Posts: 42
Threads: 0
Joined: Mar 2010
Reputation:
0
(04-05-2012, 01:32 PM)pasundan_0808 Wrote: kalo penumpang beli di calo jangan salahkan sistemnya donk,salahkan penumpangnya.
Kan sudah ada aturannya kenapa gak dijalankan.
kalo aturan dilaksanakan dipastikan penumpang pasti tidak mau membeli di CALO.

saya gak mau membahas comment di atas takut itu hanya jadi wujud pembenaran karena setiap orang pasti punya opinion.
Kayaknya statement sayah ngga ada menyalahkan sistem dah, khan yang dibicarakan tiket promo yang dikeluarkan untuk mencari dan menjaring penumpang KA ato non KA untuk beralih dan makin sering menggunakan KA TAPI disalahgunakan oleh pihak tertentu... Lagipula point sayah yang pertama khan jelas, penumpang harus mempunyai kesadaran untuk membeli tiket di loket resmi... are we reading a same page, here?
cool man "saya gak menyalahkan anda kok" no offence BRO!!
kalo opinion saya tinggal di adakan penindakan,Penumpang beli di calo Boleh2 aja tapi tetep yg berangkat sesuai KTP.
Kita gak bisa nyalahin Calo wong dia beli tiket di Loket kok yg kita salahin ya penumpang nya kok beli dadakan.
kalo misalnya dengan alasan emergence ya silahkan cari transportasi LAINNYA bila tiket telah Habis.
Jadi Intinya kalo mau membrantas Calo ya di buat sistem gimana penumpang gak mau beli tiket di Calo dikarenakan sistem tiket nama tiket sesuai KTP penumpang yg berpergian.
sekarang memang penjualan tiket sesuai KTP ,tapi itu useless tidak berguna karena itu cuma tulisan ditiket saja.
Mungkin penjelasan saya diatas seperti sistem Penjualan MASKAPAI AIRLINES.
Posts: 1,546
Threads: 0
Joined: Mar 2009
Reputation:
39
wih-wih jadi meluber kemana-mana neh..... seru juga neh... tapi tetep stay cool ajah
@ Billy => ahahahahaha..... monggo disimak postingan saya, diskusi ini memanas ketika ada statement kalo RF memborong tiket promo buat joy ride ato kegiatan2 ga perlu laennya.... dan saya komeng terkait hal tersebut, saya ga komeng pada calo tiket promo.... karna saya lebih melihat, kalo tiket promo itu hasil usaha sendiri ya... terserah mo diapain ajah, lah wong rejekinya dia.... yg saya kira ga bener itu kan yg memanfaatkan "orang dalam" untuk borong tket promo, karna ga fair... yg lain ajah susah2... eeehhh yg ini malah menanamkan upaya ga bener.... inget, memanfaatkan posisi dan kewenangan untuk kepentingan pribadi itu termasuk kategori apa yaaaa....
@ All => kalo calo, ane sebenarnya netral ajah..... kalo misalnya calo nya ikut ngantri di loket ya sah2 saja, mungkin itu cara dia "cari makan".... yg bikin eneg kan, calo yg ga ikut antri, eh tiba2 bisa punya segepok tiket... nah sama halnya dengan calo tiket promo.... kalo dia usaha sendiri susah2 antri dan begitu dapet dijual lagi... mungkin juga ga terlalu dipersoalkan, mungkin juga cara baru buat "cari makan"..... cuman yg salah kan lagi2, kalo dapetnya liwat "orang dalem"... kalo masalah ini, saya pikir tidak bijak kalo hanya menyalahkan penumpang ajah... penumpang salah di satu sisi, tapi juga harus ditindak pihak2 yg punya kewenangan menjual tiket, tapi memanfaatkan kewenangan yg dimiliki guna memanfaatkannya dengan tujuan kepentingan pribadi toh.....
"Penipuan Publik atau kebohongan Publik adalah seseorang yang dengan sadar berkata - menyampaikan - melakukan kebohongan dan ungkapan tersebut, tersebar luas dan bisa dipahami sebagai kebenaran atau dipercayai kebenarannya"
~just quote~
Posts: 4,227
Threads: 0
Joined: Aug 2010
Reputation:
83
Sedikit share obrolan saya dengan ibu saya semalem...
Dari jauh-jauh hari, kami berencana untuk berangkat ke Solo. Setelah menghitung pengeluaran untuk tiket kereta, akhirnya disimpulkan bahwa, jika bisa mendapat tiket promo barang 2 tiket dari 6 tiket yg akan dibeli, dapat mengirit hingga 500 ribuan. Namun, jika pada akhirnya gak dapet promo, ya tidak masalah, kami tetap berangkat.
Kemarin sore akhirnya kami berangkat menuju Kantor Reservasi Tiket Stasiun Bandung. Di sana, kami bertanya kepada salah satu petugas reservasi, yg kemudian menjawab "tiket promo Bandung-Solo sudah habis, baik untuk Kamis dan Jumat (berangkatnya misah, karena Jumat pagi saya masih kuliah) dan Minggu (untuk pulangnya)". Seakan tidak percaya karena tidak ditanyakan per kereta, saya mengajak ibu saya ke Customer Service Stasiun Bandung. Ternyata, di sana, kami memperoleh jawaban yg sama.
Akhirnya, ibu saya bertanya kepada petugas Customer Service, kira-kira kapan ada tiket promo. Petugas pun menjawab bahwa hal tsb. tidak dapat dipastikan, tergantung persediaan.
Mendapat jawaban negatif soal ketersediaan tiket promo, kami pun akhirnya memutuskan untuk tetap melakukan perjalanan dengan tiket "nonsubsidi", alias tiket reguler. 4 tiket Eksekutif seharga 170 ribu untuk keberangkatan hari Kamis pagi dan 2 tiket Eksekutif seharga 195 ribu untuk keberangkatan hari Jumat malam.
Di perjalanan pulang, kami kembali mengobrol soal tiket promo tadi. Terus kami berdebat soal promo tadi sampe pada akhirnya, kami tiba pada pembicaraan tentang bagaimana bisa tiket promo itu bisa abis.
Saya pun menjawab, untuk mendapatkan tiket promo ya "siapa untung dia dapet". Kalo belum diserbu, ya H-7 pun bisa dapet promo. Sampai-sampai saya beri contoh pengalaman beberapa RF disini, beli go show dan di loket "ditodong" tiket promo oleh petugas loket. Jadi, gak selalu pesen dari H-sekian biar dapet promo, kalo petugas loketnya lagi berbaik hati, 1 jam sebelum keberangkatan pun bisa dapet tiket promo.
Pembicaraan pun berakhir. Sambil terdiam itulah, saya kembali terpikir dengan pembicaraan yg sempat muncul sebelum-sebelumnya. Kenapa tiket promo bukan dijual pada hari keberangkatan, saat penjualan go show?
Dalam pembicaraan tadi, saya sempat menyalahkan sistem reservasi H-90 yg diterapkan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) saat ini. Dengan makin besarnya kesempatan membeli tiket (bukan booking seperti pada pesawat), celah ini bisa dimanfaatkan para calo dan pengoleksi tiket promo. Calo pun terbagi dalam dua kategori: yg kembali menjual dengan harga lebih tinggi atau yg kembali menjual dengan harga sama, bahkan secara cuma-cuma.
Jujur, saya cukup terganggu dengan hal-hal ini. Kecuali, untuk "calo" kategori ke dua, yg minimal menjual kembali tiket promo dengan harga sesuai yg tertera di tiket. Bagaimanapun, orang-orang yg membutuhkan tiket promo jelas ingin mencari kenyamanan semurah mungkin.
Andaikata, saya di posisi Mas Billy, mencari tiket promo Lodaya Pagi keberangkatan Kamis, lalu ditawarkan oleh calo seharga 195 ribu, mendingan saya beli tiket reguler, yg jatuhnya 25 ribu lebih murah, di 170 ribu. Untuk week-endnya pun, harganya sama saja, dan keuntungan tiket reguler, saya bisa milih mau duduk di mana. Kecuali, jika calo tadi kembali menjual dengan harga 50 ribu, langsung akan saya sabet, dengan perhitungan menghemat 120 ribu untuk keberangkatan Kamis atau 145 ribu untuk keberangkatan week-end.
Nah, jika tiket promo dijual pada penjualan go show, jelas mempersempit ruang gerak oknum-oknum tidak bertanggung jawab tadi. Memang benar, bisa saja oknum-oknum begini datang 3 jam sebelum berangkat, tapi tentu bisa langsung dicirikan penampakan oknum-oknum tadi, sehingga pada kesempatan berikutnya bisa diantisipasi, sehingga penjualan tiket promo bisa tepat sasaran: yaitu bagi penumpang yg ingin mencari kenyamanan semurah mungkin...
Juga, pergunakanlah fasilitas ini dengan bijaksana. Jika memang tujuannya untuk joyride, ya sekali-kali saja lah. Lebih baik menabung dulu dan gunakan tiket reguler, biar orang lain juga merasakan fasilitas tiket promo ini...
Kurang lebih begitu pendapat saya, bagaimana dengan teman-teman yang lain?
Posts: 2,439
Threads: 0
Joined: Jun 2011
Reputation:
62
(05-05-2012, 08:50 AM)dtRAiNeR Wrote: Sedikit share obrolan saya dengan ibu saya semalem...
Dari jauh-jauh hari, kami berencana untuk berangkat ke Solo. Setelah menghitung pengeluaran untuk tiket kereta, akhirnya disimpulkan bahwa, jika bisa mendapat tiket promo barang 2 tiket dari 6 tiket yg akan dibeli, dapat mengirit hingga 500 ribuan. Namun, jika pada akhirnya gak dapet promo, ya tidak masalah, kami tetap berangkat.
Kemarin sore akhirnya kami berangkat menuju Kantor Reservasi Tiket Stasiun Bandung. Di sana, kami bertanya kepada salah satu petugas reservasi, yg kemudian menjawab "tiket promo Bandung-Solo sudah habis, baik untuk Kamis dan Jumat (berangkatnya misah, karena Jumat pagi saya masih kuliah) dan Minggu (untuk pulangnya)". Seakan tidak percaya karena tidak ditanyakan per kereta, saya mengajak ibu saya ke Customer Service Stasiun Bandung. Ternyata, di sana, kami memperoleh jawaban yg sama.
Akhirnya, ibu saya bertanya kepada petugas Customer Service, kira-kira kapan ada tiket promo. Petugas pun menjawab bahwa hal tsb. tidak dapat dipastikan, tergantung persediaan.
Mendapat jawaban negatif soal ketersediaan tiket promo, kami pun akhirnya memutuskan untuk tetap melakukan perjalanan dengan tiket "nonsubsidi", alias tiket reguler. 4 tiket Eksekutif seharga 170 ribu untuk keberangkatan hari Kamis pagi dan 2 tiket Eksekutif seharga 195 ribu untuk keberangkatan hari Jumat malam.
Di perjalanan pulang, kami kembali mengobrol soal tiket promo tadi. Terus kami berdebat soal promo tadi sampe pada akhirnya, kami tiba pada pembicaraan tentang bagaimana bisa tiket promo itu bisa abis.
Saya pun menjawab, untuk mendapatkan tiket promo ya "siapa untung dia dapet". Kalo belum diserbu, ya H-7 pun bisa dapet promo. Sampai-sampai saya beri contoh pengalaman beberapa RF disini, beli go show dan di loket "ditodong" tiket promo oleh petugas loket. Jadi, gak selalu pesen dari H-sekian biar dapet promo, kalo petugas loketnya lagi berbaik hati, 1 jam sebelum keberangkatan pun bisa dapet tiket promo.
Pembicaraan pun berakhir. Sambil terdiam itulah, saya kembali terpikir dengan pembicaraan yg sempat muncul sebelum-sebelumnya. Kenapa tiket promo bukan dijual pada hari keberangkatan, saat penjualan go show?
Dalam pembicaraan tadi, saya sempat menyalahkan sistem reservasi H-90 yg diterapkan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) saat ini. Dengan makin besarnya kesempatan membeli tiket (bukan booking seperti pada pesawat), celah ini bisa dimanfaatkan para calo dan pengoleksi tiket promo. Calo pun terbagi dalam dua kategori: yg kembali menjual dengan harga lebih tinggi atau yg kembali menjual dengan harga sama, bahkan secara cuma-cuma.
Jujur, saya cukup terganggu dengan hal-hal ini. Kecuali, untuk "calo" kategori ke dua, yg minimal menjual kembali tiket promo dengan harga sesuai yg tertera di tiket. Bagaimanapun, orang-orang yg membutuhkan tiket promo jelas ingin mencari kenyamanan semurah mungkin.
Andaikata, saya di posisi Mas Billy, mencari tiket promo Lodaya Pagi keberangkatan Kamis, lalu ditawarkan oleh calo seharga 195 ribu, mendingan saya beli tiket reguler, yg jatuhnya 25 ribu lebih murah, di 170 ribu. Untuk week-endnya pun, harganya sama saja, dan keuntungan tiket reguler, saya bisa milih mau duduk di mana. Kecuali, jika calo tadi kembali menjual dengan harga 50 ribu, langsung akan saya sabet, dengan perhitungan menghemat 120 ribu untuk keberangkatan Kamis atau 145 ribu untuk keberangkatan week-end.
Nah, jika tiket promo dijual pada penjualan go show, jelas mempersempit ruang gerak oknum-oknum tidak bertanggung jawab tadi. Memang benar, bisa saja oknum-oknum begini datang 3 jam sebelum berangkat, tapi tentu bisa langsung dicirikan penampakan oknum-oknum tadi, sehingga pada kesempatan berikutnya bisa diantisipasi, sehingga penjualan tiket promo bisa tepat sasaran: yaitu bagi penumpang yg ingin mencari kenyamanan semurah mungkin...
Juga, pergunakanlah fasilitas ini dengan bijaksana. Jika memang tujuannya untuk joyride, ya sekali-kali saja lah. Lebih baik menabung dulu dan gunakan tiket reguler, biar orang lain juga merasakan fasilitas tiket promo ini...
Kurang lebih begitu pendapat saya, bagaimana dengan teman-teman yang lain?
Nah, itu. Kalau Go Show emang pas untuk mempersulit gerak-gerik calo. Gue setuju sama usul anda..
Kalau ga salah Kamis kemarin, gue ketemu calo tiket promo, dan dia itu Railfan. Pas gue tanya, kok dia bisa dapet tiket promo sebanyak itu, ternyata dia pakai sistem reservasi dari orang dalam sendiri. Gak tanggung-tanggung, tiket promo seharga Rp 100.000,- dijual Rp 195.000,-. Yang Rp 50.000,- jadi Rp 95.000,-. Gue juga ngeliat kalau emang dia itu hampir mengoleksi tiap tanggal. Tapi gue gak tau dia kok bisa beli sebanyak itu...xixixi
RF sangat diperbolehkan untuk membeli tiket promo karena memang ia konsumen, tapi pergunakanlah dengan bijak dari pada untuk diperjual belikan seperti calo...
Posts: 4,227
Threads: 0
Joined: Aug 2010
Reputation:
83
(05-05-2012, 09:34 AM)Billy_CC20335CN Wrote: Nah, itu. Kalau Go Show emang pas untuk mempersulit gerak-gerik calo. Gue setuju sama usul anda..
Kalau ga salah Kamis kemarin, gue ketemu calo tiket promo, dan dia itu Railfan. Pas gue tanya, kok dia bisa dapet tiket promo sebanyak itu, ternyata dia pakai sistem reservasi dari orang dalam sendiri. Gak tanggung-tanggung, tiket promo seharga Rp 100.000,- dijual Rp 195.000,-. Yang Rp 50.000,- jadi Rp 95.000,-. Gue juga ngeliat kalau emang dia itu hampir mengoleksi tiap tanggal. Tapi gue gak tau dia kok bisa beli sebanyak itu...xixixi
RF sangat diperbolehkan untuk membeli tiket promo karena memang ia konsumen, tapi pergunakanlah dengan bijak dari pada untuk diperjual belikan seperti calo...
Buset, tiap hari ada tiketnya? Serasa petugas loket aja...
Terlalu memanfaatkan kelebihan yg dia punya, bahkan memberi kesan seolah menjadikan orang dalam yg dia kenal sebagai " sapi perah" buat keuntungan pribadi semata... Ini yg namanya superkelewatan...
Dan terlalu maruk, udah harga promo dinaik-naikin seenak perut pula... Itu sih, bukan railfan namanya, tapi calo-fan...
Saya kalo nawarin promo ke temen juga gak pernah dilebihin harganya, misal GoPar 20 ya tetep 20...
Dan orang tua saya juga punya kenalan orang dalam, tapi gak pernah minta kemudahan memperoleh tiket di luar kondisi mendadak, apalagi promo. Kalo ada keperluan mendadak, seperti hal-hal yg tidak diinginkan, baru meminta tolong. Menyangkut kesopanan juga kan, gak seenak perut memanfaatkan kenalan orang dalam...
Posts: 2,439
Threads: 0
Joined: Jun 2011
Reputation:
62
(05-05-2012, 09:55 AM)dtRAiNeR Wrote: (05-05-2012, 09:34 AM)Billy_CC20335CN Wrote: Nah, itu. Kalau Go Show emang pas untuk mempersulit gerak-gerik calo. Gue setuju sama usul anda..
Kalau ga salah Kamis kemarin, gue ketemu calo tiket promo, dan dia itu Railfan. Pas gue tanya, kok dia bisa dapet tiket promo sebanyak itu, ternyata dia pakai sistem reservasi dari orang dalam sendiri. Gak tanggung-tanggung, tiket promo seharga Rp 100.000,- dijual Rp 195.000,-. Yang Rp 50.000,- jadi Rp 95.000,-. Gue juga ngeliat kalau emang dia itu hampir mengoleksi tiap tanggal. Tapi gue gak tau dia kok bisa beli sebanyak itu...xixixi
RF sangat diperbolehkan untuk membeli tiket promo karena memang ia konsumen, tapi pergunakanlah dengan bijak dari pada untuk diperjual belikan seperti calo...
Buset, tiap hari ada tiketnya? Serasa petugas loket aja...
Terlalu memanfaatkan kelebihan yg dia punya, bahkan memberi kesan seolah menjadikan orang dalam yg dia kenal sebagai "sapi perah" buat keuntungan pribadi semata... Ini yg namanya superkelewatan...
Dan terlalu maruk, udah harga promo dinaik-naikin seenak perut pula... Itu sih, bukan railfan namanya, tapi calo-fan...
Saya kalo nawarin promo ke temen juga gak pernah dilebihin harganya, misal GoPar 20 ya tetep 20...
Dan orang tua saya juga punya kenalan orang dalam, tapi gak pernah minta kemudahan memperoleh tiket di luar kondisi mendadak, apalagi promo. Kalo ada keperluan mendadak, seperti hal-hal yg tidak diinginkan, baru meminta tolong. Menyangkut kesopanan juga kan, gak seenak perut memanfaatkan kenalan orang dalam...
Enggak tiap tanggal ada, tapi "hampir" tiap tanggal ada...xixixi
Posts: 4,227
Threads: 0
Joined: Aug 2010
Reputation:
83
(05-05-2012, 10:16 AM)Billy_CC20335CN Wrote: Enggak tiap tanggal ada, tapi "hampir" tiap tanggal ada...xixixi
Tetep aja udah kayak petugas loket aja, kalo emg cuma nawarin promo, ya buat tanggal tertentu aja. Ini sih, terlalu hebat kalo cuma nawarin, dan bukan "memerah" dari orang dalem...
Huft, jadi serba salah tentang tiket promo ini...
Posts: 73
Threads: 0
Joined: Jun 2011
Reputation:
2
(05-05-2012, 10:16 AM)Billy_CC20335CN Wrote: (05-05-2012, 09:55 AM)dtRAiNeR Wrote: (05-05-2012, 09:34 AM)Billy_CC20335CN Wrote: Nah, itu. Kalau Go Show emang pas untuk mempersulit gerak-gerik calo. Gue setuju sama usul anda..
Kalau ga salah Kamis kemarin, gue ketemu calo tiket promo, dan dia itu Railfan. Pas gue tanya, kok dia bisa dapet tiket promo sebanyak itu, ternyata dia pakai sistem reservasi dari orang dalam sendiri. Gak tanggung-tanggung, tiket promo seharga Rp 100.000,- dijual Rp 195.000,-. Yang Rp 50.000,- jadi Rp 95.000,-. Gue juga ngeliat kalau emang dia itu hampir mengoleksi tiap tanggal. Tapi gue gak tau dia kok bisa beli sebanyak itu...xixixi
RF sangat diperbolehkan untuk membeli tiket promo karena memang ia konsumen, tapi pergunakanlah dengan bijak dari pada untuk diperjual belikan seperti calo...
Buset, tiap hari ada tiketnya? Serasa petugas loket aja...
Terlalu memanfaatkan kelebihan yg dia punya, bahkan memberi kesan seolah menjadikan orang dalam yg dia kenal sebagai "sapi perah" buat keuntungan pribadi semata... Ini yg namanya superkelewatan...
Dan terlalu maruk, udah harga promo dinaik-naikin seenak perut pula... Itu sih, bukan railfan namanya, tapi calo-fan...
Saya kalo nawarin promo ke temen juga gak pernah dilebihin harganya, misal GoPar 20 ya tetep 20...
Dan orang tua saya juga punya kenalan orang dalam, tapi gak pernah minta kemudahan memperoleh tiket di luar kondisi mendadak, apalagi promo. Kalo ada keperluan mendadak, seperti hal-hal yg tidak diinginkan, baru meminta tolong. Menyangkut kesopanan juga kan, gak seenak perut memanfaatkan kenalan orang dalam...
Enggak tiap tanggal ada, tapi "hampir" tiap tanggal ada...xixixi
mungkin ke depan bisa seperti di SMT gan, tiket promo di steples ama foto copy ktp kita waktu beli, trus dicap, jadi yang mempergunakan orang yang identitasnya sama di ktp, bisa juga mempersempit gerak caloo...
Posts: 1,185
Threads: 0
Joined: Sep 2009
Reputation:
22
menyikapi masalah tiket promo, kita sebagai RF ya boleh-boleh aja lah beli atau ikut "berburu" asal ya kita bisa manfaatkan dengan bijak seperti apa yg telah dikatakan para RF di postingan2 sebelumnya. Boleh kita pake untuk joyride asal jangan terlalu sering, dan sebagai konsekuensinya, kita harus bantu publikasi tiket ini ke penumpang umum.
just share aja, ane pernah tuh dapet tiket promo H-3 keberangkatan. Masih belum lama sih, sekitar bulan kmrn. Waktu itu ane ada urusan e-KTP, dan ane pulkam ( MN-KYA ) naik KA 89 Malabar kelas ekonomi dan baliknya naik KA 6 Argo Wilis. Nah pas di loket, ane iseng tanya ke petugas, apa masih ada tiket promo KA 6, dan ternyata masih ada ( mungkin karena hari kamis, jadi masih ada tiket promo ). Ya akhirnya ane beli aja, coz lumayan menghemat biaya. Kemudian pas ane naik KA 89, ane ceritain tuh masalah promo ke penumpang malabar, hehehe.
Posts: 160
Threads: 0
Joined: Apr 2010
seumur umur belum pernah beli tiket promo , selain takut kehabisan dan juga liat tanggal berangkatnya :p
hehehe  kalo naik tarif normal ya sudah banyak kali
mari kita gerakkan naik kereta api , kita tertibkan agar masyarakat beli tiket setiap naik kereta , sosialisasikan tiket yang baru yakni H-90 untuk kelas eksekutif bisnis dan ekonomi komersiil , dan sosialisasikan juga tiket promonya , jadi imbangkan
|