06-09-2009, 10:39 PM
TRAGEDI BINTARO 19-10-1987
dikutip dari sumber di internet :
Pagi itu pukul 06.45, KA 225 yang ditarik lokomotif BB30316 dengan masinis Slamet Suradio dan ass. masinis Soleh berhenti di stasiun Sudimara dengan membawa +/- 700 penumpang yang sesaknya minta ampun, bahkan sampe ke loko. Kereta naas tsb berhenti di sepur (jalur) 3, dan sedang bersilang dengan KA 220 yang ditarik loko BB30616 dengan masinis Amung Sunarya dan ass.masinis Mujiono dengan membawa +/- 500 penumpang yang juga berdesakan yang sedang berada di sepur 2 Kebayoran Lama
.
Kemudian Djamhari, PPKA Sudimara memberitahukan persilangan di Kebayoran (saat itu di sepur 3 ada KA 1035 Indocement dan di sepur 1 ada 2 gerbong kosong rusak). Namun PPKA Kebayoran Lama Umriyadi menolak pemindahan persilangan KA dan tetap bertahan bahwa KA disilangkan di Sudimara, dan terjadi perseteruan antara Djamhari dan Umriyadi tentang pemindahan persilangan yang pada akhirnya dimenangkan oleh Umriyadi.
Kemudian Umriyadi memberangkatkan 220 dengan
, 40, dan 41, dan disetujui oleh Djamhari.
Djamhari berniat mengosongkan sepur 2 untuk menampung KA 220 dengan memindahkan 225 ke sepur 1. dan memberikan perintah kepada Juru Langsir u/ mengambil bendera merah tanda melangsir KA 225 ke sepur 1. Juru Langsir membawa bendera merah menuju lokomotif 225 dan meniup peluit semboyan 46 untuk memberi peringatan kpd masinis dan penumpang bahwa KA 225 akan dilangsir, tanpa membatalkan perintah persilangan yg terlanjur diserahkan kpd Masinis KA 225.
Suradio mendengar peluit semboyan 46 Djamhari tanpa memastikan apakah Djamhari menunjukkan semboyan 40 atw tidak (krn lok penuh penumpang shg dy tdk dapat melihat posisi Djamhari), dan menanyakan kpd penumpang di luar lok "berangkat ya ??"... dan penumpang menjawab "berangkat !!!!", maka tanpa ragu ia membunyikan
... kemudian semboyan 41 tanpa melalui semboyan 40...
Pada pukul 06.55 pagi itu kereta 225 akhirnya berangkat tanpa izin Djamhari, dan semua crew yang melihat langsung panik...
Juru langsir pun panik dan berlari, untungnya berhasil naik di gerbong paling belakang.
Djamhari juga ikut-ikutan panik dan mengibas-ngibaskan bendera merah. Selain itu, sinyal atau biasa disebut palang kereta api yg menggerakkan sinyal masuk arah KBY dinaikturunkan berkali-kali... tp tdk terlihat oleh Suradio. Dy berusaha mengejar KA 225 dengan berlari krn panik .... trs teriak "tolong ... pasti tabrakan ..... tolong .... pasti tabrakan ...." trs berhenti berlari kemudian kembali ke ruangan sambil menangis ..... memberitahu ke Umriyadi agar usahakan KA 220 diberhentikan di Pondokbetung...
Sementara itu beberapa crew mengejar 225 dengan motor tapi ga berhasil...
Sementara itu Umriyadi hanya tenang2 saja dan (dengan sombong) menjawab "gw sih dah bener .... elo aja yg kasih semboyan bahaya ..."
Tapi semua upaya crew Sudimara untuk menghentikan 225 sia-sia. Kereta api Suradio (Slamet) seakan sudah dituntun menuju maut. Tanpa sadar, nasib naas menunggu mereka. Para penumpang yang duduk di atap gerbong rupanya gembira kereta berangkat lebih cepat. Mereka pun malah menyoraki Djamhari, "huuuuu....." sambil tertawa-tawa.
Djamhari akhirnya membunyikan semboyan bahaya ke bel genta perlintasan .....
PJL PONDOKBETUNG pun bingung ... kok ada genta berulang-ulang .... dikiranya bel genta percobaan ..... (kemudian diketahui bahwa PJL Pondokbetung tidak hafal semboyan genta) ...
KA 220 melewati PJL Pondokbetung tanpa peringatan dari ybs (seharusnya PJL Pndkbetung menghentikan KA 220) ...... (setelah PJL Pndkbetung terdapat lengkung jalan huruf "S" maka disitulah terjadi tabrakan KA 220 dan KA 225) ..... kurang lebih 200 meter dari PJL Pondok Betung arah ke SDM.
Sang maut kemudian datang. Setelah berjalan 8 km meninggalkan Sudimara, di km 17, Slamet mengharapkan KA 220 berhenti, namun tiba-tiba ia kaget melihat lokomotif BB30616 yang menarik KA 220 ketika jarak antar keduanya tinggal 30 meter. Jalan di situ menikung membentuk huruf S. Penumpang di kedua loko kaget & sontak berteriak sambil berlompatan keluar, bahkan yang di atap pun ikut melompat, "Kereta!! Kereta!! Kereta di depan!!!" KA 225 yang saat itu bergerak dengan kecepatan 45 km/h di trek lurus tak mampu mengerem & memberitahu KA 220 dengan kecepatan 25 km/h yang baru saja melewati tikungan.
Dalam jarak sedekat itu upaya mengerem dari Slamet akhirnya sia-sia. Menurut teori, dengan kecepatan 50 km/jam kereta api itu baru bisa dihentikan setelah 400 meter.
Jarak pun semakin dekat. Waktu menunjukkan jam 07:10. Amung dan Mujiono berhasil selamat dengan berjongkok di lantai loko. Namun Slamet dan Soleh tak sempat bereaksi, dan sesaat kemudian...
DHHHUAAAAAARRRRRR!!!!!
Suara benturan mengagetkan warga sekitar, dan membuat mereka berduyun2 melihat ke arah asal suara itu. Gerbong pertama dari kedua rangkaian 'menelan' kedua loko. Kepingan-kepingan gerbong yang hancur berserakan di lokasi. 100 orang tewas tergencet gerbong.
.
Kemudian Djamhari, PPKA Sudimara memberitahukan persilangan di Kebayoran (saat itu di sepur 3 ada KA 1035 Indocement dan di sepur 1 ada 2 gerbong kosong rusak). Namun PPKA Kebayoran Lama Umriyadi menolak pemindahan persilangan KA dan tetap bertahan bahwa KA disilangkan di Sudimara, dan terjadi perseteruan antara Djamhari dan Umriyadi tentang pemindahan persilangan yang pada akhirnya dimenangkan oleh Umriyadi.
Kemudian Umriyadi memberangkatkan 220 dengan
, 40, dan 41, dan disetujui oleh Djamhari.Djamhari berniat mengosongkan sepur 2 untuk menampung KA 220 dengan memindahkan 225 ke sepur 1. dan memberikan perintah kepada Juru Langsir u/ mengambil bendera merah tanda melangsir KA 225 ke sepur 1. Juru Langsir membawa bendera merah menuju lokomotif 225 dan meniup peluit semboyan 46 untuk memberi peringatan kpd masinis dan penumpang bahwa KA 225 akan dilangsir, tanpa membatalkan perintah persilangan yg terlanjur diserahkan kpd Masinis KA 225.
Suradio mendengar peluit semboyan 46 Djamhari tanpa memastikan apakah Djamhari menunjukkan semboyan 40 atw tidak (krn lok penuh penumpang shg dy tdk dapat melihat posisi Djamhari), dan menanyakan kpd penumpang di luar lok "berangkat ya ??"... dan penumpang menjawab "berangkat !!!!", maka tanpa ragu ia membunyikan
... kemudian semboyan 41 tanpa melalui semboyan 40...Pada pukul 06.55 pagi itu kereta 225 akhirnya berangkat tanpa izin Djamhari, dan semua crew yang melihat langsung panik...
Juru langsir pun panik dan berlari, untungnya berhasil naik di gerbong paling belakang.
Djamhari juga ikut-ikutan panik dan mengibas-ngibaskan bendera merah. Selain itu, sinyal atau biasa disebut palang kereta api yg menggerakkan sinyal masuk arah KBY dinaikturunkan berkali-kali... tp tdk terlihat oleh Suradio. Dy berusaha mengejar KA 225 dengan berlari krn panik .... trs teriak "tolong ... pasti tabrakan ..... tolong .... pasti tabrakan ...." trs berhenti berlari kemudian kembali ke ruangan sambil menangis ..... memberitahu ke Umriyadi agar usahakan KA 220 diberhentikan di Pondokbetung...
Sementara itu beberapa crew mengejar 225 dengan motor tapi ga berhasil...
Sementara itu Umriyadi hanya tenang2 saja dan (dengan sombong) menjawab "gw sih dah bener .... elo aja yg kasih semboyan bahaya ..."
Tapi semua upaya crew Sudimara untuk menghentikan 225 sia-sia. Kereta api Suradio (Slamet) seakan sudah dituntun menuju maut. Tanpa sadar, nasib naas menunggu mereka. Para penumpang yang duduk di atap gerbong rupanya gembira kereta berangkat lebih cepat. Mereka pun malah menyoraki Djamhari, "huuuuu....." sambil tertawa-tawa.
Djamhari akhirnya membunyikan semboyan bahaya ke bel genta perlintasan .....
PJL PONDOKBETUNG pun bingung ... kok ada genta berulang-ulang .... dikiranya bel genta percobaan ..... (kemudian diketahui bahwa PJL Pondokbetung tidak hafal semboyan genta) ...
KA 220 melewati PJL Pondokbetung tanpa peringatan dari ybs (seharusnya PJL Pndkbetung menghentikan KA 220) ...... (setelah PJL Pndkbetung terdapat lengkung jalan huruf "S" maka disitulah terjadi tabrakan KA 220 dan KA 225) ..... kurang lebih 200 meter dari PJL Pondok Betung arah ke SDM.
Sang maut kemudian datang. Setelah berjalan 8 km meninggalkan Sudimara, di km 17, Slamet mengharapkan KA 220 berhenti, namun tiba-tiba ia kaget melihat lokomotif BB30616 yang menarik KA 220 ketika jarak antar keduanya tinggal 30 meter. Jalan di situ menikung membentuk huruf S. Penumpang di kedua loko kaget & sontak berteriak sambil berlompatan keluar, bahkan yang di atap pun ikut melompat, "Kereta!! Kereta!! Kereta di depan!!!" KA 225 yang saat itu bergerak dengan kecepatan 45 km/h di trek lurus tak mampu mengerem & memberitahu KA 220 dengan kecepatan 25 km/h yang baru saja melewati tikungan.
Dalam jarak sedekat itu upaya mengerem dari Slamet akhirnya sia-sia. Menurut teori, dengan kecepatan 50 km/jam kereta api itu baru bisa dihentikan setelah 400 meter.
Jarak pun semakin dekat. Waktu menunjukkan jam 07:10. Amung dan Mujiono berhasil selamat dengan berjongkok di lantai loko. Namun Slamet dan Soleh tak sempat bereaksi, dan sesaat kemudian...
DHHHUAAAAAARRRRRR!!!!!
Suara benturan mengagetkan warga sekitar, dan membuat mereka berduyun2 melihat ke arah asal suara itu. Gerbong pertama dari kedua rangkaian 'menelan' kedua loko. Kepingan-kepingan gerbong yang hancur berserakan di lokasi. 100 orang tewas tergencet gerbong.
[/align]






![[Image: 21kkvba.jpg]](http://i57.tinypic.com/21kkvba.jpg)
![[Image: show.php?photo=20090926012133_bintaro_ra...d4fd0c.jpg]](http://upload.kapanlagi.com/show.php?photo=20090926012133_bintaro_radiator_4abd0a2d4fd0c.jpg)
