(25-09-2010, 07:05 PM)eko winarno Wrote: (25-09-2010, 10:57 AM)sonyazis Wrote: Dan kesalahan yg dilakukan PT KA atau jawatan pada saat itu adalah tidak menandai atau memberi patok peringatan untuk tidak membangun apapun di sekitar jalur rel dalam jarak tertentu, dan lagi, seharusnya biarkan 1 kereta api atau lokomotif atau lori untuk melewati jalur yg ditutup sementara itu setidaknya 1 bulan sekali, agar orang tahu kalau jalur itu tidak 'dibuang'.
Sangat setuju..dahulu seandainya jalur itu di bekukan entah sementara atau tidak sementara katakanlah..taroh setiap seminggu sekali dengan 50 ltr bensin menggunakan lori inspeksi memang harus aktif patroli...itu kalau ada management yang baku...pada waktu itu.
Dengan demikian masyarakat akan mengerti sendiri situasi sekitar lintasan.
OOhh ada yang punya...sedang melintas.
Orang kita kan terlalu "kreatif" kang Eko,
coba liat para penghuni liar sekitar petak Angke - Tanahabang ataw ya daerah Jabotabek dah,
kalo gak ada yg lewat kereta sebulan aja, udah ilang kali tuh rel nya dan berubah jadi hunian liar.
Yang baru baru ini heboh malah penghidupan jalur mati di Indro sana ,
udah jelas lahan mereka yg diduduki punya PT KA , lah kok malah demo menolak penggusuran,
piyee tooohhh???
Yah perawatan maintenance secara periodik dan ada nya kereta atau minimal lori kecil mondar mandir emang salah satu cara
untuk menunjukan ke penduduk sekitar kalo rel KA nya masih exist dan masih berfungsi .
Coba berapa Km rel yg sudah menyusut ilang atau berubah fungsi dari jaman Belanda ampe sekarang?
mudah mudahan kedepan nya gak ada penyusutan KM rel lagi ( baca penutupan jalur ), apalagi kita menghadapi ancaman terbesar yaitu
project tolisasi pulau Jawa.