Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
[Usulan] KA Relasi BW/JR-JAKK??
betulllllllll............
|warm up|


[Image: 418089_2580690805272_1494496598_32011478...2663_n.jpg]
Reply
Kalo ada saya bakal milih naik ni kreta walaw mungkin pantat rasanya di bong!
Reply
Gpp emang jauh seh nih tapi kalo sampe jadi, saya bener bakal jadi pelanggan setia dhe...

SEBELUM MENUTUP MATA INI IJINKAN AKU TUHAN MELIHAT SEMUA JALUR MATI DI JAWA HIDUP KEMBALI. AMIN

Reply
Sorry Brurr , untuk mewujudkan KA BW - JKK PP kayanya butuh modal banyak, Rangkaian itu sendiri tidak cukup waktu untuk dibalik , jadi musti punya cadangan gerbong yang banyak , Contoh KA Matarmaja , perasaan baru aja nyampe Malang belon sempet mandi sudah harus diputar balik lagi ke Jakarta , Cape deh , itu pun kondisi jalur lancar dan minat penumpang juga belum ketauan . maaf bila salah ya .
Reply
(19-10-2009, 06:18 PM)BAMBANG EKO Wrote: Sorry Brurr , untuk mewujudkan KA BW - JKK PP kayanya butuh modal banyak, Rangkaian itu sendiri tidak cukup waktu untuk dibalik , jadi musti punya cadangan gerbong yang banyak , Contoh KA Matarmaja , perasaan baru aja nyampe Malang belon sempet mandi sudah harus diputar balik lagi ke Jakarta , Cape deh , itu pun kondisi jalur lancar dan minat penumpang juga belum ketauan . maaf bila salah ya .

Perlu diperhatikan okupansi penumpang dan waktu perawatan juga... kalau misalnya perawatannya terlalu minim (sudah dicontohkan kasus KA Matarmaja di atas) atau okupansinya terlalu rendah, maka tidak perlulah diadakan rangkaian KA baru, jadi biayanya dapat dialihkan untuk mengoptimalkan rangkaian yang sudah ada agar lalu lintas KA tidak terganggu...
Tokyo Metro 05-108F|Sora Naegi

[Image: 2r56iya.jpg]

Jabodetabek no Tsuukin Dentetsu (KCJ)
Reply
(19-10-2009, 06:30 PM)Charles Wrote:
(19-10-2009, 06:18 PM)BAMBANG EKO Wrote: Sorry Brurr , untuk mewujudkan KA BW - JKK PP kayanya butuh modal banyak, Rangkaian itu sendiri tidak cukup waktu untuk dibalik , jadi musti punya cadangan gerbong yang banyak , Contoh KA Matarmaja , perasaan baru aja nyampe Malang belon sempet mandi sudah harus diputar balik lagi ke Jakarta , Cape deh , itu pun kondisi jalur lancar dan minat penumpang juga belum ketauan . maaf bila salah ya .

Perlu diperhatikan okupansi penumpang dan waktu perawatan juga... kalau misalnya perawatannya terlalu minim (sudah dicontohkan kasus KA Matarmaja di atas) atau okupansinya terlalu rendah, maka tidak perlulah diadakan rangkaian KA baru, jadi biayanya dapat dialihkan untuk mengoptimalkan rangkaian yang sudah ada agar lalu lintas KA tidak terganggu...

Top Banget

Reply
namanya juga berandai2 bang hehehe...yg jelas hrus bner2 dipikr mateng2..terutama dana pembuatan & perawatan, besar bangget!! tapi sebelumnya hrs ada studi dulu..biar ga mubazir..

[Image: a2vric.jpg]
Reply
(30-10-2009, 11:12 PM)fun_plano Wrote: namanya juga berandai2 bang hehehe...yg jelas hrus bner2 dipikr mateng2..terutama dana pembuatan & perawatan, besar bangget!! tapi sebelumnya hrs ada studi dulu..biar ga mubazir..

Iya semuanya emang harus ada studi kalo perlu ada poling gitu di Internet ato ga seperti memberi koeisioner buat para penumpang di Sta, lihat saja hasilnya nanti..

SEBELUM MENUTUP MATA INI IJINKAN AKU TUHAN MELIHAT SEMUA JALUR MATI DI JAWA HIDUP KEMBALI. AMIN

Reply
mungkin gak ya diluncurkan KA relasi Banyuwangi - Jakarta???Bingung
kan biar mudah gak perlu oper ato ganti kreta gt...
kalo mw d luncurin saya pnya usul trayeknya Banyuwangi - Sidoarjo
- Tulangan - Tarik - Solo - Semarang - Jakarta Xie Xie
Reply
(18-09-2008, 11:46 PM)shandy Wrote: ya memang sebagai railfans semangatnya mungkin tidak hanya JR saja tapi kalau memungkinkan setiap kota memiliki rangkaian sendiri sebagai pilihan angkutan masal ke ibukota, namun ya seperti yang sedang dibahas sebelumnya pihak KAI punya beberapa pertimbangan knapa sampai sekarang belum dibuat trayek JAKK-JR ya salah satunya biaya operasionalnya mahal seperti yang dikatakan kahumas DAOP 9 o/ saudara BB30135, selanjutnya soal ganti lok selama HSD nya cukup u/ pjalanan sampai jembe, tracknya mendukung dilewati loko sekelas CC dan kru-nya kuat" ya sah" saja tanpa penggantian.
ya paling tidak kita disini bisa nuangin ide" pendapat dari masalah" itu getu. :gembira:
Banyak kendalanya...
1. Para turis pun gak mancanegara atau juga domestik pasti kelelahan dengan lamanya perjalanan meski menikmati seindah2nya panorama alam Indonesia dalam hal ini pulau Jawa karena cuma duduk manis berjam2 semisal 2 hari sampai pantat pegelnya bukan main. Makanya banyak turis yg cuma mengakhiri perjalanan di Surabaya sedari Jakarta. Begitu juga sebaliknya. Begitu juga yg naek Mutiara Timur.
Makanya pr turis memilih naik pesawat Jakarta - Denpasar atau sebaliknya ketimbang jalan darat + nyeberang laut Bali atau pun juga naek kapal laut.
2. Para pekerja kantoran pasti maunya serba cepat. Jadi mereka memilih pesawat utk mengejar deadline di perusahaan masing2. Naek ABA terus sambung Mutiara Timur misalnya yah... sah2 aja... Tapi apa wajar meskipun di Jember ada tujuan bisnis mrk yg biasa kerja di jok item dg ukuran panjang dan lebar meja kerja yg selayaknya disapa pak / bu dirut, komisaris, dll tp harus naek KA dr Jakarta?

Jadi wajar kalau sekiranya cuma railfans dan reporter pastinya yg bisa menikmati perburuan dan perjalanan dg KA selama apapun itu.
Ada kecualinya... seperti yg dikutip di MKA lupa edisi brapa yg mengenai KA di benua hitam Afrika dan negara Kanada dg lama waktu tempuhnya sampai berhari2... krn mrk sudah menyuguhkan fasilitas memadai selain kereta utk pemandangan dan lounge dan tentunya menu2 standar internasional. Oya sama wisata pemandangan alam negara mrk masing2 dg penginapan hotel yg memadai saat si KA tsb harus bermalam juga. Lalu... apakah PT. KA sudah bisa memberi fasilitas demikian?

Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 2 Guest(s)