Posts: 397
Threads: 0
Joined: Feb 2009
Reputation:
8
(07-05-2009, 08:23 PM)Lukman Wrote: hmmm, kalo soal revitalisasi bangunan dan stasiun bersejarah itu masih belum jelas. berhubung saat ini tengah dilakukan restrukturisasi besar2an di lingkungan PT. Kereta Api (Persero) termasuk juga pendirian unit baru yakni pelestarian dan konservasi (melingkupi bangunan/prasarana dan kereta/sarana) yang juga masih melakukan pekerjaan persiapan, sepertinya hal itu tinggal menunggu waktu saja. tetapi yang menjadi soal adalah prioritas penanganannya, mengingat saat ini PT. Kereta Api (Persero) sedang memfokuskan diri pada penyejahteraan karyawa (yang otomatis juga mengejar peningkatan pendapatan dari lintas beroperasi).
mari kita tetap doakan, jaga aset2 tersebut dan ikut membantu mengkampanyekan penggunaan kereta agar efek dominonya dapat bermuara ke revitalisasi jalur2 tersebut.
IMHO, jika beberapa stasiun tua difungsikan sebagai museum, pengelolaan yang baik tentu akan mendatangkan banyak keuntungan bagi upaya penciptaan kesejahteraan karyawan.
Museum memang diabdikan untuk kepentingan penghayatan sejarah dan pengembangan ilmu pengetahuan, namun mengelola museum bukanlah suatu bisnis yang tak bisa menghasilkan keuntungan.
Salam,
Toto
Posts: 45
Threads: 0
Joined: Apr 2009
Reputation:
1
makasih banyak atas infonya terutama tentang DAOP VII daerah saya ... hehehe ...
Amien semoga setelah semua karyawannya sejahtera Unit Konservasi bisa banyak manfaat nya buat trek sepur yang mati ... sekaligus usul Gimana seandainya untuk meningkatnya income PT.KA jalur tersebut jg dipake angkut barang sehingga peti kemas yang guede2 dan besar dari pelabuhan bisa masuk jauh kedalam di wilayah kota kecataman sepeti pare or slahung demikian terima kasih
Posts: 397
Threads: 0
Joined: Feb 2009
Reputation:
8
08-05-2009, 11:06 PM
(This post was last modified: 08-05-2009, 11:08 PM by Toto.)
(07-05-2009, 09:16 PM)Toto Wrote: (07-05-2009, 08:23 PM)Lukman Wrote: hmmm, kalo soal revitalisasi bangunan dan stasiun bersejarah itu masih belum jelas. berhubung saat ini tengah dilakukan restrukturisasi besar2an di lingkungan PT. Kereta Api (Persero) termasuk juga pendirian unit baru yakni pelestarian dan konservasi (melingkupi bangunan/prasarana dan kereta/sarana) yang juga masih melakukan pekerjaan persiapan, sepertinya hal itu tinggal menunggu waktu saja. tetapi yang menjadi soal adalah prioritas penanganannya, mengingat saat ini PT. Kereta Api (Persero) sedang memfokuskan diri pada penyejahteraan karyawa (yang otomatis juga mengejar peningkatan pendapatan dari lintas beroperasi).
mari kita tetap doakan, jaga aset2 tersebut dan ikut membantu mengkampanyekan penggunaan kereta agar efek dominonya dapat bermuara ke revitalisasi jalur2 tersebut.
IMHO, jika beberapa stasiun tua difungsikan sebagai museum, pengelolaan yang baik tentu akan mendatangkan banyak keuntungan bagi upaya penciptaan kesejahteraan karyawan.
Museum memang diabdikan untuk kepentingan penghayatan sejarah dan pengembangan ilmu pengetahuan, namun mengelola museum bukanlah suatu bisnis yang tak bisa menghasilkan keuntungan.
Salam,
Toto
Foto Stasiun Trem Gondanglegi
Posts: 593
Threads: 0
Joined: Apr 2009
Reputation:
6
sedikit ralat om......
jalur ponorogo badegan itu setau saya dan menurut cerita buyut saya itu merupakan jalur lori (kereta tebu) yg dari stasiun ponorogo dipindahkan ke gerbong tebu kereta api dan di antar sampai ke PG PAGOTAN dan rutenya tidak hanya ponorogo - badegan tapi ada juga jalur lori rute ponorogo - dengok yg melewati depan masjid agung ponorogo atau sebelah barat aloon2 ponorogo...
hehehe... soalnya saya asli pribumi ponorogo
Posts: 269
Threads: 0
Joined: Feb 2009
Reputation:
1
(07-05-2009, 12:09 AM)Toto Wrote: (02-05-2009, 12:00 AM)Lukman Wrote: Salam Railfans,
setelah beberapa hari rehat karena kesibukan diklat yang padat, saat ini saya ingin mengetengahkan data mengenai lintas mati seluruh pulau jawa. hampir semua lintas mati yang pernah ada dan beroperasi di pulau jawa ada disini. berikut ini adalah datanya:
Daop I [255,235 KM] :
1) Mencakup Lintas Rangkasbitung-Labuan (KM 0+000 sampai dengan KM 56+477 );
2) Mencakup Lintas Cilegon-Anyerkidul (KM 10+850 sampai dengan KM 20+900);
3) Mencakup Lintas Saketi-Bayah (KM 0+000 sampai dengan KM 89+350);
4) Mencakup Lintas Karawang-Rengasdengklok (KM 0+000 sampai dengan KM 20+845);
5) Mencakup Lintas Karawang-Wadas (KM 0+000 sampai dengan KM 18+360);
6) Mencakup Lintas Cikampek-Wadas (KM 0+000 sampai dengan KM 15+850);
7) Mencakup Lintas Cikampek-Cilamaya (KM 0+000 sampai dengan KM 27+119);
8) Mencakup Lintas Cigading-Anyerkidul (KM 3+762 sampai dengan KM 20+649);
Daop II : [200,358 KM]
9) Lintas Cibangkonglor – Dayeuhkolot – Soreang – Ciwidey dari KM.4+564 sampai dengan KM 40+396;
10) Lintas Sepur Simpang Cibangkonglor-Kavaleri;
11) Lintas Dayeuhkolot – Majalaya KM 11 +708 sampai dengan KM 29+222;
12) Lintas Rancaekek – Tanjungsari dari KM 0+000 sampai dengan KM 11+250;
13) Lintas Cibatu – Garut – Cikajang dari KM 0+000 sampai dengan KM 47+214
14) Lintas Banjar – Pangandaran – Cijulang dari KM 0+000 sampai dengan KM 82+160 ;
15) Lintas Tasikmalaya – Indihiang – Pirusa dari KM 0+000 sampai dengan KM 5+400.
Daop III : [69,924 KM]
16) Lintas Cirebon-Kadipaten dari KM 0+000 sampai dengan KM 48+824;
17) Lintas Cirebon–Cirebonpelabuhan dari KM.0+000 s.d. KM 2+300;
18) Lintas Cirebonprujakan-Kegiren dari KM 0+000 s.d. KM 0+750;
19) Lintas Jatibarang-Indramayu dari KM .0+700 sampai dengan KM .18+752.
Daop IV : [519,83 KM]
20) Mencakup Lintas Yogyakarta-Ambarawa, sebagai Batas Wilayah Daerah Operasi 4 Semarang dengan Daerah Operasi 6 Yogyakarta ditetapkan pada KM 70+300 antara Grabagmerbabu-Gemawang Lintas Yogyakarta-Ambarawa (KM 70+300 sampai dengan KM 83+440);
21) Mencakup Lintas Kedungjati-Ambarawa (KM 0+000 sampai dengan KM 36+700);
22) Mencakup Lintas Kaliwungu-Kendal-Kalibodri (KM 0+000 sampai dengan KM 17+600);
23) Mencakup Lintas Semarang-Demak-Kudus-Pati-Juana-Rembang-Lasem-Jatirogo (KM 0+000 sampai dengan KM 155+688);
24) Mencakup Lintas Juana -Tayu (KM 0+000 sampai dengan KM 24+554);
25) Mencakup Lintas Kudus-Mayong-Bakalan (KM.0+000 sampai dengan KM 18+000);
26) Mencakup Lintas Demak-Purwodadi-Wirosari-Kunduran-Ngawen-Blora (KM 0+000 sampai dengan KM 104+200);
27) Mencakup Lintas Rembang -Blora-Cepu (KM 0+000 sampai dengan KM 72+100);
28) Mencakup Lintas Bojonegoro-Jatirogo (KM 0+000 sampai dengan KM 48+918);
29) Mencakup Lintas Wirosari-Kradenan (KM 0+000 sampai dengan KM 11+100);
30) Mencakup Lintas Purwodadi-Ngrombo (KM 0+000 sampai dengan KM 7+733);
31) Mencakup Lintas Kudus-Mayong-Bakalan (KM 0+000 sampai dengan KM 23+700).
Daop V : [96,706 KM]
32) Lintas Purwokertotimur-Wonosobo KM 29+200 sampai dengan KM 119+225;
33) Lintas Banjarsari-Purbalingga KM 0+000 sampai dengan KM 6+681.
Daop VI : [91,74 KM]
34) Mencakup Lintas Yogyakarta-Ambarawa, ( KM 0+000 sampai dengan KM 70+300), sebagai Batas Wilayah Daerah Operasi 6 Yogyakarta dengan Daerah Operasi 4 Semarang ditetapkan pada KM 70+300 antara Grabagmerbabu-Gemawang Lintas Yogyakarta-Ambarawa;
35) Mencakup Lintas Yogyakarta-Palbapang (KM 0+000 sampai dengan KM 14+900);
36) Mencakup Lintas Purwosari-Kartosura (KM 5+840 sampai dengan KM 12+319);
Daop VII : [363,959 KM]
37) Lintas Jombang-Pare-Kediri (KM 0+000 sampai dengan KM 49+522);
38) Lintas Jombangkota-Babat (KM 0+000 sampai dengan KM 70+220);
39) Lintas Madiun-Ponorogo-Slahung (KM 0+360 sampai dengan KM 58+345);
40) Lintas Papar-Pare (KM 0+000 sampai dengan KM 15+300);
41) Lintas Pare-Pohsete (KM 0+000 .sampai dengan KM 12+811);
42) Lintas Pare-Konto (KM 0+000 sampai dengan KM 9+895);
43) Lintas Pulorejo-Kandangan (KM 0+000 sampai dengan KM 12+982);
44) Lintas Krian-Ploso (KM 26+536 sampai dengan KM 45+000);
45) Lintas Gurah-Kuwarasan (KM 0+000 sampai dengan KM 9+448);
46) Lintas Pesantren-Wates (KM 4+950 sampai dengan KM 18+582);.
47) Lintas Brenggolo-Jengkol (KM 0+718 sampai dengan KM 10+289);
48) Lintas Tulungagung-Tugu (KM 0+000 sampai dengan KM 48+375);
49) Lintas Ponorogo-Badekan (KM 0+000 sampai dengan KM 48+535).
Daop VIII : [718,209 KM]
50) Lintas Babat-Tuban (KM 0+000 sampai dengan KM 37+948);
51) Lintas Jombang-Babat, antara Nguwok-Babat (KM 70+220 sampai dengan KM 71+431);
52) Lintas Sumari-Gresik (KM 0+000 sampai dengan KM 14+879);
53) Lintas Kandangan-Pasargresik, antara Indro-Pasargresik (KM 9+773 sampai dengan KM 13+665);
54) Wilayah antara Tanjungperak-Jembatan Merah (4,965 KM);
55) Wilayah antara Wonokromo-Jembatan Merah (8,400 KM);
56) Wilayah antara Jl.Raya Gubeng-Jl.Pang.Sudirman (2,000 KM);
57) Wilayah antara Sawahan-Tunjungan (2,800 KM);
58) Wilayah antara Ujung-Krian, dari KM 0+000 sampai dengan KM 37+657 (37+657 KM);
59) Lintas Kamal-Kalianget (di Pulau Madura) dari KM 0+000 sampai dengan KM 177+000;
60) Lintas Kamal-Bangkalan-Tanah Merah (di Pulau Madura) antara-Telang-Bangkalan-Tanah Merah, dari KM 5+700 sampai dengan KM 35+835 (30,135 KM);
61) Lintas Wates-Mojokerto-Ngoro, dari KM 0+000 sampai dengan KM 36+363 (36,363 KM);
62) Lintas Porong-Mojosari-Mojokerto, dari KM 0+000 sampai dengan KM 36.216 (36,216 KM);
63) Lintas Japanan-Bangil, dari KM 1+680 sampai dengan KM 24+765 (23+085 KM);
64) Lintas Bangsal-Pugeran, dari KM 0+000 sampai dengan KM 15+385 (15+385 KM);
65) Lintas Sidoarjo-Tulangan-Tarik, dari KM 25+510 sampai dengan KM 47+657 (22,147 KM);
66) Lintas Krian-Gempolkerep-Ploso, dari KM 0+000 sampai dengan KM 45+542 (45+542 KM);
67) Lintas Malangjagalan-Gondanglegi-Dampit, dari KM 0+000 sampai dengan KM 36+900 (36,900 KM);
68) Lintas Malangjagalan-Singosari, dari KM 0+000 sampai dengan KM 12+100 (12,100 KM);
69) Lintas Blimbing-Tumpang, dari KM 0+000 sampai dengan KM 16+675 (16,675 KM);
70) Lintas Singosari-Malang-Gondanglegi, dari KM,0+000 sampai dengan KM 34+500 (34,500 KM);
71) Lintas Kepanjen-Dampit, dari KM 0+000 sampai dengan KM 31+100 (31,100 KM);
72) Lintas Brongkal-Dinoyo dari KM 0+000 sampai dengan KM 7+300 (7,300 KM).
Daop IX : [177,426 KM]
73) Lintas Jati- Paiton (KM 0+000 sampai dengan KM 36+000);
74) Lintas Klakah-Pasirian (KM 0+000 sampai dengan KM 36+200);
75) Lintas Lumajang-Rambipuji (KM 17+718 sampai dengan KM 76+908);
76) Lintas Balung-Ambulu (KM 0+000 sampai dengan KM 13+801);
77) Lintas Rogojampi-Benculuk (KM 0+000 sampai dengan KM 17+900);
78) Lintas Kabat- Banyuwangilama (KM 76+557 sampai dengan KM 86+200);
79) Lintas Situbondo- Panji (KM 0+000 sampai dengan KM 4+692);
Moderator's Note : Post dipindah dan dijadikan Sticky karena info yang berharga. Trims.
Total : 79 Lintas Tak Operasi ( 2493,387 KM --- 2500 KM)
dari seluruh lintas tersebut ada yang masih menyisakan bekas peninggalannya baik rel, wesel, jembatan, sepur simpang terowongan, emplasemen, stasiun, sinyal, dipo, dan lain2, tetapi lebih banyak yang sidah hilang tak berbekas dan tertimbun tanah (bahkan sudah berdiri bangunan di atasnya! ). jalur2 tersebut memiliki aneka latar belakang dan alasan yang membuat mereka ditutup, dan faktor ekonomi karena kalah bersaing dengan moda angkutan lain adalah yang paling dominan. saat ini, tugas berat PT. Kereta Api (Persero) adalah menjaga dan memanfaatkan aset2 peninggalan tersebut agar dapat di jaga dan di selamatkan atau bahkan dimanfaatkan sebagai pendapatan tambahan. sambil terus berharap agar suatu saat ditemukan formulasi jitu untuk kembali menghidupkan lintas2 mati tersebut dan kembali mengapungkan kejayaan kereta api. mari kita dukung dan doakan ......
wassalam
Gege Wrote:Moderator's Note : Post dipindah dan dijadikan Sticky karena info yang berharga. Trims.
Sekedar menambahkan,
Peninggalan jalur trem Malang (Daop VIII) :
1. Stasiun Gondanglegi dan Malang Jagalan serta halte trem Krebet masih utuh.
2. Stasiun Trem Blimbing (lokasi sebelah timur stasiun KA Blimbing), Stasiun
Tumpang, Stasiun Pakis, Stasiun Bululawang lumayan utuh walaupun
sudah mengalami perombakan untuk kepentingan rumah tinggal maupun
toko.
3. Stasiun Dampit dan Stasiun Talok (Turen) hampir dirombak total.
4. Stasiun Trem Kepanjen (lokasi sebelah barat stasiun KA Kepanjen) dan St Sedayu (Turen) sudah diruntuhkan. Di atasnya berganti bangunan lain.
Pertanyaannya, kapan ada upaya konservasi terhadap stasiun yang masih utuh, seperti Jagalan dan Gondanglegi? Mengingat jejak sejarah yang ditorehkan, apakah dua stasiun itu tidak patut dijadikan sebagai museum?
tasiyun malang jagalan disebelah mananya malang kotalama om?? 
saya pernah jalan kaki dari malang kotalama ke arah kotabaru, sebelum fly over ada rel ke kiri.. saya ngikutin jalur itu terus... tapi ga ada stasiunnya?? jalurnya malah buntu ke arah pasar..
-------------------------------------------------------------------------
I love ciamis station...
Posts: 49
Threads: 0
Joined: Dec 2008
Reputation:
3
stasiun2 dilintas mati itu memang bisa saja dikembangkan dan dikomersilkan menjadi lahan bisnis yang menguntungkan, tetapi terlebih dahulu harus dilakukan studi kelayakan. harus dicari jalan tengah dan formulasi jitu agar nilai sejarah dapat dilestarikan dan keuntungan bisa di dulang untuk kemakmuran perusahaan. cita2 kita memang ingin kembali menghidupkan lintas mati beserta stasiun nya, atau minimal bisa menghadirkan dan melestarikan nilai historis nya seperti halnya Lawang Sewu, tetapi jalan ke arah sana masih cukup terjal dan berliku sekali pun bukan berarti mustahil
penggunaan menjadi jalur yang diperuntukkan sebagai pengangkut komoditas juga bukan sebuah ide yang buruk, tetapi untuk hal yang satu ini kita terkendala di masalah sarana. secara ekonomi, permintaan akan pengangkutan barang cukup tinggi, tetapi tidak cukup dapat diakomodir. jalur2 mati itupun dahulunya memang dominan digunakan untuk angkutan penumpang, sehingga sebenarnya membuka peluang untuk digunakan sebagai jalur pengangkutan komoditas, terlebih untuk daerah2 yang sedang berkembang dan dilaui lintas2 mati tersebut.
tetapi sekali lagi hal itu merupakan wewenang kantor pusat untuk memutuskannya mengingat banyak sekali variabel yang terkait didalamnya.
Posts: 241
Threads: 0
Joined: Mar 2009
Reputation:
5
Sementara, hanya menambahkan info juga untuk jalur mati lintas Jati-paiton...Saat ini masih tersisa banyak rel dan ada 4 stasiun dengan bangunan yang masih utuh, yaitu di Jati, Dringu, Kraksaan, dan Paiton. Bekas di tiap jembatan juga masih dapat dilihat dan kebanyakan rel masih nampak di pinggir jalan (sebelah kiri dari arah sby) mulai dari Dringu-Paiton. Ada beberapa malah muncul lebih tinggi dari pondasi jalan raya tapi dah pada bengkong ndak karuan karena sering menjadi parkir truk-truk besar.
Hear the voices of Indonesian railroads
![[Image: 20090425202511_wew_49f30f376172f-t.jpg]](http://upload.kapanlagi.com/images/thumb/20090425202511_wew_49f30f376172f-t.jpg)
Posts: 53
Threads: 0
Joined: Mar 2009
Reputation:
0
om apa jalur ka mati panarukan kalisat di daop 9 diangkat juga...nich, infonya
Posts: 241
Threads: 0
Joined: Mar 2009
Reputation:
5
(02-05-2009, 04:20 PM)sultan rakyat Wrote: nambahin mas, kata om saya dulu ada rel dari jombang kota ke peterongan,mojoagung, truz nyambung ama yg dari ngoro ke mojokerto
Sepertinya begitu, bisa dilihat ada bekas di jalan jayanegara, kota Mojokerto. Dan ada jalan yang menyerupai bekas lintasan KA. Lokasinya di Tugu UKS pertigaan jayanegara, jalan tembusan menuju jombang via Sooko terus sampai arah Jl. RA Basuni. Selain itu, di jembatan depan SMK Jayanegara, ada sisa rel KA.
Hear the voices of Indonesian railroads
![[Image: 20090425202511_wew_49f30f376172f-t.jpg]](http://upload.kapanlagi.com/images/thumb/20090425202511_wew_49f30f376172f-t.jpg)
Posts: 823
Threads: 0
Joined: Jun 2009
Reputation:
18
02-06-2009, 07:43 AM
(This post was last modified: 10-06-2009, 02:18 PM by Gege.)
|