Sindang Marga, Pangeran Malam Bumi Sriwijaya
Pendahuluan
Sindang Marga adalah nama kereta api yang dioprasikan oleh PT.Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional III.1 Kertapati. Kereta ini melayani relasi Lubuk Linggau (LLG) - Kertapati (KPT) sejauh 305 km yang ditempuh hampir 7 jam perjalanan. Sindang Marga merupakan kereta dengan 2 kelas, yaitu kelas eksekutif (K1) dan kelas bisnis. Berangkat dari Lubuk Linggau pukul 21.00 dan rangkaian di Kertapati berangkat pukul 20.00 WIB.
Gambar: KA Sindang Marga tiba di Stasiun Besar Kertapati
Sebelum menjadi KA campuran bisnis-eksekutif, Sindang Marga pernah berstanformasi bisnis-ekonomi dan eksekutif-bisnis-ekonomi. Harga tiketnya Rp 90.000,- untuk kelas eksekutif dan Rp 50.000,- untuk kelas bisnis. Dalam perjalannya, Pengeran Malam ini berhenti normal di Stasiun Tebingtinggi, Lahat, Muaraenim, Prabumulih.
Gambar: Salah satu K1 KA Sindang Marga, memakai corak resmi Sea Games XXVI
Nama Sindang Marga sendiri diambil dari nama sebuah desa di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatra Selatan. Sindang Marga juga merupakan nama seorang pangeran yang merupakan nenek moyang dari masyarakat daerah Semendo, Waykanan, Lampung.
Gambar: Kursi K1 (Kelas Eksekutif) Sindang Marga
Sekilas perjalanan panjang Sang Pangeran
KA Sindang Marga memiliki sejarah yang panjang yang cukup beragam. Salah sata informasi menyebutkan, KA Sindang Marga mulai dinas pada tahun 1975. KA Sindang Marga awalnya terdiri dari kelas Bisnis dan kelas Ekonomi. Barulah pada tahun 1990 KA ini memiliki rangkaian kelas Bisnis semua. Kemudian, pada tahun 1995 statusnya meningkat lagi, dengan menambahkan 2 kereta kelas 1 (K1). Hingga kini, KA Sindang Marga merupakan KA kelas campuran kelas Eksekutif dan kelas Bisnis.
Gambar: Setiap tempat duduk di kelas Eksekutif, dilengkapi dengan stopkontak
Ada pula yang berpendapat, KA Sindang Marga sebelumnya dijalankan sebagai KA Bukit Sulap, rangkaian kereta kelas Bisnis. Namun karena okupansi yang menurun, tahun 1994 kelasnya diturunkan menjadi kelas campuran kelas Bisnis dan menggabungkan kelas Ekonomi dari KA Serelo. Seiring meningkatnya okupansi, pada tahun 1999 statusnya ditingkatkan dan berubah nama menjadi KA Bukit Serelo (KA Buser) yang merupakan KA terlengkap dengan pilihan 3 (tiga) kelas, yaitu Eksekutif, Bisnis dan Ekonomi, juga dilengkapi dengan 2 kereta makan dalam satu rangkaian. Sehingga KA Buser pada waktu itu bisa diberangkatkan mencapai 14 kereta dengan menggunakan lokomotif sekelas BB203.
Berubahnya status Perumka menjadi PT.Kereta Api (Persero) serta menurunnya okupansi membuat KA Buser dipecah menjadi KA Serelo (Ekonomi) dan KA Sindang Marga (Eksekutif dan Bisnis).
Gambar: Pramugari KA Sindang Marga yang mencatat pesanan dari penumpang kelas Eksekutif
Penutup
Setiap berdinas, rangkaian KA Sindang Marga terdiri dari dua K1, lima K2 dan satu KMP2. Saat-saat musim liburan panjang seperti Idul Fitri dan Libur Semester, KA ini dapat menggunakan kereta (gerbong) tambahan berupa K3, dimana kereta tambahan ini untuk penumpang kelas Bisnis. Sat hal yang perlu dicatat, kita tidak akan menemukan minuman dingin direstorasi, Pramugari dan Pramugara menawarkan minuman hangat dan makanan seperti nasi goreng.
Karena perjalanan
Sang Pangeran pada malam hari, untuk memburunya kita dapat memotretnya pada Stasiun Lubuk Linggau atau Stasiun Kertapati, Palembang. KA ini melewati terowongan Gununggajah (Tebingtinggi) pada sekitar pukul 21.30 - 22.30 WIB (KA S4) dan 01.30 - 02.30 (S3).
Gambar: KA Sindang Marga stabling di Stasiun Lubuk Linggau, dengan corak Sea Games: Gadis bebusana khas Palembang "Songket" yang biasa digunakan pada tarian tradisional "Gending Sriwijaya"
Direduksi dari Majalah KA edisi 33 dengan sedikit perubahan