Posts: 4,227
Threads: 0
Joined: Aug 2010
Reputation:
83
Kembali lagi dalam trip report yang sekarang udah memasuki tahap ketiga atau tahap terakhir dari perjalanan gue, yaitu perjalanan “kembali ke kehidupan sehari-hariâ€Â, atau dengan kata lain, perjalanan pulang gue.
Waktu menunjukkan pukul 18:45 ketika gue udah kembali berada di dalam rangkaian KA Ciremai Ekspres tujuan Bandung yang tersedia di jalur 4 tanpa lokomotif dinas. Kali ini, gue mendapatkan kesempatan naik di K1 0 95 11 CN, yang notabene adalah bekas K1 Argo Gede pas peluncurannya tahun 1995. Banyak yang udah berubah dari K1 ini dibanding dari foto-foto yang dikoleksi dulu, mulai dari bahan kursi yang sekarang dibalut bahan oscar, gorden jendela yang sekarang bercorak batik khas Cirebon, televisi yang sekarang berlayar lebih lebar dan udah pake sistem LED, sampe dengan pintu geser yang sekarang udah jadi manual, padahal dulu tinggal berdiri di depan pintu, dan pintunya akan bergeser secara otomatis...
[spoiler=pamer tiket yg terakhir...]
![[Image: image+%25287%2529.jpeg]](https://lh5.googleusercontent.com/-n6T-gvCBgYo/U5EKTeqGpZI/AAAAAAAAArU/JzS4_TGU238/w596-h445-no/image+%25287%2529.jpeg)
[/spoiler]
[spoiler=K1 0 95 11 CN]
![[Image: IMG_6071.JPG]](https://lh4.googleusercontent.com/-yatdwkGEZME/U5EKFzAr5QI/AAAAAAAAArE/WeU_Mszm3_M/w668-h445-no/IMG_6071.JPG)
[/spoiler]
Di awal rencana, gue berniat mengambil banyak foto ketika sedang menunggu waktu pulang di Cirebon. Tapi, karena gue baru nyampe setelah matahari terbenam, gue hanya bisa mengambil sedikit foto, seperti foto K3 0 12 50 MN milik rangkaian KA Krakatau...
[spoiler=K3 0 12 50 MN - KA Krakatau]
![[Image: IMG_6100.JPG]](https://lh6.googleusercontent.com/-8xPjbmD4w3o/U5EKQg4W5kI/AAAAAAAAArM/qibsi7p2lKU/w668-h445-no/IMG_6100.JPG)
[/spoiler]
Selain foto KA Krakatau, gue juga masih sempet ngerekam moment kedatangan KA 12 Argo Sindoro dari Gambir. Niatnya ngerekam kedatangan KA 7 Argo Lawu dari Solobalapan, dapetnya malah Argo Sindoro...
Susunan rangkaian KA 12 GMR-SMT malam itu kurang lebih seperti berikut:
CC 206 68 SMC
P 0 64 02 SMC
K1 0 02 41 SMC
K1 0 02 23 SMC
K1 0 02 25 SMC
K1 0 02 38 SMC
M1 0 82 04 SMC
K1 0 02 39 SMC
K1 0 02 22 SMC
K1 0 02 20 SMC
K1 0 02 33 SMC
B 0 91 04 SMC
Berbeda dgn sodaranya KA 13 Argo Muria SMT-GMR, yg di saat bersamaan menunggu waktu keberangkatan dari jalur 1, saat itu KA 13 membawa 1 K1 livery Satwa (CMIIW, cuma sekilas ngeliat pas abis Krakatau dilangsir ke jalur 5 plus nungguin Sindoro masuk jalur 3) alias rangkaiannya belang...
Sambil menunggu waktu keberangkatan, gue langsung melahap perbekalan yang tadi gue beli di salah satu minimarket di halaman depan Stasiun Cirebon. Saking lapernya, nggak kepikiran lagi buat motretin makanan dan minuman malam itu...
Pukul 19:35, di saat KA 12 Argo Sindoro tujuan Semarang Tawang masih menunggu jadwal berangkat pukul 19:40, KA 7105 Ciremai Ekspres tujuan Bandung diberi aspek sinyal keluar aman, terlambat 350 menit. Hal pertama yang gue pikirkan saat itu, apakah gue bakal langsung dapet service recovery atau nggak, dan ternyata jawabannya adalah negatif. Sepasang awak restorasi datang menawarkan menu makan malam seperti nasi goreng dan nasi rames, tapi saat itu perut gue udah merasa kenyang dengan perbekalan barusan. Kalo aja nasi gorengnya dateng waktu perjalanan dari Bandung, pasti udah gue beli...
Awalnya, perjalanan berjalan lancar. Kereta melintas langsung di Stasiun Cangkring dengan kecepatan cukup tinggi. Tapi, begitu memasuki stasiun selanjutnya, laju kereta terhenti aspek sinyal merah. Pengumuman dari PPKA Stasiun Bangoduwa: “KA Ciremai Ekspres tunggu aman Stasiun Arjawinangunâ€Â. Tujuh menit berhenti di Bangoduwa, akhirnya KA 7105 kembali berangkat, hanya untuk berhenti (lagi) di stasiun berikutnya: Arjawinangun. Pengumuman PPKA di sana lebih mengejutkan lagi: “Jalur 3, KA 7105 Ciremai Ekspres tujuan Bandung, tunggu bersilang KA 34 Bima dari Gambirâ€Â. What, bersilang di jalur ganda?! Entah ada apa yang terjadi dengan jalur yang seharusnya dilewati kereta ke arah Cirebon, padahal kurang dari 2 jam sebelumnya masih bisa dilewati dengan lancar.
Setelah rangkaian KA 34P lewat di jalur 4, KA 7105 kembali diberangkatkan dari jalur 3. Melewati Stasiun Kertasemaya dengan lancar, kereta kembali berhenti di Stasiun Jatibarang. Begitu kereta kembali berangkat, gue memutar sepasang kursi tak bertuan di depan gue, sehingga malam itu gue berhasil menguasai tiga kursi sekaligus. Awal mulanya, gue mencoba tidur dengan posisi tubuh membentuk huruf L: bagian kepala sampe pinggang berada di double seat, sisanya diseberangkan ke single seat. Hasilnya: badan pegel-pegel...
Sempat terbangun ketika kereta berhenti di Haurgeulis, gue berharap supaya nggak ada penumpang yang datang lalu duduk di kursi 2C atau 2D. Setelah memastikan kedua kursi itu masih kosong, gue kembali mencoba untuk tidur dengan posisi yang lebih “normalâ€Â: duduk di kursi 2D, menyandarkan kepala ke sandaran kursi sebelah (2C) yang ditegakkan, sambil meluruskan kedua kaki ke kursi 1C. Hasilnya: bisa tidur selama 30 menit dengan nyaman...
Ketika gue kembali terbangun, gue sempat melihat sebuah bangunan stasiun dilewati KA 7105 dengan kecepatan cukup tinggi. Tulisan PABUARAN yang disinari lampu neon membuat gue bisa mengetahui posisi saat itu. Lima belas menit sejak gue terbangun, kereta kembali berhenti di Stasiun Cikampek. Seharusnya, kereta cuma berhenti selama 15 menit, paling lambat 20 menit. Tapi, malam itu, kenyataannya sangat berlainan dengan yang biasa terjadi...
Posts: 912
Threads: 0
Joined: Dec 2012
Reputation:
9
Akakakakaka....... Turanzonk.....  Sudah kursinya sempit atosnya kyk airline yg beli banyak pesawat B737-9 MAXX lagi......... tapi ya heran aja kenapa kok Turanzonk sampe nyangkut ke CiremEx........
K1 95? Dari jaman jebot ane nemu dari mbah gugel pas jamannya berkarpet pimtu udah manual kok....... tapi it's much better than Turanzonk lah.......
Posts: 1,401
Threads: 0
Joined: Dec 2010
Reputation:
24
kyaa om lavie bikin TR 
itu ciremai pas di jembatan cisomang pake jalur baru kah? 
udah ada weselnya ke jalur lama menuju stasiun cisomang?
My Train Frequent Passanger Card
[spoiler]
![[Image: 0951262e89bc11e1a92a1231381b6f02_7.jpg]](http://distilleryimage6.instagram.com/0951262e89bc11e1a92a1231381b6f02_7.jpg) [/spoiler]
Posts: 4,227
Threads: 0
Joined: Aug 2010
Reputation:
83
(10-06-2014, 12:50 PM)LufthansaPilot Wrote: Akakakakaka....... Turanzonk..... Sudah kursinya sempit atosnya kyk airline yg beli banyak pesawat B737-9 MAXX lagi......... tapi ya heran aja kenapa kok Turanzonk sampe nyangkut ke CiremEx........
K1 95? Dari jaman jebot ane nemu dari mbah gugel pas jamannya berkarpet pimtu udah manual kok....... tapi it's much better than Turanzonk lah.......
JT/LNI? Kapok gue naik itu dari BPN ke CGK, udah kursinya keras sekeras-kerasnya, AC-nya baru kerasa pas udah setengah penerbangan... *lah kok malah curhat soal TR yg lain ya*
Nah itu yg masih jadi pertanyaan sampe skrg... waktu di CN padahal ada K1 0 95 16 yg pake sticker batik biru Ciremai, tapi malah dijadiin aling-aling buat KA 7105/7108 ngegantiin K3 0 98 10...
Ah nggak, dulu pas naik Argo Gede inget banget kok pintunya K1-95 otomatis dan pake sensor... abis itu sekitaran tahun 2005 muncul K1 yg pintu otomatisnya pake tombol kayak skrg, dan K1 yg pintu otomatis itu mulai diubah jadi pake tombol juga... Mungkin foto yg ada di mbah gugel itu udah di tahun-tahun terakhir K1 berkarpet?
Kalo ditanya soal kenyamanan, jelas jauh lebih nyaman K1-95 dibanding Turanzonk... Apalagi buat yang seneng duduk di single seat, karena single seat-nya nggak digabung, wkwkwk...
(10-06-2014, 03:05 PM)Gopar new image Wrote: kyaa om lavie bikin TR 
itu ciremai pas di jembatan cisomang pake jalur baru kah? 
udah ada weselnya ke jalur lama menuju stasiun cisomang?
Kayaknya weselnya baru dibikin abis KA 30 anjlok, soalnya dapet kabar kalo jalur hilirnya Cisomang (PDL-PWK) diusahakan bisa dilewati KA, dan akhirnya jam 05:30 jalur yang "baru" itu bisa dilewatin juga...
Oke, mumpung lagi ada kesempatan, berikut lanjutan TR-nya yang hampir mencapai akhir perjalanan. Selamat menikmati!
“Mohon diperhatikan, jalur 4 dari arah barat masuk kereta api langsung...â€Â
Waktu menunjukkan tepat pukul 22:00 begitu lokomotif CC 201 107 JNG lewat di samping kiri rangkaian KA 7108 menarik deretan gerbong barang berwarna hijau. Untuk pertama kalinya, gue bisa melihat langsung rangkaian Kereta Api Over Night Service, alias “Go Greenâ€Â-nya kereta barang, yang sama dengan “Go Greenâ€Â-nya kereta penumpang, menghubungkan Jakarta dengan Surabaya lewat Semarang. Agak nyesel juga gue nggak turun buat ngerekam si ONS, tapi saat itu gue bener-bener lagi menikmati nyamannya duduk sambil meluruskan kedua kaki gue ke kursi seberang...
Dua puluh lima menit berlalu sejak kereta yang gue tumpangi berhenti di Stasiun Cikampek begitu PPKA kembali ngumumin sebuah kereta bakal lewat di jalur 4. Lokomotif CC 206 34 bercap “DIPO INDUK CN†dan KM1 0 67 01 berbalutkan sticker batik promosi Argo Jati membuat gue tahu kereta apa yang barusan lewat: KA Cirebon Ekspres Fakultatif, yang untuk terakhir kalinya menggunakan nomor perka 48F. Baik gue maupun penumpang lainnya berharap, itulah rangkaian kereta terakhir yang lewat di jalur 4 sebelum akhirnya kereta yang kami tumpangi siap diberangkatkan kembali.
Tapi, seperti yang gue bilang di akhir postingan sebelum yang satu ini, kenyataan yang terjadi sangat berbeda dengan keadaan yang diinginkan. Bahasa “gaulnyaâ€Â: das Sein-nya berbeda dengan das Sollen. Berpuluh-puluh menit selanjutnya berlalu tanpa ada kepastian apapun mengenai nasib KA Ciremai Ekspres tujuan Bandung, yang hampir 300 penumpangnya saat itu terlantar di Stasiun Cikampek. Berbeda dengan di Rendeh, malam itu pihak Stasiun Cikampek nggak ada yang memberi alasan kenapa KA 7108 tak kunjung berangkat.
Sambil menunggu, gue sempat mencatat beberapa lokomotif dinas KA yang lewat di Stasiun Cikampek, sebagai berikut:
CC 206 81 JNG – KA 36P Sembrani GMR-SBI (23:19)
CC 201 58 PWT – KA 133P Kutojaya Utara KTA-PSE (23:21)
CC 206 89 JNG – KA 42P Taksaka Malam GMR-YK (23:25)
CC 203 15 JNG – KA 128P Progo PSE-LPN (23:31)
CC 201 128R JNG – KA 125P Bengawan PWS-TPK (23:42)
Kabar pertama baru datang setelah KA 125P lewat, atau hampir 2 jam sejak KA Ciremai Ekspres tiba di Stasiun Cikampek. Beritanya adalah seluruh penumpang KA 7108 bakal dipindahkan menggunakan bus Damri menuju Bandung. Spontan, cukup banyak penumpang menolak untuk dialihkan. Dari info yang gue dapet, pihak stasiun mengatakan kalo rangkaian dan seluruh kru yang bertugas sebenernya siap melanjutkan perjalanan, tapi jalur di depan malam itu nggak siap dilewati. Pihak penumpang yang protes tetap berkeras nggak mau dialihkan, dan akhirnya setelah melewati proses negosiasi, tercapailah sebuah kompromi: penumpang tetap bisa melanjutkan perjalanan dengan kereta, asalkan mau menunggu 1,5 jam karena jalurnya akan dipadatkan. Suasana kembali tenang untuk 1,5 jam berikutnya.
[spoiler=Yang pada protes...]
![[Image: image+%25288%2529.jpeg]](https://lh5.googleusercontent.com/-0sYb8vfoH4c/U5cPuUaZ4ZI/AAAAAAAAAuw/8JOC-VJBFDY/w332-h444-no/image+%25288%2529.jpeg)
[/spoiler]
Sebenarnya, selama perjalanan hingga Cikampek, gue sempat mengobrol dengan beberapa penumpang dan (juga) menguping pembicaraan penumpang-penumpang lainnya, dan inti dari apa yang gue tangkep, ternyata semua penumpang KA Ciremai, baik dalam perjalanan dari Bandung juga dari Cirebon, memilih untuk tetap menunggu kereta daripada membatalkan tiket lalu berganti moda (travel atau bus), karena mereka udah merasa “kapok†kalo harus lewat jalan raya, dengan kondisi yang rusak dan padat kendaraan. Sedangkan kalo naik kereta, cukup 4 jam perjalanan tanpa ketemu macet dan jalanan rusak. Adapun memang perjalanan KA Ciremai tanggal 31 Mei ini menjadi perjalanan KA Ciremai pertama yang mengalami rintangan jalan (rinja) sejak peresmiannya tanggal 28 September 2013. Tidak aneh pula kalo banyak sekali orang yang mengandalkan KA Ciremai.
Tapi begitu sampe di bagian penolakan pengalihan dari kereta ke bus, gue sebenernya setuju dengan teman RF yang malam itu menjadi teman bicara gue lewat Line, yaitu menolak untuk tetap bertahan di kereta.
Alasan pertama, kalo emang jalurnya ditutup, ya jangan maksain terus jalan, entar kalo ada kejadian yang nggak-nggak, siapa yang mau tanggung coba?
Kedua, alasan teknis, rangkaian udah harus dijalankan lagi sebagai KA 89, berangkat dari Cirebon jam 04:45. Kalo akhirnya rangkaian KA 7105/7108 tetap dijalankan sampe Bandung, berarti perkiraan tiba di Bandung secepatnya adalah pukul 04:00, dengan kondisi jalur yang masih dipasang semboyan 2C. Mau jam berapa balik ke CN buat dinas KA 89?
Ketiga, udah syukur banget donk bisa naik kereta sampe Cikampek. Kalopun harus nyambung bus ke Bandung, jalan raya nontolnya tinggal sepotong doank kok, sampe masuk gerbang tol Cikampek, abis itu lancar jaya sampe Bandung.
Ada sekelompok penumpang, yang saat protes di Cikampek, ngomong dengan lancarnya begini: “Kenapa kita nggak dialihkan naik bus saja sejak dari Cirebon, daripada udah disuruh nunggu lama, taunya sekarang harus nyambung bus juga?†Rasanya gue mau jawab begini: “Kalo emang lo mau naik bus dari Cirebon, kenapa nggak batalin tiket lo aja, trus ganti naik bus atau travel? Gue sih udah syukur aja, bisa naik kereta sampe Cikampek, nggak perlu ketemu macet dan jalanan rusak dari Cirebon sampe Bandung.â€Â
Tapi daripada membuat suasana makin rusuh, gue memilih duduk di salah satu bangku di peron jalur 3 bersama dua orang bapak sambil mencatat kereta yang lewat:
CC 201 126R JNG – KA 117P Brantas KD-TPK (00:14)
CC 206 51 SDT – KA 70/71P Purwojaya CP-KYA-GMR (00:21)
CC 201 52 PWT – KA 139P Tawang Jaya SMC-PSE (00:34)
Satu video terakhir, ketika rangkaian KA Purwojaya langsung Cikampek, seluruh K1 dan K2-nya hampir full putih-biru...
Waktu terus berjalan, dan nggak terasa jam analog di peron Stasiun Cikampek menunjukkan waktu pukul 1 dini hari. Tenggang waktu menunggu jalur di Cisomang selesai dipadatkan tersisa 30 menit lagi...
[spoiler=Tik tok, tik tok, jarum jam terus berputar...]
![[Image: image+%252810%2529.jpeg]](https://lh3.googleusercontent.com/-Z_7O1EfMuTs/U5cPxAEZtCI/AAAAAAAAAu4/t1XrcO1jFvU/w596-h445-no/image+%252810%2529.jpeg)
[/spoiler]
Posts: 912
Threads: 0
Joined: Dec 2012
Reputation:
9
(10-06-2014, 09:18 PM)dtRAiNeR Wrote: (10-06-2014, 12:50 PM)LufthansaPilot Wrote: Akakakakaka....... Turanzonk..... Sudah kursinya sempit atosnya kyk airline yg beli banyak pesawat B737-9 MAXX lagi......... tapi ya heran aja kenapa kok Turanzonk sampe nyangkut ke CiremEx........
K1 95? Dari jaman jebot ane nemu dari mbah gugel pas jamannya berkarpet pimtu udah manual kok....... tapi it's much better than Turanzonk lah.......
JT/LNI? Kapok gue naik itu dari BPN ke CGK, udah kursinya keras sekeras-kerasnya, AC-nya baru kerasa pas udah setengah penerbangan... *lah kok malah curhat soal TR yg lain ya*
Nah itu yg masih jadi pertanyaan sampe skrg... waktu di CN padahal ada K1 0 95 16 yg pake sticker batik biru Ciremai, tapi malah dijadiin aling-aling buat KA 7105/7108 ngegantiin K3 0 98 10...
Ah nggak, dulu pas naik Argo Gede inget banget kok pintunya K1-95 otomatis dan pake sensor... abis itu sekitaran tahun 2005 muncul K1 yg pintu otomatisnya pake tombol kayak skrg, dan K1 yg pintu otomatis itu mulai diubah jadi pake tombol juga... Mungkin foto yg ada di mbah gugel itu udah di tahun-tahun terakhir K1 berkarpet?
Kalo ditanya soal kenyamanan, jelas jauh lebih nyaman K1-95 dibanding Turanzonk... Apalagi buat yang seneng duduk di single seat, karena single seat-nya nggak digabung, wkwkwk...
iya, klu yg PK-LF* dan PK-LG* (yg non sky interior) kursinya keras banget kyk Turanzonk (apa lebih keras ya?). Tapi yg PK-LH* keatas (yg baru pke sky interior) kursinya ya rada empukan kyk K1 0 64 21 Muttim atau Turanzonk tapi rada empukkan dikit lah
Ditunggu kelanjutannya
Posts: 975
Threads: 0
Joined: Jul 2012
Reputation:
24
(11-06-2014, 03:08 PM)LufthansaPilot Wrote: (10-06-2014, 09:18 PM)dtRAiNeR Wrote: (10-06-2014, 12:50 PM)LufthansaPilot Wrote: Akakakakaka....... Turanzonk..... Sudah kursinya sempit atosnya kyk airline yg beli banyak pesawat B737-9 MAXX lagi......... tapi ya heran aja kenapa kok Turanzonk sampe nyangkut ke CiremEx........
K1 95? Dari jaman jebot ane nemu dari mbah gugel pas jamannya berkarpet pimtu udah manual kok....... tapi it's much better than Turanzonk lah.......
JT/LNI? Kapok gue naik itu dari BPN ke CGK, udah kursinya keras sekeras-kerasnya, AC-nya baru kerasa pas udah setengah penerbangan... *lah kok malah curhat soal TR yg lain ya*
Nah itu yg masih jadi pertanyaan sampe skrg... waktu di CN padahal ada K1 0 95 16 yg pake sticker batik biru Ciremai, tapi malah dijadiin aling-aling buat KA 7105/7108 ngegantiin K3 0 98 10...
Ah nggak, dulu pas naik Argo Gede inget banget kok pintunya K1-95 otomatis dan pake sensor... abis itu sekitaran tahun 2005 muncul K1 yg pintu otomatisnya pake tombol kayak skrg, dan K1 yg pintu otomatis itu mulai diubah jadi pake tombol juga... Mungkin foto yg ada di mbah gugel itu udah di tahun-tahun terakhir K1 berkarpet?
Kalo ditanya soal kenyamanan, jelas jauh lebih nyaman K1-95 dibanding Turanzonk... Apalagi buat yang seneng duduk di single seat, karena single seat-nya nggak digabung, wkwkwk...
iya, klu yg PK-LF* dan PK-LG* (yg non sky interior) kursinya keras banget kyk Turanzonk (apa lebih keras ya?). Tapi yg PK-LH* keatas (yg baru pke sky interior) kursinya ya rada empukan kyk K1 0 64 21 Muttim atau Turanzonk tapi rada empukkan dikit lah

Ditunggu kelanjutannya
K1 95 dulu pake sensor (baca di MKA), kalau diinjak nanti ada suara khasnya...terus mulai K1 MD berapa gitu diubah pake tombol...
Yang non sky interior (apalagi yang PK-LF*) itu memang atos om...saya naik LFG atosnya minta ampun...sempit lagi, terus naik yang PK-LK* 738 itu empuk....pokoknya JT yang sky interior lumayan kok...
Posts: 4,227
Threads: 0
Joined: Aug 2010
Reputation:
83
(11-06-2014, 03:08 PM)LufthansaPilot Wrote: iya, klu yg PK-LF* dan PK-LG* (yg non sky interior) kursinya keras banget kyk Turanzonk (apa lebih keras ya?). Tapi yg PK-LH* keatas (yg baru pke sky interior) kursinya ya rada empukan kyk K1 0 64 21 Muttim atau Turanzonk tapi rada empukkan dikit lah

Ditunggu kelanjutannya
kayaknya sih lebih keras daripada Turanzonk, waktu itu dari BPN ke CGK dapet PK-LFS, adanya reclining seat sih lumayan, tapi tetep nggak betah duduk gara-gara keras... -__-
(11-06-2014, 06:11 PM)dozykayen Wrote: K1 95 dulu pake sensor (baca di MKA), kalau diinjak nanti ada suara khasnya...terus mulai K1 MD berapa gitu diubah pake tombol...
Yang non sky interior (apalagi yang PK-LF*) itu memang atos om...saya naik LFG atosnya minta ampun...sempit lagi, terus naik yang PK-LK* 738 itu empuk....pokoknya JT yang sky interior lumayan kok...
Nah iya, K1-95 pake sensor, tinggal disamperin ke deket pintunya dan langsung geser sendiri... kemungkinan besar mulai K1 yg 2002 diubah pake tombol, soalnya pas naik Argo Gede di tahun 2004-2005 sempet dapet K1 yg pintunya masih pake sensor dan juga dapet K1 yg udah pake tombol...
Wah 738 ya? Semua penerbangan yg ke BDO pakenya 738 tuh, tapi males naik/turun di BDO, runwaynya pendek...
Oke, kembali ke laporan perjalanan, berikut lanjutannya...
Di waktu yang bersamaan saat gue memotret jam dinding Stasiun Cikampek di postingan sebelum ini, ternyata diskusi berkepanjangan di ruang PPKA menghasilkan solusi baru: penumpang KA Ciremai (akhirnya) setuju dialihkan menggunakan bus, dengan syarat KS membuatkan (semacam) berita acara tentang kedatangan KA 7105 dari Cirebon sampai dengan pemberangkatan penumpang menggunakan bus ke Bandung. Syukurlah, akhirnya gue dan 300-an penumpang lainnya bisa melanjutkan perjalanan. Terima kasih buat KS dan PPKA setempat yang ternyata nggak tinggal diam juga seperti yang gue ceritakan di awal cerita; di balik bungkamnya mereka, ternyata sedang merencanakan solusi terbaik untuk kami para penumpang. Mohon maaf buat praduga semula yang nggak baik, hehehe...
Singkat cerita, pukul 01:17, atas prakarsa kelompok penumpang yang lebih lunak dan lebih pengertian, dua bus pertama berisi mayoritas penumpang lansia dan juga mereka yang membawa anak diberangkatkan. Gue termasuk di antara penumpang yang diberangkatkan duluan karena gue termasuk kategori “single passenger†yang diminta untuk mengisi kursi-kursi bus yang masih kosong. Selamat tinggal K1 0 95 11 yang nyaman...
[spoiler=Kosong, siap dibalikin ke CN...]
![[Image: image+%25289%2529.jpeg]](https://lh5.googleusercontent.com/-gIeQchSc4og/U5e0OABnHCI/AAAAAAAAAvk/uFNX7bkLNvU/w1101-h822-no/image+%25289%2529.jpeg)
[/spoiler]
Oh iya, menjelang pemberangkatan dua bus pertama, PPKA sempat menanyakan kalo ada penumpang yang ingin balik ke CN dengan rangkaian ex KA 7105, dan kalo nggak salah ada sekitar 5-10 penumpang yang memilih balik kanan ke titik pemberangkatan awal, entah karena alasan apa...
Kurang lebih inilah model bus yang disiapkan untuk para penumpang Ciremai Ekspres tujuan Bandung:
[spoiler=Ilustrasi bus Damri AC, yang gue naikin malam itu nomernya #4332...]
![[Image: 06012011289_zpsa3f41b3b.jpg]](http://i1193.photobucket.com/albums/aa349/sMiLe_221193/06012011289_zpsa3f41b3b.jpg)
[/spoiler]
Sepanjang perjalanan, bus hanya terhambat antrian kendaraan yang masuk Tol Cikampek. Setelah itu, perjalanan berlangsung dengan lancar dan sekitar pukul 02:30 bus berhenti di kilometer 120-an menjelang percabangan ke Pasteur karena ada penumpang yang minta diturunkan di sana. Keluar gerbang tol Pasteur pukul 02:45, 10 orang minta diturunkan sepanjang Jalan Djundjunan: 6 orang di pangkalan taksi dekat BTC, 2 orang di depan Pasteur Hyper Point, dan 2 orang lagi di lampu merah RSHS. Singkat cerita, pukul 03:03 dua bus yang berangkat terlebih dahulu akhirnya tiba di depan Stasiun Bandung. Penumpang yang turun diminta untuk menunggu di depan gerbang stasiun. Ternyata, di sana telah disiapkan service recovery berupa sepotong ayam goreng dari restoran cepat saji yang cukup terkenal disertai seporsi nasi. Sangat disayangkan karena mereka nggak menyediakan minuman seperti saat service recovery di Rendeh.
[spoiler=SR-nya KA 7105/7108, kurang air mineral...]
![[Image: image+%252811%2529.jpeg]](https://lh6.googleusercontent.com/-cEPQOazGqXw/U5e0OHmCXEI/AAAAAAAAAvo/zDCBlhObqA0/w614-h822-no/image+%252811%2529.jpeg)
[/spoiler]
Akhirnya, setelah melalui “masa-masa sulitâ€Â, sekitar sepertiga dari keseluruhan penumpang KA Ciremai Ekspres tujuan Cimahi dan Bandung telah tiba di tujuan akhir masing-masing. Begitu seluruh penumpang keluar dari bus dan mendapatkan kotak makanan masing-masing, hampir 99% dari seluruh penumpang tersebut langsung melanjutkan perjalanan ke rumah masing-masing, baik dengan taksi ataupun mobil yang menjemput mereka. Ada pula sekitar 1% yang masih menunggu di lobby Stasiun Bandung, entah karena jemputan mereka belum datang, atau menunggu KRD Patas ke arah timur.
Sebagai penutup dari bagian ketiga ini, berikut gue lampirkan LAPKA Ciremai Ekspres Cirebon-Cikampek dan “LAPBUS†Cikampek-Bandung:
Laporan Perjalanan Kereta Api (LAPKA)
Nama Kereta: CIREMAI EKSPRES
Nomor Kereta: 7105/7108
Jadwal Berangkat: CIREBON (CN), 31 MAY 2014 13:45
Realisasi: CIREBON (CN), 31 MAY 2014 19:35 (+ 350 menit)
Jadwal Tiba: BANDUNG (BD), 31 MAY 2014 17:39
Realisasi: BANDUNG (BD), 01 JUN 2014 03:03 (+ 565 menit)
Durasi Perjalanan: 7 jam 28 menit
Formasi Rangkaian: CC 203 19 – P – 2 K1 – M1 0 68 01 – 3 K3 – K1 LD
Dipo Induk Lokomotif: Jatinegara (JNG)
Dipo Induk Rangkaian: Cirebon (CN), Sidotopo (SDT)
// 19:35 CIREBON (CN)
LS. 19:43 Cangkring (CNK)
19:51-19:58 Bangoduwa (BDW), tunggu aman jalur menuju Arjawinangun
20:07-20:14 Arjawinangun (AWN), X KA 34P Ekspres Malam Bima GMR-SGU
LS. 20:26 Kertasemaya
20:34-20:35 Jatibarang (JTB), lambat 377 menit
[...]
21:09-21:11 Haurgeulis (HGL)
[...]
LS. 21:42 Pabuaran (PAB)
LS. 21:45 Tanjungrasa (TJS)
21:57-01:17 (+1) Cikampek (CKP), overstappen dengan bus Damri AC, lambat 564 menit
[...]
\\ 03:03 BANDUNG (BD)
Posts: 538
Threads: 0
Joined: May 2013
Reputation:
7
Penasaran nih, sama tiket yang dibatalkan itu tujuan kemana Mas?
Wah berarti urang Bandung juga ya? Hahaha...
Saya juga penasaran belum pernah naik Ciremai ke CN.
Hanya seorang penglaju Jakarta-Bandung
Banyak sekali kenangan manis di antara Stasiun Jatinegara - Stasiun Bandung
Posts: 320
Threads: 0
Joined: Nov 2013
Reputation:
12
TR yang penuh perjuangan...
Posts: 912
Threads: 0
Joined: Dec 2012
Reputation:
9
Masalah K1 0 66 07 SDT Turanzonk, di trid Gopar, ada yang bilang K1 0 66 07 SDT sekarang pindah ke BD lho......... Pas om lavie naik diponya masih cap SDT apa udah jadi cap BD?
|