Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
JELAJAH JALUR BANJAR CIJULANG DAN WISATA PANTAI BATUKARAS CIJULANG
Berikut adalah nama-nama peserta (REVISI TGL 28 JUNI 2009) yang telah melunasi biaya dan positif ikut untuk Jelajah Jalur KA Banjar - Cijulang...........
1. Ario Wibisono
2. Asep Suherman (asep _0907 alias saya he...he....)
3. Aditya Dwi Laksana
4. Tjahjono Rahardjo
5. Tjahjono Rahardjo (istri)
6. Tjahjono Rahardjo (anak)
7. Tjahjono Rahardjo (anak)
8. Ken Yudhi Satrio
9. Yoga Bagus Prayogo
10.Slamet Haryadi
11.Zudi Susanto
12.Ersta Kurniawan
13.Fajar Arifianto
14.Yudha Nugrahadi
15.Syaeful Hartono
16.Ilham Pratama
17.Wahyu Santoso
18.Deden Suprayitno
19.Krisnaharel
20.Dimas Permadi
21.Ardian H
22.Trisilo
23.Tommy Aditya
24.Leo Krisanto
25.Saleh Purwanto
26.Soni Gumilang
27.Karyadi Baskoro
28.Gio Dariyo
29.Adi Yulandi
30.Nilawati Sativana
31.Muhammad Noufal
32.Yudha Nugraha
33.Wulandari
34.Shintawati
35.Nurcahyo M
36.Pura Krisnamurti
37.Rendy

Beberapa rekan berencana berangkat dari Jakarta Kota dan Jatinegara dengan naik KA Serayu pada hari Jumat, 03 Juli 2009 pukul 20.25 WIB. Yang berangkat naik KA Serayu diantaranya :
a. Saleh Purwanto
b. Soni Gumilang
c. Ersta Kurniawan
d. Ken Yudhi Satrio
e. Slamet Haryadi

Mewakili seluruh panitia, saya mengucapkan terima kasih bagio rekan-rekan yang telah ikut berpartisipasi dan bagi yang belum/akan ikut silahkan daftar, pintu pendaftaran kami buka se oftimal mungkin (mungkin 1 hari sebelum hari "H")


salam Semboyan 35

asep Suherman

Untuk kawan-kawan yang mau ke Pangandaran, berikut ini cerita saya hunting ke Pangandaran tahun 2006 silam. Semoga bisa memberi gambaran untuk kawan-kawan yang mau huntinh:

TRIP REPORT TREKKING PANGANDARAN
(19-21 Agustus 2006) Part 1

INTRO
Setelah lebih dari 6 bulan merencananakan petualangan menyusuri Pangandaran, dengan
kawan-kawan dari milis Keretapi Sejarah dan Kenangan (dulu Jalur Ditutup dan Kenangan), yaitu mas Intrias, mas Kelik dan mas Dito Sutejo, akhirnya pada long weekend tanggal 19 hingga 21 Agustus yang lalu kami bisa mewujudkan acara penjelajahan menyusuri bekas jalur kereta api antara Banjar-Cijulang, termasuk melewati jembatan Cikacepit dan terowongan Wilhelmina yang terkenal tersebut.
Namun sayangnya, dua dari beberapa penggagas acara ini tidak bisa ikut, yaitu mas Kelik (masih berbulan madu), dan mas Dito (ada kegiatan pelatihan di kantor). Dan juga, sebenarnya ada 3 anggota IRPS Jakarta yang tertarik untuk ikut, yaitu mas Aditya Dwi Laksana, Novaprima (yang putra daerah Pangandaran) dan mas Saleh. Namun karena waktunya berbenturan dengan kegiatan preservasi lokomotif listrik, maka merekapun berhalangan untuk ikut.
Akhirnya formasi keberangkatan team Ekpedisi kami adalah: Intrias Herlistiarto (ketua team), Bagus Widyanto (saya sendiri), Nurcahyo MS (ketua IRPS Bandung), Mohammad Rizky, dan seorang wartawan dari majalah KA TV.
Tadinya majalah tersebut akan mengirim Mohammad Yanuar. Namun karena mas Yanu berhalangan, maka sebagai gantinya dikirim mbak Dian.
Keberangkatan menuju ke Pangandaran sendiri dibagi menjadi 3 kelompok. Kelompok utama terdiri dari saya, mas Nur, dan Rizky. Kami berangkat dengan menggunakan bis Budiman dari terminal Cicaheum. Kelompok kedua (sebenarnya tidak pas kalau disebut kelompok karena...) hanya terdiri dari mas Intrias yang menggunakan sepeda motornya dari Bandung menuju Pangandaran. Kelompok ketiga (sebenarnya juga tidak pas kalau disebut kelompok karena...) hanya terdiri dari mbak Dian yang berangkat dari Jakarta menuju ke Pangandaran naik bis.

KEBERANGKATAN KE PANGANDARAN
Walaupun saya sudah menghidupkan alarm jam handphone saya untuk pukul 7, tapi rupanya saya tertidur lagi ,dan baru bangun setelah pintu saya diketok mas Nur. Akhirnya saya mandi, dan kamipun berangkat menuju ke terminal Cicaheum berdua.
Di Cicaheum kami bertemu dengan Rizky yang sudah menunggu di sana. Setelah menunggu beberapa menit, bis kamipun berangkat pukul 10:30, 30 menit terlambat dari yang kami harapkan (10:00 pagi).
Perjalanan kamipun mengalami banyak sekali penundaan. Penundaan pertama adalah ketika bis kami berhenti cukup lama di poolnya di jalan Sukarno Hatta. Lalu di daerah Rancaekek bis kami juga terhambat kemacetan yang sangat parah, dimana kami sempat tertahan di sini selama hampir 2 jam! Panas yang sangat menyengat menyebabkan saya menghabiskan setengah dari perbekalan saya di sini.
Lepas dari Rancaekek, perjalanan berlangsung cukup mulus. Mungkin inilah untuk pertama kalinya saya pergi ke daerah ini dengan menaiki kendaraan umum, karena sebelumnya jika saya pergi ke daerah ini, saya selalu mengendarai motor Blue Tiger saya sendiri.
Namun perjalanan kami sekali lagi terhalang oleh kemacetan yang cukup parah di tikungan Gentong. Di sini saya mulai merasa pusing. Hal ini tidaklah aneh karena saya pada saat itu belum sarapan. Otomatis setiap kali ada pedagang asongan naik, pasti ada saja yang saya beli dari mereka. Walaupun begitu, saya masih merasa sangat lelah juga. Namun syukurlah, penantian tersebut berakhir, ketika bis mendekati daerah Rajapolah, dimana bis berhenti untuk beristirahat.
Dan karena makanannya prasmanan, saya langsung menghajar menunya, dengan nasi yang setinggi gunung dan satu potong ayam goreng bumbu serta sambal goreng kentang yang cukup banyak. Dan luar biasanya, semua itu harganya cuman 9000 rupiah!
Puas makan-makan, perjalanan bis dilanjutkan. Kali ini perjalanan berlangsung lancar-lancar saja.
Selepas Banjar, bis mulai bersilangan dengan awal jalur kereta api menuju ke Pangandaran, walaupun pada saat kami lihat, hanya pematangnya saja yang tersisa. Beberapa kilometer di selatan Banjar, jalan raya mulai menanjak, dan kamipun penasaran mencari sisa jalur kereta api tersebut.
Menurut perkiraan kami, di bukit ini terdapat sisa terowongan kereta api. Kami menoleh ke kiri dan ke kanan. Namun di lembah di bawah jalan raya terlihat bekas pematang jalan kereta api, yang masih terdapat relnya. Jelas, jalur tersebut adalah jalur KA menuju ke Pangandaran.
Sayapun langsung membuka peta topografi yang saya bawa dari Bandung, dan berusaha mencari letak rel tersebut. Peta topografi tersebut cukup membantu kami mencari sisa-sisa rel.
Mas Nurcahyo menjelaskan bahwa dulu, menjelang Krisisi Moneter tahun 1997, jalur ini pernah direvitalisasi. Rel-relnya diganti dengan rel R33 (dan R42?) sisa jalur utama, dan bantalan kayu baru. Bahkan tiang dan kabel telegrafnya sempat diganti dengan yang baru. Proses ini sebenarnya baru sampai untuk koridor Banjar-Banjarsari saja. Namun sisanya ke Cijulang masih baru dibersihkan saja. Hal-hal ini terjadi pada pertengahan tahun 1990an, sebelum krisis tahun 1997, yang akhirnya menggagalkan proyek ini secara keseluruhan.

Dan pada saat saya lihat jalur kereta api antara Banjar hingga Banjarsari, kelihatan sekali jika relnya besar dan tidak terlalu tua, bantalannya yang tersisa tidak lapuk (walaupun warnanya sudah gelap karena pengaruh cuaca), bahkan tiang dan kabel telegrafnya terlihat agak baru. Juga, jika jalur yang sudah ditutup umumnya memiliki kontur tanah yang tidak rata (akibat erosi), kontur tanah di jalur ini masih terlihat relatif rata.

Sesampainya di Banjarsari, kami juga melihat bekas stasiun Banjarsari yang telah dialihfungsikan menjadi gudang. Pintunya sendiri juga dicat dengan warna-warna yang menyala.
Setelah berhenti lama di Banjarsari, bis melanjutkan perjalanannya kembali. Namun keadaan jalur KA selepas Banjarsari tidak sebaik sebelumnya. Tidak ada tiang dan kabel telegraf yang tersisa.

Namun yang unik, jika jalan rayanya cenderung berkelak-kelok menghampiri pedesaan yang ada, jalur KA cenderung lurus, dan hanya menghampiri daerah perkotaannya saja.
Memang antara Banjarsari dan Kalipucang ada beberapa halte perhentian kereta api (menurut peta topografi). Namun tidak kelihatan satupun yang tersisa. Belakangan kami menyadari bahwa mayoritas bangunan tersebut telah dirobohkan atau dialihfungsikan.

Salah seorang penumpang yang sudah tua rupanya cukup tertarik dengan tindak-tanduk kami, dan ikut nimbrung menceritakan pengalamannya menaiki kereta api dari Banjar hingga Pangandaran. Dan beliau juga yang membantu kami menunjukkan tempat-tempat dimana rel kereta api pernah ada, karena di banyak tempat, sisa jalur kereta api sudah susah dikenali, karena baik rel maupun kabel telegraf sudah tidak ada.

Ketika bis memasuki daerah Kalipucang, kami penasaran mencari-cari letak stasiun tersebut. Namun gagal karena banyaknya perumahan, dan sesaat kemudian bis berbelok ke kanan dan mulai memasuki daerah pegunungan.
Di sini keadaan mulai gelap, sehingga otomatis saya harus menyimpan peta topografi saya. Jalan mulai berkelak-kelok menanjak, melawati pegunungan yang sepertinya tidak mungkin dilewati kereta api.

Namun mas Nurcahyo berkata kalau di lembah di sebelar kiri jalan kita bisa melihat salah satu dari jembatan besar kereta api yang masih tersisa. Saya berusaha untuk melihat, namun karena suasananya sudah agak gelap, maka saya tidak bisa melihat apapun. Mas Nurcahyo juga berkata kalau di salah satu dinding perbukitan, di tepi jalan raya, ada relief logo PJKA model awal tahun 1990an. Saya berusaha mencarinya, namun gagal karena kegelapan.

Setelah lama berkelak-kelok melewati perbukitan, akhirnya jalan mulai lurus, dan bis memasuki Pangandaran. Sesampainya di Pangandaran kami berganti bis,karena kami harus melanjutkan perjalanan menuju Cibenda, beberapa kilometer di sebelah barat Pangandaran.

Pada saat turun dari bis, saya berusaha mencari sisa-sisa musibah tsunami yang terjadi beberapa minggu sebelumnya. Namun tidak ada bekas-bekas rongsokan di daerah tempat kami berganti bis, seakan-akan tragedi tsunami tersebut tidak pernah terjadi. Rizky kemudian memberitahu bahwa daerah tempat bis berhenti itu cukup jauh dari bibir pantai.

Perjalanan dilanutkan hingga ke Cibenda, dimana kami mengakhiri perjalanan kami dari Bandung. Kami juga sempat sowan dengan saudaranya Rizky. Tadinya kami ingin mencari hotel untuk tempat penginapan, namun karena keluarga Rizky mengijinkan, akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan rumah saudaranya Rizky sebagai base camp ekspedisi kami.
Setelah mandi dan ngobrol-ngobrol sebentar dengan saudaranya Rizky di warung tenda di depan rumahnya (yang sangat enak buat nongkrong), kamipun tidur.

Namun handphone saya dan mas Nurcahyo tetap dinyalakan, untuk mempermudah komunikasi dengan mas Intrias, yang datang belakangan. Mas Intrias sendiri baru bisa berangkat sekitar pukul 10 malam dari Bandung, karena sibuk membereskan sisa acara 17 Agustusan (Dimana mas Intrias berhasil mendapatkan tas ekspedisi gratis, hasil lomba panjat pinang!).
Mas Intrias sendiri akhirnya datang sekitar pukul 5 pagi, setelah menyetir motornya selama 4 jam dari rumahnya di Bandung.

PERSIAPAN EKSPEDISI
Setelah beristirahat sebentar, saya, Rizky, mas Intrias serta pamannya Rizky, berjalan-jalan ke pekarangan belakang rumahnya, dimana terdapat sisa jalur kereta api menuju ke Kalipucang. Kami berjalan melewati empang-empang serta perkebunan kelapa di situ. Setelah berjalan menembus semak-semak, akhirnya kami menemui sisa jalur kereta api di situ. Rel-relnya terlihat dalam kondisi bagus. Umumnya jalur di sini menggunakan rel R25. Setelah berjalan beberapa meter ke barat, kami menemui sisa wesel.
Jelas ini adalah sisa stasiun Cibenda. Pada saat kami melihat-lihat, pamannya Rizky juga bercerita kalau dulu, stasiun Cibenda adalah tempat dimana kereta api dari Pangandaran dan Cijulang bersilangan.
Beliau juga menambahkan bahwa dulu stasiun Cibenda itu tempatnya terbuka, dan dilatar belakang terdapat banyak hutan. Sekarang stasiun ini telah tertutup semak-semak, dan hutan-hutan tersebut telah menjadi persawahan. Bahkan bangunan stasiunnya juga tinggal pondasinya saja. Itupun juga tersamar diantara tumpukan besar karung-karung pasir!
Pamannya Rizky juga menjelaskan bahwa rel di daerah Cibenda masih aman-aman saja, paling tidak jika dibandingkan dengan yang di daerah Kalipucang yang sudah banyak dijarah pencuri.
Puas melihat-lihat stasiun Cibenda, kami berjalan kembali menuju ke rumah, dimana kami langsung mandi dan sarapan.
Setelah mengepak semua peralatan yang diperlukan (walaupun baju-baju yang tidak diperlukan tidak kami bawa), akhirnya kami berangkat menuju ke Pangandaran naik minibus.

EKSPEDISI PANGANDARAN.
Di Pangandaran kami menyempatkan diri mampir ke supermarket untuk membeli segala kebutuhan yang kami perlukan, khususnya air minum dan makanan kecil. Hal ini perlu dilakukan, mengingat rute yang akan kami hadapi cukup berat, sedangkan tempatnya jauh dari pemukiman. Faktor perbekalan sudah pasti akan menjadi unsur penting. Jadi kehabisan film atau batere kamera masih tidak menjadi masalah jika dibandingkan dengan kehabisan air!
Saya sendiri juga membawa 1 botol besar air mineral, 1 botol kecil air mineral (yang sudah dicampur Extra Joss), serta 2 botol Mizone.
Mas Intrias sendir juga menghimbau semuanya untuk menyiapkan perbekalan untuk mencegah kejadian seperti di Ekspedisi Rancaekek-Tajungsari (dimana Kelik menghabiskan seluruh isi rombong es cendol, karena lupa membawa minum!).
Selesai berbelanja, kami langsung menuju ke stasiun Pangandaran. Kami sempat mencari-cari stasiun tersebut, karena letaknya rupanya telah tertutup bangunan.
Setelah berjalan sebentar menyusuri perkampungan, akhirnya kami berhasil menemui stasiun tersebut. Stasiun Pangandaran ini memiliki tiga jalur. Model bangunannya sendiri mirip dengan stasiun Sembung di Jawa Timur. Bahkan sepur beloknya sangat panjang, kira-kira cukup untuk menampung 10 gerbong modern. Dan yang membuat kami takjub, papan nama di pintu masuk kantor kepala stasiun dan PPKA juga masih terlihat rapi, dan jelas tulisannya. Bahkan di sisi barat stasiun, pagar biru-putih (yang umumnya terdapat di pinggir perlintasan kereta api) masih utuh!
Di sini juga kami bertemu dengan mbak Dian dari majalah KA TV. Kami sempat ngobrol-ngobrol sebentar di sini. Dan pada saat kami melihat-lihat di luar, kami bertemu dengan seseorang yang sedang membersihkan kandang di sisi bangunan stasiun. Pada saat kami melihat bajunya, kami terkejut karena beliau menggunakan seragam PT KA!
Kamipun bertanya kepada beliau mengenai stasiun Pangandaran. Bapak tersebut dengan senang hati menjawab pertanyaan kami.
Beliau adalah pak Karsidi, yang saat ini bekerja di stasiun Gedebage di Bandung. Pak Karsidi adalah penduduk asli dari Pangandaran, dan lahir serta dibesarkan di sini. Pak Karsidi bercerita bahwa beliau memulai karirnya di PT KA (dulu PJKA) di stasiun Pangandaran. Saya tidak ingat jabatan apa yang dipegang pak Karsidi semasa bertugas di Pangandaran.
Namun ada beberapa informasi menarik (kalau bukan mengejutkan) yang kami peroleh dari pak Karsidi.
Stasiun Pangandaran ini dulu dipakai hingga tahun 1984. Dan di tahun-tahun terakhir pengoperasiannya, jalur ini hanya dilayani oleh lokomotif diesel (mayoritas jenis D301, walau kadang-kadang juga memakai BB300). Biasanya gerbong yang dipakai adalah dari jenis CR. Juga, setiap hari ada 4 kereta yang melayani jalur ini, dengan 8 jadwal pergi pulang. Dan hingga awal tahun 1970an, jalur Pangandaran-Cijulang sudah tidak dipakai lagi.
Beliau juga menjelaskan perihal revitalisasi jalur Pangandaran, yang pernah dilakukan dari tahun 1995 hingga 1996. Pada saat itu program perbaikan jalur dari Banjar hingga Banjarsari pada dasarnya sudah rampung. Bahkan kadang-kadang jalur tersebut dilewati lok D301 untuk pengetesan.
Namun seiring dengan terjadinya krisis ekonomi di tahun 1997, proyek tersebut dibatalkan, dan jalur ini tidak pernah dilewati lagi. Lebih parah lagi, sewaktu terjadi ribut-ribut Reformasi, sebagian rel dan kabel telegrafnya mulai dicuri orang. Tidak hanya untuk koridor Banjar-Banjarsari, namun jalur yang seterusnya (yang tadinya masih ada rel dan tiang telegraf) juga ikut dijarahi orang yang tidak bertanggung jawab.
Beberapa rel yang dicuri sudah diamankan PT KA, dan bandar-bandar penadah besar sudah ditangkap polisi. Namun rel-rel yang dicuri oleh penjahat kelas teri hingga kini masih tidak jelas rimbanya. Dan ini sempat membuat pihak kepolisian di daerah ini kelabakan.
Puas ngobrol dengan pak Karsidi, kamipun pamit dan melanjutkan perjalanan kami.

TREKKING PANGANDARAN-KALIPUCANG
Akhirnya kita sampai pada bagian paling seru dan paling menantang dari perjalanan kami, yaitu berjalan kaki menyusuri lembah putri, melewati terowongan Wilhelmina (yang merupakan terowongan KA terpanjang yang pernah ada di Indonesia) serta jembatan Cikacepit (yang merupakan struktur jembatan KA terbesar di Indonesia).
Sebelumnya, kami sempat mampir dulu ke pasar Pangandaran untuk sarapan. Tadinya saya tidak ingin sarapan, karena kalau pagi biasanya saya tidak sarapan. Namun mengingat beratnya medan yang akan kami lalui akhirnya saya memilih untuk sarapan juga. Kami sarapan makan sate di sebuah warung sate Sunda. Kebetulan juga, berhubung nasinya bisa kita ambil sepuasnya, akhirnya sayapun mengambil nasi sebanyak mungkin....
Selesai makan sarapan, kami berangkat naik minibus menuju ke Lembah Putri. Setelah berjalan selama beberapa menit, kamipun turun dari bis di sebuah jembatan yang dahulunya melintas diatas rel kereta api.
Kami sempat memotret-motret di sini, dan juga ngobrol dengan beberapa penduduk yang rumahnya dibangun diatas sebuah bekas jembatan jalan raya. Mereka berkata bahwa dahulu jalan raya mobil melewati jembatan tersebut, tapi kemudian dipindah ke jembatan yang sekarang.
Dari tempat ini juga kami bisa melihat dengan jelas kalau jalan kereta api dahulu melewati sebuah ceruk yang sangat dalam (sekitar 15 meter). Setelah ngobrol sebentar, kamipun mulai turun untuk menyusuri rel.
Tidak ada yang tersisa sama sekali dari jalur rel tersebut. Hanya sedikit batu ballast yang memberi petunjuk bahwa dahulu di sini ada rel. Dan setelah menembus sedikit sema-semak akhirnya kami sampai di jembatan KA Ciputrapinggan di muara sungai Cipanerekean.
Pemandangan di sini sangat indah sekali, karena dari sini bibir pantai hanya sekitar 100 meter saja. Dan banyak terdapat pohon kelapa di sini. Bahkan laut lepas bisa terlihat dengan jelas. Pemandangan di sini terlihat sangat indah sekali.
Namun sayangnya, kondisi jembatan kereta api tersebut sangat parah, karena rel dan bantalannya sudah tidak ada. Jadi rencana kami untuk menyeberangi jembatan tersebut terpaksa kami urungkan, dan kamipun berjalan ke bawah. Walaupun kami sempat ragu untuk menyeberang, karena ada kali yang agak lebar (sekitar 20 meter). Walaupun dangkal, namun konon daerah muara sungai biasanya banyak buayanya, dan kamipun jadi ragu untuk meneruskan ekspedisi.....
Namun kami beruntung karena di dekat situ ada seorang penyadap nira (getah kelapa) yang sedang bekerja. Kamipun bertanya apakah mungkin sungai tersebut diseberangi. Orang tersebut berkata bahwa di bibir pantai daerahnya masih relatif kering sehingga bisa diseberangi.
Setelah mengucapkan terima kasih, kamipun berjalan selama beberapa meter menuju bibir pantai, sampai akhirnya kami sampai di ujung muara sungai. Dan daerah dimuara sungai ternyata tidak tegenang sehingga otomatis kita bisa berjalan di pasir pantai. Wah asyik! Selama kami menjalani railfanning, baru kali ini kami bisa melampiaskan hobby kereta api sambil berjalan-jalan di pantai!
Namun di pantai yang sepi dan terisolir ini banyak ditemui rongsokan bekas tragedi tsunami beberapa minggu sebelumnya. Banyaknya sampah-sampah manusia (seperti bungkus rokok atau botol air mineral) menjadi bukti jelas kalau sampah tersebut dibawa dari Pangandaran oleh gelombang raksasa, mengingat pantai Cipanerekean adalah daerah yang sepi dan terisolir.
Saya sempat bercanda dengan mas Intrias, kalau pantai sesepi ini kayaknya ideal juga buat pantai nudis (seperti beberapa pantai terisolir di Bali). Mas Intrias langsung menimpali, kalau keretanya dihidupkan lagi, bisa-bisa kaum nudisnya diketawai dan diteriaki oleh penumpang KA. Ha..ha..ha...
Beberapa meter kemudian, tampak bahwa jembatan Ciputrapinggan ternyata adalah jembatan campuran struktur baja dan beton (seperti jembatan Rancagoong di rute Soreang-Ciwidey).
Kamipun kemudian mendaki naik ke jalur kereta api kembali, melewati sebuah lereng 45 derajat di pinggir jembatan beton tersebut. Sesampainya diatas, kami beristirahat sebentar.
Selesai berisitrahat, kami melanjutkan lagi perjalanan kami. Bagian dari perjalanan kali ini terasa cukup menyenangkan, karena bekas relnya benar-benar terletak di tebing di pinggir laut. Bahkan bagian dari jalur yang di atas tebing ini cukup panjang juga. Dari tempat ini, laut lepas terlihat dengan jelas sekali. Semenanjung Pangandaran serta Nusa Kambangan juga terlihat dengan jelas. Jadi cukup jelas bahwa jalur ini adalah jalur kereta api yang sangat unik dan tiada duanya, karena menyusuri tepi samudera. Sungguh suatu pemandangan yang luar biasa.
Namun karena letaknya yang tersembunyi dan terisolir jelas memudahkan pekerjaan maling, dan karena itulah di bagian ini tidak ada rel maupun kabel telegraf yang tersisa. Bahkan bekas-bekas perambahan hutan pun terlihat dengan jelas disini. Banyak pohon-pohon jati yang dibakar atau ditebang di sini.
Sambil berjalan, kami juga melihat peta Topografi kami. Menurut peta, di depan kami akan ada 3 jembatan besar. Berarti kami harus menyiapkan diri, apakah untuk menyeberanginya, atau naik turun lembah.
Beberapa kilometer di depan, menjelang daerah Karangnini, akhirnya kami bertemu dengan sebuah jembatan yang cukup tinggi dan panjang. Kami bertanya-tanya, apakah ini jembatan Cikacepit?
Kami sempat meraba-raba mencari jalan turun, dan sekali lagi, kami bertemu seseorang. Kami bertanya jalan, dan setelah diberitahu, kamipun mneyusuri jalan turun, dan akhirnya berhasil melewati jembatan tersebut tanpa menyeberanginya.
Sebenarnya ada beberapa pertimbangan mengenai kenapa kami tidak bisa menyeberangi jembatan tersebut. Pertama, karena kondisinya sudah rusah dan tidak layak untuk diseberangi. Rel dan bantalannya sudah tidak ada. Selain itu, mas Nur sendiri juga tidak suka menyeberangi jembatan tinggi.
Sesampainya diatas kembali, kami beristirahat sebentar, kemudian melanjutkan perjalanan lagi.
Beberapa meter setelah berjalan kedepan, kami menemukan perlintasan sebidang, dimana jalan menuju ke tempat wisata Karangnini melintasi jalan raya. Namun, nampaknya pada saat jalan tersebut ditinggikan, relnya malah kelihatan seperti terbenam. Bahkan ada satu rel yang tenggelam di dalam empang. Walaupun pada saat kami di situ, empangnya masih kering.
Kami kemudian melanjutkan perjalanan kami kembali. Dan setelah beberapa meter ke depan, kami bertemu jembatan besar lagi. Tadinya kami pikir ini jembatan Cikacepit. Namun karena ukurannya terlihat lebih kecil dari jembatan sebelumnya, kami menyimpulkan bahwa jembatan ini bukan jembatan Cikacepit.
Sekali lagi kami menaiki dan menuruni jembatan tersebut, namun kali ini kami sempat tersasar-sasar, karena jalannya tidak jelas, dan relnya juga sudah tidak jelas juntrungnya.
Repotnya, baru sekitar 10 meter kami naik kembali, di depan kami ada jembatan besar lagi! Jembatan ini juga kelihatan lebih besar dari kedua jembatan sebelumnya, jadi kami awalnya menyimpulkan bahwa jembatan ini adalah jembatan Cikacepit.
Kami sempat agak ngeri melihat pemandangan ke depan, karena selain lembahnya cukup dalam, di lembahnya hanya ada hutan saja. Kamipun kemudian menuruni lembah ini. Jalannya yang cukup terjal membuat kami beberapa kali terperosok.
Ketika kami sampai di dasar lembah, tiba-tiba tercium bau gula kelapa yang lagi dimasak. Rupanya di dasar lembah ada sebuah perkampungan kecil, yang hanya terdiri dari sekitar 3 rumah saja.
Karena letih, kamipun memilih untuk berisitirahat di sini saja. Kami bertanya kepada penduduk setempat apakah ini jembatan Cikacepit. Bapak tersebut berkata bahwa ini adalah jembatan Cipambokongan. Jembatan Cikacepit masih jauh dari tempat kami sekarang.
Mas Intrias juga bertanya apakah kami boleh membeli kelapanya. Bapak tadi menyarankan agar kami bertanya saja kepada sang pemilik rumah yang ada di dekat situ. Kamipun bertanya kepada sang pemilik rumah. Sang pemilik rumah mengijinkannya, bahkan juga mengambilkan kelapa untuk kami. Jumlahnyapun lebih banyak dari jumlah kelompok kami.
Kamipun berpesta kelapa muda di sini. Wah puas juga rasanya bisa berpesta pora setelah letih menaik turuni lembah. Sayapun menghabiskan 3 buah kelapa!
Pada saat kami makan-makan penduduk setempat juga bercerita bahwa kadang-kadang suka ada beberpa turis asing yang juga melakukan hal yang sama seperti kami lakukan, yaitu menyusuri rel kereta api!
Pada saat kami lagi sibuk memakan kelapa, tiba-tiba muncul sekelompok (•︡益︠•). Tadinya kami pikir itu gerombolan (•︡益︠•) liar, namun dari peneng yang dikenakan, jelas mereka adalah (•︡益︠•) piaraan. Dan dibelakang (•︡益︠•) tadi muncullah sekelompok orang berseragam Perhutani lewat. Rupanya mereka baru saja menangkap babi hutan, yang jumlahnya banyak di daerah ini. Mereka tampak sedang membawa babi hutan yang ditaruh dalam kurungan, yang dibawa oleh beberapa penduduk setempat.
Setelah puas menghabiskan kelapa, kamipun membayar uangnya ke bapak tadi. Setelah itu kami memanjat tebing lagi dan melanjutkan perjalanan kami lagi.
Entah kenapa, sesampainya diatas, saya tiba-tiba sudah merasa haus lagi...
Kami berjalan melewati bagian rel yang terletak persis di pinggir jurang yang sangat dalam. Bila saya banding kan dengan jurang yang ada di pinggir jalur KA Nagreg-Lebakjero, jurangnya kelihatan lebih dalam, namun tidak selebar jurang yang ada di dekat Nagreg tersebut.
Setelah beberapa meter berjalan, di depan kami tampak samar-samar sebuah struktur beton yang tertutup pepohonan. Setelah kami dekati lagi, tampak jelas kalau itu adalah portal sebuah terowongan.
Akhirnya, kami sampai juga di terowongan Wilhelmina yang terkenal itu! Sebelum kami masuk, kami sempat bertanya dengan beberapa penduduk setempat yang juga berjalan di depan kami (yang karena suatu hal menghindari terowongan tersebut) apakah terowongan itu bisa diseberangi. Mereka berkata bahwa terowongan itu bisa dilewati, asal kita membawa senter.
Kamipun mulai mempersiapkan semua peralatan penerangan kami. Semua senter kami keluarkan, tapi apesnya lampu petromax mas Intrias tumpah! Untungnya semua minyaknya masih tertampung di tas plastik pembungkus lampu, sehingga bisa diisikan kembali ke lampu tersebut.
Setelah lampu-lampu disiapkan, kamipun menyeberangi terowongan itu. Mas Nur sempat berkata bahwa kelihatannya terowongan ini bukan yang terpanjang, karena ujung terowongan terlihat dekat. Namun saya menyangkalnya karena hal tersebut bisa merupakan sebuah effek visual. Akhirnya mas Intrias mengusulkan agar kita melihat jam saja.
Kami berjalan perlahan-lahan, karena kontur tanah di dalam terowongan tidak rata. Hal ini disebabkan karena bantalan yang telah dicabut menyebabkan adanya lubang-lubang di dalam terowongan. Rizky sempat kesulitan mengikuti langkah kami, karena beberapa kali tersandung. Akhirnya, mas Nur mengusulkan agar kami berjalan sejajar saja.
Kami berjalan sambil sesekali melihat ke belakang, untuk mengetahui seberapa jauh kami berjalan. Lama kami berjalan, tapi tampaknya jarak yang kami tempuh seperti tidak berubah saja. Saya perhatikan jam saya (yang ada lampunya), rupanya 15 menit sudah berlalu!
Setelah beberapa menit berjalan, tampak jika kedua ujung terowongan kelihatan sama besarnya. Berarti kita sudah di tengah terowongan. Kamipun menyempatkan diri untuk berfoto-foto di dalam sebuah lubang perlindungan di tengah terowongan. Mbak Dian, karena risih dengan suasana angker di dalam, agak malu-malu untuk menjauh dari kita.
Selesai foto-foto, kami berjalan lagi. Dan kali ini mulut terowongan di depan kami tampak lebih besar daripada mulut yang di belakang. Namun, ketika kami sudah dekat mulut, mas Nur sempat menunjuk sebuah susunan batu yang unik di dinding terowongan. Kamipun berhenti untuk melihat. Susunan batu tersebut kelihatan unik, karena terdiri dari batuan endapan pasir laut. Tapi yang cukup spekatkuler adalah, di dinding terowongan terlihat ada alur-alur patahan bumi. Jadi jelas bahwa daerah Pangandaran memang merupakan daerah rawan gempa. Dan tanah dimana terowongan Wilhelmina itu dibangun pernah menjadi sumber sebuah gempa bumi di jaman lalu.
Mas Nur sempat memperagakan jenis batuannya dengan memukul-mukulkan sebuah batu ke dinding terowongan hingga pecah, namun saya sempat mengamankan satu batu, untuk disimpan sebagai arsip IRPS.
Setelah melanjutkan perjalanan kami selama beberapa meter, akhirnya kami sampai di mulut terowongan! Kamipun menyalami satu sama lain atas keberhasilan misi kami. Mas Nur juga sempat mengirim SMS ke beberapa rekan IRPS Jakarta, termasuk mas Nova yang juga merupakan putra daerah Kalipucang.
Namun ada beberapa hal janggal yang saya temui di sini. Di mulut terowongan tampak beberapa sampah bungkus makanan. Dari merknya jelas ini adalah jenis makanan yang sedang populer saat ini. Padahal daerah ini cukup terisolir. Dan lantai terowongan ada beberapa bekas jejak sepatu boot....Selain itu, tampak juga beberapa bekas reruntuhan bangunan. Kami menduga bahwa itu adalah bekas bangunan stasiun Sumber.
Kamipun melanjantkan perjalanan kami lagi. Kali ini terlihat bahwa jurang di sisi kanan rel makin lama makin dalam. Mas Intrias sempat takjub melihat hal tersebut, dan menduga bahwa bekas pasir urukan terowongan digunakan untuk menimbun lembah buat rel KA.
Setelah berjalan selama beberapa menit, kami menemui sebuah terowongan lagi. Kali ini terowongan tersebut tidak lurus, dan berbelok ke kanan. Namun karena cukup pendek (kurang dari 100 meter) maka kami memutuskan untuk tidak menggunakan senter. Apalagi cahaya dari ujung satunya bisa terlihat dengan jelas.
Kami langsung saja masuk ke terowongan. Namun ada hal yang unik sewaktu kami masuk ke terowongan. Dinding parit di tepi terowongan kelihatan seperti baru dicor ulang. Bahkan di lubang perlindungan, dindingnya kelihatan seperti baru dicat putih, karena tidak tampak nodanya. Apakah berarti proyek revitalisasi jalur Pangandaran waktu itu sudah menjangkau terowongan ini? Selain itu, ada juga hal yang unik di atas lubang tersebut, karena ada penyangga kabel telegraf. Mungkin juga dulu kabel telegrafnya lewat di dalam terowongan?
Baru beberapa meter berjalan, lagi-lagi kami menemui jembatan besar. Tapi kayaknya jembatan ini terlihat cukup kecil, sekitar 60 meter panjangnya dan 15 meter tingginya. Namun karena kondisinya yang tidak layak, kamipun menuruni tebing lagi.
Tapi sesampainya di bawah, seorang penduduk berkata bahwa jalan ini bukan jalan untuk menyeberangi lembah. Jalan yangseharusnya ada di seberang satunya lagi. Dengan agak kesal, kami menaiki tebing lagi. Tapi sesampainya diatas, kami duduk-duduk dulu sambil menikmati sisa perbekalan kami.
Selagi makan, mas Intrias juga menjelaskan nama-nama jembatan dan terowongan yang kami lalui. Terowongan Wilhelmina, ternyata nama lokalnya adalah terowongan Sumber. Lalu terowongan pendek yang baru kami lalui adalah terowongan Bengkok. Dan jembatan tempat kami berpesta kelapa tadi adalah jembatan Cipambokongan.
Dan mengenai cat di lubang perlindungan di terowongan Bengkok, mas Nur menjelaskan bahwa mungkin sekali proses pengecetan dilakukan akhir tahun 90an, tapi masih kelihatan baru. Hal ini dikarenakan oleh minimnya sinar ultraviolet, yang menyebabkan tiadanya pigmentasi di dalam terowongan.
Selesai makan, kami melanjutkan perjalanan lagi. Dan setelah beberap ratus meter berjalan kami menemui sebuah jembatan besar lagi. Tadinya kami ragu, apakah ini jembatan Cikacepit? Dari atas sini, jembatan kelihatan pendek. Namun, baru setelah melihat orang berjalan di bukit di seberang lembah, jelas bahwa ini bukan jembatan yang pendek.
Seperti yang sebelum-sebelumnya, kamipun berjalan menuruni lembah, melewati jalan setapak yang terlihat jelas di bawah. Semakin kebawah, jembatan ini kelihatan semakin besar. Jelas ini jembatan Cikacepit.
Di sekitar dasar lembah, kami bertemu dengan seorang petani yang sedang beristirahat dengan anak-anaknya. Petani itu menjelaskan bahwa jembatan ini adalah jembatan Cikacepit. Jembatan ini dulu dipakai hingga tahun 1984. Namun pada tahun 1987 jembatan ini mulai dicuri oleh beberapa oknum berseragam tentara. Pada saat beraksi mereka biasanya berdalih bahwa jembatan ini akan digeser. Wah, karena itulah mengapa sebagian kaki-kaki jembatan tampak sudah hilang.
Setelah selesai mengobrol, kamipun melanjutkan perjalanan kami. Medan kali ini memang tidak seberat yang sebelumnya, namun kaki saya terasa sangat nyeri. Rupanya saya sudah cukup letih! Walaupun medan di bawah relatif rata, tapi saya mengarang kesakitan.
Perjalanan dibawah lembah ternyata cukup jauh. Mas Nur berkata bahwa jembatan Cikacepit ini panjangnya 1,2 kilometer. Beda dengan jembatan Kali Serayu-Kebasen yang hanya sekitar 1 kilometer. Berarti jembatan ini adalah yang terpanjang di Indonesia. Dan karena jembatan ini cukup tinggi (sekitar 50 meter) berarti jembatan ini adalah struktur jembatan kereta api terbesar di Indonesia.
Setelah bersusah payah menaiki tebing kembali, kamipun berpotret-potret di sekitar jembatan. Dari tempat kami berfoto, terlihat jelas bahwa jembatan ini sangat besar sekali. Bahkan bisa dibilang inilah jembatan kereta api terbesar yang pernah saya lihat.
Dari atas jembatan terlihat bahwa ada satu bentang jembatan yang sudah melengkung (buckled).
Ternyata tepat di dekat jembatan, ada terowongan kereta api lagi. Terowongan ini relatif pendek. Dan uniknya, terowongan ini telah beralih fungsi menjadi terowongan mobil. Cukup unik, tapi itulah kenyatannya. Dan beberapa kali kami melihat ada sepeda motor yang lewat di sini.
Setelah menembus terowongan, kami akhirnya berhenti untuk beristirahat dan sholat di sebuah surau di dekat situ.

MENJELANG KALIPUCANG
Waktu berisitirahat itu kami manfaatkan untuk melemaskan otot. Kaki saya juga sudah terasa mulus (mulus karena bengkak maksudnya), dan agak melepuh. Tapi paling tidak sudah terbiasa menggunakan sepatu boot berat saya.
Setelah usai ngobrol-ngobrol dan sholat, kamipun melanjutkan perjalanan kami kembali. Namun, walaupun terletak pinggir jalan raya, sisa jalur kereta api malah makin susah terlihat. Kami sempat kehilangan arah. Akhirnya kami memutuskan untuk bertanya kepada penduduk di sekitar situ. Mereka berkata bahwa jalan rel masuk ke dalam jalan desa di dekat situ.
Kamipun menyusuri jalan tersebut, dan makin lama makin jelas lagi. Mas Intrias menjelaskan bahwa disini adalah bekas rel kereta karena ada bekas batu kricak mulai tampak lagi. Sebagia catatan, jenis bebatuan yang dipakai batu kricak adalah batu vulkanik, bukan batu gamping yang biasa dijumpai di daerah ini.
Dan makin lama jalur mulai memasuki ceruk. Terkadang juga melewati pematang tinggi. Dan ada kalanya melintasi jalan besar (bukan jalan utama) dan perkampungan penduduk.
Setelah sekitar 30 menit berjalan, akhirnya kami sampai juga ke Kalipucang. Kalipucang hanyalah sebuah kota kecil. Namun bagi kami kota itu punya makna tersendiri, karena disini terdapat stasiun terbesar di jalur ini.
Tadinya kami sempat mencari-cari letak stasiun tersebut. Namun di dekat sebuah pertigaan jalan besar, kami menemui sebuah bekas perlintasan kereta api. Rambu perlintasan kereta api ala tahun 1970an juga masih ada, lengkap dengan pagar putih birunya. Hanya saja rel dan palang pintunya sudah tidak ada.
Kami melihat bekas perlintasan tersebut, dan tampaknya dahulu ada 2 jalur kereta api yang melintas jalan raya ini.
Namun usaha kami mencari stasiun di dekat situ sia-sia saja, karena tidak terlihat bekasnya. Kami kemudian berjalan sekitar beberapa kilometer ke arah utara, dan setelah bertanya-tanya dengan penduduk, akhirnya kami berhasil menemukan bekas stasiun Kalipucang.
Kondisi stasiun ini sudah tidak karu-karuan. Bekas lahan parkirnya kini telah dibangun rumah-rumah penduduk (dan semuanya kelihatan baru). Bangunan stasiunnya sudah rusak berat, walaupun bentuknya masih jelas. Dan bekas emplasemen stasiunnya telah rimbun dengan pepohonan yang ditanam penduduk.
Mas Nurcahyo dan mas Intrias berkata bahwa dulu disini tempatnya cukup lapang dan terbuka. Dan hingga akhir tahun 1990an ada sebuah (ternyata ada 2, menurut penduduk) gerbong CR. Mirip dengan gerbong yang baru dikirim dari Banjar ke Ambarawa beberapa tahun silam.
Mungkin, jika saya bayangkan, suasana stasiun ini mungkin mirip stasiun-stasiun di antara Banjar-Kroya, seperti Jeruklegi atau Gandrumangun.
Selesai memotret-motret stasiun Kalipucang, kami langsung pergi mencari tempat makan, karena perut kami sudah keroncongan semua. Akhirnya kami memutuskan untuk makan di sebuah restoran di dekat persimpangan jalan. Sebagai tambahan info, kecap manis di restoran ini menurut saya adalah yang terenak di dunia!
Seusai makan, kami langsung kembali lagi ke Cibenda naik minibus. Kami semua sudah letih dan pegal-pegal. Namun kami benar-benar puas hari itu.

KEMBALI KE BASE CAMP.
Sesampainya ke rumah saudara Rizky, kami langsung mandi dan beristirahat. Mas Intrias, seusai mandi, langsung membalas kurang tidurnya dan langsung ngorok sepuasnya!
Mbak Dian langsung diantar mas Nurcahyo menuju ke Pangandaran untuk mencari penginapan.
Saya sempat ngobrol-ngobrol sebentar dengan saudaranya Rizky. Dia berkata bahwa dulu dia juga sempat naik KA dari Banjar hingga Cibenda, hingga tahun-tahun terakhirnya di tahun 1984.
Dia juga pernah tinggal di Kalipucang. Dia juga berkata bahwa beberapa tahun setelah jalur tersebut ditutup, kalau malam hari suka terdengar gemuruh besi berat jatuh di kejauhan. Rupanya yang dia dengar adalah proses pembongkaran jembatan Cikacepit (secara illegal tentunya).
Selesai ngobrol, saya langsung tidur disebelah kucing piaraan mereka. Kucing lucu ini rupanya juga menemani tidur saya. Bahkan pada saat bangun pagi, rupanya si kucing telah memeluk kaki saya!

MENUJU BANJAR
Pagi hari, kami semua langsung mandi dan berkemas-kemas. Menurut rencana, hari itu kami akan menyusuri sebuah terowongan di dekat kota Banjar.
Tadinya kami mau langsung turun dari bis di dekat terowongan itu. Namun karena bawaan kami yang berat, maka kami memutuskan untuk turun di stasiun Banjar dan memulai trekking dari situ. Kami memilih stasiun, agar kami bisa menitipkan barang kami terlebih dahulu.
Setelah menyantap sarapan, kami langsung bersiap-siap berangkat. Dan setelah pamit dengan tuan rumah, kamipun berangkat.
Mas Intrias berangkat naik motor menuju ke stasiun Parigi terlebih dahulu, sebelum tancap gas ke Banjar. Saya, mas Nur dan Rizky langsung mencegat minibus. Pada saat bis berhenti di Pangandaran, mbak Dian juga ikut bergabung dengan kita. Kemudian bisa berangkat ke Banjar.
Di daerah perbukitan di dekat Kalipucang, kami sempat berusaha untuk melihat bekas jalur KA, yang kami lalui sehari sebelumnya. Namun sulit, karena terhalang warung dan pepohonan. Tapi menjelang Kalipucang, kami sempat melihat jembatan Cikacepit, yang terlihat agak jelas di lembah di balik pepohonan.
Jika dilihat-lihat, susah dipercaya bahwa jalan yang kami telusuri sepanjang hari itu, bisa dilewati oleh bis dalam waktu sekitar 20 menit. Bayangkan, berapa lama jika dengan kereta api?
Setelah tersendat-sendat (karena banyak berhenti), akhirnya kami sampai di Banjar. Tadinya kami mau turun di perlintasan kereta api, namun rupanya bis melewati perlintasan yang agak jauh dari stasiun, sehingga otomatis kami harus turun di terminal bis....
Dan karena waktunya yang agak mepet, darah saya mulai mendidih! Rasanya mau memaki-maki sopir bisnya, tapi apa daya.
Di sini, mas Nurcahyo berpisah dengan kita, karena mas Nur harus pergi naik bis ke Majenang. Kami bertiga akhirnya naik angkot menuju stasiun. Tapi dasar, angkot di Banjar rupanya punya kebiasaan buruk ngetem sambil berjalan mundur. Saya mungkin sudah marah-marah ke sopir angkot, kalau seandainya mbak Dian tidak menanyai saya beberapa pertanyaan untuk interview. Saya jawab interviewnya, itung-itung menenangkan perasaan saya....
Setelah beberapa menit, akhirnya kami sampai ke jembatan diatas stasiun Banjar. Dan kemudian kami turun di sini.

BANJAR
Setelah berjalan, kamipun bertemu dengan mas Intrias, yang lagi asyik ngobrol dengan seorang mantan Juru Periksa Jalan untuk daerah Kalipucang-Sumber (Wilhelmina), yang kini jadi pemilik warung. Mas Intrias rupanya sudah datang 1 jam lebih awal, walaupun sempat mapir ke Parigi. Wah...!
Kamipun sempat ngobrol-ngobrol dengan bapak tersebut. Bapak tersebut rupanya pernah jadi juru periksa jalan untuk rute Kalipucang-Sumber. Beliau berkata bahwa dulu daerah itu lebih sepi daripada sekarang. Walaupun sering mendengar suara-suara hewan liar, khususnya pada malam hari, tapi beliau tidak pernah diganggu. Beliau sering sekali melintasi jembatan Cikacepit pada malam hari. Semua itu dia lakukan selama dua tahun, antara tahun 1962 hingga 1964.
Namun, karirnya sebagai Juru Periksa Jalan berakhir setelah kawannya tewas pada sebuah tugas, dimana kawannya (yang bekas JPJ di stasiun Karanganyar, Jawa Tengah) tersebut terpeleset dan jatuh dari jembatan Cikacepit pada suatu hari yang bergerimis. Jenazahnya, kata bapak itu, besoknya ditemukan sudah tercerai berai di dasar lembah,. Karena kejadian itu, bapak tadi mengajukan surat pemberhentiannya.
Setelah ngobrol dengan bapak tadi, kami sempat merundingkan, apakah jadi ke terowongan atau tidak. Namun, berhubung waktunya yang sudah mepet (waktu itu sudah pukul 12 siang) akhirnya saya, Riky, dan Dian memutuskan untuk langsung bertolak ke Bandung. Sedangkan trekking ke terowongan akan dilakukan mas Intrias sendiri.
Selesai dari warung, kami langsung mampir ke depo lokomotif Banjar. Di dalam depo, ada lok BB30017 dan BB30135.
Kami juga sempat ngobrol dengan seorang pengawas, yang rupanya mantan masinis KA ke Pangandaran. Pada waktu saya tanya, mengenai kapan lokomotif diesel mulai dipakai di jalur itu, beliau berkata bahwa lok diesel mulai dipakai tahun 1958, semenjak adanya lok BB300. Semua lok BB300 milik depo Banjar saat ini rupanya pernah dipakai ke Pangandaran. Dan beliau adalah veteran di jalur itu.
Setelah itu kamipun melihat-lihat depo, sekaligus melepas ‘kerinduan’ kami akan kereta api yang masih berjalan, setelah hampir 2 hari melihat jalur kereta yang sudah mati!
Selesai dari depo, kami menuju ke stasiun, dimana pada saat yang bersamaan, KA Sawunggalih dari Kutarjo masuk, ditarik lokomotif CC20147.
Rizky dan Dian asyik memotreti KA tersebut, sementara saya dan mas Intrias asyik melahap es cendol-cincau yang dijual di dekat depo. Pada saat asyik makan, tiba-tiba saya bertemu si Rizi! Rupanya dia juga asyik lagi jalan-jalan naik KA Lodaya. Waktu saya tanya, mengapa dia tidak ikut ekspedisi, rupanya dia tidak tahu!
Selesai ngobrol-ngobrol, kamipun berpisah: mas Intrias melanjutkan perjalanannya dengan motornya, sedangkan yang lainnya (termasuk saya) pulang naik KA Lodaya.

PULANG KE BANDUNG
Seperti yang kami sepakati, sore itu kami akan pulang naik KA Lodaya. Tapi di kabin lokomotif! Mbak Dian bukan hanya tidak pernah naik di loko, tapi juga belum pernah naik KA di daerah Parahyangan Timur. Jadi ini merupakan sebuah kesempatan emas.
Dan hari itu kami cukup beruntung: rupanya KA Lodaya ditarik lokomotif CC20307, bukan CC201.
Setelah berhenti agak lama, kamipun langsung menyerbu kabin lokomotif. Selain kami bertiga (Rizy naik di gerbong), ada tiga orang lagi di kabin. Jadi total hari itu ada 8 orang di kabin.
Setelah peluit dibunyikan, keretapun berjalan menuju ke Bandung. Sayapun sempat bertindak sebagai ‘guide’ bagi mbak Dian, karena saya memang agak fasih daerah ini.
Tidak banyak yang bisa saya ceritakan mengenai perjalanan kali ini, namun karena ocehan saya, bapak-bapak masinis itu malah jadi kagum sama saya....
Di Tasik, kita ketambahan satu orang lagi, sehingga otomatis ada 9 orang di kabin. Untungnya orangnya rata-rata kecil, kecuali saya.
Pemandangan di depan kelihatan cukup spektakuler, dan yang melegakan, kami menikmatinya dari atas kereta. Terkadang saya diberi kesempatan untuk duduk di kursi asisten masinis, sehingga saya bisa menikmati angin pedesaan yang nyaman.
Pada saat asyik-asyik menikmati perjalanan, mas Intrias memberi SMS kepada mbak Dian bahwa dia punya kabar baik dan buruk. Kabar baiknya, trekking ke terowongan berjalan sangat sukses. Kabar buruknya, motornya tiba-tiba mogok karena kehabisan bensin!
Di Cipendeuy, rupanya saya dapat bonus: KA Serayu rupanya disetir mas Suryadi! Sayapun menempelkan wajah ke jendela depan lokomotif dan melambai-lambai. Mas Suryadi yang melihat langsung membalas melambai dengan entusias.
Setelah beberapa jam perjalanan, kami akhirnya kembali dengan selamat di stasiun Bandung, dan berakhirlah ekspedisi kami.

Wassalam.

Diceritakan oleh: Bagus Widyanto.
Berikut adalah nama-nama peserta (REVISI TGL 29 JUNI 2009) yang telah melunasi biaya dan positif ikut untuk Jelajah Jalur KA Banjar - Cijulang...........
1. Ario Wibisono
2. Asep Suherman
3. Aditya Dwi Laksana
4. Tjahjono Rahardjo
5. Tjahjono Rahardjo (istri)
6. Tjahjono Rahardjo (anak)
7. Tjahjono Rahardjo (anak)
8. Ken Yudhi Satrio
9. Yoga Bagus Prayogo
10.Slamet Haryadi
11.Zudi Susanto
12.Ersta Kurniawan
13.Fajar Arifianto
14.Yudha Nugrahadi
15.Syaeful Hartono
16.Ilham Pratama
17.Wahyu Santoso
18.Deden Suprayitno
19.Krisnaharel
20.Dimas Permadi
21.Ardian H
22.Trisilo
23.Tommy Aditya
24.Leo Krisanto
25.Saleh Purwanto
26.Soni Gumilang
27.Karyadi Baskoro
28.Gio Dariyo
29.Adi Yulandi
30.Nilawati Sativana
31.Muhammad Noufal
32.Yudha Nugraha
33.Wulandari
34.Shintawati
35.Nurcahyo M
36.Pura Krisnamurti
37.Rendy

Beberapa rekan berencana berangkat dari Jakarta Kota dan Jatinegara dengan naik KA Serayu :

Jumat, 03 Juli 2009 pukul 08.25 WIB (KA Serayu pagi)
Yang berangkat
a. Aditya DL
b. Dimas Permadhi (berangkat dari KAC 12.30)
c. Ardian (berangkat dari KAC 12.30)
d. krisnaharel (berangkat dari KAC 12.30)

Jumat, 03 Juli 2009 pukul 20.25 WIB (KA Serayu malam)
Yang berangkat
a. Saleh Purwanto
b. Soni Gumilang
c. Ersta Kurniawan
d. Ken Yudhi Satrio
e. Slamet Haryadi

Mewakili seluruh panitia, saya mengucapkan terima kasih bagio rekan-rekan yang telah ikut berpartisipasi dan bagi yang belum/akan ikut silahkan daftar, pintu pendaftaran kami buka se oftimal mungkin (mungkin 1 hari sebelum hari "H")


salam Semboyan 35

asep Suherman

Kalo naek KA Serayu musti pesan tiket dari sekarang apa bisa langsung di tasyun pemberangkatan?

[Image: 5147433576_a332603046.jpg]
Pengin naik kereta ke Pangandaran lagi
Jalur hidup bisa mati, tapi jalur yang mati lebih baik dihidupkan lagi
(01-07-2009, 07:24 AM)g10d Wrote: Kalo naek KA Serayu musti pesan tiket dari sekarang apa bisa langsung di tasyun pemberangkatan?

mending pesen dr skarang aja kang biar ngga kehabisan hehehe
(01-07-2009, 08:22 AM)Rezza Habibie Wrote:
(01-07-2009, 07:24 AM)g10d Wrote: Kalo naek KA Serayu musti pesan tiket dari sekarang apa bisa langsung di tasyun pemberangkatan?

mending pesen dr skarang aja kang biar ngga kehabisan hehehe
Emangnya kalo K3 ada no tempat duduknya ya?

[Image: 5147433576_a332603046.jpg]
Pengin naik kereta ke Pangandaran lagi
Jalur hidup bisa mati, tapi jalur yang mati lebih baik dihidupkan lagi
(01-07-2009, 09:39 AM)g10d Wrote:
(01-07-2009, 08:22 AM)Rezza Habibie Wrote:
(01-07-2009, 07:24 AM)g10d Wrote: Kalo naek KA Serayu musti pesan tiket dari sekarang apa bisa langsung di tasyun pemberangkatan?

mending pesen dr skarang aja kang biar ngga kehabisan hehehe
Emangnya kalo K3 ada no tempat duduknya ya?

lah baru om,klo pakai tiket digital udah ada tempat duduknya,di sawunggalih selatan,kahuripan,progo udah pake tempat duduk hehehe, Back on Topic yookkk
gimana klo yg mau berangkat bareng dikoordinir aja, takutnya ada yang gk bisa dateng cepat karena belum bisa meninggalkan tugasnya/masih ada urusan jadinya gak kebagian tiket....
Berikut adalah nama-nama peserta (REVISI TGL 01 JULI 2009) yang telah melunasi biaya dan positif ikut untuk Jelajah Jalur KA Banjar - Cijulang...........
1. Ario Wibisono
2. Asep Suherman
3. Aditya Dwi Laksana
4. Tjahjono Rahardjo
5. Wahyu Wirasati
6. Prita
7. Nandi
8. Ken Yudhi Satrio
9. Yoga Bagus Prayogo
10.Slamet Haryadi
11.M. Toha
12.Ersta Kurniawan
13.Fajar Arifianto
14.Yudha Nugrahadi
15.Syaeful Hartono
16.Ilham Pratama
17.Wahyu Santoso
18.Deden Suprayitno
19.Krisnaharel
20.Dimas Permadi
21.Ardian H
22.Trisilo
23.Tommy Aditya
24.Leo Krisanto
25.Saleh Purwanto
26.Soni Gumilang
27.Karyadi Baskoro
28.Gio Dariyo
29.Adi Yulandi
30.Nilawati Sativana
31.Muhammad Noufal
32.Yudha Nugraha
33.Wulandari
34.Shintawati
35.Nurcahyo M
36.Pura Krisnamurti
37.Rendy
39.Irhamullah Caesanuary
40.Totok Purwanto
41.Mateta R.
42.Sukendar Mulya

Beberapa rekan berencana berangkat dari Jakarta Kota dan Jatinegara dengan naik KA Serayu :

Jumat, 03 Juli 2009 pukul 08.25 WIB (KA Serayu pagi)
Yang berangkat
a. Aditya DL
b. Leo Krisanto
c. Dimas Permadhi (berangkat dari KAC 12.30)
d. Ardian (berangkat dari KAC 12.30)
e. krisnaharel (berangkat dari KAC 12.30)

Jumat, 03 Juli 2009 pukul 20.25 WIB (KA Serayu malam)
Yang berangkat
a. Saleh Purwanto
b. Soni Gumilang
c. Ersta Kurniawan
d. Ken Yudhi Satrio
e. Slamet Haryadi

Gak kebayang yah peserta sebanyak itu pas blusukan ke terowongan. Kayaknya penduduk setempat pada heran deh.

[Image: 5147433576_a332603046.jpg]
Pengin naik kereta ke Pangandaran lagi
Jalur hidup bisa mati, tapi jalur yang mati lebih baik dihidupkan lagi


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)