Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Mulai 1 okt 2011 PT. Kereta Api Indonesia (Persero) tidak menjual tiket berdiri
Memang tiket beriri lebih baik ditiadakan demi kenyamanan penumpang, kemarin senin 10 Oktober, ada penumpang yang mau naik Progo, beli tiket di Stasiun Klaten, karena sudah habis keberangkatan di undur 2 hari lagi, apalagi sudah lansia, jika ga dihapuskan haruskah dia berdiri atau minta belas kasihan pada penumpang lain, sudah agak jarang penumpang yang mau berbagi dengan penumpang dengan kebutuhan khusus, ada yang luntur di perilaku sebagian masyarakat, memang jadi lebih sulit naik kelas ekonomi, tapi ada jaminan duduk hingga stasiun tujuan. Penyesuaian memang agak lama, mengubah perilaku memang ga mudah.
Reply
dengan di kritisi dan keluhan disana-sini, sebagai operator PT. Kereta Api Indonesia (Persero) nggak tutup mata & kuping (tidak termasuk regulator Wek), mudah2an jumlah kereta perangkaian ditambah, misal dari 10 menjadi 12 atau sesuai batas maksimum loko dan jalur di stasiun atau menambah 1 rangkaian pada trayek yang sama di jam dan waktu berbeda...

maap nubie cuman berandai-andai....
Terdampar di Purwokerto setahun gara-gara proyek fiber optik Jateng ga kelarMarah
Reply
lumayan.. kereta bisa sepi dan bisa gelar alas koran untuk sekedar tidur d bawah... Ngiler
At last,,, Menanti dioperasikannya DT Purwokerto-Kroya Playboy

Reply
(11-10-2011, 10:58 AM)rapih_dhoho Wrote: Beberapa dampat dari diperlakukannya "kebijakan" ini:

- Penumpang dari stasiun tengah (stasiun yg ga dapaet quote karcis, atau yg belum onlen) tidak kebagian karcis, jika dari stasiun awal2 sudah penuh tempat duduknya. Contoh: Ane mau naek Logawa tujuan Klakah dari Mojokerto, eh ternyata tempat duduk udah penuh jadi ane ga kebagian karcis. Ironisnya banyak penumpang yg turun di Surabaya, dan setelah Surabaya otomatis tempat duduk banyak yg kosong. Masak ane kudu naek di Surabaya???

- Penumpang ga bisa mendadak naek KA Ekonomi. Contohnya: Ane mau beliin tiket Brantas buat Bu Dhe ane, relasi Kediri-Paron. Berhubung emang ada keperluan mendadak jadi ga kepikiran sampai harus pesan dari H-7. Karena hari weekend yg agak ramai otomatis ane ga kebagian, tiket tanpa tempat duduk pun juga ga dijual. Padahal ane yakin antara KD-MN tempat duduk penumpang belum terisi semua, mungkin baru benar penuh kalo sudah lewat Walikukun. Toh seumpama Bu Dhe ane dapat tiket tampa tempat duduk, beliaupun ane yakin masih dapat duduk kira2 sampai Madiun atau bahkan Paron.

Sekarang mau naek KA Ekonomi aja koq rasanya dipersulit. Mau naek bus pun juga mahal dan semua orang ga bisa naek bus kalo gampang mabuk perjalanan. Memang sih tujuannya baik, tapi ya mbok dipikir ulang kalo ternyata juga menimbulkan dampak2 lainnya yg menyusahkan masyarakat.
saya juga setuju dengan pendapat anda ! memang sih sedikit menyulitkan , kalau ada yang ber pergian mendadak jadi sulit mendapatkan tiket , namun saya yakin semua kendala diatas akan di coba di tanggulangi dengan maksimal oleh PT. Kereta Api Indonesia (Persero).saya yakin saat ini sedang di evaluasi dampak positif dan negatifnya.mudah mudahan dalam waktu dekat akan ada perbaikan kan enggak lucu menyelasaikan masalah dengan menambah masalah baru kalau bisa seperti slogan pegadaian mengatasi masalah tanpa masalah

tidak terbayangkan keindahan trem uap ketika lalu lalang di bawah jembatan kereta api jatinegara
foto ane yang lainnya ada disini kang !
http://www.flickr.com/photos/36503981@N02/

Reply
(12-10-2011, 10:23 AM)Ken Aditya Wrote: Memang tiket berdiri lebih baik ditiadakan demi kenyamanan penumpang, kemarin senin 10 Oktober, ada penumpang yang mau naik Progo, beli tiket di Stasiun Klaten, karena sudah habis keberangkatan di undur 2 hari lagi, apalagi sudah lansia, jika ga dihapuskan haruskah dia berdiri atau minta belas kasihan pada penumpang lain, sudah agak jarang penumpang yang mau berbagi dengan penumpang dengan kebutuhan khusus, ada yang luntur di perilaku sebagian masyarakat, memang jadi lebih sulit naik kelas ekonomi, tapi ada jaminan duduk hingga stasiun tujuan. Penyesuaian memang agak lama, mengubah perilaku memang ga mudah.
Saya juga gak bisa jemput pembantu dikampung kalau sistemnya begini........ Tersenyuum
Kalau kebijakan ini tetap mau dijalankan, untuk pihak operator dan atau regulator saya hanya berharap bisa menambah jumlah rangkaian KA
Terima kasih sebelumnya ........ Salam new bie ....Ngikik
UTAMAKAN KESELAMATAN..........!
Keluarga Anda Menanti di Rumah !

[Image: warteg.png]
Juragan Warteg yang Juga Seorang Aktivis KA
Reply
Semoga operator segera menambah rangkaian, karena paling tidak sudah terbaca jumlah penumpangnya, walaupun fluktuatif.
Reply
Quote:DAOP VI Yogyakarta Berpotensi Kehilangan Rp.8,5 Miliar Per Triwulan.

Jumat, 14 Oktober 2011 03:57 WIB

SOLO--MICOM: Penghapusan tiket kereta api tanpa tempat duduk alias berdiri sejak 1 Oktober lalu membuat PT Kereta Api Daerah Operasi (Daop) VI Yogyakarta berpotensi kehilanghan pendapatan Rp.8,5 miliar tiap triwulan.

"Sebab jumlah penumpangnya akan berkurang sangat banyak. Tapi ini ditempuh menejemen PT Kereta Api Indonesia (Persero) untuk memperbaiki layanan angkutan yang lebih manusiawi, aman dan ramah," ujar Jubir Daop VI Eko Budianto, Kamis (13/10).

Eko memaparkan untuk mengantisipasi hilangnya potensi, kini PT Kereta Api Indonesia (Persero) perkeretapian akan meningkatkan sektor menejemen pengusahaan aset, yang selama ini masih kurang berdaya dalam mengelola aset-aset yang dimiliki.

"Nantinya ada target untuk menejer pengusahaan aset atas lahan-lahan yang disewakan pada pihak ketiga atau masyarakat. Saat ini seperti lahan tanah di lingkungan PT Kereta Api Indonesia (Persero) belum terurus secara maksimal. Belum lagi penyewaan kios yang menjadi fasilitas di lingkungan stasiun perlu lebih diberdayakan lagi," imbuhnya.

Satu lagi potensi yang belum tergarap secara maksimal adalah moda angkutan barang. Diharapkan pelayanan angkutan barang ini akan memberikan pendapatan yang lebih besar ketimbang angkutan penumpang moda kereta api. (WJ/OL-04)
Reply
(14-10-2011, 06:04 AM)pardjono Wrote: [spoiler]
Quote:DAOP VI Yogyakarta Berpotensi Kehilangan Rp.8,5 Miliar Per Triwulan.

Jumat, 14 Oktober 2011 03:57 WIB

SOLO--MICOM: Penghapusan tiket kereta api tanpa tempat duduk alias berdiri sejak 1 Oktober lalu membuat PT Kereta Api Daerah Operasi (Daop) VI Yogyakarta berpotensi kehilanghan pendapatan Rp.8,5 miliar tiap triwulan.

"Sebab jumlah penumpangnya akan berkurang sangat banyak. Tapi ini ditempuh menejemen PT Kereta Api Indonesia (Persero) untuk memperbaiki layanan angkutan yang lebih manusiawi, aman dan ramah," ujar Jubir Daop VI Eko Budianto, Kamis (13/10).

Eko memaparkan untuk mengantisipasi hilangnya potensi, kini PT Kereta Api Indonesia (Persero) perkeretapian akan meningkatkan sektor menejemen pengusahaan aset, yang selama ini masih kurang berdaya dalam mengelola aset-aset yang dimiliki.

"Nantinya ada target untuk menejer pengusahaan aset atas lahan-lahan yang disewakan pada pihak ketiga atau masyarakat. Saat ini seperti lahan tanah di lingkungan PT Kereta Api Indonesia (Persero) belum terurus secara maksimal. Belum lagi penyewaan kios yang menjadi fasilitas di lingkungan stasiun perlu lebih diberdayakan lagi," imbuhnya.

Satu lagi potensi yang belum tergarap secara maksimal adalah moda angkutan barang. Diharapkan pelayanan angkutan barang ini akan memberikan pendapatan yang lebih besar ketimbang angkutan penumpang moda kereta api. (WJ/OL-04)
[/spoiler]

Itu baru 1 daop. Gimana sama daop dan divre lainnya? Jadi buah simalakama buat KAI.
Reply
nah mungkin kalo gini (100 % pas kursi = 0 % berdiri) PT. Kereta Api Indonesia (Persero) jadi ngejar aset2 nya yang terlupakan dan jadi mblusukan di mana-mana, bisa juga pendapatan dari aset2nya malah melebihi dari pendapatan per triwulan yg hilang tersebut...

Terdampar di Purwokerto setahun gara-gara proyek fiber optik Jateng ga kelarMarah
Reply
Dilihat saja perkembangannya, memberikan kenyamanan lebih penting, kenyamanan bukan hanya di dapat di kelas non ekonomi, pendapatan PT.KAI memang tidak seyogyanya dari penjualan tiket tetapi dari sumberdaya yang lain juga. Pasti banyak asset milik PT.KAI yang masih bisa menghasilkan pendapatan, memang ga mudah, tetapi semoga segera ada solusi secepatnya.
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 2 Guest(s)