31-01-2012, 08:56 PM
KA Tumapel Utama merupakan versi cepat dari KA Tumapel.
KA Tumapel Utama selalu disebut KA "Patas Utama" oleh PPKA Stasiun Blitar waktu itu.
Gara-gara kereta inilah KA Tumapel reguler yang sejak tahun 1972 menyandang nama itu untuk rute Malang-Surabaya dan kemudian diperpanjang pada bulan April 1973 menjadi Surabaya-Malang-Blitar musti ganti nama menjadi KA Penataran.
Padahal nama Tumapel yang berpasangan dengan nama Rapih Dhoho mempunyai filosofi yang pas, karena:
-KA Tumapel memang menyusuri bekas wilayah Kerajaan Tumapel. Kerajaan ini meliputi daerah Malang sampai sebelah timur Blitar sampai lembah Gunung Penanggungan.
-KA Rapih Dhoho memang menyusuri bekas wilayah kerajaan Dhoho, tapi atas dasar wilayah yang dibagi setelah kerajaan Kahuripan. Nama Rapih Dhoho berkonotasi "kerajaan bagian", sepertinya waktu daerah ini menjadi taklukan Singhasari. Batas wilayah Dhoho di sebelah timur adalah Kali Lekso di Wlingi.
Dengan berubahnya nama KA Tumapel menjadi Penataran, filosofi di atas menjadi hancur berantakan.
Pada saat KA Tumapel Utama mau diresmikan, koran2 ramai memberitakan. Saya sendiri baca dari "Kompas". Kata wartawan waktu itu, KA Tumapel memakai konsep KA Parahiyangan yang merupakan KA "shuttle" bergengsi. Nggak tahu gimana, yang muncul malah kereta ekonomi. Tapi okelah, toh di awal kemunculannya menjadi kebanggaan masyarakat setempat. Rute pertama Malang-Surabaya, kemudian diperpanjang menjadi Blitar - Surabaya.
Awal ke Blitar pakai K3-855xx (ex CW-99xx), kereta generasi pertama produk PT INKA, sungguh menjadi kebanggaan akan karya bangsa sendiri. Waktu itu kipas angin jalan semua, WC bersih dengan air tersedia. Ditarik lok BB301, dengan empat kereta penumpang warna hijau polos strip kuning tiga garis kecil (kalau eksteriornya jelek deh!!!).
Sekitar tahun 90an KA Tumapel utama mendapat jatah K3-555xxR. Kereta yang unik, karena hasil retrofit dari SAGW-9xxx, dari mailing list saya peroleh info kalau kereta ini bekas KA Bintang Senja/Bintang Fajar yang merupakan pendahulunya KA BIMA. Uniknya kereta retrofitan tersebut memakai kursi berbahan fiber glass, tanpa sandaran tinggi. Pemandangan dalam kereta serasa "blong", tapi lumayan bikin pegal di punggung.
Pada saat gencar-gencarnya produksi kereta retrofit dari kereta2 ex bogie Pennsylvania, KA Tumapel Utama sempat pakai kereta K3-935xxR.
Terakhir lihat rangkaian KA ini dia memakai kereta KA-655xxR, satu generasi dengan rangkaian Matarmaja yang nomornya segitu.
Lama gak pulang kampung, sesaat (kira2 sebulan) sebelum lumpur Lapindo menyembur pengin naik Tumapel Utama dari Surabaya kota, di bela2in nginep di dekat SB, eh malah keretanya sudah almarhum.
Belakangan ada Penataran Icon, eh malah belum sempat2 nyoba.
Sekalian mau tanya sama rekan Gajayana, yg bikin trit ini.
Ini kereta Tumapel Utama pada hari terakhirnya pakai K3 yang mana? Apa sempat pakai bogie K8?
Salam kami
Nurcahyo
*******
KA Tumapel Utama selalu disebut KA "Patas Utama" oleh PPKA Stasiun Blitar waktu itu.
Gara-gara kereta inilah KA Tumapel reguler yang sejak tahun 1972 menyandang nama itu untuk rute Malang-Surabaya dan kemudian diperpanjang pada bulan April 1973 menjadi Surabaya-Malang-Blitar musti ganti nama menjadi KA Penataran.
Padahal nama Tumapel yang berpasangan dengan nama Rapih Dhoho mempunyai filosofi yang pas, karena:
-KA Tumapel memang menyusuri bekas wilayah Kerajaan Tumapel. Kerajaan ini meliputi daerah Malang sampai sebelah timur Blitar sampai lembah Gunung Penanggungan.
-KA Rapih Dhoho memang menyusuri bekas wilayah kerajaan Dhoho, tapi atas dasar wilayah yang dibagi setelah kerajaan Kahuripan. Nama Rapih Dhoho berkonotasi "kerajaan bagian", sepertinya waktu daerah ini menjadi taklukan Singhasari. Batas wilayah Dhoho di sebelah timur adalah Kali Lekso di Wlingi.
Dengan berubahnya nama KA Tumapel menjadi Penataran, filosofi di atas menjadi hancur berantakan.
Pada saat KA Tumapel Utama mau diresmikan, koran2 ramai memberitakan. Saya sendiri baca dari "Kompas". Kata wartawan waktu itu, KA Tumapel memakai konsep KA Parahiyangan yang merupakan KA "shuttle" bergengsi. Nggak tahu gimana, yang muncul malah kereta ekonomi. Tapi okelah, toh di awal kemunculannya menjadi kebanggaan masyarakat setempat. Rute pertama Malang-Surabaya, kemudian diperpanjang menjadi Blitar - Surabaya.
Awal ke Blitar pakai K3-855xx (ex CW-99xx), kereta generasi pertama produk PT INKA, sungguh menjadi kebanggaan akan karya bangsa sendiri. Waktu itu kipas angin jalan semua, WC bersih dengan air tersedia. Ditarik lok BB301, dengan empat kereta penumpang warna hijau polos strip kuning tiga garis kecil (kalau eksteriornya jelek deh!!!).
Sekitar tahun 90an KA Tumapel utama mendapat jatah K3-555xxR. Kereta yang unik, karena hasil retrofit dari SAGW-9xxx, dari mailing list saya peroleh info kalau kereta ini bekas KA Bintang Senja/Bintang Fajar yang merupakan pendahulunya KA BIMA. Uniknya kereta retrofitan tersebut memakai kursi berbahan fiber glass, tanpa sandaran tinggi. Pemandangan dalam kereta serasa "blong", tapi lumayan bikin pegal di punggung.
Pada saat gencar-gencarnya produksi kereta retrofit dari kereta2 ex bogie Pennsylvania, KA Tumapel Utama sempat pakai kereta K3-935xxR.
Terakhir lihat rangkaian KA ini dia memakai kereta KA-655xxR, satu generasi dengan rangkaian Matarmaja yang nomornya segitu.
Lama gak pulang kampung, sesaat (kira2 sebulan) sebelum lumpur Lapindo menyembur pengin naik Tumapel Utama dari Surabaya kota, di bela2in nginep di dekat SB, eh malah keretanya sudah almarhum.
Belakangan ada Penataran Icon, eh malah belum sempat2 nyoba.
Sekalian mau tanya sama rekan Gajayana, yg bikin trit ini.
Ini kereta Tumapel Utama pada hari terakhirnya pakai K3 yang mana? Apa sempat pakai bogie K8?
Salam kami
Nurcahyo
*******



![[Image: 16261457820_a72c99f7aa_z.jpg]](https://farm8.staticflickr.com/7383/16261457820_a72c99f7aa_z.jpg)


