Thread Rating:
  • 2 Vote(s) - 5 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
All About Argo Bromo & Argo Bromo Anggrek
(26-06-2016, 05:10 PM)oke_sr Wrote:
KA2 GMR-SBI
13 Mei 2016
K1-3

Ceritanya pingin cepet2 sampai menuju Malang dan tiba disana sebelum pkl 06.00wib. Awalnya disuruh istri naik pesawat, tapi gak mau. Alasannya tak ada pesawat yang sampai ke Malang sebelum jam 06.00. Tapi alasan utamanya sih karna sudah kadung nyaman naik KA. Seenggak2nya kalau masih di pulau Jawa bakalan lama ini jadi pelanggannya PT. Kereta Api Indonesia (Persero).

Pilihan pertama awalnya jatuh pada KA Jayabaya, tiba di Malang beberapa kam sebelum tenggat waktu, amanlah pikir saya. Opsi kedua naik KA dari Jakarta menuju Yogyakarta kemudian oper dan naik KA Moleks. Pilihan jatuh pada KA Jayabaya, namun beberapa jam sebelum reservasi nasib berkata lain. Kenyataan ingin tiba lebih cepat akhirnya pilihan jatuh pada KA 2.

Ini perjalanan saya yang pertama menggunakan KA2. Sebelum2nya naik ABA selalu berkesempatan dapat KA yang berangkat dari SBI dan GMR pada waktu malam hari. Skip, lanjut ke hari H.

Berangkat dari Cikarang pagi hari pkl 05.00wib dan tiba sejam kemudian di halte Polda Metro. Disini saya sarapan lontong sayur dengan lauk telur rebus seharga Rp 10.000,00. Pikir saya pagi-pagi jam segini gak banyak pilihan tersedia untuk sarapan di GMR. Anggapan salah sebenernya, karena begitu tiba di GMR tak sampai sejam kemudian sudah banyak tempat makan yang buka disini.

Suasana GMR kala itu tak begitu ramai di sisi selatan. Sedangkan disisi utara seperti biasanya nampak padat. Apalagi ada beberapa keberangkatan dan kedatangan KA kala itu. Sambil menunggu jadwal boarding saya duduk dulu di GMR sisi selatan. Hingga sekitar pkl 08.30wib pintu boarding untuk KA 2 dibuka dan saya segera menuju ke peron di lantai atas.

Suasana peron sangat padat karena terjadi keterlambatan keberangkatan beberapa KA yakni Gopar 22, Taksaka Pagi, dan Cireks 64L. Rata2 terlambat sekitar 30 menitan dari jadwal yang seharusnya. Bisa dibayangkan perka di antara petak GMR-JAKK kala itu, lengkap dengan Commuter Line yang tertahan di beberapa stasiun. Gopar 22 sendiri berangkat dari GMR sekitar pkl 09.10, Cireks seingat saya sekitar pkl 09.30wib. Sedangkan KA 2 masuk di stasiun GMR pkl 09.20wib dan berangkat sekitar 10 menitan kemudian.

Kondisi KA yang saya naiki cukup bersih. Dalam satu kereta tersedia dua kamar mandi. Satu memiliki kloset duduk, dan yang satunya lagi seperti urinoir dan tanpa kloset sama sekali. Yang terakhir rupanya khusus untuk penumpang pria namun dapat pula digunakan untuk penumpang wanita, misalnya jika butuh untuk mengambil wudlu. Saya duduk di kursi no 13C, depan TV persis. Yang menyebalkan seat pitch tidak lega sama sekali. Hanya ada space selebar 20cm dari kursi dengan dinding kereta. Masih lebih lega dibanding Jayabaya, bisa ambil sela dengan kaki penumpang didepannya. Sepanjang perjalanan KA, saya hampir tidak menduduki kursi tersebut. Ambil kursi lain didalam K1-3. Inipun saya berstatus sebagai musafir, karena ketika KA tiba di Stasiun Cirebon dan Pekalongan saya berpindah mencari tempat duduk kosong. Beruntung saat itu masih ada lebih dari 190an tiket yang belum terjual. Satu hal lagi yang kurang nyaman dalam perjalanan KA kali ini yakni kondisi pendingin udara tidak berfungsi maksimal. Diatas 27 derajat celcius ketika KA berangkat dari Gambir hingga memasuki stasiun Cepu.

Sejak berangkat dari Gambir menuju Manggarai laju KA2 banyak tertahan. Dibutuhkan waktu sekitar 15-20 menit untuk lepas dari Manggarai. Sesekali melihat kondisi peron stasiun Gondangdia, Cikini dan Manggarai dari dalam jendela. Terlihat ratusan atau mungkin ribuan calon penumpang commuter line jurusan Bogor masih sabar menunggu antrian.

Laju kereta sempat kencang hingga memasuki Stasiun Bekasi sempat berhenti selama 5-10 menitan. KA2 sempat melewati KA Cireks di stasiun berkanopi diantara petak Cikampek-Cirebon(Jatibarang ane rasa). KA2 pada akhirnya tiba di Stasiun Cirebon pada pkl 12.40wib, dan diberangkatkan kembali beberapa menit setelahnya. Lumayan lah telatnya.

Selepas CN, KA 2 sempat berhenti di Cirebon Kejaksaan selama kurang lebih 10 menit. Tak ada silang pada saat itu. KA ABA Pagi juga sempat berhenti pula di Stasiun Brebes selama 5-10 menit hingga tiba di Stasiun Pekalongan pada pkl 14.39wib. 

Selepas Pekalongan adalah waktunya menikmati pemandangan pantai utara, terutama ketika KA melaju di sekitaran Plabuan. Seumur-umur naik KA di jalur utara, ya kali ini bisa menikmati pemandangan pantai utara Pulau Jawa. Apalagi ketika naik KA, serasa disapu deburan ombak dari KA yang melaju beberapa meter dari bibir pantai. Kalau ada kesempatan lagi, mau lah saya naik KA pagi lagi, entah ABA Pagi, Jayabaya atau yang lainnya.

Oh iya, selepas Brebes dan Pekalongan laju KA2 seolah tak tertahan. Lancar sekali. Maksudnya tidak ada hambatan berupa BLB, tertahan sinyal, dsb. KA 2 tiba di Stasiun Semarang Tawang pada pkl 15.53wib. Disini ada kejadian lucu, penumpang disebelah saya laki-laki (sebelumnya tante-tante yang turun di Pekalongan), setelah melihat seat pitch di kursi 13D langsung geleng2 kepala dan enggan mendudukinya. Jadilah dia menduduki kursi kosong di belakang. Oalah KAI, INKA, ini bisa menjadi masukan/kritikan berarti. Next time kursi K1 yang paling depan seperti ini berilah ruang lebih lega daripada yang sekarang ini.

Tak sampai 5 menit singgah di SMT, KA 2 diberangkatkan kembali menuju SBI. Tak ada momen istimewa kali ini, laju KA sangat cepat dan suhu ruangan perlahan2 turun hingga 25an derajat celcius (masih kurang dingin dibandingkan ketika perjalanan saya naik ABA Malam sebelum2nya).

KA2 akhrinya tiba di Stasiun Surabaya Pasar Turi pada pkl 19.17wib. Dari sini saya langsung keluar stasiun, jalan ke sebelah kiri dan naik bus kota P5 dari perempatan Pusat Grosir Surabaya. Credit thanks to Arwah Kelaparan aka HungrySoul dan teman2 lainnya yang udah nunjukin jalannya.

Wah akhirnya ada yg posting TR lagi, terima kasih TRnya Mas. Lebih pilih naik ABA daripada montor mabur? Wah sama kayak saya, padahal seringkali (bahkan selalu) ABA lebih mahal daripada montor mabur SUB-CGK tapi saya tetap setia naik KA soalnya saya gak mau melewatkan sensasi petak PLB, dan hal ini sering dianggap aneh oleh keluarga saya yg pelanggan setia montor mabur kalau ke Jkt karena kalau secara objektif sebenarnya memang lebih murah dan lebih cepat naik montor mabur daripada ABA. Saya sendiri terakhir naik KA2 November 2015 dan April 2016, ketika itu GMR-JNG sebagian besar kecepatannya kayak jalan kaki, dan selalu kena berhenti disetiap sinyal masuk bahkan berhenti di Cikini. Lepas JNG selalu pas jam 10.00an dan setelah itu lancar jaya, gas pol dan kalen.., eh KRL2 pada minggir semua hehehe, sampai CN juga sama jam 12.30, SMT 15.30 dan SBI 18.45. Oh iya mas sampean merasa tidak kalau petak JNG-CN kasar banget treknya ketika dibawah ngebut? Di petak itu saya merasa saya sedang tidak naik KA2 bogi K9 tapi sedang naik kabus, ribut banget gujes2nya, tapi begitu lepas CN sampai SBI wuih halus banget nyaris gak ada suara bahkan masuk wesel juga nyaris gak terasa.
Reply
(27-06-2016, 09:02 PM)dixtra Wrote:
(26-06-2016, 05:10 PM)oke_sr Wrote:
KA2 GMR-SBI
13 Mei 2016
K1-3

Ceritanya pingin cepet2 sampai menuju Malang dan tiba disana sebelum pkl 06.00wib. Awalnya disuruh istri naik pesawat, tapi gak mau. Alasannya tak ada pesawat yang sampai ke Malang sebelum jam 06.00. Tapi alasan utamanya sih karna sudah kadung nyaman naik KA. Seenggak2nya kalau masih di pulau Jawa bakalan lama ini jadi pelanggannya PT. Kereta Api Indonesia (Persero).

Pilihan pertama awalnya jatuh pada KA Jayabaya, tiba di Malang beberapa kam sebelum tenggat waktu, amanlah pikir saya. Opsi kedua naik KA dari Jakarta menuju Yogyakarta kemudian oper dan naik KA Moleks. Pilihan jatuh pada KA Jayabaya, namun beberapa jam sebelum reservasi nasib berkata lain. Kenyataan ingin tiba lebih cepat akhirnya pilihan jatuh pada KA 2.

Ini perjalanan saya yang pertama menggunakan KA2. Sebelum2nya naik ABA selalu berkesempatan dapat KA yang berangkat dari SBI dan GMR pada waktu malam hari. Skip, lanjut ke hari H.

Berangkat dari Cikarang pagi hari pkl 05.00wib dan tiba sejam kemudian di halte Polda Metro. Disini saya sarapan lontong sayur dengan lauk telur rebus seharga Rp 10.000,00. Pikir saya pagi-pagi jam segini gak banyak pilihan tersedia untuk sarapan di GMR. Anggapan salah sebenernya, karena begitu tiba di GMR tak sampai sejam kemudian sudah banyak tempat makan yang buka disini.

Suasana GMR kala itu tak begitu ramai di sisi selatan. Sedangkan disisi utara seperti biasanya nampak padat. Apalagi ada beberapa keberangkatan dan kedatangan KA kala itu. Sambil menunggu jadwal boarding saya duduk dulu di GMR sisi selatan. Hingga sekitar pkl 08.30wib pintu boarding untuk KA 2 dibuka dan saya segera menuju ke peron di lantai atas.

Suasana peron sangat padat karena terjadi keterlambatan keberangkatan beberapa KA yakni Gopar 22, Taksaka Pagi, dan Cireks 64L. Rata2 terlambat sekitar 30 menitan dari jadwal yang seharusnya. Bisa dibayangkan perka di antara petak GMR-JAKK kala itu, lengkap dengan Commuter Line yang tertahan di beberapa stasiun. Gopar 22 sendiri berangkat dari GMR sekitar pkl 09.10, Cireks seingat saya sekitar pkl 09.30wib. Sedangkan KA 2 masuk di stasiun GMR pkl 09.20wib dan berangkat sekitar 10 menitan kemudian.

Kondisi KA yang saya naiki cukup bersih. Dalam satu kereta tersedia dua kamar mandi. Satu memiliki kloset duduk, dan yang satunya lagi seperti urinoir dan tanpa kloset sama sekali. Yang terakhir rupanya khusus untuk penumpang pria namun dapat pula digunakan untuk penumpang wanita, misalnya jika butuh untuk mengambil wudlu. Saya duduk di kursi no 13C, depan TV persis. Yang menyebalkan seat pitch tidak lega sama sekali. Hanya ada space selebar 20cm dari kursi dengan dinding kereta. Masih lebih lega dibanding Jayabaya, bisa ambil sela dengan kaki penumpang didepannya. Sepanjang perjalanan KA, saya hampir tidak menduduki kursi tersebut. Ambil kursi lain didalam K1-3. Inipun saya berstatus sebagai musafir, karena ketika KA tiba di Stasiun Cirebon dan Pekalongan saya berpindah mencari tempat duduk kosong. Beruntung saat itu masih ada lebih dari 190an tiket yang belum terjual. Satu hal lagi yang kurang nyaman dalam perjalanan KA kali ini yakni kondisi pendingin udara tidak berfungsi maksimal. Diatas 27 derajat celcius ketika KA berangkat dari Gambir hingga memasuki stasiun Cepu.

Sejak berangkat dari Gambir menuju Manggarai laju KA2 banyak tertahan. Dibutuhkan waktu sekitar 15-20 menit untuk lepas dari Manggarai. Sesekali melihat kondisi peron stasiun Gondangdia, Cikini dan Manggarai dari dalam jendela. Terlihat ratusan atau mungkin ribuan calon penumpang commuter line jurusan Bogor masih sabar menunggu antrian.

Laju kereta sempat kencang hingga memasuki Stasiun Bekasi sempat berhenti selama 5-10 menitan. KA2 sempat melewati KA Cireks di stasiun berkanopi diantara petak Cikampek-Cirebon(Jatibarang ane rasa). KA2 pada akhirnya tiba di Stasiun Cirebon pada pkl 12.40wib, dan diberangkatkan kembali beberapa menit setelahnya. Lumayan lah telatnya.

Selepas CN, KA 2 sempat berhenti di Cirebon Kejaksaan selama kurang lebih 10 menit. Tak ada silang pada saat itu. KA ABA Pagi juga sempat berhenti pula di Stasiun Brebes selama 5-10 menit hingga tiba di Stasiun Pekalongan pada pkl 14.39wib. 

Selepas Pekalongan adalah waktunya menikmati pemandangan pantai utara, terutama ketika KA melaju di sekitaran Plabuan. Seumur-umur naik KA di jalur utara, ya kali ini bisa menikmati pemandangan pantai utara Pulau Jawa. Apalagi ketika naik KA, serasa disapu deburan ombak dari KA yang melaju beberapa meter dari bibir pantai. Kalau ada kesempatan lagi, mau lah saya naik KA pagi lagi, entah ABA Pagi, Jayabaya atau yang lainnya.

Oh iya, selepas Brebes dan Pekalongan laju KA2 seolah tak tertahan. Lancar sekali. Maksudnya tidak ada hambatan berupa BLB, tertahan sinyal, dsb. KA 2 tiba di Stasiun Semarang Tawang pada pkl 15.53wib. Disini ada kejadian lucu, penumpang disebelah saya laki-laki (sebelumnya tante-tante yang turun di Pekalongan), setelah melihat seat pitch di kursi 13D langsung geleng2 kepala dan enggan mendudukinya. Jadilah dia menduduki kursi kosong di belakang. Oalah KAI, INKA, ini bisa menjadi masukan/kritikan berarti. Next time kursi K1 yang paling depan seperti ini berilah ruang lebih lega daripada yang sekarang ini.

Tak sampai 5 menit singgah di SMT, KA 2 diberangkatkan kembali menuju SBI. Tak ada momen istimewa kali ini, laju KA sangat cepat dan suhu ruangan perlahan2 turun hingga 25an derajat celcius (masih kurang dingin dibandingkan ketika perjalanan saya naik ABA Malam sebelum2nya).

KA2 akhrinya tiba di Stasiun Surabaya Pasar Turi pada pkl 19.17wib. Dari sini saya langsung keluar stasiun, jalan ke sebelah kiri dan naik bus kota P5 dari perempatan Pusat Grosir Surabaya. Credit thanks to Arwah Kelaparan aka HungrySoul dan teman2 lainnya yang udah nunjukin jalannya.

Wah akhirnya ada yg posting TR lagi, terima kasih TRnya Mas. Lebih pilih naik ABA daripada montor mabur? Wah sama kayak saya, padahal seringkali (bahkan selalu) ABA lebih mahal daripada montor mabur SUB-CGK tapi saya tetap setia naik KA soalnya saya gak mau melewatkan sensasi petak PLB, dan hal ini sering dianggap aneh oleh keluarga saya yg pelanggan setia montor mabur kalau ke Jkt karena kalau secara objektif sebenarnya memang lebih murah dan lebih cepat naik montor mabur daripada ABA. Saya sendiri terakhir naik KA2 November 2015 dan April 2016, ketika itu GMR-JNG sebagian besar kecepatannya kayak jalan kaki, dan selalu kena berhenti disetiap sinyal masuk bahkan berhenti di Cikini. Lepas JNG selalu pas jam 10.00an dan setelah itu lancar jaya, gas pol dan kalen.., eh KRL2 pada minggir semua hehehe, sampai CN juga sama jam 12.30, SMT 15.30 dan SBI 18.45. Oh iya mas sampean merasa tidak kalau petak JNG-CN kasar banget treknya ketika dibawah ngebut? Di petak itu saya merasa saya sedang tidak naik KA2 bogi K9 tapi sedang naik kabus, ribut banget gujes2nya, tapi begitu lepas CN sampai SBI wuih halus banget nyaris gak ada suara bahkan masuk wesel juga nyaris gak terasa.

Weleh2, jadi ngiri sama masnya yg sering naik ABA, Bangunkarta, Bima, ma Gajayana, saya naik K1 aja jarang2  Sedih (paling2 kalo naik K1 cari yg pake tarip khusus aja biar murah). Btw, dari KA2 di atas masih enakan mana naiknya? Kali aja jadi referensi kalo kapan2 saya nyoba naik KA2 di atas full trip, gak setengah2 kayak sekarang... Xie Xie

@dixtra; rencana mudik ke BD ntar pake apa? Pasundan, Mutsel, Golis, Turangga, apa Harina? n tanggal berapa? Kali aja ente bakal sejalur ma ane pas mudik ntar...Ngikik
Buah dari perjuangan adalah kebahagiaan
Semakin keras kita berjuang bagi hidup kita, semakin manis pula buahnya
Semakin santai perjuangan kita, semakin pahit pula buahnya


FLICKR Stephanie Anastasia stasiunkastephanie
Reply
Btw, ada satu set KA Argo Bromo Anggrek yg baru keluar dari PT INKA ya beberapa hari lalu. Saya ga terlalu ngeh perbedaannya apa. Tapi sepertinya ABA mulai dipasangi lagi footrestnya dengan model seperti di K1 2016 INKA. Bagus lah dipasangi footrest lagi biar ga pegal dan ga baret2x kursinya. Saya melihatnya di tayangan youtube ttg persiapan lebaran PT INKA. Di situ ada PT INKA yg sedang memperbaiki KA Argo Bromo Anggrek dan terlihat adanya footrest. Semoga suatu saat bisa dikembalikan lagi secara bertahap di seluruh rangkain KA ABA dan kalo bisa dikasih legrest kayak awal peluncuran tahun 1997 silam *ngarep
Reply
(27-06-2016, 10:53 PM)stasiunkastephanie Wrote:
(27-06-2016, 09:02 PM)dixtra Wrote:
(26-06-2016, 05:10 PM)oke_sr Wrote:
KA2 GMR-SBI
13 Mei 2016
K1-3

Ceritanya pingin cepet2 sampai menuju Malang dan tiba disana sebelum pkl 06.00wib. Awalnya disuruh istri naik pesawat, tapi gak mau. Alasannya tak ada pesawat yang sampai ke Malang sebelum jam 06.00. Tapi alasan utamanya sih karna sudah kadung nyaman naik KA. Seenggak2nya kalau masih di pulau Jawa bakalan lama ini jadi pelanggannya PT. Kereta Api Indonesia (Persero).

Pilihan pertama awalnya jatuh pada KA Jayabaya, tiba di Malang beberapa kam sebelum tenggat waktu, amanlah pikir saya. Opsi kedua naik KA dari Jakarta menuju Yogyakarta kemudian oper dan naik KA Moleks. Pilihan jatuh pada KA Jayabaya, namun beberapa jam sebelum reservasi nasib berkata lain. Kenyataan ingin tiba lebih cepat akhirnya pilihan jatuh pada KA 2.

Ini perjalanan saya yang pertama menggunakan KA2. Sebelum2nya naik ABA selalu berkesempatan dapat KA yang berangkat dari SBI dan GMR pada waktu malam hari. Skip, lanjut ke hari H.

Berangkat dari Cikarang pagi hari pkl 05.00wib dan tiba sejam kemudian di halte Polda Metro. Disini saya sarapan lontong sayur dengan lauk telur rebus seharga Rp 10.000,00. Pikir saya pagi-pagi jam segini gak banyak pilihan tersedia untuk sarapan di GMR. Anggapan salah sebenernya, karena begitu tiba di GMR tak sampai sejam kemudian sudah banyak tempat makan yang buka disini.

Suasana GMR kala itu tak begitu ramai di sisi selatan. Sedangkan disisi utara seperti biasanya nampak padat. Apalagi ada beberapa keberangkatan dan kedatangan KA kala itu. Sambil menunggu jadwal boarding saya duduk dulu di GMR sisi selatan. Hingga sekitar pkl 08.30wib pintu boarding untuk KA 2 dibuka dan saya segera menuju ke peron di lantai atas.

Suasana peron sangat padat karena terjadi keterlambatan keberangkatan beberapa KA yakni Gopar 22, Taksaka Pagi, dan Cireks 64L. Rata2 terlambat sekitar 30 menitan dari jadwal yang seharusnya. Bisa dibayangkan perka di antara petak GMR-JAKK kala itu, lengkap dengan Commuter Line yang tertahan di beberapa stasiun. Gopar 22 sendiri berangkat dari GMR sekitar pkl 09.10, Cireks seingat saya sekitar pkl 09.30wib. Sedangkan KA 2 masuk di stasiun GMR pkl 09.20wib dan berangkat sekitar 10 menitan kemudian.

Kondisi KA yang saya naiki cukup bersih. Dalam satu kereta tersedia dua kamar mandi. Satu memiliki kloset duduk, dan yang satunya lagi seperti urinoir dan tanpa kloset sama sekali. Yang terakhir rupanya khusus untuk penumpang pria namun dapat pula digunakan untuk penumpang wanita, misalnya jika butuh untuk mengambil wudlu. Saya duduk di kursi no 13C, depan TV persis. Yang menyebalkan seat pitch tidak lega sama sekali. Hanya ada space selebar 20cm dari kursi dengan dinding kereta. Masih lebih lega dibanding Jayabaya, bisa ambil sela dengan kaki penumpang didepannya. Sepanjang perjalanan KA, saya hampir tidak menduduki kursi tersebut. Ambil kursi lain didalam K1-3. Inipun saya berstatus sebagai musafir, karena ketika KA tiba di Stasiun Cirebon dan Pekalongan saya berpindah mencari tempat duduk kosong. Beruntung saat itu masih ada lebih dari 190an tiket yang belum terjual. Satu hal lagi yang kurang nyaman dalam perjalanan KA kali ini yakni kondisi pendingin udara tidak berfungsi maksimal. Diatas 27 derajat celcius ketika KA berangkat dari Gambir hingga memasuki stasiun Cepu.

Sejak berangkat dari Gambir menuju Manggarai laju KA2 banyak tertahan. Dibutuhkan waktu sekitar 15-20 menit untuk lepas dari Manggarai. Sesekali melihat kondisi peron stasiun Gondangdia, Cikini dan Manggarai dari dalam jendela. Terlihat ratusan atau mungkin ribuan calon penumpang commuter line jurusan Bogor masih sabar menunggu antrian.

Laju kereta sempat kencang hingga memasuki Stasiun Bekasi sempat berhenti selama 5-10 menitan. KA2 sempat melewati KA Cireks di stasiun berkanopi diantara petak Cikampek-Cirebon(Jatibarang ane rasa). KA2 pada akhirnya tiba di Stasiun Cirebon pada pkl 12.40wib, dan diberangkatkan kembali beberapa menit setelahnya. Lumayan lah telatnya.

Selepas CN, KA 2 sempat berhenti di Cirebon Kejaksaan selama kurang lebih 10 menit. Tak ada silang pada saat itu. KA ABA Pagi juga sempat berhenti pula di Stasiun Brebes selama 5-10 menit hingga tiba di Stasiun Pekalongan pada pkl 14.39wib. 

Selepas Pekalongan adalah waktunya menikmati pemandangan pantai utara, terutama ketika KA melaju di sekitaran Plabuan. Seumur-umur naik KA di jalur utara, ya kali ini bisa menikmati pemandangan pantai utara Pulau Jawa. Apalagi ketika naik KA, serasa disapu deburan ombak dari KA yang melaju beberapa meter dari bibir pantai. Kalau ada kesempatan lagi, mau lah saya naik KA pagi lagi, entah ABA Pagi, Jayabaya atau yang lainnya.

Oh iya, selepas Brebes dan Pekalongan laju KA2 seolah tak tertahan. Lancar sekali. Maksudnya tidak ada hambatan berupa BLB, tertahan sinyal, dsb. KA 2 tiba di Stasiun Semarang Tawang pada pkl 15.53wib. Disini ada kejadian lucu, penumpang disebelah saya laki-laki (sebelumnya tante-tante yang turun di Pekalongan), setelah melihat seat pitch di kursi 13D langsung geleng2 kepala dan enggan mendudukinya. Jadilah dia menduduki kursi kosong di belakang. Oalah KAI, INKA, ini bisa menjadi masukan/kritikan berarti. Next time kursi K1 yang paling depan seperti ini berilah ruang lebih lega daripada yang sekarang ini.

Tak sampai 5 menit singgah di SMT, KA 2 diberangkatkan kembali menuju SBI. Tak ada momen istimewa kali ini, laju KA sangat cepat dan suhu ruangan perlahan2 turun hingga 25an derajat celcius (masih kurang dingin dibandingkan ketika perjalanan saya naik ABA Malam sebelum2nya).

KA2 akhrinya tiba di Stasiun Surabaya Pasar Turi pada pkl 19.17wib. Dari sini saya langsung keluar stasiun, jalan ke sebelah kiri dan naik bus kota P5 dari perempatan Pusat Grosir Surabaya. Credit thanks to Arwah Kelaparan aka HungrySoul dan teman2 lainnya yang udah nunjukin jalannya.

Wah akhirnya ada yg posting TR lagi, terima kasih TRnya Mas. Lebih pilih naik ABA daripada montor mabur? Wah sama kayak saya, padahal seringkali (bahkan selalu) ABA lebih mahal daripada montor mabur SUB-CGK tapi saya tetap setia naik KA soalnya saya gak mau melewatkan sensasi petak PLB, dan hal ini sering dianggap aneh oleh keluarga saya yg pelanggan setia montor mabur kalau ke Jkt karena kalau secara objektif sebenarnya memang lebih murah dan lebih cepat naik montor mabur daripada ABA. Saya sendiri terakhir naik KA2 November 2015 dan April 2016, ketika itu GMR-JNG sebagian besar kecepatannya kayak jalan kaki, dan selalu kena berhenti disetiap sinyal masuk bahkan berhenti di Cikini. Lepas JNG selalu pas jam 10.00an dan setelah itu lancar jaya, gas pol dan kalen.., eh KRL2 pada minggir semua hehehe, sampai CN juga sama jam 12.30, SMT 15.30 dan SBI 18.45. Oh iya mas sampean merasa tidak kalau petak JNG-CN kasar banget treknya ketika dibawah ngebut? Di petak itu saya merasa saya sedang tidak naik KA2 bogi K9 tapi sedang naik kabus, ribut banget gujes2nya, tapi begitu lepas CN sampai SBI wuih halus banget nyaris gak ada suara bahkan masuk wesel juga nyaris gak terasa.

Weleh2, jadi ngiri sama masnya yg sering naik ABA, Bangunkarta, Bima, ma Gajayana, saya naik K1 aja jarang2  Sedih (paling2 kalo naik K1 cari yg pake tarip khusus aja biar murah). Btw, dari KA2 di atas masih enakan mana naiknya? Kali aja jadi referensi kalo kapan2 saya nyoba naik KA2 di atas full trip, gak setengah2 kayak sekarang... Xie Xie

@dixtra; rencana mudik ke BD ntar pake apa? Pasundan, Mutsel, Golis, Turangga, apa Harina? n tanggal berapa? Kali aja ente bakal sejalur ma ane pas mudik ntar...Ngikik

kalo mau cepet ya pilihannya ABA karena memang bener2x cepet sih kalo ontime tuh bener2x tanpa hambatan berarti. Terus kalo bisa sih jangan pilih Sembrani karena udah rangkaiannya ga pasti, keretanya tua, waktu tempuh lebih lama daripada ABA, tapi harga sama kayak ABA. Mending naik Bima atau Bangunkarta sekalian, lebih enak. Bima enak sih cuma emang lebih lama aja waktu tempuhnya tapi puas kok tidurnya. Kalo Gajayana mah paling mantap lah itu puas tidurnya di kereta itu, mana AC-nya dingin dan interior emang mantap. Harga juga ya mahal hehehe...

Kalo secara keseluruhan sih mungkin Gajayana paling unggul utk interior dan fasilitas, Argo Bromo Anggrek di waktu tempuh dan keretanya juga termasuk bagus. Bima kan pake eks Argo Bromo JS 950 dan masih nyaman lah (cuma dulu pas naik Bima dua kali entah kenapa telat di atas dua jam). Kalo Bangunkarta ga tau belum pernah nyoba, tp sepertinya lebih ontime di GAPEKA 2015 ini drpd di GAPEKA 2014 dulu yang selalu telat. Sama asal ga kedapetan keretanya Turangga sih Bangunkarta nyaman aja org kereta aslinya sama kyk Argo Lawu dan 11-12 sama Gajayana.
Reply
dixtra
Wah akhirnya ada yg posting TR lagi, terima kasih TRnya Mas. Lebih pilih naik ABA daripada montor mabur? Wah sama kayak saya, padahal seringkali (bahkan selalu) ABA lebih mahal daripada montor mabur SUB-CGK tapi saya tetap setia naik KA soalnya saya gak mau melewatkan sensasi petak PLB, dan hal ini sering dianggap aneh oleh keluarga saya yg pelanggan setia montor mabur kalau ke Jkt karena kalau secara objektif sebenarnya memang lebih murah dan lebih cepat naik montor mabur daripada ABA. Saya sendiri terakhir naik KA2 November 2015 dan April 2016, ketika itu GMR-JNG sebagian besar kecepatannya kayak jalan kaki, dan selalu kena berhenti disetiap sinyal masuk bahkan berhenti di Cikini. Lepas JNG selalu pas jam 10.00an dan setelah itu lancar jaya, gas pol dan kalen.., eh KRL2 pada minggir semua hehehe, sampai CN juga sama jam 12.30, SMT 15.30 dan SBI 18.45. Oh iya mas sampean merasa tidak kalau petak JNG-CN kasar banget treknya ketika dibawah ngebut? Di petak itu saya merasa saya sedang tidak naik KA2 bogi K9 tapi sedang naik kabus, ribut banget gujes2nya, tapi begitu lepas CN sampai SBI wuih halus banget nyaris gak ada suara bahkan masuk wesel juga nyaris gak terasa.

Iya mas, rasanya sudah kesekian kali saya diingetin keluarga untuk naik pesawat saja dengan alasan lebih cepat, dll. Tapi rasa2nya masih sulit untuk beralih dari moda transportasi KA ini.

Iya bener mas, terasa banget di petak JNG-CN. Contohnya ketika KA digeber kenceng di jalur lurus seperti Stasiun CKR, Tambun, dll rasanya kayak naik bus kota eks 46(Kp Rambutan-Grogol). Yang paling alus ketika lewat SMT-SBI, lewat daerah Bojonegoro, Lamongan, Surabaya dengan kecepatan 70-80an km perjam masih alus banget..

stasiunkastephanie
Weleh2, jadi ngiri sama masnya yg sering naik ABA, Bangunkarta, Bima, ma Gajayana, saya naik K1 aja jarang2  Sedih (paling2 kalo naik K1 cari yg pake tarip khusus aja biar murah). Btw, dari KA2 di atas masih enakan mana naiknya? Kali aja jadi referensi kalo kapan2 saya nyoba naik KA2 di atas full trip, gak setengah2 kayak sekarang... Xie Xie

@dixtra; rencana mudik ke BD ntar pake apa? Pasundan, Mutsel, Golis, Turangga, apa Harina? n tanggal berapa? Kali aja ente bakal sejalur ma ane pas mudik ntar...Ngikik

Iya mbak, awalnya jarang2 naik K1, paling setahun maks 4 kali. Tapi setelah punya pendamping jadi sering2 naik KA lagi hehehe..
Ini kalau obyektif saya mbak :
ABA : Waktu tercepat, rangkaian 2014 interior dan toilet bagus, minus di footrest saja.
BK : Saya pilih ini untuk KA 56 karena pertimbangan waktu tempuh dan keperluan transit ke KA Penataran/Probowangi, asal gak dapat K1 099 Turangga sih gak ada masalah naik KA ini.
Bima : Untuk rangkaian KA bernomor K1 082 cukup bagus. On par dengan rangkaian BK K1 066 atau K1 067 dengan kursi beludru. Untuk K1 095 seringnya ACnya dingin maknyus, hanya minus di meja makan saja. Untuk K1 016 belum nyoba, tapi menarik untuk dicoba karena kesan luxury, tapi minus di harganya. Bima meski di hari weekday >80an persen tiket yang dijual selalu di subclass A.
Gajayana : Asal gak dapat kursi kulit hasil retrofit 2014 lalu sih gak ada masalah berarti mbak. Yang saya rasakan kekerasan kursi kulitnya sedikit lebih keras dibandingkan ABA, tapi masih lebih empuk dibandingkan beberapa K1 099 milik Turangga atau yang nangkring di BK.
Reply
(27-06-2016, 10:53 PM)stasiunkastephanie Wrote: Weleh2, jadi ngiri sama masnya yg sering naik ABA, Bangunkarta, Bima, ma Gajayana, saya naik K1 aja jarang2  Sedih (paling2 kalo naik K1 cari yg pake tarip khusus aja biar murah). Btw, dari KA2 di atas masih enakan mana naiknya? Kali aja jadi referensi kalo kapan2 saya nyoba naik KA2 di atas full trip, gak setengah2 kayak sekarang... Xie Xie

@dixtra; rencana mudik ke BD ntar pake apa? Pasundan, Mutsel, Golis, Turangga, apa Harina? n tanggal berapa? Kali aja ente bakal sejalur ma ane pas mudik ntar...Ngikik

Sini ngiri juga sama saya dong Jeng, saya kan langganan Eksekutip Jawa Timuran lintas selatan, apalagi Gajayana, wuakakakakakakakkakakakakakakkak *dibalang sendal jepit* *kemudian menangisi isi dompet*

Dulu jamannya masih labil (jangan salah, sekarang lebih labil wuakakak), beberapa kali merasakan naik Argo Bromo Anggrek (promoan)... eeh sekarang jamannya udah makin labil gini pas pundi keuangan makin stabil malah jadi jarang.... jarang ada perlu ke Surabaya juga sih, hahaha.... sementara kalau ke kota Pantura macem Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang masih banyak sepur lain baik PSO maupun komersial yang lebih murah *ditabok*
Seperti alunan detak jantungku,
tak bertahan, melawan waktu
dan semua keindahan, yang memudar
atau cinta, yang tlah hilang

==========

My latest TR: here Tawang Alun, 30 Juni 2013

Lok Merah Biru
Reply
(12-07-2016, 02:37 PM)Hungry Soul Wrote:
(27-06-2016, 10:53 PM)stasiunkastephanie Wrote: Weleh2, jadi ngiri sama masnya yg sering naik ABA, Bangunkarta, Bima, ma Gajayana, saya naik K1 aja jarang2  Sedih (paling2 kalo naik K1 cari yg pake tarip khusus aja biar murah). Btw, dari KA2 di atas masih enakan mana naiknya? Kali aja jadi referensi kalo kapan2 saya nyoba naik KA2 di atas full trip, gak setengah2 kayak sekarang... Xie Xie

@dixtra; rencana mudik ke BD ntar pake apa? Pasundan, Mutsel, Golis, Turangga, apa Harina? n tanggal berapa? Kali aja ente bakal sejalur ma ane pas mudik ntar...Ngikik

Sini ngiri juga sama saya dong Jeng, saya kan langganan Eksekutip Jawa Timuran lintas selatan, apalagi Gajayana, wuakakakakakakakkakakakakakakkak *dibalang sendal jepit* *kemudian menangisi isi dompet*

Dulu jamannya masih labil (jangan salah, sekarang lebih labil wuakakak), beberapa kali merasakan naik Argo Bromo Anggrek (promoan)... eeh sekarang jamannya udah makin labil gini pas pundi keuangan makin stabil malah jadi jarang.... jarang ada perlu ke Surabaya juga sih, hahaha.... sementara kalau ke kota Pantura macem Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang masih banyak sepur lain baik PSO maupun komersial yang lebih murah *ditabok*

Kamu iiiihhh sombong banget, aku mah apa atuh, cuman makhluk jalang yg gak bisa merasakan kemewahan bangsawan, naik K1 aja jarang2, apalagi yg full K1, paling jauh aja naik Argo Wilis ma Turangga full SGU-BD PP, sisanya kalo gak naik K2 ya K3, hiksss... Sedih

#preeettt...

Dan kayaknya sekarang KA2 komersil lagi pada banting harga belakangan ini, ABA aja sekarang pukul rata 375000 semua subkelas. Tapi kayaknya berlaku untuk keberangkatan minggu2 ini aja, tau lagi buat tanggal yg lain. Moga2 aja taripnya dipukul rata ke subkelas J (K1)/O (K2)/S (K3), jadi biar murah gitu... Xie Xie
Buah dari perjuangan adalah kebahagiaan
Semakin keras kita berjuang bagi hidup kita, semakin manis pula buahnya
Semakin santai perjuangan kita, semakin pahit pula buahnya


FLICKR Stephanie Anastasia stasiunkastephanie
Reply
(12-07-2016, 05:23 PM)stasiunkastephanie Wrote:
(12-07-2016, 02:37 PM)Hungry Soul Wrote:
(27-06-2016, 10:53 PM)stasiunkastephanie Wrote: Weleh2, jadi ngiri sama masnya yg sering naik ABA, Bangunkarta, Bima, ma Gajayana, saya naik K1 aja jarang2  Sedih (paling2 kalo naik K1 cari yg pake tarip khusus aja biar murah). Btw, dari KA2 di atas masih enakan mana naiknya? Kali aja jadi referensi kalo kapan2 saya nyoba naik KA2 di atas full trip, gak setengah2 kayak sekarang... Xie Xie

@dixtra; rencana mudik ke BD ntar pake apa? Pasundan, Mutsel, Golis, Turangga, apa Harina? n tanggal berapa? Kali aja ente bakal sejalur ma ane pas mudik ntar...Ngikik

Sini ngiri juga sama saya dong Jeng, saya kan langganan Eksekutip Jawa Timuran lintas selatan, apalagi Gajayana, wuakakakakakakakkakakakakakakkak *dibalang sendal jepit* *kemudian menangisi isi dompet*

Dulu jamannya masih labil (jangan salah, sekarang lebih labil wuakakak), beberapa kali merasakan naik Argo Bromo Anggrek (promoan)... eeh sekarang jamannya udah makin labil gini pas pundi keuangan makin stabil malah jadi jarang.... jarang ada perlu ke Surabaya juga sih, hahaha.... sementara kalau ke kota Pantura macem Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang masih banyak sepur lain baik PSO maupun komersial yang lebih murah *ditabok*

Kamu iiiihhh sombong banget, aku mah apa atuh, cuman makhluk jalang yg gak bisa merasakan kemewahan bangsawan, naik K1 aja jarang2, apalagi yg full K1, paling jauh aja naik Argo Wilis ma Turangga full SGU-BD PP, sisanya kalo gak naik K2 ya K3, hiksss... Sedih

#preeettt...

Dan kayaknya sekarang KA2 komersil lagi pada banting harga belakangan ini, ABA aja sekarang pukul rata 375000 semua subkelas. Tapi kayaknya berlaku untuk keberangkatan minggu2 ini aja, tau lagi buat tanggal yg lain. Moga2 aja taripnya dipukul rata ke subkelas J (K1)/O (K2)/S (K3), jadi biar murah gitu... Xie Xie

Setidaknya sudah pernah mencicipi KA ini meskipun dengan rute jarak pendek GMR-CN dan tarih khusus pula Xie Xie
Pengen jadi Railpen  Ngakak
Reply
Selasa, 27 September 2016 kemarin berkesempatan kembali naik KA Argo Bromo Anggrek. Kali ini naik KA 1 Argo Bromo Anggrek Pagi dari Semarang Tawang menuju ke Gambir setelah 5 hari jalan-jalan di Semarang bersama kakak sepupu di sana. 
Oh ya, tiketnya non promo tapi dapet potongan 30ribu dari Padiciti jadi 255ribu aja. Mau batalin tp males begadang dan belum tentu dapet jadi nikmatin aja.

Tiba di SMT pukul 11.00 WIB dan sudah ramai sama calon penumpang KA ABA Pagi sama KA Maharani. Begitu di stasiun, cetak boarding pass, lalu masuk dan nunggu di peron jalur 1. Foto2x suasana stasiun SMT lalu pukul 11.20 WIB KA 1 ABA Pagi pun tiba dan masuk di jalur 1 SMT. Ditarik lokomotif CC 206 13 77 Dipo Induk Jatinegara. Saya sendiri dapet tempat duduk di Eksekutif 3 kursi 9D. Banyak penumpang yang naik dan turun di SMT, klo di lintas selatan mungkin udah mirip Jogja karena pergantian naik turun penumpangnya cukup signifikan. 

Dapet kereta yang interiornya masih asli Argo Bromo Anggrek yg pas jaman Go Green. Kursi lebar, nyaman, footrest, kaca lebar, pake korden, meja lipat, tapi pintu masu kabin ga otomatis soalnya ga ada stikernya dan ga ada tombolnya. Saya duduk di sebelah bapak2x yg naik dari SBI turun di JNG dan banyak bercerita dengan beliau. Beliau lagi dipindahtugaskan ke Jakarta dan bertanya2x juga cara menuju ke wilayah Serpong yg kebetulan saya familiar dengan wilayah tersebut hehe.

Tepat pukul 11.30 WIB KA 1 ABA Pagi berangkat meninggalkan SMT dan siap melintas di jalur KA yang menurut saya terbaik untuk saat ini yaitu jalur SMT-CN. Yang sering naik KA Pantura apalagi semenjak DT CN-SBI kelar pasti tau gimana nikmatnya dan nyamannya jalur pantura CN-SMT ini apalagi untuk ngebut. Benar2x luar biasa. Apalagi naiknya KA Argo Bromo Anggrek yang emang suspensinya alus, peredamnya enak, dan ga berguncang. Selalu top deh. 

Saya juga seneng karena bisa liat pemandangan laut utara Jawa di antara Krengseng-Ujungnegoro yang eksotis sambil ngebut gini. Soalnya kemaren2x naik kereta malam mulu jadi sulit melihatnya (ya iyalah kan gelap). Saya jg sempet foto2 pemandangannya karena emang jarang2x juga. Keren deh. Apalagi di sini juga ngebut banget ya dan papasan sama beberapa KA seperti KA Barang, KA Argo Muria, KA Menoreh Pagi, KA Kaligung. Karena jalurnya juga enak dan keretanya ngebut, SMT-PK dilibas hanya dalam waktu satu jam saja. Di Pekalongan juga banyak yang naik dan turun. Apalagi KA Argo Bromo Anggrek sbg satu2x-nya kereta pagi/siang dari Surabaya menuju Pekalongan atau sebaliknya. Yang lain pada kereta sore/malam semua. 

Selepas PK, saya pindah ke eksekutif 9. Sepanjang dari ekse 3 ke ekse 9, penumpang mendominasi sampe ekse 5 dan 6. Ekse 7 dan ekse 8 sedikit doang dan ekse 9 cuma ada satu lalu ditambah saya. Itupun juga railfans dari Surabaya. Lumayan lah bs ketemuan dan ngobrol2x. Oh ya, pintu keretanya juga udah pada manual semua. 
Di ekse 9 ini interiornya mirip sama K1 INKA 2016 dan ada footrestnya. Sebenernya footrestnya menurut saya sih enak walau harus diteken. tapi saya nekennya ga yg kuat kok. Bisa saya tahan dari PK hingga CN tanpa merasa lelah. Ga pake footrest juga saya bisa selonjoran hehe... 

Di ekse 9 menurut saya peredam suaranya tidak seperti di ekse 3 yg alus dan enak banget tapi masih enak sih ga yg terlalu gimana juga. Saya masih bisa sempet tidur selepas Pegaden Baru hingga jelang Cikampek. 

Oh ya, di perjalanan ini saya mendapatkan hikmah dan berkah terselubung alias Blessing in Disguise karena pas selepas Losari kan saya ke kereta makan laper mau makan terus pas udah pesen tuh, disuruh duduk sama mba praminya di depan bapak2x. Entah kenapa bapak2x itu begitu ramah dan langsung menyuruh+mempersilakan saya untuk duduk di hadapannya. Terus ngobrol2x dan pas beliau tau saya lagi di Semester VII jurusan Ilmu Komunikasi bidang PR, beliau langsung ngaish wejangan dan beberapa judul untuk proposal skripsi. Seneng banget bisa sekalian bimbingan di situ. Judulnya ga cuma satu, tapi sampe ada lima judul untuk proposal skripsi. Astaga benar2x baik luar biasa bapak ini. Ramah pula, rasanya pengen banget beliau jadi dosen saya untuk bimbingan skripsi. Ga nyangka banget di kereta bisa kenalan sama bapak yang langsung ngasih ide judul proposal skripsi :')  Ngakak

Di M1, saya pesen nasgor parahyangan yg di kotakan itu dan enak rasanya. tanggal kedaluwarsanya juga ga lama cuma sampe 16 Oktober 2016. Hehehe... Ga tau saya yg laper atau gimana tp menurut saya enak dan bumbunya berasa, agak pedes lagi hehe... Walau ya 30ribu tapi untung enak hehe... 

Selepas CN, balik lagi ke ekse 9 dan ya mulai dari CN sampe BKS kondisi relnya mulai deh. Bisa banget sih buat ngebut tapi berisik dan guncangannya ckckck.... Ini sih relnya emg udah harus diupgrade. tiap lewat wesel duhileh tobat deh. Beda sama SMT-CN dan juga pas berangkat ke Semarang naik Jayabaya aja dari CKP ke CN masih enak. Tapi dari CN ke CKP buset dah. Berisik dan berguncang padahal naik ABA. Baru mulai enak lagi selepas Cikarang ke barat. Dan sepanjang CN-CKP papasan sama KA2x dari Jkt yg entah kenapa kyknya pada telat. Mulai dari Tegal Bahari, Bengawan, Jayabaya, Cireks, Jaka Tingkir, Krakatau. Entah kenapa kebanyakan baru bertemu selepas Jatibarang bahkan selepas Terisi. Di JTB bahkan ABA BLB masuk sepur belok sebentar menyusul KA Barang Kontainer Surabaya-Jakarta.

Selepas CKP ya semakin menjadi goyangnya dan berisiknya walau bisa ngebut. Goyangnya pas lewat wesel sih kebanyakan. Lalu papasan sama banyak KA2x sore dari Jakarta macam Bangunkarta, Matarmaja, Argo Parahyangan, Gumarang, Brantas, Argo Sindoro. Tumben banget juga di Bekasi ga pake ditahan di sinyal muka/masuk dan bisa bablas dengan ngebut di BKS. 

Baru mulai ketahan selepas Klender, Cipinang, sempet BLB pula di sinyal muka/masuk JNG. Di JNG saya disuruh pindah ke kereta di depan2x soalnya petugasnya mau matiin AC dan biar pas turun di GMR deket sama pintu keluar ke bawah. Yaudah deh pindah ke ekse 5 yang interiornya juga asli ABA Go Green yg eksteriornya pake stiker kuning. 

Jelang MRI ketahan dan papasan sama KA Bima GMR-SGU-ML sama balapan sama KRL dari arah BOO. Di MRI si KA 1 ABA bablas di sepur 1 dengan lambat ya tau sendiri lah ya gimana kecepatan KA2x yg melintas langsung di MRI sekarang. Beda sama dulu yg masih bisa ngebut. Di MRI juga ya lagi jam balik kerja jadinya rame banget itu jalur 4 ada KRL tujuan BKS masuk, jalur 5 KRL dari arah BOO masuk, jalur 6 KRL tujuan BOO masuk, jalur 7 ada KRL lagi nongkrong. Pantes rame banget ya ketahan. 

Lalu pas mau masuk GMR udah sejengkal lagi eh pake ketahan selama 2-3 menit dan itu AC Ekse 5 udah dimatiin. Saya sempet takut duh ini kok berhenti lalu AC mati apa lokonya rusak? Ga lucu banget udah sejengkal doang GMR malah loko rusak. Eh taunya cuma ketahan dan akhirnya sampe di GMR pukul 17.19 WIB. Telat 19 menit karena ya masuk Jakarta udah jam sibuk rame KRL juga kan. Jadi wajar lah yang penting tiba dengan aman, nyaman, selamat tanpa kekurangan suatu apapun. 

Overall ABA masih tetep nyaman sih menurut saya. Guncangannya, peredamnya top banget deh hehehe... Announcer dan speakernya juga jelas banget. Lalu fasilitas dan interior juga bersih. Toilet ada dua versi duduk dan jongkok bersih juga. Prama, prami, polsuska, teknisi, kondektur, dan cleaning servicenya juga ramah. Kursi nyaman kok mau yg versi ABA asli ataupun versi K1 2016. Buktinya saya betah banget dan bisa tidur juga. Paling klo mau pintu dibikin otomatis, lalu kasih legrest dan peredamnya dibikin yg lebih enak lagi. Soalnya ABA kan unggulan juga ya. Mantap deh untuk ABA. Mungkin lain kali mau nyoba yg ABA Malam yg sepertinya akan lebih ontime hehe.... 

KA 1 Argo Bromo Anggrek Pagi
SMT-GMR
Selasa, 27 September 2016
Lokomotif CC 206 13 77 JNG
Posisi TD awal: Ekse 3 9D
Posisi TD selanjutnya di Ekse 9 dan Ekse 5

LAPKA KA 1 SMT-GMR
SMT 11.20-11.30
PK 12.36-12.43
CN 14.17-14.22
Jalan pelan jelang JTB dan BLB JTB 14.48-14.53 menyusul KA Barang Kontainer Surabaya-Jakarta
Jalan pelan lepas Klender ke Cipinang dan BLB Ketahan antrian masuk JNG 16.49-16.53
JNG 16.55-16.57
BLB Sinyal masuk MRI papasan KA 44 Bima GMR-SGU-ML 17.02-17.03
BLB Sinyal masuk GMR 17.14-17.17
GMR 17.19 di jalur 3 sudah standby KA 42 Gajayana GMR-ML dan KA 18 Argo Jati GMR-CN
Reply
(28-09-2016, 12:42 PM)roysatyanusa Wrote: Selasa, 27 September 2016 kemarin berkesempatan kembali naik KA Argo Bromo Anggrek. Kali ini naik KA 1 Argo Bromo Anggrek Pagi dari Semarang Tawang menuju ke Gambir setelah 5 hari jalan-jalan di Semarang bersama kakak sepupu di sana. 
Oh ya, tiketnya non promo tapi dapet potongan 30ribu dari Padiciti jadi 255ribu aja. Mau batalin tp males begadang dan belum tentu dapet jadi nikmatin aja.

Tiba di SMT pukul 11.00 WIB dan sudah ramai sama calon penumpang KA ABA Pagi sama KA Maharani. Begitu di stasiun, cetak boarding pass, lalu masuk dan nunggu di peron jalur 1. Foto2x suasana stasiun SMT lalu pukul 11.20 WIB KA 1 ABA Pagi pun tiba dan masuk di jalur 1 SMT. Ditarik lokomotif CC 206 13 77 Dipo Induk Jatinegara. Saya sendiri dapet tempat duduk di Eksekutif 3 kursi 9D. Banyak penumpang yang naik dan turun di SMT, klo di lintas selatan mungkin udah mirip Jogja karena pergantian naik turun penumpangnya cukup signifikan. 

Dapet kereta yang interiornya masih asli Argo Bromo Anggrek yg pas jaman Go Green. Kursi lebar, nyaman, footrest, kaca lebar, pake korden, meja lipat, tapi pintu masu kabin ga otomatis soalnya ga ada stikernya dan ga ada tombolnya. Saya duduk di sebelah bapak2x yg naik dari SBI turun di JNG dan banyak bercerita dengan beliau. Beliau lagi dipindahtugaskan ke Jakarta dan bertanya2x juga cara menuju ke wilayah Serpong yg kebetulan saya familiar dengan wilayah tersebut hehe.

Tepat pukul 11.30 WIB KA 1 ABA Pagi berangkat meninggalkan SMT dan siap melintas di jalur KA yang menurut saya terbaik untuk saat ini yaitu jalur SMT-CN. Yang sering naik KA Pantura apalagi semenjak DT CN-SBI kelar pasti tau gimana nikmatnya dan nyamannya jalur pantura CN-SMT ini apalagi untuk ngebut. Benar2x luar biasa. Apalagi naiknya KA Argo Bromo Anggrek yang emang suspensinya alus, peredamnya enak, dan ga berguncang. Selalu top deh. 

Saya juga seneng karena bisa liat pemandangan laut utara Jawa di antara Krengseng-Ujungnegoro yang eksotis sambil ngebut gini. Soalnya kemaren2x naik kereta malam mulu jadi sulit melihatnya (ya iyalah kan gelap). Saya jg sempet foto2 pemandangannya karena emang jarang2x juga. Keren deh. Apalagi di sini juga ngebut banget ya dan papasan sama beberapa KA seperti KA Barang, KA Argo Muria, KA Menoreh Pagi, KA Kaligung. Karena jalurnya juga enak dan keretanya ngebut, SMT-PK dilibas hanya dalam waktu satu jam saja. Di Pekalongan juga banyak yang naik dan turun. Apalagi KA Argo Bromo Anggrek sbg satu2x-nya kereta pagi/siang dari Surabaya menuju Pekalongan atau sebaliknya. Yang lain pada kereta sore/malam semua. 

Selepas PK, saya pindah ke eksekutif 9. Sepanjang dari ekse 3 ke ekse 9, penumpang mendominasi sampe ekse 5 dan 6. Ekse 7 dan ekse 8 sedikit doang dan ekse 9 cuma ada satu lalu ditambah saya. Itupun juga railfans dari Surabaya. Lumayan lah bs ketemuan dan ngobrol2x. Oh ya, pintu keretanya juga udah pada manual semua. 
Di ekse 9 ini interiornya mirip sama K1 INKA 2016 dan ada footrestnya. Sebenernya footrestnya menurut saya sih enak walau harus diteken. tapi saya nekennya ga yg kuat kok. Bisa saya tahan dari PK hingga CN tanpa merasa lelah. Ga pake footrest juga saya bisa selonjoran hehe... 

Di ekse 9 menurut saya peredam suaranya tidak seperti di ekse 3 yg alus dan enak banget tapi masih enak sih ga yg terlalu gimana juga. Saya masih bisa sempet tidur selepas Pegaden Baru hingga jelang Cikampek. 

Oh ya, di perjalanan ini saya mendapatkan hikmah dan berkah terselubung alias Blessing in Disguise karena pas selepas Losari kan saya ke kereta makan laper mau makan terus pas udah pesen tuh, disuruh duduk sama mba praminya di depan bapak2x. Entah kenapa bapak2x itu begitu ramah dan langsung menyuruh+mempersilakan saya untuk duduk di hadapannya. Terus ngobrol2x dan pas beliau tau saya lagi di Semester VII jurusan Ilmu Komunikasi bidang PR, beliau langsung ngaish wejangan dan beberapa judul untuk proposal skripsi. Seneng banget bisa sekalian bimbingan di situ. Judulnya ga cuma satu, tapi sampe ada lima judul untuk proposal skripsi. Astaga benar2x baik luar biasa bapak ini. Ramah pula, rasanya pengen banget beliau jadi dosen saya untuk bimbingan skripsi. Ga nyangka banget di kereta bisa kenalan sama bapak yang langsung ngasih ide judul proposal skripsi :')  Ngakak

Di M1, saya pesen nasgor parahyangan yg di kotakan itu dan enak rasanya. tanggal kedaluwarsanya juga ga lama cuma sampe 16 Oktober 2016. Hehehe... Ga tau saya yg laper atau gimana tp menurut saya enak dan bumbunya berasa, agak pedes lagi hehe... Walau ya 30ribu tapi untung enak hehe... 

Selepas CN, balik lagi ke ekse 9 dan ya mulai dari CN sampe BKS kondisi relnya mulai deh. Bisa banget sih buat ngebut tapi berisik dan guncangannya ckckck.... Ini sih relnya emg udah harus diupgrade. tiap lewat wesel duhileh tobat deh. Beda sama SMT-CN dan juga pas berangkat ke Semarang naik Jayabaya aja dari CKP ke CN masih enak. Tapi dari CN ke CKP buset dah. Berisik dan berguncang padahal naik ABA. Baru mulai enak lagi selepas Cikarang ke barat. Dan sepanjang CN-CKP papasan sama KA2x dari Jkt yg entah kenapa kyknya pada telat. Mulai dari Tegal Bahari, Bengawan, Jayabaya, Cireks, Jaka Tingkir, Krakatau. Entah kenapa kebanyakan baru bertemu selepas Jatibarang bahkan selepas Terisi. Di JTB bahkan ABA BLB masuk sepur belok sebentar menyusul KA Barang Kontainer Surabaya-Jakarta.

Selepas CKP ya semakin menjadi goyangnya dan berisiknya walau bisa ngebut. Goyangnya pas lewat wesel sih kebanyakan. Lalu papasan sama banyak KA2x sore dari Jakarta macam Bangunkarta, Matarmaja, Argo Parahyangan, Gumarang, Brantas, Argo Sindoro. Tumben banget juga di Bekasi ga pake ditahan di sinyal muka/masuk dan bisa bablas dengan ngebut di BKS. 

Baru mulai ketahan selepas Klender, Cipinang, sempet BLB pula di sinyal muka/masuk JNG. Di JNG saya disuruh pindah ke kereta di depan2x soalnya petugasnya mau matiin AC dan biar pas turun di GMR deket sama pintu keluar ke bawah. Yaudah deh pindah ke ekse 5 yang interiornya juga asli ABA Go Green yg eksteriornya pake stiker kuning. 

Jelang MRI ketahan dan papasan sama KA Bima GMR-SGU-ML sama balapan sama KRL dari arah BOO. Di MRI si KA 1 ABA bablas di sepur 1 dengan lambat ya tau sendiri lah ya gimana kecepatan KA2x yg melintas langsung di MRI sekarang. Beda sama dulu yg masih bisa ngebut. Di MRI juga ya lagi jam balik kerja jadinya rame banget itu jalur 4 ada KRL tujuan BKS masuk, jalur 5 KRL dari arah BOO masuk, jalur 6 KRL tujuan BOO masuk, jalur 7 ada KRL lagi nongkrong. Pantes rame banget ya ketahan. 

Lalu pas mau masuk GMR udah sejengkal lagi eh pake ketahan selama 2-3 menit dan itu AC Ekse 5 udah dimatiin. Saya sempet takut duh ini kok berhenti lalu AC mati apa lokonya rusak? Ga lucu banget udah sejengkal doang GMR malah loko rusak. Eh taunya cuma ketahan dan akhirnya sampe di GMR pukul 17.19 WIB. Telat 19 menit karena ya masuk Jakarta udah jam sibuk rame KRL juga kan. Jadi wajar lah yang penting tiba dengan aman, nyaman, selamat tanpa kekurangan suatu apapun. 

Overall ABA masih tetep nyaman sih menurut saya. Guncangannya, peredamnya top banget deh hehehe... Announcer dan speakernya juga jelas banget. Lalu fasilitas dan interior juga bersih. Toilet ada dua versi duduk dan jongkok bersih juga. Prama, prami, polsuska, teknisi, kondektur, dan cleaning servicenya juga ramah. Kursi nyaman kok mau yg versi ABA asli ataupun versi K1 2016. Buktinya saya betah banget dan bisa tidur juga. Paling klo mau pintu dibikin otomatis, lalu kasih legrest dan peredamnya dibikin yg lebih enak lagi. Soalnya ABA kan unggulan juga ya. Mantap deh untuk ABA. Mungkin lain kali mau nyoba yg ABA Malam yg sepertinya akan lebih ontime hehe.... 

KA 1 Argo Bromo Anggrek Pagi
SMT-GMR
Selasa, 27 September 2016
Lokomotif CC 206 13 77 JNG
Posisi TD awal: Ekse 3 9D
Posisi TD selanjutnya di Ekse 9 dan Ekse 5

LAPKA KA 1 SMT-GMR
SMT 11.20-11.30
PK 12.36-12.43
CN 14.17-14.22
Jalan pelan jelang JTB dan BLB JTB 14.48-14.53 menyusul KA Barang Kontainer Surabaya-Jakarta
Jalan pelan lepas Klender ke Cipinang dan BLB Ketahan antrian masuk JNG 16.49-16.53
JNG 16.55-16.57
BLB Sinyal masuk MRI papasan KA 44 Bima GMR-SGU-ML 17.02-17.03
BLB Sinyal masuk GMR 17.14-17.17
GMR 17.19 di jalur 3 sudah standby KA 42 Gajayana GMR-ML dan KA 18 Argo Jati GMR-CN

Kala jalur masih single track, petak Krengseng - Plabuan - Ujungnegoro itu jauh lebih romantis dan eksotis karena rel kereta bener-bener mepet di bibir pantai lebih sering daripada yang sekarang pascarelokasi untuk jalur ganda. Sayang saya juga belum sempat mendokumentasikan kala jalur tersebut di puncak eksotismenya (halah), dan baru keturutan melotot jalur ini kala pembangunan double track petak Semarang - Cirebon... sudah direlokasi tentu saja...
Seperti alunan detak jantungku,
tak bertahan, melawan waktu
dan semua keindahan, yang memudar
atau cinta, yang tlah hilang

==========

My latest TR: here Tawang Alun, 30 Juni 2013

Lok Merah Biru
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)