usul saya sih yang lebih feasible adalah lintas BOO - SI yang okupansinya sudah jelas bilamana rangkaian yang ada diberi lok sehingga mampu menghela lebih banyak gerbong.... IMHO.

kalo dikonversi ke KRDE kan pakai mesin baru, hanya memanfaatkan motor traksi milik KRL itu sendiri, sumber listrik yg tadinya dari LAA diubah jd dari generator yg diputar oleh mesin diesel. Jd gak sepenuhnya tua. Cmiiw.

IMHO untuk jalur komuter non elektrifikasi lintas datar, KRDE ini saya rasa cocok. kalo pakai rangkaian ditarik lok buang waktu saat langsiran, malah eko lokal pwk kudu mindahin posisi gerbong bagasi pula. Cuma untuk lintas menanjak spt BOO-SI lebih cocok pakai KRDH macam MCW 302 itu karena gaya traksi merata ditiap kereta. Kalau KRDE ex- Holec setau saya gaya traksi msh terpusat pada satu kereta saja. Jd alokasi lok bisa untuk KA Barang/Penumpang jarak jauh yg lebih menguntungkan dan bisa dilakukan subsidi silang untuk menyokong jalur perintis ini. Xie Xie
Reply
#9
kalau saya lebih condong di tarik dengan lok saja. yang saya amati kalau di ubah dengan krd saya lihat walaupun dari sosnonya sudah krd dan di rawat setiap bulan kaya krd di lintas boo - si tetap aja kreta kayanya berat sekali menarik rangkaian , gimana yang dari hasil modifikasi ! yang namanya modifikasi tidak akan pernah menyamai yang orisinil .
kalau lok kan hanya satu yang jalan mesinnya jadi lebih gampang perawatanya. kalau masalah efisien ya jelas lebih efisien dengan lok itu di lihat dari beban maksimum yang dapat di tarik dan lebih hemat bahan bakar.kalau krd hanya efisien kalau hanya ingin merubah arah perjalanan itu saja !
tidak terbayangkan keindahan trem uap ketika lalu lalang di bawah jembatan kereta api jatinegara
foto ane yang lainnya ada disini kang !
http://www.flickr.com/photos/36503981@N02/

Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)