Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Kereta Api tidak "merakyat" lagi......
Boleh pinjam kah informasinya?
Mau saya share di thread sebelah
LAGI BOYONGAN DARI DAOP IX KE DAOP VIII . . . .
Reply
apakah dengan adanya tarif baru dibarengi juga dengan penambahan jumlah kereta per rangkaian?

kereta api dapat subsidi/pso sampai2 bos organda merasa iri lho. kalau tidak naik tarif sampai 35% bisa nggak ketutup itu operasional bus. mungkin mau ikut minta subsidi juga barangkali? tapi gimana kasih subsidinya kalau pemilikannya kebanyakan po atau koperasi, bukan 1 atap. mungkin harus gabung mirip busway, baru dapat pso nya... Big Grin
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Reply
(04-07-2013, 10:55 AM)warsito Wrote: dengan ini saya akan menyataken kalo kereta api merakyat Big Grin

Jadi geli kalo baca kembali postingan di bawah ini... Ngakak Ngakak

(23-03-2013, 01:10 AM)warsito Wrote: intinya ignatius brengsek
Reply
(04-07-2013, 10:26 PM)ady_mcady Wrote: apakah dengan adanya tarif baru dibarengi juga dengan penambahan jumlah kereta per rangkaian?

kereta api dapat subsidi/pso sampai2 bos organda merasa iri lho. kalau tidak naik tarif sampai 35% bisa nggak ketutup itu operasional bus. mungkin mau ikut minta subsidi juga barangkali? tapi gimana kasih subsidinya kalau pemilikannya kebanyakan po atau koperasi, bukan 1 atap. mungkin harus gabung mirip busway, baru dapat pso nya... Big Grin

Subsidi/PSO untuk argo karet kan secara tidak langsung sudah diterima via pemakaian BBM bersubsidi selama ini Om...Bye Bye
Thomas, James, Percy, Gordon, Emily, Henry, Edward, Toby
Reply
(05-07-2013, 02:59 AM)MakSaa Wrote:
(04-07-2013, 10:26 PM)ady_mcady Wrote: apakah dengan adanya tarif baru dibarengi juga dengan penambahan jumlah kereta per rangkaian?

kereta api dapat subsidi/pso sampai2 bos organda merasa iri lho. kalau tidak naik tarif sampai 35% bisa nggak ketutup itu operasional bus. mungkin mau ikut minta subsidi juga barangkali? tapi gimana kasih subsidinya kalau pemilikannya kebanyakan po atau koperasi, bukan 1 atap. mungkin harus gabung mirip busway, baru dapat pso nya... Big Grin

Subsidi/PSO untuk argo karet kan secara tidak langsung sudah diterima via pemakaian BBM bersubsidi selama ini Om...Bye Bye

Nah, ini nih, dapet subsidi secara gak langsung selama bertahun-tahun kok gak nyadar juga .... kan bus-bus eksekutif tarifnya jauuuuh lebih murah daripada kereta eksekutif relasi yang sama yang malah semakin naik dari tahun ke tahun Ngikik
Seperti alunan detak jantungku,
tak bertahan, melawan waktu
dan semua keindahan, yang memudar
atau cinta, yang tlah hilang

==========

My latest TR: here Tawang Alun, 30 Juni 2013

Lok Merah Biru
Reply
(04-07-2013, 11:51 PM)Logawa_ATB Wrote:
(04-07-2013, 10:55 AM)warsito Wrote: dengan ini saya akan menyataken kalo kereta api merakyat Big Grin

Jadi geli kalo baca kembali postingan di bawah ini... Ngakak Ngakak

(23-03-2013, 01:10 AM)warsito Wrote: intinya ignatius brengsek

berarti pernyataan saya yang terdahulu sudah gugur Xie Xie
Reply
(05-07-2013, 07:48 AM)Hungry Soul Wrote:
MakSaa Wrote:Subsidi/PSO untuk argo karet kan secara tidak langsung sudah diterima via pemakaian BBM bersubsidi selama ini Om...Bye Bye

Nah, ini nih, dapet subsidi secara gak langsung selama bertahun-tahun kok gak nyadar juga .... kan bus-bus eksekutif tarifnya jauuuuh lebih murah daripada kereta eksekutif relasi yang sama yang malah semakin naik dari tahun ke tahun Ngikik

Nah ya ini, masa yang begini masih iri2an segala....Ngakak
sehari mereka abis berapa liter Solar, sementara yang naik bus katakanlah full, tapi ya ga nyadar2 juga, lha sampe skarang aja masih di subsidi koq, lha kereta kan baru disubsidi sekarang, itu pun nunggu BBM naek dulu, lha entar kalo suatu saat BBM turun lagi apa ya iya masih dikasih PSO?Ngakak
Contohlah pesawat dan para penumpangnya, walawpun ga pernah dapat PSO, penumpang juga gada yang ngeluh pesawat koq ga merakyat?Ngakak

SEBELUM MENUTUP MATA INI IJINKAN AKU TUHAN MELIHAT SEMUA JALUR MATI DI JAWA HIDUP KEMBALI. AMIN

Reply
(04-07-2013, 12:56 PM)Toentang Wrote: Harga yg murah (terjangkau bagi banyak kalangan) hanyalah salah satu parameter disebut KA merakyat, selain aman dan tepat waktu tentunya. Kalau masalah nyaman itu boleh saja dikompensasikan dengan tambahan harga.
Pengguna KA pada umumnya lebih memilih harga murah dengan kenyamanan yang kurang daripada nyaman tapi dengan selisih harga yg tinggi. Apalagi nyaman menurut PT Sepur hanya soal adanya AC yang inipun dipaksakan karena pake AC split.
Bukan hanya dipasang AC trus bilang "Ni lho sudah dipasang AC, sudah nyaman kan? so, wajar kan kalo dinaikin harganya?" (???)
Soal tepat waktu masih harus ditingkatkan, jangankan KA ekonomi, KA yang lebih tinggi kelasnya pun masih harus diperbaiki. Tarif penurunan inipun menurut saya tidak berlangsung lama, karena dana PSO dari pemerintah juga terbatas.
Memang PT Sepur harus lebih intensif lagi melobi pemerintah untuk peningkatan dana PSO, daripada ya sudah terima apa adanya tapi imbasnya dibebankan kepada pengguna KA.

Nulis sich gampang, Kang... Soal lobi melobi kalo sdh berhadapan dgn intrik2 politik jg mentok, apalg berhadapan dgn orang kementrian atau org2 yg ngakunya wakil rakyat. Lobi dgn mereka mau main bersih atau main kotor...? Bersihkah mereka...? Kalo main kotor mau seberapa gede gratifikasinya...?

Lha wong soal PSO buat K3 & KL3 ajah tahun 2012 dibilang operator KA nggak bs menyerap anggaran dgn baik. Kalo nggak tersedia angkutan bersubsidi dikarenakan bencana alam (misal longsor di Cilebut) trus mau diapain...? Lha sekarang tahun 2013 nilai PSOnya malah dikurangi, apa malah nggak pethuk tuch...?



(04-07-2013, 10:26 PM)ady_mcady Wrote: apakah dengan adanya tarif baru dibarengi juga dengan penambahan jumlah kereta per rangkaian?

kereta api dapat subsidi/pso sampai2 bos organda merasa iri lho. kalau tidak naik tarif sampai 35% bisa nggak ketutup itu operasional bus. mungkin mau ikut minta subsidi juga barangkali? tapi gimana kasih subsidinya kalau pemilikannya kebanyakan po atau koperasi, bukan 1 atap. mungkin harus gabung mirip busway, baru dapat pso nya... Big Grin

Heran
Wah, yg merasa iri itu bos2 buat ngurusi bis bumelan apa bis eksekutif, Kang...?
Kalo bis bumel kan dari tahun 2009 udah dikasih range antara tarif batas bawah (TBB) & tarif batas atas (TBA) oleh Menteri Perhubungan tuch..., kenapa nggak menyesuaikan tarif setiap tahun selama harga BBM masih tetap...?

Lha kalo untuk bis eksekutif mungkin bs meniru langkah2 yg diterapkan operator KA. Misal :
1. Tuslah makan & snack dihapus.
2. Lampu interior yg mulanya dibuat redup & remang2 diganti jd terang benderang ala K1.
3. Bis yg dilengkapi toilet ada inovasi toiletnya dibatikin. Kasih stiker ornamen batik gitu...
4. Saat angkutan Lebaran menggunakan tarif batas atas kemudian dinaikkan lagi minimal 30%.
5. Lha yg lbh cool lg, pinjam slogan operator KA. Silakan menggunakan moda transportasi lainnya. (#kalo udah pinjam, jgn lupa royaltinya)

Semoga sj opini saya yg ngawur ini bs jd bahan masukkan... Ngakak Ngakak
Reply
(04-07-2013, 12:56 PM)Toentang Wrote: Harga yg murah (terjangkau bagi banyak kalangan) hanyalah salah satu parameter disebut KA merakyat, selain aman dan tepat waktu tentunya.
Emank parameternya biar dibilang merakyat apa aja kang? *pengen tau*
(04-07-2013, 12:56 PM)Toentang Wrote: Kalau masalah nyaman itu boleh saja dikompensasikan dengan tambahan harga.
Nyaman kan relatif? Apa bisa dibayar dgn tambahan harga? Ntar malah udah bayar malah ngrasa ngga nyaman
(04-07-2013, 12:56 PM)Toentang Wrote: Pengguna KA pada umumnya lebih memilih harga murah dengan kenyamanan yang kurang daripada nyaman tapi dengan selisih harga yg tinggi.
Ini selisih sama siapa? Selisih sama pesawat pow...
(04-07-2013, 12:56 PM)Toentang Wrote: Apalagi nyaman menurut PT Sepur hanya soal adanya AC yang inipun dipaksakan karena pake AC split.
Bukan hanya dipasang AC trus bilang "Ni lho sudah dipasang AC, sudah nyaman kan? so, wajar kan kalo dinaikin harganya?" (???)
Soal tepat waktu masih harus ditingkatkan, jangankan KA ekonomi, KA yang lebih tinggi kelasnya pun masih harus diperbaiki.
Nah kalau tepat waktu emank harus diperbaiki terus. Jujur aja, jadwal dan realisasinya ga melenceng jauh amat, lebih sering tepat waktu *walau ga semuanya*
(04-07-2013, 12:56 PM)Toentang Wrote: Tarif penurunan inipun menurut saya tidak berlangsung lama, karena dana PSO dari pemerintah juga terbatas.
Memang PT Sepur harus lebih intensif lagi melobi pemerintah untuk peningkatan dana PSO, daripada ya sudah terima apa adanya tapi imbasnya dibebankan kepada pengguna KA.

(07-07-2013, 11:33 PM)Logawa_ATB Wrote: Nulis sich gampang, Kang... Soal lobi melobi kalo sdh berhadapan dgn intrik2 politik jg mentok, apalg berhadapan dgn orang kementrian atau org2 yg ngakunya wakil rakyat. Lobi dgn mereka mau main bersih atau main kotor...? Bersihkah mereka...? Kalo main kotor mau seberapa gede gratifikasinya...?
#IndonesiaBangetGituLuoh apalagi kalo berhadapan sama yg ngakunya "wakil rakyat" dari daerah yg blm ada KAnya, *wani piro?*
(07-07-2013, 11:33 PM)Logawa_ATB Wrote: Lha wong soal PSO buat K3 & KL3 ajah tahun 2012 dibilang operator KA nggak bs menyerap anggaran dgn baik. Kalo nggak tersedia angkutan bersubsidi dikarenakan bencana alam (misal longsor di Cilebut) trus mau diapain...? Lha sekarang tahun 2013 nilai PSOnya malah dikurangi, apa malah nggak pethuk tuch...?



Heran
Wah, yg merasa iri itu bos2 buat ngurusi bis bumelan apa bis eksekutif, Kang...?
Kalo bis bumel kan dari tahun 2009 udah dikasih range antara tarif batas bawah (TBB) & tarif batas atas (TBA) oleh Menteri Perhubungan tuch..., kenapa nggak menyesuaikan tarif setiap tahun selama harga BBM masih tetap...?
Kalau ikut menyesuaikan tiap tahunnya maka ditinggal sama penumpangnya.
(07-07-2013, 11:33 PM)Logawa_ATB Wrote: Lha kalo untuk bis eksekutif mungkin bs meniru langkah2 yg diterapkan operator KA. Misal :
1. Tuslah makan & snack dihapus.
2. Lampu interior yg mulanya dibuat redup & remang2 diganti jd terang benderang ala K1.
3. Bis yg dilengkapi toilet ada inovasi toiletnya dibatikin. Kasih stiker ornamen batik gitu...
4. Saat angkutan Lebaran menggunakan tarif batas atas kemudian dinaikkan lagi minimal 30%.
5. Lha yg lbh cool lg, pinjam slogan operator KA. Silakan menggunakan moda transportasi lainnya. (#kalo udah pinjam, jgn lupa royaltinya)

Semoga sj opini saya yg ngawur ini bs jd bahan masukkan... Ngakak Ngakak

Ngga semua berani kayak gini kang, paling2 tiket naik tapi armada buluk, nanjak ngos2an, mesin berisik kalo ngegas asapnya item banget
Terima kasih telah mengantarkanku ke tempat tujuan dengan cepat, aman, tepat dan murah

facebook: Adhie | Twitter: @adh1e_
Reply
(07-07-2013, 11:33 PM)Logawa_ATB Wrote: Heran
Wah, yg merasa iri itu bos2 buat ngurusi bis bumelan apa bis eksekutif, Kang...?
Kalo bis bumel kan dari tahun 2009 udah dikasih range antara tarif batas bawah (TBB) & tarif batas atas (TBA) oleh Menteri Perhubungan tuch..., kenapa nggak menyesuaikan tarif setiap tahun selama harga BBM masih tetap...?

untuk bus2 kelas ekonomi/bumel. sumber bisa di klik ini

saya kutip sebagian saja pernyataan bos organda, eka sari lorena:

Quote:..."Kita ini dianggap nggak penting, buktinya semua moda transportasi mendapatkan subsidi miliaran rupiah setiap tahunnya. Sementara kita disuruh berjuang sendiri memberikan tarif yang rendah bagi penumpang angkutan umum kelas ekonomi. Ini namanya tidak adil," ujar Ketua Umum Organda Eka Sari Lorena kemarin (20/6)...

...Eka mengambil contoh, pada tahun ini pemerintah mengucurkan dana subsidi tugas pelayanan publik (PSO) sebesar Rp 704,7 miliar untuk penumpang kereta api kelas ekonomi.

Demikian juga di subsidi diberikan pemerintah untuk penumpang kapal perintis yang dilayani PT Pelni dengan anggaran 726,5 miliar. Sementara penerbangan perintis yang melayani daerah-daerah terpencil mendapat dana subsidi sebesar Rp 275,3 miliar. "(Subsidi) kita nol miliar," ujar Eka...
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 2 Guest(s)